Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

malam ini,..?


Waktu menjelang pukul sepuluh malam, tanggal sebelas Agustus yang mungkin berakir beberapa jam lagi. Lagi- lagi aku menulis untukmu. Gadis manis calon sarjana.
            Sedang apa kau malam ini?,.. aku membayangkanmu dalam wajah ceria. Semoga begitulah kenyataannya. Bersama lagu-lagu romantis dari ungu, yang dulu sering kudengarkan sambil berbalas pesan singkat denganmu. Yah, mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan tentang aku dan kamu. Selain curahan hati, ritmenya cukup nyaman mengisi pendengaranku yang mulai hampa,hening.
            Bintang, aku masih berharap. Sekalipun aku terkadang merasa takut. Takut sekali,mmmttt…….
            Entah mengapa, terkadang aku menempatkan posisiku pada peran utama dalam kisah hidup tentang aku dan kamu. Aku merasa menjadi seseorang yang paling berhak kamu prioritaskan. Padahal, aku sendiri tak yakin kalau aku adalah bagian yang pernah ada dalam hidupmu.
Bara kesepian mengantar nafas jiwa menjadi melankolis. tak berkata, sayu bersama kenangan-kenangan yang tanggelam dalam kenyataan. lampau dan serupa usang. andai saja,.... ?
hah, sudahlah. biar nadi beredetak bersama apa yang semestinya telampoi tanpa melupakan, andai saja Tuhan mengijinkan aku untuk bisa kembai pada masa-masa itu sekaipun, aku tak akan pernah melakukannya.  Aku lebih suka menghadapi apa yang kini ada. Mungkin perih,tapi untuk apa menjadi manusia yang manja, manusia yang hanya menghadapkan dirinya pada hal-hal yang indah. Yang tak membiarkan orang –orang pilu mengikmati kepiluannya sampai mati. Takaran sebuah hidup adalah bagaimana dapat merasakan segala hal, termasuk kepedihan. Sekalipun dia berpeluang tak merasakannya. Namun membiarkan orang lain dalam kepedihan padahal dia berkesempatan untuk menguatkan, adalah sebuah kesalahan.

0 komentar:

Posting Komentar