Malam ini, menjelang pertengahannya aku duduk di antara keheningan -keheningan yang tengah berjuang melawan derik-derik jangkrik. Entah siapa yang terkuat, karena kesepian masih kurasakan saat derik jangkrik meriuh diselingi longlong guguk dikejauhan. Aku boleh bisa kesepian tanpa kabarmu. Terakir kita berucap lewat huruf huruf bernada, saat kira-kira aku mengucap selamat ulang tahun padanmu. Manis, sebelum malam meninggalkan angka 00:00-nya, ku ucapkan padamu; "selamat malam, mimpi yang indah".
Barusan, selepas dari warung poci sebelah selatan Sekolahku dulu. Saat perjalanan pulang, sekilas aku melihat seseorang lusuh di selatan jalan di depan balai desa. Entah seorang laki-laki atau wanita. Aku tak sanggup melihat dosa, dari ketegaan menatap orang-orang yang entah kemana haknya. Di sebekah karung berisi botol-botol bekas dia sepertinya duduk menanti sesuatu. Entah apa itu. Mungkin selayaknya keadilan hidup. Atau, seseorang yang bisa memberinya kelayakan hidup. Tapi sayang, yang lewat hanyalah seorang aku. Udara malam mulai serak-serak, diantara musim yang entah dimana kehidupan padi diletakkan. Menurut ku kemarau, tapi gerimis dan mendung masih saja kulihat. Yang jelas, malam ini dingin saat aku belajar isomnia. Saat orang tidur di atas ranjang empuknya,atau malah wanita empuknya. Sedang orang-orang dipinggir jalan yang tadi?, terlupakan, dan mungkin akan disambut esok pagi dengan rasa was-was ataupun jijik. Andai malam ini dia berselimut hipotermia, mungkin tak ada manusia membasuhnya dengan kedukaan. Apalah arti nasib?, jika otak-otak sarjana berlapis oportunis.
Filed Under : by tri widhiono
Minggu, 10 Agustus 2014
0 komentar:
Posting Komentar