Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

13 des

Tiga belas desember 2016.
Selepas gerimis yang sebentar lalu.

Hari ini adalah hari pertama sidang kasus penistaan agama yang disangkakan pada salah seorang pejabat terkemuka ibukota. Bisa dibilang orang nomer satu di ibukota.

Sebelumnya, selamat malam manisku. Apa kabarmu?, apakah chanel teve mu juga menayangkan kegaduhan yang sama?. Memuakkan memang. Lebih memuakan dari tontonan perkelahian yang semakin marak di teve. Atau gadis-gadis dengan rok selututnya yang membuat reaksi laki-laki melumerkan enzim kebahagiaannya, haahaa tidak manisku, jangan kau bicara begitu. Kalaupun iya sedikit sajalah tak apa, haahaa

Betapa penting belajar Agama secara menyeluruh. Tak sebagian atau sepotong.

Betapa keras pukulan-pukulan terhadap norma dan Agama di semakin tuanya jaman. Disaat antar golongan paradu fatwa, ini hak, itu batil. Ini sah, itu bid'ah. Ini halal, itu haram. Sedangkab umatnya di bombardir dengan segala bentuk dari pihak luar. Tak selalu berpanji agama. Liberalisme yang tak bersangkut paut dengan konstitusi bekeliaran bebas karena mengetuk pintu tanpa busana liberalisnya. Berbisik tentang satu penghuni rumah pada penghuni lainnya. Contoh kecil Asas koperasi yang gotong royong digagahi bankir. Peraturan-peraturan yang timbul akibat gejala masyarakat, betapa menunjuk tak dinamisnya peraturan lalu.

Sejarah mencatat, saar "menjalankan syariat-syariat Islam bagi para pemeluknya" digantikan. Apa tidak menyakitkan bagi penganut Islam andai saja cuma mememintangkan agama yang saat ini hanya disebut sekelas golongan saja. Tapi, agama adalah ajaran keluhuran budi. Sesuatu diganti dengan beberapa alasan. Bisa karena tak relevan, bisa karena salah. Apa tak menyakitkan bila dipandang sebagia sesuatu yang tak relevan atau salah atau sejenisnya. Tapi, rahmatan lilalamin sekali lagi menunjukan kerahmatanannya. Toleransi demi kebaikan bersama. Kareba memang begitu yang diajarkan bersama.

Hasutan dan hasutan. Apapun bentuk peperangan, Sang Maha Cinta sangatlah melaknat yang memulai peperangan. Wallohualam.

0 komentar:

Posting Komentar