Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

31 Januari

Penghujung Januari. Menjadi akhir dari yang awal dalam perhitungan bulan. Masehi. Mengorbit pada mentari yang terik. Yang meniadakan dingin, memecah kesunyian, menerangi jalan mana yang musti kau tempuh. Riuh, hingar-bingar, hiruk-pikuk, gaduh sampai mengaduh. Nampak. Semua begitu elok. Begitu memesona. O,ya. Kau tahu apa kesamaan terik dan dingin?, hah, tentu ada manisku. Jangan terlalu berpatok pada logika sepihak. Iya, ada kesamaannya. Sama-sama Memesona. Terik dunia dan dingin wajahmu. Sungguh, sebuah rangkaian sempurna estetika.

Hari ini. Masih pada hari yang sama di ujung januari. Siapa bilang takdir manusia tak bisa ditebak. Gunakan ilmu tua dari para sesepuh jawa. "ilmu eling lan titen" itu sudah cukup untuk takdir tanpa pengkhususan. Yang sulit ditebak itu nasib manusia. Ya, nasib. Sesuatu yang tak kaku akan ketentuan sang Maha. Fleksibel, dinamis dan statis. Berubah-ubah. Biasanya nasib mengiringi takdir. Mengiringi jodoh, rejeki dan ajal.

Semalam berita duka dari kota utara. Siapa sangka, tanpa mengidap penyakit bisa meninggal dengan cara lain yang tentu mengagetkan orang-orang sekitar. Memang, kematian tak akan meleset sedetikpun. Jika seseorang mengetahui ajalnya, seberapa kuat dia menghindar akhirnya sampai juga. Begitu kata orang bijak. Siapa sangka, ucapan-ucapan itu menjadi sebuah petanda, menjadi salam perpisahan tersirat. Yang baru di pahami setelah benar-benar pergi. Tak ada yang mampu membendung suratan-Nya.

Langit cukup redup hari ini. Hari yang mungkin masih panjang atau bisa saja hari-hari terakhir kita manisku. Puji syukur kehadirat Sang Maha, masih Ia perkenankan tatap mataku merasuk pada setiap jeda sinar matamu. Sebelum kita harus mengakui kita yang sama-sama. Sama angkuh untuk mengakui arti pinta dari setiap mata. Sama-sama berharap ada yang memulainya. Aku duluan atau kamu duluan. Tanpa keputusan sampai durasi habis. Mungkin benar, sebagai seorang laki-laki aku tak seberani para laki-laki yang mendekatimu. Maaf, manisku. Sementara, biarlah begini. Sabarlah dalam doa-doamu yang sama dengan doaku. Sampai waktu itu tiba, aku pastikan aku datang padamu. Sebagai seorang laki-laki yang jatuh hati padamu, yang sanggup menghidupimu, yang siap menjadi panutanmu, yang sanggup menanggung atas segala tentang dirimu. Saat ini, aku hanya tak ingin sama dengan laki-laki yang pernah menjajikan indah padamu. Janji sebatas kata-kata. Karena aku tak sekedar mengharap wajah dan badanmu. Ada rasa yang ingin ku simpul kuat pada rasamu. Dengan begitu tak ada jeda untuk alasan berpisah. Sekecil apapun itu, tiada.

Selamat siang manisku, jaga kesehatanmu, jaga hatimu, jaga perasaanmu.

Kau adalah biji

Kata-kata tak akan sirna. Ide-ide tak akan binasa. Pemikiranmu tak dapat dibatasi jeruji. Kalaupun ragamu tertimbun kubur, itu adalah awal dari sebuah penanaman. Kau akan mengakar dengan idealisme mu. Tumbuh dengan kuat, sekuat kau tanam keyakinan akan nilai kebenaran di lubuk hati. Kau tak akan mati. Bergentayangan menghinggapi setiap hati. Kau adalah biji yang mengakar. Menumbuhkan batang. Menguncupkan daun. Memekarkan bunga-bunga wangi. Kau adalah satu biji yang akan membuahkan jutaan biji. Kau... Pondasi dari segala perubahan.

21 Januari

Selamat pagi manisku, apa kabar?,dua pertiga bulan januari. Tepat saat matahari menaungi jagad raya. Menebar kehangatan pada setiap partikel udara. Lazuardi nampak hangat bercengkerama dengan para mega. Lantas, kapanlah kita berdua akan berbincang mesra di pagi hari?. Seperti lazuardi dan para mega. Seperti seperti gula dan kopi dalam bejana. Tentu, tal selamanya kan kita akan mengobral kata-kata rindu?. Ya, kapanpun itu, sementara biarlah doa-doa dan kerinduan menjadi utasan tali yang tak putus walau tak kuat mengikat.

Selamat pagi, manisku. Semoga harimu menyenangkan. Barokalloh...

Syukuri,

Entah bahagia atau malah kesedihan saat harus menatapmu. Wanita yang sering mengeluh di awal-awal pernikahan. Semua hal yang biasa kau bilang "cuma" kini menjadi "biasa". Seolah menjadi kodrat yang bosan kau protes. Hidup serba cukup, "pas-pas'an" tepatnya, sudah menjadi agenda yang tak kau lewatkan setiap sesi-nya. Katanya Tuhan akan memampukan hambanya. Entah mampu yang mana. Nyatanya, satu tahun hidup bersama, meja makan kita jauh dari kesan empat sehat lima sempurna. Kau sering mengeluh di hari-hari pertama. Dan aku sering pura-pura tuli mendengarnya. Tapi kini, saat kau terbiasa dengan semua, aku malah justru sering mengeluh. Kenapa dan kenapa. Bukan, bukan soal apa-apa yang berasal darimu. Lebih jelasnya, tentang aku yang tak sanggup memberimu kelayakan padamu, seperti halnya menantu-menantu bapakdan ibu lainnya. Tak seperti ipar-iparku.

Tahukah kau, manisku?,Saat kau tersenyum iklas dan ceria, serasa sebilah pisau menusuk relung hati hingga yang terdalam. Kau masih sanggup untuk itu, saat seharusnya menangisi, penyesali ikatan resmi yang mungkin salah ini.

" Apa kau tak enak badan?", ucapmu.

Aku hanya menggeleng. Selayaknya bos-bos yang sering kutanyakan : "maaf pak, ada lowongan..."

"Apa kau menyesali pernikahan ini?",
Lagi. Aku menggeleng. "seharusnya, aku yang bertanya begitu".
Tapi kau malah tersenyum.
"Tuhan akan memampukan hambanya", ucapmu.

"mungkin pengecualian untuk kita", ucapku, lirih, putus asa.

"kau selalu begitu. Memang, sejak kecil aku hidup Nyaris sempurna. Hidup cukup bahkan lebih. Tapi kau tahu, aku tak merasakan kebahagiaan melebihi hari-hari hidup bersamamu. Hari-hari yang sering aku keluhkan mulanya. Dan hari ini aku merasakan Tuhan menepati janjinya. Aku yang semula tak mampu bersyukur dan bahagia telah kau berikan segalanya. Aku bahagia dan penuh syukur bersamamu, karenamu. Dia telah benar-benar memampukan hatiku untuk itu", ucapmu.

Selamat Jalan Kebanggaan

Sebelas Januari,
Selamat pagi manisku, apa kabar? Sudahkah makan pagi kah?, lekaslah,

Sungguh tak terduga suratan sang Maha Esa. Tak disangka-sangka. Tak terkira. Semua semula nampak begitu lumrah, namun lebih ketika disimpulkan.
Menuju penghujung liga kopi, liga yang digulirkan pasca ketidak pecusan pengelola sepak bola negeri ini. Liga penghibur pecinta sepak bola setelah pertandingan resmi haram untuk persepakbolaan Negeri ini. Ya, kau tentu ingat. Federasi sepak bola dunia menjatuhkan sanksi pafa federasi tanah air. Kisruh di kalangan elit federasi di tambah campur tangan pemerintah pemicunya. Sepak bola kita koma sementara waktu. Walau kini sudah kembali bernafas.

Di laga-laga akhir liga kopi. Arema, harus memainkan kiper ke-3 mereka. Kurnia Meiga dipanggil untuk membela timnas, Kadek dalam kondisi yang kurang fit. Hingga tersisa AK sebagai pawang bola di bawah mistar Arema. Semula itu nampak biasa. Lumrah dengan alasan-alasan yang masuk akal. Tapi, sore kemarin, 10 Januari. Semua menjadi seolah tak seperti kelumrahan. Alloh menjadikan penampilan AK sebagai penampilan-penampilan terakhirnya. Ya, sang kebanggaan telah berpulang pada ke-Roqiman Tuhannya. Laga terakhirnya begitu menawan. Penyelamatan-penyelamatan yang diberikan seolah menyampaikan salam perpisahan, menoreh kan kenangan, sebuah pesan agar tak pernah terlupakan. Memang, diatara kiper-kiper Arema yang notabennya kiper-kiper terbaik tanah air, AK adalah kiper yang memiliki jiwa sepak bola Ngalaman paling kuat. Mental dan keberanian di atas rumput stadion tak tertandingi. Hingga usia yang tak lagi muda, AK masih siggap menjaga gawang Arema. Jiwa singanya terpatri kuat padanya.

Dan itu pun menjadi laga terakhir. Penutup liga kopi, penutup sanksi Federasi sepak bola dunia, penutup karirnya sebagai pemain bola. Penutup usianya yang nyaris kepala empat. Ya, dia kini benar-benar pensiun. Menjadi seorang legenda sepak bola negeri ini. Yang selalu akan dikenang.

Selamat Jalan kebanggaan, selamat jalan sang legenda, Rest In Pride AK 47.

05 Januari

Selamat malam manis, apakabar?

Masih pada suasana rintik gerimis. Walau sudah reda, tetap saja basah di sana sini. Dingin.

Hari ke-5 tahun ini. Innalillahiwainnaillaihirojiun. Semalam, di hampir tengah malam telah berpulang seorang alim, ulama, guru, dan orang tua kota ini, bahkan bangsa ini. Di beberapa artikel disebut bahwa almarhum sebagai ulama tertua di pulau bahkan negeri ini. Ada juga yang menyebut beliau sebagai paku pasak pulau ini. Apapun, beliau pantas mendapatjan gelar terharum dari segala macam gelar. Perjuangan dan pemikiran beliau terhadap masyarakat sekitar, agama, dan negeri ini tak pernah tanggung-tanggung. Andai saja jauh sebelum hari ini kita sowan ke rumah beliau, tentu kau dapat rasakan. Kasih sayang, kehanhatan, serta ketenangan di sana. Sebenarnya satu hal yang ingin sekali aku lakukan adalah mempertemukan kakung dengan beliau. Dulu, sewaktu muda, konon mereka berdua saling kenal. Keduanya sama-sama menjajakan dagangan berjalan kaki puluhan kilometer. Tapi, sayang, kesempatan itu tiada. Segala milikNya akan kembali padaNya. Semoga kusnul qotimah selalu. Amin..

2 Januari 2017

Selamat pagi manisku, apa kabar?.
Pacitan barat nampak hujan sendari dini hari tadi.

O,ya. Selamat tahun baru. 2017 kini telah resmi mengisi setiap kolom tanggal dimanapun dia berada. Bagaimana liburan awal tahunmu?, menyenangkan?, semoga, selalu.

Hari kedua tahun ini. Tahun berganti, tak lantas masalah di tahun lalu dihapus cuma-cuma. Tetap saja. Tetap harus terselesaikan, entah bagaimana caranya. Hidup ini akan semakin kompleks. Semakin keruh. Musti pintar-pintar mencari sela diantara segala kerumitan ini.

Setiap orang punya idealismenya masing-masing. Setiap orang tentu memiliki identitas pembeda dari orang lain. Sebagai bukti atas eksistensi dan kredibelitas masing-masing. Jadi, sejatinya hidup itu didominasi soal pencitraan.

Ya, pencitraan. Tanpa pencitraan manusia itu seragam.