17 Agustus 2014...
Bagiku sama saja dengan hari kemarin ataupun lusa. Hanya saja hari ini hari ahad. Setidaknya aku tak sibuk dengan kertas,IR, ataupun jilidan-jilidan hard cover. Bagaimana denganmu hari ini, Bintang?,
Hari ini orang-orang yang mati dibangkitkan kembali. Digunakan serupa baleho untuk iklan dan pencitraan. Tidur nyenyaknya diusik, dengan namanya yang dipanggil-panggil lewat pengeras suara oleh para oportunis yang menempelkan logo nasionalis di jidatnya. Gagah... #heh,
Nasionalis bagiku bukanlah sekedar Indonesia raya, Nasionalis bukan sekedar garuda pancasila,Bulan pula bukan sekedar berbahasa Indonesia.
Tapi lebih dari itu. Ketika putra daerah menghafal dan memaknai lagu daerahnya, tak seperti dia dipaksa mengurai Indonesia raya. Ketika orang-orang didaerah tahu kontur alamnya, potensi daerahnya. Dan tak seorangpun memilih dua diantara satu; Bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
Ketika seorang petani fokus pada cangkul dan ladangnya, tanpa dipaksa menjadi kader partai dengan iming-iming kemenangan dan kesejahteraan.
Nasionalis itu rangkaian, bukan paksaan keseragaman. Apalah arti seragam, jika hanya dilandasi rasa takut dan was-was akan dipenjarakan.
Ketika para putra daerah cinta pada budaya leluhurnya, maka seperti itulah dia akan melakukannya pada bansa negaranya.
Menanamkan Nasionalisme itu tak seperti Fasisme. Bukan paksaan,melainkan kebanggaan. Ketika budaya leluhurnya dihargai, dan toleransi diajarkan dan dijunjung tinggi. Maka Nasionalisme murni akan timbul dan abadi.
"Nasionalis bukan keseragaman yang dalam intimindasi, melainkan rangkaian perbedaan yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai-nilai budaya luhur leluhurnya"
Filed Under : by tri widhiono
Minggu, 17 Agustus 2014
0 komentar:
Posting Komentar