Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

bagiku,Tuhan itu "tak pernah ada"



“ TUHAN   ITU TAK PERNAH ADA “
Hay, bintang. Bagaimana malammu saat   ini?,. apa masih dingin seperti  malam-malam yang lalu. Dingin, dan sepi.  Atau malah sibuk dl yang  dengan segala hal yang menyibukanmu?, entahlah, betapapun kamu, semoga selalu ada kebahagian di dalamnya.
Pernahkah kamu berfikir suatu ha tentang Tuhan?, apa itu Tuhan, dan dimana dia berada?, apa ka menjumpainya dimanapun?, atau hanya sewaktu kamu sholat dalam lima waktu yang berbeda. Tuhsn memsng gaib. Tsk dapat dilihat, dan juga tak mudah dimengerti dengan istilah yang diajarkan orang-orang dengan gelar S. Ag, ataupun  S.PdI. terkadang manusia itu terlalu teoritis, mengatakan tentang sesuatu sesuai dengan apa yang dia terima mentah-mentah dari seseorang yang mereka sebut guru. Tanpa dapat dilihat apa yang ia maksut dengan perkataannya itu dalam sorot matanya. Hanya kata-kata indah dengan tatapan yang kosong. Suaranya memang menjelaskan, tapi mata dan jiwa mereka mnjelaskan hal lain. Dan hal lain itu adalah tentang diri mereka yang tahu apa-apa.
Tuhan. Bagiku, Tuhan itu tak pernah ada. Mungkin kalimat itu provokatif. Tapi bagi mereka yang mengenali Tuhan mereka, mereka akan memahami makna kata itu. ya, Bagiku Tuhan itu memeang tak pernah ada. Namu andai kau juga sulit memahaminya, letakkanlah tanda petik disebelum kata “Pernah dan sesudah kata ada” dan kau coba pahami lagi apa maksut kata itu.
Kata pernah menurutku adalah bentuk kata lampau. Yang bermaksut yang semulanya begitu namun sekarang tak lagi. Maka kalimat itu diwakilkan pada kata “pernah”.
Seseorang yang mengenal Tuhannya, akan membawa Tuhan mereka dimana pun dia berada. Termasuk saat berbuat dan bermimpi. Jika mendengar kata “Tuhan tak “Pernah Ada”, kemudian memaki sang pembuat pernyataan, mengatakan dia kafir, ataupun sesat. Maka cobalah pahami. Apa ada Tuhan dalam dirinya. Tuhan telah tergantikan dengan kebencian dan amarah. Dan Tuhan pun Tenggelam dan dihilangkan.
Hidup ini soal permainan kata, yang mudah mengambil persepsi, dia yang kalah bermain di awal babak. Mereka tak sanggup bersaing dengan ide gila msuh mainnya. Dia lemah,karena dia hanya tahu dari apa yang dia baca, dengar, dan yang guru mereka ajarkan.
Kalau aku harus marah, aku lebih bisa marah dengan orang yang berani mengatakan bahwa Tuhan itu “pernah ada”. Pernah berarti terjadi sesaat sebelumnya, namun sirna untuk saat ini.
Mungkin itulah ceritaku hari ini, apa yang ingin ka ceritakan padaku malam ini bintang?, ceritakanlah nanti dalam mimpi indahku. Selamat malam bintang, mimpi yang indah.

Selamat malam

Selamat malam bintang... Apa kabarmu di tanggal 17 Agustus ini?,masihkah kau sibuk hari ini?, apa kau tak buka twitter sepekan ini?. Pantesan, tak ada ceritamu di dumay.  emmmtt, pacitan,.. Masih Seperti biasanya, dingin. Dingin sekali. Mungkin karena dingin di kota ini, hingga aku tumbuh menjadi pribadi yang dingin.heehee. Aku bercanda.
Emmttt..
Aku pernah baca sebuah buku. Sejenis novel gitulah. Dikarang oleh budayawan kawakan sekelas Sujiwotedjo. Ada kalimat yang terkadang saat membacanya suka senyum-senyum sendiri.

"Puncak kerinduan adalah saat dua orang tidak saling bicara, SMSan, chattingan, BBMan, FBan, atau Twitteran, tetapi diam2 saling mendoakan"
Kurang lebih begitulah. Apa kita seperti itu bintang?, atau malah?... Atau malah hanya kita tak begitu kenal. Dan aku hanya terbuai oleh harap-harapku dan juga doa-doa tentangmu?, dan aku tak pernah ada dalam cerita penamu. Malang sekali andai benar begitu.
Tapi biar bagaimanapun, perasaan ini datang dari Tuhan, dan padaNyalah aku kembalikan dan pasrahkan. Semenjak waktu itu, yah, waktu itu. Lama sekali. Sampai-sampai aku lupa cerita persisnya aku lala padamu. Yang jelas, aku menjaga dan tidak untuk wanita manapun. Sekalipun pada akhirnya, memang bukan untukku, aku tak akan memberikannya rasa itu pada wanita manapun. Biar aku buatkan perasaan baru untuk wanita itu, walau tak se full version untukmu. Yang untukmu biarlah ku simpan dalam-dalam. Bukankah dulu pernah ku katakan padamu, manusia itu harus konsekwen pada ucapannya. Dan aku terima segala konskwesinya nantinya. Aku sih berharapnya happy ending, tapi kenyataan siapa yang tahu. Aku dedikasikan semua ini padamu. Walau akhirnya aku harus hancur terlindas beratnya kenyataan. Mungkin aku belajar untuk tidak menyesal. Sekalipun siapa yang bisa terima.

17 Agustus ?

17 Agustus 2014...
Bagiku sama saja dengan hari kemarin ataupun lusa. Hanya saja hari ini hari ahad. Setidaknya aku tak sibuk dengan kertas,IR, ataupun jilidan-jilidan hard cover. Bagaimana denganmu hari ini, Bintang?,

Hari ini orang-orang yang mati dibangkitkan kembali. Digunakan serupa baleho untuk iklan dan pencitraan. Tidur nyenyaknya diusik, dengan namanya yang dipanggil-panggil lewat pengeras suara oleh para oportunis yang menempelkan logo nasionalis di jidatnya. Gagah... #heh,

Nasionalis bagiku bukanlah sekedar Indonesia raya, Nasionalis bukan sekedar garuda pancasila,Bulan pula bukan sekedar berbahasa Indonesia.
Tapi lebih dari itu. Ketika putra daerah menghafal dan memaknai lagu daerahnya, tak seperti dia dipaksa mengurai Indonesia raya. Ketika orang-orang didaerah tahu kontur alamnya, potensi daerahnya. Dan tak seorangpun memilih dua diantara satu; Bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
Ketika seorang petani fokus pada cangkul dan ladangnya, tanpa dipaksa menjadi kader partai dengan iming-iming kemenangan dan kesejahteraan.

Nasionalis itu rangkaian, bukan paksaan keseragaman. Apalah arti seragam, jika hanya dilandasi rasa takut dan was-was akan dipenjarakan.
Ketika para putra daerah cinta pada budaya leluhurnya, maka seperti itulah dia akan melakukannya pada bansa negaranya.

Menanamkan Nasionalisme itu tak seperti Fasisme. Bukan paksaan,melainkan kebanggaan. Ketika budaya leluhurnya dihargai, dan toleransi diajarkan dan dijunjung tinggi. Maka Nasionalisme murni akan timbul dan abadi.

"Nasionalis bukan keseragaman yang dalam intimindasi, melainkan rangkaian perbedaan yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai-nilai budaya luhur leluhurnya"

Senja 14 agustus


Senja, empat belas agustus 2014.
Apa kabar mu senja ini?,
Selalu ku berharap kau baik-baik saja.
Bintang, apa yang kau jumpai hari ini?,
Sudahkah kau lihat orang-orang yang mati dibangkitkan?
Entahlah,
Aku sendiri tak tahu apakah jasad mereka masih utuh,
 
Tiga hari menjelang tujuh belas Agustus. Sebentar lagibangsa ini akan melintas pada hari yang kelam. Hari yang membuat semua orangingat bangsa ini pernah diperbudak imperalis,Di jajah?,Kuarasa tidak,Kita selalumelawan,Sekuat tenaga berusaha mengambil kembali tiang bendera kita,Kita takpernah dijajah, waktu itu. Hanya saja ada penguasa-penguasa pengecut yang takutmati,Lalu lebih memilih membudak pada penjajah.
Aku tak pernah takut dijajah fisik,Karena melawan atau tidakkita pasti mati,Dan bukankah hidup mati itu takdir. Dan kurasa penjajah takjauh kalah kelas dari Tuhan, yang padanyalah hidup mati dan segala urusandigenggam. Tappi ketika pemikiran yang dijajah?, kurasa tradisi membudak ituakan turun temurun walau terkadang dianggap kehormatan.
Bangsa ini memang terpuji. Tapi terkadang ada yang larutkemudian hanyut dalam pujian. Diracuni, dan dibunuh pelan-pelan. Terlebih parapembuat kebijakan yang tulen. Yang masih meneguk ludah untuk keping emas dan selangkangan.Berdiri di pundak dan kepala saudaranya sendiri. Yang bicara dengan hokum danloronbg misiu. Turut atau mati diam-diam.
Selamanya, perubahan hanyalah onani. Ketika akar-akar keladidicabut, namun menjatuhkan benih-benih bijinya pada tanah berpagar hokum danberpupuk kekuasaan. Tunas keladi tiada yang tahu, sebelum mebuat kulit-kulithalus memerah gatal; keroken.
Orang-orang besar hanya berbicara soal kemerdekaan secaragaris besar. Merka tak akan bisa mengerti bagaimana rasanya merdeka dariperayaan tidur di pinggiran jalan. Pakaian dekil dan perut yang kelaparan. Merekahanya tahu merdeka dari tiang tinggi istana yang mengibarkan sang saka. Lalu diahormat dengan keangkuhan. Mungkin, sang saka pun menangis melihat tata nasibbangsa ini. Yang mencitrakan Tuhan seolah kejam. Bukan Tuhan, tapi orang-orangpenuh wibawa yang lupa nasib saudaranyalah yang berbuat. Bila bangsa inibenar-benar merdeka, ingin sekali aku melihat barisan parajendral di lapiskedua pada saat upacara kemerdekaan di istana. Dibelakang para orang –orang yangberjuang dari kelaparan dan kematian karena terabaikan. Aku tak tahu apakahpara jendral dapat melihat ujung tiang sang saka, karena aku juga tak pernqahtahu, seberapa panjang barisan orang kelaparan yang menempati barisan di depanjendral. Lalu semua mengepalkan tangan tanpa merasa tak dihormati soal posisidia berbaris. Serentak berteriak “MERDEKA” sampai para malaikat mendengarnya.  
 

malam ini,..?


Waktu menjelang pukul sepuluh malam, tanggal sebelas Agustus yang mungkin berakir beberapa jam lagi. Lagi- lagi aku menulis untukmu. Gadis manis calon sarjana.
            Sedang apa kau malam ini?,.. aku membayangkanmu dalam wajah ceria. Semoga begitulah kenyataannya. Bersama lagu-lagu romantis dari ungu, yang dulu sering kudengarkan sambil berbalas pesan singkat denganmu. Yah, mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan tentang aku dan kamu. Selain curahan hati, ritmenya cukup nyaman mengisi pendengaranku yang mulai hampa,hening.
            Bintang, aku masih berharap. Sekalipun aku terkadang merasa takut. Takut sekali,mmmttt…….
            Entah mengapa, terkadang aku menempatkan posisiku pada peran utama dalam kisah hidup tentang aku dan kamu. Aku merasa menjadi seseorang yang paling berhak kamu prioritaskan. Padahal, aku sendiri tak yakin kalau aku adalah bagian yang pernah ada dalam hidupmu.
Bara kesepian mengantar nafas jiwa menjadi melankolis. tak berkata, sayu bersama kenangan-kenangan yang tanggelam dalam kenyataan. lampau dan serupa usang. andai saja,.... ?
hah, sudahlah. biar nadi beredetak bersama apa yang semestinya telampoi tanpa melupakan, andai saja Tuhan mengijinkan aku untuk bisa kembai pada masa-masa itu sekaipun, aku tak akan pernah melakukannya.  Aku lebih suka menghadapi apa yang kini ada. Mungkin perih,tapi untuk apa menjadi manusia yang manja, manusia yang hanya menghadapkan dirinya pada hal-hal yang indah. Yang tak membiarkan orang –orang pilu mengikmati kepiluannya sampai mati. Takaran sebuah hidup adalah bagaimana dapat merasakan segala hal, termasuk kepedihan. Sekalipun dia berpeluang tak merasakannya. Namun membiarkan orang lain dalam kepedihan padahal dia berkesempatan untuk menguatkan, adalah sebuah kesalahan.

Menjelang 10 agustus

Malam ini, menjelang pertengahannya aku duduk di antara keheningan -keheningan yang tengah berjuang melawan derik-derik jangkrik. Entah siapa yang terkuat, karena kesepian masih kurasakan saat derik jangkrik meriuh diselingi longlong guguk dikejauhan. Aku boleh bisa kesepian tanpa kabarmu. Terakir kita berucap lewat huruf huruf bernada, saat kira-kira aku mengucap selamat ulang tahun padanmu. Manis, sebelum malam meninggalkan angka 00:00-nya, ku ucapkan padamu; "selamat malam, mimpi yang indah".

Barusan, selepas dari warung poci sebelah selatan Sekolahku dulu. Saat perjalanan pulang, sekilas aku melihat seseorang lusuh di selatan jalan di depan balai desa. Entah seorang laki-laki atau wanita. Aku tak sanggup melihat dosa, dari ketegaan menatap orang-orang yang entah kemana haknya. Di sebekah karung berisi botol-botol bekas dia sepertinya duduk menanti sesuatu. Entah apa itu. Mungkin selayaknya keadilan hidup. Atau, seseorang yang bisa memberinya kelayakan hidup. Tapi sayang, yang lewat hanyalah seorang aku. Udara malam mulai serak-serak, diantara musim yang entah dimana kehidupan padi diletakkan. Menurut ku kemarau, tapi gerimis dan mendung masih saja kulihat. Yang jelas, malam ini dingin saat aku belajar isomnia. Saat orang tidur di atas ranjang empuknya,atau malah wanita empuknya. Sedang orang-orang dipinggir jalan yang tadi?, terlupakan, dan mungkin akan disambut esok pagi dengan rasa was-was ataupun jijik. Andai malam ini dia berselimut hipotermia, mungkin tak ada manusia membasuhnya dengan kedukaan. Apalah arti nasib?, jika otak-otak sarjana berlapis oportunis.

Hey, selamat perpegak.

Di depan sana, di SMA Negeri. Para senior tengah merencanakan balas dendam. Entah hal gila apa yang dilakukan mereka. Mungkin lebih gila dari pernah mereka terima . Masih pukul setengah lima pagi, para anak mama diantar papanya. Datang ke sekolah sepagi ini,entah apa yang mereka cari. Heh, anak SMA.
Nanti malam mungkin aku akan nonton orang-orang yang melingkari kayu yang di bakar. Api unggun, mungkin begitu. Aku rasa acara tahunan ini akan dan selalu menampakkan wajah-wajah lama yang ku rasa sudah membosankan. Yang masih merasa penting, dan ikut mengisi pensi dengan adegan nora pura-pura kesurupan. Aku masih ingat betul, bagaimana kawan-kawan seangkatan saya dibuat pusing yang diawali aksi kampungan itu. Banyak yang sakit, ada yang kesurupan, menjerit histeris,dan acara malam itu mendadak berantakan,menurutku. Aku memang tak suka Pramuka,bisa jadi malah benci. Tapi, semasa sekolah dulu, aku dekat dengan kawan-kawan pramukaku. Aku suka mereka semua sebagai seorang kawan, bukan bocah labil yang "nyunggi" tunas kelapa berwarna kuning kemana-kemana. Yang nanpak tempramen,mungkin kurang piknik.
Yah, mungkin itu persepsiku saja, yang bisa jadi juga salah. Tapi bagiku, ekstkul yang asyik itu PA. yang bisa piknik ke pantai,gunung dan air terjun. Ga garus mikir keras. Toh sebenarnya, tujuan utama sekolah adalah belajar.

Terserah,

Hari yang cerah,..
Masih dalam gugus musim yang tak lagi tentu,
Apa ada yang lebih indah dari hari ini?,
Kau bilang "banyak"
Tapi apa ada yang lebih berarti dari hari ini?,
Kau pun sama.
Banyak, tapi hari ini salah satunya..
Betapa tidak,
Matahari masih meluangkan waktu,
Hingga saat senja kemarin dalam tanda tanya;
Pagi ini terjawab sepurna,
Yah, sempurna. Dia jumpa kembali.
Tapi,...
Hah, aku rasa hidup ku penuh dengan kata tapi. Apa ada satu kata yang bisa kau ajarkan padaku sebagai gantinya. Entahlah, kau malah diam. Tapi aku suka diammu. Karena diammu itu waktu itu, aku jatuh hati padamu. Entah sudah berapa pesta tahun baru yang terlalui, perasaan itu masih menguasai hati ini. Apa aku tolol?, mungkin itu ketololan yang takkan aku rubah. Jika ada yang harus berubah, biarlah Tuhan yang merubahnya. Karena aku bukan orang hebat yang bisa membuat keputusan berbada dalam rentang yang tak lama.

Wanita bisa saja jatuh hati pada laki-laki manapun. Wanita romantis adalah wanita yang melabuhkan hatinya karena kasih sayang. Sedang yang melebuhkan hatinya karena masadepan adalah wanita cerdas. Setiap wanita berhak menjadi cerdas atau romantis, atau malah menjadi sekelas jenius atau indigo yang menggabungkan keduanya. Tapi untuk menjadi wanita yang lain pun tak apa. Yang melabuhkan hatinya karena sesuatu yang tak dimengerti banyak orang.

Manusia hidup atas hidup mereka sendiri. Mau jadi apa, mau kemana, semua sah saja. Asal tak lepas dari dua hal. Norma dan sariat. Entahlah, kau lebih tau hidupmu sendiri selain Tuhan.

Agustus 7th '14

Hay bintang,.. Apa kabarmu?,  selamat hari kamis, selamat tanggal 7 agustus,selamat apa saja. Setiap aku teringat tentangmu, haripun menjadi saat yang tak sekedar biasa. Aku ingin ucapkan selamat atas segala hal yang berharap selalu indah. Apa hari ini ada yang istimewa untukmu?, apa ada yang kau sambut hari ini. Apapun semoga segala tentangmu selalu yang terbaik.

Sebenarnya tak selalu hariku terasa baik-baik saja. Segudang masalah harus ku urai satu satu. Tuntutan jiwa yang tak selalu kumengerti, dan mimpi besar yang sampai kini tak ku jumpai gerbangnya. Tapi semua hilang sejenak, kau tahu kenapa?, karena tanpa sengaja kau selalu menjadi motivator hidupku. Kau hebat, sekalipun tak kau mengerti dan kau sadari.

Di depan sana SMA Negeri, suatu tempat yang telah memberi banyak pelajaran pada ku dulu. Seperti yang banyak orang lihat, kemegahannya menggambarkan arti besarnya bagi kebanyakan orang. Dan bagiku, mungkin itu analogi kasar untukmu. Kau hebat.

ketujuh kalinya.

30-31 Juli 2014. yah, penghujung juli yang telah membawaku menuju ke gunung lawu untuk ke-7 kalinya. pagi itu aku berangkat menuju sekitar pancasila 9 (ps9) gio. setelah banyak yang mau ikut tapi ga jadi, aku akhirnya berangkat bersama Arian Bayu,begitu user twitternya. seorang yang beberapa tahun lebih dulu memijak bumi sebelumku.
kami awali pendakian selepas duhur. kira-kira pukul 13:00 WIL. bersama seorang dari jakarta dan seorang lagi dari madiun.
mungkin orang akan bertanya, untuk apa kami berlelah-lelah berjalan berjam-jam,kemudian turun kembali. anda tidak mengerti kenapa?. sama, sama halnya kenapa ada yang bisa senang dengan sebotol minuman dan gadis-gadis anda. mungkin kita berada pada pencarian satu hal yang sama namun cara yang berbeda.
yah, apapun,.. naik gunung telah menjadi sebagian dari hidupku. terimakasih untuk semua hal dan kenangan manisnya.