Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Syukuri,

Entah bahagia atau malah kesedihan saat harus menatapmu. Wanita yang sering mengeluh di awal-awal pernikahan. Semua hal yang biasa kau bilang "cuma" kini menjadi "biasa". Seolah menjadi kodrat yang bosan kau protes. Hidup serba cukup, "pas-pas'an" tepatnya, sudah menjadi agenda yang tak kau lewatkan setiap sesi-nya. Katanya Tuhan akan memampukan hambanya. Entah mampu yang mana. Nyatanya, satu tahun hidup bersama, meja makan kita jauh dari kesan empat sehat lima sempurna. Kau sering mengeluh di hari-hari pertama. Dan aku sering pura-pura tuli mendengarnya. Tapi kini, saat kau terbiasa dengan semua, aku malah justru sering mengeluh. Kenapa dan kenapa. Bukan, bukan soal apa-apa yang berasal darimu. Lebih jelasnya, tentang aku yang tak sanggup memberimu kelayakan padamu, seperti halnya menantu-menantu bapakdan ibu lainnya. Tak seperti ipar-iparku.

Tahukah kau, manisku?,Saat kau tersenyum iklas dan ceria, serasa sebilah pisau menusuk relung hati hingga yang terdalam. Kau masih sanggup untuk itu, saat seharusnya menangisi, penyesali ikatan resmi yang mungkin salah ini.

" Apa kau tak enak badan?", ucapmu.

Aku hanya menggeleng. Selayaknya bos-bos yang sering kutanyakan : "maaf pak, ada lowongan..."

"Apa kau menyesali pernikahan ini?",
Lagi. Aku menggeleng. "seharusnya, aku yang bertanya begitu".
Tapi kau malah tersenyum.
"Tuhan akan memampukan hambanya", ucapmu.

"mungkin pengecualian untuk kita", ucapku, lirih, putus asa.

"kau selalu begitu. Memang, sejak kecil aku hidup Nyaris sempurna. Hidup cukup bahkan lebih. Tapi kau tahu, aku tak merasakan kebahagiaan melebihi hari-hari hidup bersamamu. Hari-hari yang sering aku keluhkan mulanya. Dan hari ini aku merasakan Tuhan menepati janjinya. Aku yang semula tak mampu bersyukur dan bahagia telah kau berikan segalanya. Aku bahagia dan penuh syukur bersamamu, karenamu. Dia telah benar-benar memampukan hatiku untuk itu", ucapmu.

0 komentar:

Posting Komentar