"Dunia dalam keadaan baik-baik saja". Boleh saja terdengar sebagai kalimat penuh kedamaian. Tapi, ditelinga itu terdengar tak lebih dari kata-kata teramat naif. Selama Nasionalis masih menjadi barang mewah diatas kemanusian dan jiwa setiap bangsa, selama itulah perdamaian hanya sebatas menahan diri dari kerugian besar suatu bangsa.
Nasionalisme. Tentu bukanlah sesuatu yang diproduksi secara instan ataupun permainan sulap. Nasionalisme ada lah buah dari akar, batang dan daun yang saar ini terang-terang diperangi. Agama, ras, etnis dan antar golongan. Empat elemen itulah yang menerangkan tentang kesetia kawanan pada umat manusia. Jauh-jauh hari sebelum Nama, simbol dan bendera di kukuhkan.
Tapi lihatlah sekarang, oknum-oknum nasional telah dewasa dan menjadi "anak durhaka". Memperkosa dan menginjak ibu kandung mereka. Jika ada istilah atheis dalam dunia keTuhanan, maka orang-orang tersebut mengidap penyakit "tak berpaham". Matrealisme. Menghamba pada dunia dan pihak yang menguntungkan. Mereka-merekalah yang telah menodai apa yang disebut demokrasi dan nasionalisme. Mereka membuat demokrasi seperti lelucon. Yang mereka bilang demokrasi tapi tetap saja nyawa tirani mengalir didalam nadi. Orang tak akan mengatakan mereka tirani, karena setiap perjumpaan yang terlihat adalah demokrasi. Ini sudah semacam kerasukan. Banyak dari penganut demokrasi hanya berjuang untuk diri dan kelompok atau golongan mereka saja. Sementara pelayanannya keoada rakyat tak lebihnya ampas belaka, tak lebih dari make-up agar mereka serupa bernyawa demokrasi.
Hari ini, jika kau mau di bilang demokratis mengalirlah bersama limbah-limbah sistem itu. Sampah-sampah yang menghasut. Karena, jika kau bicara secara jujur dan mempertahankan nilai-nilai luhur Agama, ras, suku dan golonganmu kau bisa disebut radikal, pembangkang dan rak menutup kemungkinan dituduh subversib. Begitulah kondisi demokrasi yang sudah terkontaminasi. Disuntik ideologi-ideologi oportunis nan cenderung psikopat.
Jika demokrasi masih menjadi sistem yang terbaik maka kembalilah pada demokrasi yang benar-benar "Dari, Untuk dan Oleh Rakyat". Berfikirlah jauh dan luas. Didik generasi mu dengan dasar-dasar Nasionalisme dasar. Nilai-nilai Agama,suku,ras dan antargolongan sebenarnya. Stop isu SARA. Stop mem-per-penjahatkan mereka. Nasionalis bukan bukan sesuatu yang instan. Bukan mie kering yang cukup dimasukkan air panas lalu matang. Karena Nasionalisme butuh kawah Candradimuka untuk mematangkannya. Butuh perjalanan yang lama untuk sampai disana. Butuh mental baja dan semangat pantang menyerah yang tak akan patah ditempa hujan batu imperalisme.
Pertahankan setiap jengkal tanahmu meski dengan aliran darahmu. Dan jangan pernah mengambil milik bangsa lain walau hanya sejengkal. Agar nasionalisme hidup di dalam kemanusiaan, kemanusian hidup di dalam nasionalisme. Saling mengisi. Melindungi.
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 23 Desember 2016
0 komentar:
Posting Komentar