Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

10 Nopember 2015

Apa hujan ini air matamu tuan?, apa kau merasa kecewa akan kerusakan yang telah kami buat akan apa yang tuan dan puan perjuangkan?.

Negeri ini telah terlanjur begini. Aku tak tahu, bagian mana salah. Bagian mana yang harus diganti. Agar apa yang tuan dan puan perjuangkan terwujud dan terjaga. Bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa yang begitu besar. Dengan skema sistem yang konplek dan rumit. Terlalu banyak aparatur-aparatur menjaga pos-posnya. Sebenarnya mereka orang-orang pilihan. Dengan latar belakang pendidikan dan gelar yang wah. Tapi tetap saja, moral manusia tak memiliki satuan untuk diukur. Aturan diciptakan begitu banyak. Berbenturan satu aturan dengan aturan lainnya sudah menjadi sesuatu yang biasa. Peradilan sudah seperti permainan "game". Bukan keadilan ataupun kebebaran lagi, melainkan sebuah kemenangan. Bahkan, diantara para aparatur yang sarat akan kewenangan itu sesekali seperti nampak berbenturan. Saling menunjukan eksistensi kewenangannya. Tapi, kalau dibilang "mereka bertarung" merekapun sontak bicara tentang keadilan. Berkelahi tapi tak mau disebut berkelahi. Entah naif, entah munafik. Yang diatas saling berdebat. Melontar olah kata saling memojokan. Dan itupun bisa dinikmati publik. Disiarkan langsung, yang para penikmatnya belum tentu tahu duduk persoalan dan maksut perdebatan. Turubanpun tumbuh di masyarakat. Secara langsung kelompok masyarakat pun tumbuh melanjutkan perselihan orang-orang pemerintahan tanpa tahu pasti duduk permasalahan. Yang acuh katanya apatis, bodoh, atau sebutan lain yang mengecilkan. Orang bodoh mengatakan orang lain bodoh, itu sudah hal biasa di negeri ini.

Dulu seorang guru pernah mengatakan; "keadilan sosial untuk seluruh rakyat itu mungkin tak pernah terwujud", tapi dalam kondisi sosial politik yang begini, bisa jadi itu benar.

Tuan,
Puan,..
Semoga hujan yang kujumpai pertama kali di Baturetno musim ini bukanlah tangisanmu, melainkan jawaban atas doa bapak ibuku yang ladangnya mulai mengering.

Selamat Hari Pahlawan, setiap hari dalam hidup ini adalah perjuangan. Entah berjuang atau sekedar bertahan hidup. Hidup yang manusiawi.

0 komentar:

Posting Komentar