Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

23 Desember

Selamat malam, manisku. Apa kabar?.

23 desember 2016. Menjelang tengah malam. Saat para jangkrik belum juga memberi isyarat akan berhenti berderik. Tapi biarlah manis, setidak merekalah yang membuat malam tak sekedar gelap dan sepi.

Tak terlalu banyak, seperti biasa. Menanyakan kabarmu. Jaga kesehatannu manisku. Tetap jadu kebanggaanku.

#Savenation

"Dunia dalam keadaan baik-baik saja". Boleh saja terdengar sebagai kalimat penuh kedamaian. Tapi, ditelinga itu terdengar tak lebih dari kata-kata teramat naif. Selama Nasionalis masih menjadi barang mewah diatas kemanusian dan jiwa setiap bangsa, selama itulah perdamaian hanya sebatas menahan diri dari kerugian besar suatu bangsa.

Nasionalisme. Tentu bukanlah sesuatu yang diproduksi secara instan ataupun permainan sulap. Nasionalisme ada lah buah dari akar, batang dan daun yang saar ini terang-terang diperangi. Agama, ras, etnis dan antar golongan. Empat elemen itulah yang menerangkan tentang kesetia kawanan pada umat manusia. Jauh-jauh hari sebelum Nama, simbol dan bendera di kukuhkan.
Tapi lihatlah sekarang, oknum-oknum nasional telah dewasa dan menjadi "anak durhaka". Memperkosa dan menginjak ibu kandung mereka. Jika ada istilah atheis dalam dunia keTuhanan, maka orang-orang tersebut mengidap penyakit "tak berpaham". Matrealisme. Menghamba pada dunia dan pihak yang menguntungkan. Mereka-merekalah yang telah menodai apa yang disebut demokrasi dan nasionalisme. Mereka membuat demokrasi seperti lelucon. Yang mereka bilang demokrasi tapi tetap saja nyawa tirani mengalir didalam nadi. Orang tak akan mengatakan mereka tirani, karena setiap perjumpaan yang terlihat adalah demokrasi. Ini sudah semacam kerasukan. Banyak dari penganut demokrasi hanya berjuang untuk diri dan kelompok atau golongan mereka saja. Sementara pelayanannya keoada rakyat tak lebihnya ampas belaka, tak lebih dari make-up agar mereka serupa bernyawa demokrasi.

Hari ini, jika kau mau di bilang demokratis mengalirlah bersama limbah-limbah sistem itu. Sampah-sampah yang menghasut. Karena, jika kau bicara secara jujur dan mempertahankan nilai-nilai luhur Agama, ras, suku dan golonganmu kau bisa disebut radikal, pembangkang dan rak menutup kemungkinan dituduh subversib. Begitulah kondisi demokrasi yang sudah terkontaminasi. Disuntik ideologi-ideologi oportunis nan cenderung psikopat.

Jika demokrasi masih menjadi sistem yang terbaik maka kembalilah pada demokrasi yang benar-benar "Dari, Untuk dan Oleh Rakyat". Berfikirlah jauh dan luas. Didik generasi mu dengan dasar-dasar Nasionalisme dasar. Nilai-nilai Agama,suku,ras dan antargolongan sebenarnya. Stop isu SARA. Stop mem-per-penjahatkan mereka. Nasionalis bukan bukan sesuatu yang instan. Bukan mie kering yang cukup dimasukkan air panas lalu matang. Karena Nasionalisme butuh kawah Candradimuka untuk mematangkannya. Butuh perjalanan yang lama untuk sampai disana. Butuh mental baja dan semangat pantang menyerah yang tak akan patah ditempa hujan batu imperalisme.

Pertahankan setiap jengkal tanahmu meski dengan aliran darahmu. Dan jangan pernah mengambil milik bangsa lain walau hanya sejengkal. Agar nasionalisme hidup di dalam kemanusiaan, kemanusian hidup di dalam nasionalisme. Saling mengisi. Melindungi.

22/12/2016

Selamat pagi manis. Titip salam pada ibumu. Sampaikan selamat hari ibu ku pada beliau.

"selamat hari ibu"

17 desember

Selamat pagi manisku, semangatku, apa kabarmu?. Sudah makan pagi?, cepatlah. Ini sudah tidak pagi lagi. Sudah hampir jam sebelas di hari sabtu pekan ke-2 bulan desember. Semakin tua saja kita, sekitar dua pekan lagi kalender masehi berganti satu angka paling belakab pada tahunnya.

Manis, apa yang kau pikirkan saat mendengar kata perang?. Ya, kau benar. Penderitaan, rasa sakit dan kebencian. Menang atau kalah tidak ada yang pernah diuntungkan oleh peperangan. Tak layaklah disebut prestasi tentang perang. Tapi manisku, tak ada yang mampu menutupi, kapanpun kondisi terburuk itu bisa saja terjadi. Terhitung sejak hari ini menuju dua dekade yang akan datang, entah apa alasannya, kurasa perang akan datang. Entah itu perang besar yang diramalkan oleh para pendahulu atau perang yang lain, hari itu kurasa akan datang. Tidak manisku, aku tak takut bila harus terjebur pada kondisi terburuk itu. Yang aku takutkan, saat itu datang kita tengah membesarkan anak-anak kita. Aku takut rasa sakit akibat perang menjerat dan menindih hatimu dan anak-anak kita. Beradu fisik bertaruh nyawa di medan perang memanglah sakit. Tapi, sesuatu yang lebih menyakitkan adalah bagi mereka yang ditinggalkan ke medan perang dan sisa-sisa perang. Berjanjilah manisku, bila saat terburuk itu benar-benar datang, berjanjilah kau harus menjadi wanita yang tangguh, ibu yang kuat, yang melindungi anak-anak kita secara lahir batin. Kuatkan jiwa dan keyakinan mereka. Agar kelak tumbuh sebagai manusia-manusia yang berguna.

Jazirah arab kurasa semakin pada kondisi yang tak kondusif. Gempuran terhadap Aleppo,Suriah, menjadi perbincangan hangat dan cenderung panas. Turki dan kerajaan Arab bereaksi. Turki menyediakan tenda-tenda untuk masyarakat sipil korban perang. Arab diberitakan mengusir dan memutuskan hubungan deplomatik dengan Rusia. Sementara, Indonesia menjalin komunikasi dengan Iran. Dan pergerakan pelan-pelan mulai nampak. Iran dikabarkan tegang dengan Israel. Terlalu banyak kobdisi dibelahan bumi lain, tapi kondisi buruk layaklah mendapat perhatian. Laut China Selatan tak juga mendapat keputusan yang diterima oleh semua pihak. China dikabarkan menggeser sebagian kekuatan militernya ke arah daerah Laut China Selatan.

Lepas dari kondisi buruk disebagian belahan dunia. Kondisi disebagian wilayah Negeri ini juga tidak pada kondisi terbaik. Polemik muncul disana-sini. Baik masalah-masalah baru ataupun masalah lama yang tak menemui penyelesaian sempurna. Sengketa antara warga dan perusahaan semen di Rembang. Masalah Reklamasi teluk benoa, dan banyak lagi. Bali punya sejarah perang yang layak untuk dibaca kembali berulang-ulang. Puputan yang pernah berkobar di jaman lampau bukanlah wujud primitif atau budaya lama. Puputan menurutku adalah cara terakhir masyarakat Bali menjaga apa-apa yang patut mereka pertahankan. Lebih-lebih teluk Benoa adalah tempat pertemuan sungai-sungai yang disucikan. Tentu ada nilai religius disana. Kalau sudah ditolak mayoritas masyarakatnya, untuk apa masalah ini masih dibicarakan. Hentikan saja. Bukankah rakyat adalah ibu kandung dari setiap negeri terlebih yang menggunakan sistem demokrasi.
Masalah baru timbul yang kebetulan terjadi menjelang pilkada ibu kota. Gubernur lama harus duduk di kursi pesakitan. Lalu mulailah muncul masalah toleransi menjadi perbincangan. Dipermasalahkan dan disempitkan ruang lingkupnya. Beberapa media dan oknim golongan elit sebenarnya lebih sering berbuat intoleran. Hanya saja, ruang lingkup toleransi disempitkan pada SARA saja. Entah bagaimana awal muncul istilah SARA itu, dewasa ini setiap kali terdengar SARA yang tercitra adalah sesuatu negatif. Bahkan, pada kompetisi tertentu di lampirkan syarat "tidak mengandung SARA". Suku,Agama,Ras dan Antar golongan, itu bukanlah sesuatu yang menggambarkan sebuah hal yang buruk. Justru sebaliknya. Toleransi sudah diputar-putar tak jelas. Orang jawa mengatakan "Mulek". Diadu domba secara halus atau terang-terangan.

Tentu sejarah tak akan pernah menghapus, ada suatu ketika dimana "Menjalankan Syareat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya" digantikan "Ketuhanan yang Maha Esa".

Sungguh, tiada yang merindukan peperangan besar yang pernah diberitakan oleh para pendahulu. Tapi, kapan datangnya tak bisa dipercepat ataupun ditolak. Yang terjadi pasti terjadi. Jadi, katakan pada mereka manisku, berhenti memprovokasi.

Hari sudah tidak pagi lagi manisku, lekas makan sianglah. Jaga kondisi. O,ya. Belakangan kau nampak semakin dewasa saja, makin mandiri. Teruslah seperti itu, manisku.
Happy nice weekend, Manis.

13 des

Tiga belas desember 2016.
Selepas gerimis yang sebentar lalu.

Hari ini adalah hari pertama sidang kasus penistaan agama yang disangkakan pada salah seorang pejabat terkemuka ibukota. Bisa dibilang orang nomer satu di ibukota.

Sebelumnya, selamat malam manisku. Apa kabarmu?, apakah chanel teve mu juga menayangkan kegaduhan yang sama?. Memuakkan memang. Lebih memuakan dari tontonan perkelahian yang semakin marak di teve. Atau gadis-gadis dengan rok selututnya yang membuat reaksi laki-laki melumerkan enzim kebahagiaannya, haahaa tidak manisku, jangan kau bicara begitu. Kalaupun iya sedikit sajalah tak apa, haahaa

Betapa penting belajar Agama secara menyeluruh. Tak sebagian atau sepotong.

Betapa keras pukulan-pukulan terhadap norma dan Agama di semakin tuanya jaman. Disaat antar golongan paradu fatwa, ini hak, itu batil. Ini sah, itu bid'ah. Ini halal, itu haram. Sedangkab umatnya di bombardir dengan segala bentuk dari pihak luar. Tak selalu berpanji agama. Liberalisme yang tak bersangkut paut dengan konstitusi bekeliaran bebas karena mengetuk pintu tanpa busana liberalisnya. Berbisik tentang satu penghuni rumah pada penghuni lainnya. Contoh kecil Asas koperasi yang gotong royong digagahi bankir. Peraturan-peraturan yang timbul akibat gejala masyarakat, betapa menunjuk tak dinamisnya peraturan lalu.

Sejarah mencatat, saar "menjalankan syariat-syariat Islam bagi para pemeluknya" digantikan. Apa tidak menyakitkan bagi penganut Islam andai saja cuma mememintangkan agama yang saat ini hanya disebut sekelas golongan saja. Tapi, agama adalah ajaran keluhuran budi. Sesuatu diganti dengan beberapa alasan. Bisa karena tak relevan, bisa karena salah. Apa tak menyakitkan bila dipandang sebagia sesuatu yang tak relevan atau salah atau sejenisnya. Tapi, rahmatan lilalamin sekali lagi menunjukan kerahmatanannya. Toleransi demi kebaikan bersama. Kareba memang begitu yang diajarkan bersama.

Hasutan dan hasutan. Apapun bentuk peperangan, Sang Maha Cinta sangatlah melaknat yang memulai peperangan. Wallohualam.

09 des

Entah bagaimana rasanya. Ketika kau berucap doa untuk seseorang bahagia. Tentu tiada masalah. Kebahagian yang kau harap ada bersamanya, harus kau amini untuk orang lain. Kadang aku harus egois. Mementing diri sendiri untuk mendoa kebahagian orang lain.

Selamat pagi manisku, apa kabar?.
Jumat yang teduh. Redup malahan. Seredup lampion harapan yang terlanjur mengudara. Sebentar lagi jatuh. Berganti harapan baru.

Sebegitu pentingkah perasaan laki-laki pada wanitanya. Hingga hampit disetiap hari berganti, perasaan itu mula-mula sekali mengawalinya. Memuja, menghantarkan lewat doa-doa.

Pada akhirnya, takdirlah yang menentukan. Takdir tak akan kepatuhannya pada Rab-nya. Dan takdirku, adalah segudang misteri yang ku nikmati.

Barokalloh manisku,

Desember 2016 (07/12/16)

Waktu tak mungkin berputar mundur. Mengembalikan penyesalan-penyasalan agar mendapat refisi. Terus maju tanpa pandang bulu. Begitulah takdirnya, dan begitulah cara dia bertasbih pada nama Tuhannya. Ketaqwaan-ketaqwaan alam semesta sering kali terabaikan. Pandangan manusia yang sempit, mengimajinasikan ketaqwaan sebatas ritual keagamaan saja.

Imajinasi manusia memanglah payah. Sangat payah. Makluk berhati memang lemah. Coba tanyakan pada seseorang seperti apa surga itu. Maka kau akan dapati penggambaran yang beragam. Mungkin ada yang mendeskripsikan seperti taman bergantung babilonia, atau semacam penggambaran ada sabana diatas niagara. Atau bagaimana saja, maka yang kau temukan hanya penggambaran berdasar apa-apa yang pernah kalian lihat. Sungguh, pengetahuan manusia di hadapan hanya seperti sebutir pasir ditengah sahara. Seperti bintang di hamparan tatasurya. Jadi, kemungkinan pengetahuan manusia tak mencapai 0,1% dari misteri alam semesta. Maha Suci Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Waktu tak akan kembali. Lepas berlalu dan berganti. Tak akan mengiyakan hati hati yang lemah. Yang tak berhenti merengek, memprotes dan mendikte ketentuan Sang Maha. Semua, apa-apa yang mengisi semesta selain jin dan manusia senantiasa menjalankan apa-apa yang semestinya menjadi takdirnya. Tanpa protes, tanpa mengeluh. Waktu melaju melewati periode-periode yang masih di isi manusia-manusia yang tak banyak berbeda. Mungkin teknologi menjadikan manusia membedakan diri dengan generasi Generasi sebelumnya. Namun tetap saja, kebanyakan manusia terlalu berani pada Tuhannya. Secara halus atau terang-terangan.

Desember 2016. Bukan waktu yang sebentar dalam perjalan semesta. Namun manusia masih terjebak pada siklus yang sama. Hura-hura duniawi yang semakin hingar bingar. Harta, tahta dan kamu, adalah alasan sebuah perjuangan yang layak dipertaruhkan hidup mati.
Desember 2016. Walau jarum jam tak berputar tak lazim, tapi ada hal-hal yang terulang dari masa yang telah hilang.
Desember 2016. Suatu ketika dimana dihampir semua pemerintahan menganut sistem demokrasi. Sebuah sistem yang konon berjagon dari, oleh dan untuk rakyat.  Tak banyak yang membedakan dengan keadaan sistem sebelumnya. Mungkin hanya cara berpartisipasi dalam pemerintahan mengatasnamakan siapa. Sedang kondisi yang terjadi pada masyarakat masih saja klise. Penguasa dan rakyat. Orang besar - orang kecil. Kaya - Miskin. Dan bla.. Bla.. Bla..

Desember 2016. Masyarakat masih menyaksikan banyak hal yang sama dari masalalu. Katanya ini era-nya bebas berpendapat, tapi, kebebasan untuk memenjarakan juga masih mudah. Saling melapor pada pihak berwajib, saling menuding, saling melempar argumen kosong, beradu pengaruh dan penggalian simpati. Semacam ini bisa disaksikan dengan mata dan otak telanjang. Seribu kali berganti sistem tak akan menjamin kedewasaan hidup bersama. Bukankah yang dipertontonkan kepada halayak hanyalah sifat kekanak-kanakan. Saling menyalahkan dan berebut benar. Tak ada penggambaran Keinginan perbaikan bersama untuk generasi berikutnya. Kehidupan bersama yang semula bertaruh segalanya berubah menjadi kepentingan-kepentingan.

Desember 2016. Apakah istilah Makar dalam suatu negara bukan lagi masalah serius?. Sampai-sampai istilah untuk kondisi terburuk dalam suatu negara tersebut berkeliaran bebas di telinga-telinga masyarakat yang bahkan tak tahu apa-apa soal negara. Apakah layak masyatakat yang keadilan, keamanan dan kesejahteraannya seharusnya menjadi tanggung jawab negara bertanya-tanya apa benar ada kondisi buruk dalam kantong-kantong rahasia kehidupan bersama. Kenapa informasi itu beredar sebegitu bebasnya dikalangan masyarakat luas?. Bila memang ada, tak perlulah pihak berwenang meminta persetujuan satu-satu warga negara untuk menindak masalah serius itu. Tangkap dan adili apa-apa yang perlu diadili. Sesuai aturan dan prosedur yang ada. Kenapa masyarakat harus menyisakan sedikit waktu dari lelahnya untuk berfikir "benar enggak orang itu begini begitu, danai ini danau itu, numpangi ini numpangi itu".

Desember 2016. Shitt... Sebagai rakyat bolehkah saya menuntut mereka-mereka yang sejujurnya menimbulkan rasa resah saya dibumi saya?. Kenapa kalau rasa nyaman investor asing menjadi prioritas ketimbang warganya sendiri. Apakah setiap warga negara harus protes saat mereka meras takut diidentikan pada golongan bermasalah?, apakah setiap anak harus mengadu pada negara akan keresahan hatinya kala melihat bapak-bapak mereka mendebatkan masalah orang-orang Besar yang sebebarnya, secara langsung tak ada hubungan. Apa setiap warga negara harus mengajukan penuntutan pada pemelihara kepentingan bersama kala dalam hati mereka mulai mengkhawatirkan kebhinekaan.
Apakah setiap pemonton televisi harus mengadu pada penguasa saat mereka bingung dan merasa dipermainkan berita politik yang berpihak? Lain media lain berita. Bukankah setiap konsumen media masa berhak atas berita yang obyektif. Kami inginkan tontonan dan informasi. Bukan dikte-dikte pandangan dan pemikiran.

Desember 2016. Diantara semua kekwatiran, aku kwatirkan keadaanmu, manisku. Apa kabarmu hari ini?. Aku rindu padamu.

06 Des

Semestinya kerinduan itu seperti embun pagi. Datang dengan kesejukan dan menghilang bersama kehangatan. Menyapa dalam keheningan melambaikan tangan saat dunia mulai bernyanyi.
Kerinduan. Semestinya akan selalu memberi kebahagian disaat datang datang dan perginya. Karena saling mencintai tak akan menyiksa sekalipun sekedar beratnya rasa, merindu.

Selamat pagi manisku, apa kabar?. Sudah mandikah?.

Sudah berapa hari ini, badan agak kurang enakan. Pilek, batuk dan sempat juga nyeri dibagian belakang dada hingga sesak untuk bernafas. Tak usahlah, tak perlu kau kwatir. Cuaca yang seperti ini, wajar bila sakit menyapa.

Pekan pertama, bulan terakhir tahun ini. Sebuah awal bulan yang dingin diguyur hujan dengan durasi yang begitu panjang. Masalah yang bermunculan, banjir, longsor, hingga pemadaman listrik yang menjadi rutin di Pacitan Barat. Ya, semoga semua lekas teratasi. Diberikan solusi dan kembali membaik. Dengan ada atau tidaknya hujan, beberapa Media dan kalangan elit politik memanglah sudah sakit. Mungkin itu sudah kronis. Pemberitaan yang tak berimbang, tak obyektif dan berpihak adalah wajah dari sebagian Media masa. Mereka hanya tahu soal uang dan bertengger jumawa dibalik perlindungan undang-undang pers. Gila memang. Ditambah adanya segelintir elit politik yang menjadi penumpang pemberitaan untuk kepentingan mereka dan golongannya.

Yah, dunia ini semakin gila terasa.