Penghujung Januari. Menjadi akhir dari yang awal dalam perhitungan bulan. Masehi. Mengorbit pada mentari yang terik. Yang meniadakan dingin, memecah kesunyian, menerangi jalan mana yang musti kau tempuh. Riuh, hingar-bingar, hiruk-pikuk, gaduh sampai mengaduh. Nampak. Semua begitu elok. Begitu memesona. O,ya. Kau tahu apa kesamaan terik dan dingin?, hah, tentu ada manisku. Jangan terlalu berpatok pada logika sepihak. Iya, ada kesamaannya. Sama-sama Memesona. Terik dunia dan dingin wajahmu. Sungguh, sebuah rangkaian sempurna estetika.
Hari ini. Masih pada hari yang sama di ujung januari. Siapa bilang takdir manusia tak bisa ditebak. Gunakan ilmu tua dari para sesepuh jawa. "ilmu eling lan titen" itu sudah cukup untuk takdir tanpa pengkhususan. Yang sulit ditebak itu nasib manusia. Ya, nasib. Sesuatu yang tak kaku akan ketentuan sang Maha. Fleksibel, dinamis dan statis. Berubah-ubah. Biasanya nasib mengiringi takdir. Mengiringi jodoh, rejeki dan ajal.
Semalam berita duka dari kota utara. Siapa sangka, tanpa mengidap penyakit bisa meninggal dengan cara lain yang tentu mengagetkan orang-orang sekitar. Memang, kematian tak akan meleset sedetikpun. Jika seseorang mengetahui ajalnya, seberapa kuat dia menghindar akhirnya sampai juga. Begitu kata orang bijak. Siapa sangka, ucapan-ucapan itu menjadi sebuah petanda, menjadi salam perpisahan tersirat. Yang baru di pahami setelah benar-benar pergi. Tak ada yang mampu membendung suratan-Nya.
Langit cukup redup hari ini. Hari yang mungkin masih panjang atau bisa saja hari-hari terakhir kita manisku. Puji syukur kehadirat Sang Maha, masih Ia perkenankan tatap mataku merasuk pada setiap jeda sinar matamu. Sebelum kita harus mengakui kita yang sama-sama. Sama angkuh untuk mengakui arti pinta dari setiap mata. Sama-sama berharap ada yang memulainya. Aku duluan atau kamu duluan. Tanpa keputusan sampai durasi habis. Mungkin benar, sebagai seorang laki-laki aku tak seberani para laki-laki yang mendekatimu. Maaf, manisku. Sementara, biarlah begini. Sabarlah dalam doa-doamu yang sama dengan doaku. Sampai waktu itu tiba, aku pastikan aku datang padamu. Sebagai seorang laki-laki yang jatuh hati padamu, yang sanggup menghidupimu, yang siap menjadi panutanmu, yang sanggup menanggung atas segala tentang dirimu. Saat ini, aku hanya tak ingin sama dengan laki-laki yang pernah menjajikan indah padamu. Janji sebatas kata-kata. Karena aku tak sekedar mengharap wajah dan badanmu. Ada rasa yang ingin ku simpul kuat pada rasamu. Dengan begitu tak ada jeda untuk alasan berpisah. Sekecil apapun itu, tiada.
Selamat siang manisku, jaga kesehatanmu, jaga hatimu, jaga perasaanmu.
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 31 Januari 2017
0 komentar:
Posting Komentar