Waktu tak mungkin berputar mundur. Mengembalikan penyesalan-penyasalan agar mendapat refisi. Terus maju tanpa pandang bulu. Begitulah takdirnya, dan begitulah cara dia bertasbih pada nama Tuhannya. Ketaqwaan-ketaqwaan alam semesta sering kali terabaikan. Pandangan manusia yang sempit, mengimajinasikan ketaqwaan sebatas ritual keagamaan saja.
Imajinasi manusia memanglah payah. Sangat payah. Makluk berhati memang lemah. Coba tanyakan pada seseorang seperti apa surga itu. Maka kau akan dapati penggambaran yang beragam. Mungkin ada yang mendeskripsikan seperti taman bergantung babilonia, atau semacam penggambaran ada sabana diatas niagara. Atau bagaimana saja, maka yang kau temukan hanya penggambaran berdasar apa-apa yang pernah kalian lihat. Sungguh, pengetahuan manusia di hadapan hanya seperti sebutir pasir ditengah sahara. Seperti bintang di hamparan tatasurya. Jadi, kemungkinan pengetahuan manusia tak mencapai 0,1% dari misteri alam semesta. Maha Suci Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Waktu tak akan kembali. Lepas berlalu dan berganti. Tak akan mengiyakan hati hati yang lemah. Yang tak berhenti merengek, memprotes dan mendikte ketentuan Sang Maha. Semua, apa-apa yang mengisi semesta selain jin dan manusia senantiasa menjalankan apa-apa yang semestinya menjadi takdirnya. Tanpa protes, tanpa mengeluh. Waktu melaju melewati periode-periode yang masih di isi manusia-manusia yang tak banyak berbeda. Mungkin teknologi menjadikan manusia membedakan diri dengan generasi Generasi sebelumnya. Namun tetap saja, kebanyakan manusia terlalu berani pada Tuhannya. Secara halus atau terang-terangan.
Desember 2016. Bukan waktu yang sebentar dalam perjalan semesta. Namun manusia masih terjebak pada siklus yang sama. Hura-hura duniawi yang semakin hingar bingar. Harta, tahta dan kamu, adalah alasan sebuah perjuangan yang layak dipertaruhkan hidup mati.
Desember 2016. Walau jarum jam tak berputar tak lazim, tapi ada hal-hal yang terulang dari masa yang telah hilang.
Desember 2016. Suatu ketika dimana dihampir semua pemerintahan menganut sistem demokrasi. Sebuah sistem yang konon berjagon dari, oleh dan untuk rakyat. Tak banyak yang membedakan dengan keadaan sistem sebelumnya. Mungkin hanya cara berpartisipasi dalam pemerintahan mengatasnamakan siapa. Sedang kondisi yang terjadi pada masyarakat masih saja klise. Penguasa dan rakyat. Orang besar - orang kecil. Kaya - Miskin. Dan bla.. Bla.. Bla..
Desember 2016. Masyarakat masih menyaksikan banyak hal yang sama dari masalalu. Katanya ini era-nya bebas berpendapat, tapi, kebebasan untuk memenjarakan juga masih mudah. Saling melapor pada pihak berwajib, saling menuding, saling melempar argumen kosong, beradu pengaruh dan penggalian simpati. Semacam ini bisa disaksikan dengan mata dan otak telanjang. Seribu kali berganti sistem tak akan menjamin kedewasaan hidup bersama. Bukankah yang dipertontonkan kepada halayak hanyalah sifat kekanak-kanakan. Saling menyalahkan dan berebut benar. Tak ada penggambaran Keinginan perbaikan bersama untuk generasi berikutnya. Kehidupan bersama yang semula bertaruh segalanya berubah menjadi kepentingan-kepentingan.
Desember 2016. Apakah istilah Makar dalam suatu negara bukan lagi masalah serius?. Sampai-sampai istilah untuk kondisi terburuk dalam suatu negara tersebut berkeliaran bebas di telinga-telinga masyarakat yang bahkan tak tahu apa-apa soal negara. Apakah layak masyatakat yang keadilan, keamanan dan kesejahteraannya seharusnya menjadi tanggung jawab negara bertanya-tanya apa benar ada kondisi buruk dalam kantong-kantong rahasia kehidupan bersama. Kenapa informasi itu beredar sebegitu bebasnya dikalangan masyarakat luas?. Bila memang ada, tak perlulah pihak berwenang meminta persetujuan satu-satu warga negara untuk menindak masalah serius itu. Tangkap dan adili apa-apa yang perlu diadili. Sesuai aturan dan prosedur yang ada. Kenapa masyarakat harus menyisakan sedikit waktu dari lelahnya untuk berfikir "benar enggak orang itu begini begitu, danai ini danau itu, numpangi ini numpangi itu".
Desember 2016. Shitt... Sebagai rakyat bolehkah saya menuntut mereka-mereka yang sejujurnya menimbulkan rasa resah saya dibumi saya?. Kenapa kalau rasa nyaman investor asing menjadi prioritas ketimbang warganya sendiri. Apakah setiap warga negara harus protes saat mereka meras takut diidentikan pada golongan bermasalah?, apakah setiap anak harus mengadu pada negara akan keresahan hatinya kala melihat bapak-bapak mereka mendebatkan masalah orang-orang Besar yang sebebarnya, secara langsung tak ada hubungan. Apa setiap warga negara harus mengajukan penuntutan pada pemelihara kepentingan bersama kala dalam hati mereka mulai mengkhawatirkan kebhinekaan.
Apakah setiap pemonton televisi harus mengadu pada penguasa saat mereka bingung dan merasa dipermainkan berita politik yang berpihak? Lain media lain berita. Bukankah setiap konsumen media masa berhak atas berita yang obyektif. Kami inginkan tontonan dan informasi. Bukan dikte-dikte pandangan dan pemikiran.
Desember 2016. Diantara semua kekwatiran, aku kwatirkan keadaanmu, manisku. Apa kabarmu hari ini?. Aku rindu padamu.
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 07 Desember 2016
0 komentar:
Posting Komentar