Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

17 desember

Selamat pagi manisku, semangatku, apa kabarmu?. Sudah makan pagi?, cepatlah. Ini sudah tidak pagi lagi. Sudah hampir jam sebelas di hari sabtu pekan ke-2 bulan desember. Semakin tua saja kita, sekitar dua pekan lagi kalender masehi berganti satu angka paling belakab pada tahunnya.

Manis, apa yang kau pikirkan saat mendengar kata perang?. Ya, kau benar. Penderitaan, rasa sakit dan kebencian. Menang atau kalah tidak ada yang pernah diuntungkan oleh peperangan. Tak layaklah disebut prestasi tentang perang. Tapi manisku, tak ada yang mampu menutupi, kapanpun kondisi terburuk itu bisa saja terjadi. Terhitung sejak hari ini menuju dua dekade yang akan datang, entah apa alasannya, kurasa perang akan datang. Entah itu perang besar yang diramalkan oleh para pendahulu atau perang yang lain, hari itu kurasa akan datang. Tidak manisku, aku tak takut bila harus terjebur pada kondisi terburuk itu. Yang aku takutkan, saat itu datang kita tengah membesarkan anak-anak kita. Aku takut rasa sakit akibat perang menjerat dan menindih hatimu dan anak-anak kita. Beradu fisik bertaruh nyawa di medan perang memanglah sakit. Tapi, sesuatu yang lebih menyakitkan adalah bagi mereka yang ditinggalkan ke medan perang dan sisa-sisa perang. Berjanjilah manisku, bila saat terburuk itu benar-benar datang, berjanjilah kau harus menjadi wanita yang tangguh, ibu yang kuat, yang melindungi anak-anak kita secara lahir batin. Kuatkan jiwa dan keyakinan mereka. Agar kelak tumbuh sebagai manusia-manusia yang berguna.

Jazirah arab kurasa semakin pada kondisi yang tak kondusif. Gempuran terhadap Aleppo,Suriah, menjadi perbincangan hangat dan cenderung panas. Turki dan kerajaan Arab bereaksi. Turki menyediakan tenda-tenda untuk masyarakat sipil korban perang. Arab diberitakan mengusir dan memutuskan hubungan deplomatik dengan Rusia. Sementara, Indonesia menjalin komunikasi dengan Iran. Dan pergerakan pelan-pelan mulai nampak. Iran dikabarkan tegang dengan Israel. Terlalu banyak kobdisi dibelahan bumi lain, tapi kondisi buruk layaklah mendapat perhatian. Laut China Selatan tak juga mendapat keputusan yang diterima oleh semua pihak. China dikabarkan menggeser sebagian kekuatan militernya ke arah daerah Laut China Selatan.

Lepas dari kondisi buruk disebagian belahan dunia. Kondisi disebagian wilayah Negeri ini juga tidak pada kondisi terbaik. Polemik muncul disana-sini. Baik masalah-masalah baru ataupun masalah lama yang tak menemui penyelesaian sempurna. Sengketa antara warga dan perusahaan semen di Rembang. Masalah Reklamasi teluk benoa, dan banyak lagi. Bali punya sejarah perang yang layak untuk dibaca kembali berulang-ulang. Puputan yang pernah berkobar di jaman lampau bukanlah wujud primitif atau budaya lama. Puputan menurutku adalah cara terakhir masyarakat Bali menjaga apa-apa yang patut mereka pertahankan. Lebih-lebih teluk Benoa adalah tempat pertemuan sungai-sungai yang disucikan. Tentu ada nilai religius disana. Kalau sudah ditolak mayoritas masyarakatnya, untuk apa masalah ini masih dibicarakan. Hentikan saja. Bukankah rakyat adalah ibu kandung dari setiap negeri terlebih yang menggunakan sistem demokrasi.
Masalah baru timbul yang kebetulan terjadi menjelang pilkada ibu kota. Gubernur lama harus duduk di kursi pesakitan. Lalu mulailah muncul masalah toleransi menjadi perbincangan. Dipermasalahkan dan disempitkan ruang lingkupnya. Beberapa media dan oknim golongan elit sebenarnya lebih sering berbuat intoleran. Hanya saja, ruang lingkup toleransi disempitkan pada SARA saja. Entah bagaimana awal muncul istilah SARA itu, dewasa ini setiap kali terdengar SARA yang tercitra adalah sesuatu negatif. Bahkan, pada kompetisi tertentu di lampirkan syarat "tidak mengandung SARA". Suku,Agama,Ras dan Antar golongan, itu bukanlah sesuatu yang menggambarkan sebuah hal yang buruk. Justru sebaliknya. Toleransi sudah diputar-putar tak jelas. Orang jawa mengatakan "Mulek". Diadu domba secara halus atau terang-terangan.

Tentu sejarah tak akan pernah menghapus, ada suatu ketika dimana "Menjalankan Syareat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya" digantikan "Ketuhanan yang Maha Esa".

Sungguh, tiada yang merindukan peperangan besar yang pernah diberitakan oleh para pendahulu. Tapi, kapan datangnya tak bisa dipercepat ataupun ditolak. Yang terjadi pasti terjadi. Jadi, katakan pada mereka manisku, berhenti memprovokasi.

Hari sudah tidak pagi lagi manisku, lekas makan sianglah. Jaga kondisi. O,ya. Belakangan kau nampak semakin dewasa saja, makin mandiri. Teruslah seperti itu, manisku.
Happy nice weekend, Manis.

0 komentar:

Posting Komentar