Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Senja 14 agustus


Senja, empat belas agustus 2014.
Apa kabar mu senja ini?,
Selalu ku berharap kau baik-baik saja.
Bintang, apa yang kau jumpai hari ini?,
Sudahkah kau lihat orang-orang yang mati dibangkitkan?
Entahlah,
Aku sendiri tak tahu apakah jasad mereka masih utuh,
 
Tiga hari menjelang tujuh belas Agustus. Sebentar lagibangsa ini akan melintas pada hari yang kelam. Hari yang membuat semua orangingat bangsa ini pernah diperbudak imperalis,Di jajah?,Kuarasa tidak,Kita selalumelawan,Sekuat tenaga berusaha mengambil kembali tiang bendera kita,Kita takpernah dijajah, waktu itu. Hanya saja ada penguasa-penguasa pengecut yang takutmati,Lalu lebih memilih membudak pada penjajah.
Aku tak pernah takut dijajah fisik,Karena melawan atau tidakkita pasti mati,Dan bukankah hidup mati itu takdir. Dan kurasa penjajah takjauh kalah kelas dari Tuhan, yang padanyalah hidup mati dan segala urusandigenggam. Tappi ketika pemikiran yang dijajah?, kurasa tradisi membudak ituakan turun temurun walau terkadang dianggap kehormatan.
Bangsa ini memang terpuji. Tapi terkadang ada yang larutkemudian hanyut dalam pujian. Diracuni, dan dibunuh pelan-pelan. Terlebih parapembuat kebijakan yang tulen. Yang masih meneguk ludah untuk keping emas dan selangkangan.Berdiri di pundak dan kepala saudaranya sendiri. Yang bicara dengan hokum danloronbg misiu. Turut atau mati diam-diam.
Selamanya, perubahan hanyalah onani. Ketika akar-akar keladidicabut, namun menjatuhkan benih-benih bijinya pada tanah berpagar hokum danberpupuk kekuasaan. Tunas keladi tiada yang tahu, sebelum mebuat kulit-kulithalus memerah gatal; keroken.
Orang-orang besar hanya berbicara soal kemerdekaan secaragaris besar. Merka tak akan bisa mengerti bagaimana rasanya merdeka dariperayaan tidur di pinggiran jalan. Pakaian dekil dan perut yang kelaparan. Merekahanya tahu merdeka dari tiang tinggi istana yang mengibarkan sang saka. Lalu diahormat dengan keangkuhan. Mungkin, sang saka pun menangis melihat tata nasibbangsa ini. Yang mencitrakan Tuhan seolah kejam. Bukan Tuhan, tapi orang-orangpenuh wibawa yang lupa nasib saudaranyalah yang berbuat. Bila bangsa inibenar-benar merdeka, ingin sekali aku melihat barisan parajendral di lapiskedua pada saat upacara kemerdekaan di istana. Dibelakang para orang –orang yangberjuang dari kelaparan dan kematian karena terabaikan. Aku tak tahu apakahpara jendral dapat melihat ujung tiang sang saka, karena aku juga tak pernqahtahu, seberapa panjang barisan orang kelaparan yang menempati barisan di depanjendral. Lalu semua mengepalkan tangan tanpa merasa tak dihormati soal posisidia berbaris. Serentak berteriak “MERDEKA” sampai para malaikat mendengarnya.  
 

0 komentar:

Posting Komentar