Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

27 Nopember 2015

Bersama mendung dan udara panas kota sore ini,

Apa kabarmu manis?, sudahkah kau jumpai hujan sampai sesore ini?. Ya, semoga saja, sekalipun hujan datang padamu sore ini, semoga datang dengan cara teromantisnya.

Kemarin, seorang teman lama memosting di akun sosial medianya:
" hidup seperti angka, kadang genap, kadang ganjil, kadang prima, kadang desimal. Tapi lebih sering,.... Nyusahin".

Menurutmu bagaimana manis?.

Entahlah tentang hidup ini yang sebenarnya. Setiap orang punya cara dan kata yang beda dalam pediskripsiannya. Mungkin benar, lebih banyak nyusahin. Ya, bagiku hidup ya seperti ini. Hidup ini tak akan indah jika semua harus seperti yang kita mau. Nikmati setiap prosesnya, nikmati. Mungkin begitu.

"poprock and coke", menjadi backsound saat ini. Menemani jari menampakkan wujud alphabet di layar yang tak begitu lebar ini. Nikmati harimu manis,

"rest and enjoy!"

25 Nopember 2015

25 Nopember 2015.

Menjelang pukul dua siang waktu bagian baturetno. Menjelang adek-adek SMA pulang, hujan menawarkan rasa panas yang sendari pagi menyelimuti kota. Gemuruh petirpun turut meramaikan diantara riuhnya titik air yang mehujam bumi ini.

O,ya. Selamat hari guru. Semoga guru-guru Indonesia semakin bermutu. Semakin giat menelurkan generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga bermoral dan lebih manusiawi. Semoga.

Sebelumnya, terserah kalian mau mengatakan apa. Orang yang sakit hati karena tak bisa mengikuti pelajaran, atau orang yang malang yang tak mengenyam pendidikan di sekolah tinggi. Tapi, apa yang saya tulis ini adalah apa-apa yang mewakili perasaan. Para guru itu juga manusia. Punya masalah, karaktet kepribadian, masalalu, latar belakang dan banyak hal yang menjelaskan bahwa mereka adalah manusia. Mungkin ada juga yang dulunya harus mengulang (remidiasi) mapel Pendidikan Agama dan Pkn selepas tes semester. Dulu sewaktu sekolah menengah, tak sedikit pelajaran yang saya harap lekas berlalu. Atau berharap gurunya tak datang. Seorang guru seharusnya tidak hanya pandai, tapi juga mampu menjadi orang tua. Menjadi sosok yang patut "digugu lan ditiru".

Secoret tinta kadang membuat selembar kertas putih menjadi tampak tak bersih. Tapi, tak boleh kita melupakan, bahwa volume warna putih jauh lebih banyak dari pada secoret tinta hitam.
So, terimakasih pak, bu,.. Diantara lautan perbedaan pemikiran kita, kalian adalah penginspirasi dalam hidup ini. Karena ilmu yang kau beri aku jadi tahu dan mengerti akan hidup ini. Karena perbedaan pemikiran kita, aku jadi lebih dewasa dari kemarin lusa. Terimakasih.

Selamat hari guru,

23 Nopember 2015

Semerbak aromamu yang enggan memudar. Saat dingin malam menembus batas-batas kehangatan. Bersama sepi dan gelap malam yang menjadi hening.

Senandung lurih ini masih untukmu. Saat semua dalam hitam menghadirkan bayangmu. Senyummu yang lengking, serta raut wajah yang amat memesona. Bersama semua tentangmu, malam ini pun menjadi melankolis.

Membuka lagi lembar-lembar kisah tentang perasaanku padamu. Yang selalu saja meraksasa merajai hati. Namamu, hanya beberapa kata saja namun begitu puitis bagiku.

Tak lagi terpungkiri, wanita adalah bagian sisi terindah dari hidup ini. Ya, dan kau semakin berkilauan dengan karakter yang tak mudah didapati dari wanita lain. Kau memang,... Kau memang Bintang.

Apa kabarmu hari ini?. entah mengapa, seperti ada kerinduan pada waktu itu. Suatu ketika diwaktu itu, dimana pesan singkat kita saling membawa kabar satu akan satunya. Aku tahu, memang tak ada yang terlalu istimewa diantara kita. Setidaknya kita pernah bertukar "selamat malam, have nice dream, nite too".

Memang, takdir melahirkanku tidak pada jalan keistimewaan. Tak bisa memberikan alasan untuk diprioritaskan. Jujur, satu hal yang kuharapkan darimu sama seperti hal yang laki-laki lain harapkan darimu. Yah, kau begitu istimewa. Aku tahu, dimana dan siapa aku ini. Jika aku mengharap hal yang sama dengan yang lain darimu menjadi hal yang lucu dari hidup ini. Setidaknya aku ingin membalas segala pelajaran yang mungkin tak sengaja kau berikan. Terimakasih Bintang, terima kasih.

Waktu teruslah berputar. Ingin sekali rasanya aku hanyut lalu terus melaju. Walau harus ku akui, soal perasaan tak lagi terulang seperti yang untukmu. Tapi, diusiaku yang sekarang, enggan rasanya bicara soal perasaan. Yah, komitmen akan lebih menjadi prioritas seorang laki-laki. Mungkin perasaan akan tumbuh meraksasa seiring kesungguhan menjaga sebuah komitmen.
Selamat Bintang, Selamat malam siapapun kau yang kelak akan abadi. Yang akan selalu ku jaga, siapapun itu. Sampai jumpa dimasa depan.

Good night :)

10 Nopember 2015

Apa hujan ini air matamu tuan?, apa kau merasa kecewa akan kerusakan yang telah kami buat akan apa yang tuan dan puan perjuangkan?.

Negeri ini telah terlanjur begini. Aku tak tahu, bagian mana salah. Bagian mana yang harus diganti. Agar apa yang tuan dan puan perjuangkan terwujud dan terjaga. Bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa yang begitu besar. Dengan skema sistem yang konplek dan rumit. Terlalu banyak aparatur-aparatur menjaga pos-posnya. Sebenarnya mereka orang-orang pilihan. Dengan latar belakang pendidikan dan gelar yang wah. Tapi tetap saja, moral manusia tak memiliki satuan untuk diukur. Aturan diciptakan begitu banyak. Berbenturan satu aturan dengan aturan lainnya sudah menjadi sesuatu yang biasa. Peradilan sudah seperti permainan "game". Bukan keadilan ataupun kebebaran lagi, melainkan sebuah kemenangan. Bahkan, diantara para aparatur yang sarat akan kewenangan itu sesekali seperti nampak berbenturan. Saling menunjukan eksistensi kewenangannya. Tapi, kalau dibilang "mereka bertarung" merekapun sontak bicara tentang keadilan. Berkelahi tapi tak mau disebut berkelahi. Entah naif, entah munafik. Yang diatas saling berdebat. Melontar olah kata saling memojokan. Dan itupun bisa dinikmati publik. Disiarkan langsung, yang para penikmatnya belum tentu tahu duduk persoalan dan maksut perdebatan. Turubanpun tumbuh di masyarakat. Secara langsung kelompok masyarakat pun tumbuh melanjutkan perselihan orang-orang pemerintahan tanpa tahu pasti duduk permasalahan. Yang acuh katanya apatis, bodoh, atau sebutan lain yang mengecilkan. Orang bodoh mengatakan orang lain bodoh, itu sudah hal biasa di negeri ini.

Dulu seorang guru pernah mengatakan; "keadilan sosial untuk seluruh rakyat itu mungkin tak pernah terwujud", tapi dalam kondisi sosial politik yang begini, bisa jadi itu benar.

Tuan,
Puan,..
Semoga hujan yang kujumpai pertama kali di Baturetno musim ini bukanlah tangisanmu, melainkan jawaban atas doa bapak ibuku yang ladangnya mulai mengering.

Selamat Hari Pahlawan, setiap hari dalam hidup ini adalah perjuangan. Entah berjuang atau sekedar bertahan hidup. Hidup yang manusiawi.

Militansi

Pacitan, 08 November 2015.

Jika kamu bertemu seseorang yang mengatakan;
"untuk apa mempertaruhkan hidup buat sepak bola, memangnya seberapa besar prestasinya hingga kamu begitu bangga?", jika kamu yakin dan punya alasan untuk menjawabnya, jawablah dengan begitu meyakinkan.

Sepak bola dimegeri ini memang tak segermelap di eropa. Ekspos media, investasi, dan prestasi juga tak sebagus eropa. Tapi jangan tanya soal atusiasme. Negeri ini jelas tak diragukan lagi. Ultras, holigan, militan atau apapun sebutannya, yang jelas terlalu mudah di temui dinegeri ini.

"Kami mencintai apa yang kami cintai tanpa memandang prestasi, kami mencintai karena hati. Karena kami tak akan menghianati bangsa ini jikalau tak ada yang patut dibanggakan lagi. Itilah kami"

06 Nopember 14

Selamat malam kasih,
Menjelang pukul sepuluh malam waktu bagian baturetno. Bersama udara yang sedikit gerah, serta harapan besar akan datangnya hujan, apa kabar kamu manisku?.

Jika menurutmu laki-laki memperhatikanmu karena kekaguman belaka?, lalu seolah-olah kau adalah segalanya yang akan diperjuangkan dengan segala?. Tidak manis, seorang laki-laki alan lebih tertarik pada wanita yang mau mengerti pada keadaannya dan berjuang bersama. Jadi berhentilah betingkah seperti sang putri, yang meminta pengorbanan ini itu. Laki-laki tak selalu baik hati. Saat mereka memberi lebih, kami pun akan meminta lebih. Yah, sekalipun tak bisa kujelaskan dasarnya, laki-laki memiliki karakter masing-masing. Tapi kami tak pernah lupa dan bangga nenjadi seorang laki-laki. Jaman semakin gila. Semakin susah dimengerti. Jaga diri dan kehormatanmu manis. Jadilah jawaban masif ada perawan ditengah jaman dimana keperawanan diragukan.

#seeyou

Dalam malammu

Malam ini kembali kudengar debur ombakmu..
Alunan udara yang tak membuatku dingin.
Juga nyanyian mereka yang insomnia.
Semua seakan menjadi kawan.
Menghabiskan sisa malam sampai kuterpejam.
Atau sampai pagi datang menjelang.

Generasi-generasi itu terus tumbuh.
Mengganti yang lama kobarkan asa.
Walau naif, tapi itu yang musti terjadi.
Kita tak bisa terus memaksa.
Menyeragamkan visi pada zaman yang tak lagi sama.
Percayakan dan yakinkan.
Biar yang muda jadi nahkoda.
Sementara suara ombak terus mendebur.
Dan derik2 jangkrik menggaung.
Diantara sela-sela tanah kering.
Tak ada-ada akan adanya hujan. Dan tak ada wacana irugasi diladangini.
Nampu, 01 nov 15

Melodi ombak


Selamat pagi dunia, senang rasanya bisa menikmati salam hangatmu.

Matahari meninggi dari arah timur pantai. Bersama gemuruh gelombang yang sejak semalam. Di bawah sana, dipantai yang surut orang-orang nampak sibuk. Entah apa yang mereka cari.

O,ya. Apa kabar kamu, manis?. Kapan kamu bisa menemaniku di saat seperti ini. Pagi yang menawan diantara dedaunan pandan. Bicara tentang keindahan, atau tentang manusia yang kesepian. Ya, manusia hanyalah makluk kesepian. Karena itulah mereka mencari kawan. Karena itulah mereka mengejar keindahan. Kita tak akan pernah menang melawan kesepian.

Perenungan menjadi kawan. Yang kadang terlupakan begitu kian. Bersama debur ombak yang menggelegar, dan hamparan langit yang begitu luas, sombong rasanya bila tak kita akui, kita hanya makluk kecil yang tak setegar karang.


Nampu, 01 November 15