Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

20 nopember 14

Ini sudah menjelang sepertiga bulan nopember tahun ini. Ladang-ladang tadah hujan di pinggiran barat kota pacitan juga sudah mulai ditaburkan bibit-biibit poliwijo. Anak-anak sekolah mulai menambahkan jas hujan diantara buku-bukunya. Selamat menjelang penghujun tahun, selamat datang langit penghujan. Kami rindukan mendung dan gilat petir yang membuat tangan dan telinga kami menjadi dekat.

Ini sudah menjelang pukul sebelas malam waktu bagian kota baturetno. Di seberang gedung sekolah yang telah mengajariku banyak hal,dulu. Sekarang biarkan generasi ke-31 yang mengisi ruang-ruang disela pr dan tugas yang menyibukkan. Biar putri dan kawan-kawannya yang kini melukis dinding-dinding sekolah itu.
Tapi, entah mengapa, malam ini aku ingin berjalan-jalan kembali ke masa itu. Walau tak pernah ada dalam inginku kembali ke tahun-tahun itu. Malam ini hanya ingin semacam membuka-buka buku kenangan. Yah, mungkin begitu.
Tahun-tahun itu adalah masa yang andil besar dalam mengukir karakterku. Di bawah bendera laskar-laskar yang berkibar.

Entah kemana semua yang dulu sempat berbaris dalam satu barisan yang pelangi. Rohis, Pencinta Alam, Osis, dan laskar-laskar kelas yang hebat. Mungkin mimpi itu datang dari segala arah, begitupun peluang dan akhirnya kami pergi. Hingga membuat kami tersebar terpisah dalam andaian yang berbeda. Masih jelas ku ingat suara ombak malam itu. Di tepian pantai Srahu yang tajam menghujam. Kala itu hujan rintik-rintik. Sesekali menderas. Sesekuat angin berhembus memaksa kami berteduh di bawah bivak-bivak alam.sebuah awal cerita kami mencari pengakuan keanggotaan dengan badge berbentuk cakra. Dan dari situlah, kami tulis cerita dan melukis kenangan di dinding-dinding alam. Tanyakan pada ombak di srahu, pasir putih pantai nampu, tebing gunung gandul, dan dinginnya girimanik. Kami pernah disana.

Masih teringat jelas, anak-anak rohis. Yang belajar manafsirkan kitab dan ajaran agama. Yang disana juga terkenang lelucon anak muda di serambi masjid sekolah. Merancang perayaan hari besar, dan kegiatan-kegiatan keagamaan sekolah waktu itu. Keluar masuk ruang pejabat sekolah mengejar tanda tangan orang- orang punya wewenang ijin kegiatan dan dana. Pulang menjelang petang, menapak jelas empat sahabat dari sisi selatan pulau ini. Aji, Alifi, Dhimas dan aku.

Osis, entah kebanggaan atau beban disana. Dituntut disiplin dengan serentetan prosedur yang tak semuanya menyenangkan. Tapi, berangkat subuh, bentak-bentak junior, perayaan HUT Sekokah tiga hari tiga malan, dan terakir tour bersana yang dilanjut buka puasa bersana terakir kalinya adalah rangkaian cerita yang akan aku kenang selama hidupku.

Aku tak pernah tahu alasan pasti, kenapa dulu memilih jurusan Ilmu Alam. Selepas dipenhujung kelas sepuluh tujuh yang rock n roll, yang Meneruskan kutukan generasi sebelumnya, sebagai kelas yang "wow" dikalangan para arsitek pendidikan sekolah itu. Jack dan kawan-kawan telah menjadi tokoh dalam hidupku.
Masuk jurusan IPA membuat siapapun didalamnya dituntut sempurna. Walau tak banyak rumus yang membekas, tapi, kawan-kawan "Mripat" telah membayarnya sempurna. Lebih dari tiga puluh dua karakter diracik disana. Dan kini kami bukan lagi adonan, melainkan telah masak sebagai sebuah keluarga besar.

Masa itu berlalu nyaris sempurna. Yang kutulis dalam sejarah hidupku. Dan kini generasi ke-31 berhak atas kisahnya. Biar putri dan kawan-kawannya melukis pelangi dalam kanvas putih abu-abunya.

Malam 18 nopember 14

Setelah petang berlalu, ucapkanlah selamat datang pada alam malam. Sesuatu yang akan membawamu hanyut dalam keheningan dan rasa dingin selepas hujan petang tadi. Di tepian jalan penghubung dua kota ini aku masih menata imaji. Melayang-layang diantara suara kendaraan yang masih lewat, satu dua. Menatap hari esok, menerka-nerka apa yang akan ku temui selepas pagi menjemput. Apa masih manusia-manusia berdandan putih abu-abu yang sibuk dengan potongan-potongan koran dan soal?, atau ada hal lain yang bisa membawaku menantikan sesuatu selain gajian di akhir bulan ini?, adakah?, entahlah. Aku belum tahu banyak tentang hari esok.

Terkadang, siklus hidupku begini-begini saja. Tak punya masa depan yang jelas dan diprioritaskan sebagai seorang laki-laki. Tapi beginilah aku, tak mempunyai cerita indah selain rentetan kelucuan dan kekonyolan yang mengundang tawa. Dan aku suka melihat orang lain masih bisa tertawa.
Terlahir di tahun sembilan tigaan, tentu membuatku harus lebih serius lagi. Walaupun sejak kecil selalu ada sikap serius dalam jeda-jedaku mengumbar tawa. Teman -teman seangkatanku yang melanjutkan kuliah juga sudah mulai mengerjakan skripsinya, bahkan sudah ada beberapa yang sudah meraih gelar sarjana mudanya. Dua atau tiga tahun lagi setidaknya aku harus sudah menemukan jalan menuju mapan. Menjadi bagian dari orang-orang yang membuktikan bahwa tak harus dengan gelar dari perguruan tinggi untuk bisa hidup. Walaupun, disanalah tempat pendidikan dan penggalian masa depan yang terbaik. Punya penghasilan tetap, dan menikah saat keluarga besarku masih utuh adalah cerita terindah yang ingin ku tulis. Setidaknya mbahku masih bisa melihat, siapa yang bakalan beruntung menjadi pilihan cucunya ini. Semoga saja.

17 nopember 14

Sudah pagi lagi, dan hujanpun telah reda.
Kemarin sore, adalah hujan teromantis yang pernah ku lihat. Aku melihat puisi berawal di seberang jalan gang menuju kecamatan. Berlanjut hujan yang rintik-rintik yang kemudian menderas. Senyum yang dulu kutulis dalam surat doaku pada Tuhan, hadir walau tidak untukku. Setelah berusaha melupakan, setelah aku berusaha memulai hidup tanpa bayang-bayangnya, Tuhan pun membuat aku melihat doa yang entah terkabul atau tidak. Dalam sampai tetesan air itu menjadi ribuan. Kau masih nampak diantara sela-sela rintik. Itu durasi terlama aku bisa melihatmu selepas sekolah waktu itu.mungkin.
Hujan belum sepenuhnya reda.  Namun sudah lama kau disitu menunggu. Menunggu seseorang yang membawamu berlalu, sore itu.

Sebuah Penantian

kala rasa meraksasa dalam sukma,
menghempas apa-apa yang seharusnya nyata,
ilusi,
ambisi,..
daun-daun gugur di ujung kemarau,
merindu gerimis namun tak nampak jua,
seperti itukah ibarat jiwa,
saat kerinduan menaungi hati yang paling dalam,
kekasih,..
kau bawa kemana separuh jiwa ini,
pergi tanpa permisi, tak berarah tujuan pasti.
diujung pantai ada ombak yang menepi.
meratakan pasir-pasir putih yang bersih.
di sana juga terduduk raga dan sukma.
tengah kehilangan setengah jiwanya entah kemana.
kekasih...
lekaskah kau pulang dan memelukku?,
agar aku tak lagi sepi,
biar aku tak lagi gundah,
dan kita ulang lagi cerita,
tentang gerimis manis di pantai ini.
berteman hembus angin,
berlatar belakang nyiur dan hiruk pikuk pantai,
serta soundtrack lagu romantis dari ponselmu.
kekasih,..
kenapa?,
kenapa kau tak nampak datang.
padahal senja berakir dalam sebentar ke depan.
apa kau sudah benar-benar pergi?,
merajai mimpi yang kau lukis sekelas pelangi.
aku ini hanya laki-laki malang,
punya hidup namun tak tahu dengan masa depan.
punya rasa namun tak berdaya mengejar engkau.
dan biarlah,
aku nikmati semuanya sendiri,
saat mentari senja pelan-pelan menutup tirai.
setidaknya,
drama kisah cinta tak berakir indah,
Semakin waktu,
Tiraipun benar-benar menutup Klayar.
Dan kisah cinta itu tak terwujud di sini.
Kekasih,...
Aku masih duduk di tepian, menantimu.

dear bintang.

selamat pagi bintang, apa kabarmu?. hari ini berada di tiga belas nopember. sedang apa kamu, bintang?, sudahkah mulai mengerjakan skripsimu?. semoga kamu sukses selalu.
pagi ini, matahari bersinar cerah di kota ini. bagaimana dengan matahari kota kita,bintang?. apa sudah mulai nampak para paman petani menggarap sawahnya selepas hujan yang turun belakangan ini. yah, mungkin sudah bisa berlanjut dalam kisahnya. mungkin hanya aku saja yang terpaku diam dalam mimpi-mimpiku tentang mu. mungkin itu terdengar lucu, tapi orang lucu itu masih ada. yang pagi ini masih sempat menulis ini sebelum sibuk menata kertas melayani adek-adek SMA.
semenjak hari itu, ku sadar kalau komunikasi kita tak selancar dulu. dulu pun hanya sebentar kita saling bicara walau lewat rangkaian huruf dalam layar. dan itu pun cuma beberapa saat.
aku pernah bilang walau hanya di  media facebook. "jadi orang itu harus konskwen dengan ucapannya". setelah itu aku pun menghapus perteman kita dari dunia facebook. semenjak itu tak lagi ada komunikasi dan harapan kalau Tuhan menciptakanmu untukku.
walaupun begitu, harus ku akui tak ada wanita yang bisa membuatku jatuh hati seperti saat aku jatuh hati padamu. dan akupun bertekat untuk tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. karena aku masih berharap kelak, setelah kamu lulus nanti aku ingin menanyakan perasaanku ini lagi padamu. kau ingat bintang, pesan singkat di pagi itu, katamu kau masih ingin konsen sama sekolah dan nilai-nilai mu. dan mungkin sebentar lagi kau lulus dengan gelar sarjana mu. tapi, tapi mengapa takdir tak juga tersenyum pada harapan panjang ku ini. akupun mulai tak tahu musti bagaimana. aku sadar, aku hanya laki-laki biasa. yang tak sanggup di prioritaskan. mana mungkin kamu bisa hadir dalam cerita hidupku layaknya rama dan sinta, tak juga naroto dan hinata. heh, aku bukan siapa-siapa. menjelang kamu selesaikan urusan mu dengan buku dan penamu, aku malah yang tak yakin. beritahu aku bintang, apakah harus mengubur mimpi ini dalam-dalam?. bukan mengubur, lebih tepatnya menyimpannya. bagaimana menurutmu bintang?, apa aku harus menyerah, bintang?. setelah ku biarkan perasaan itu mengunci hatiku bertahun-tahun. apa harus berakir sebagai kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan?, setelah diam-diam aku diam, tak banyak berkata membiarkanmu tetap dengan sekolahmu. hanya sesekali bertanya kabar, atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun padamu. yang belakan tak ada respon DM ku. apa aku harus berhenti sampai disini, bintang?. aku mungkin hanya laki-laki yang kurang beruntung mencintaimu, tapi mencintamu adalah bahagia untukku. walau aku merasa tak pernah ada dalam bayang mu.

biar bagamana pun, aku hanyalah aku, dan kamu tetaplah bintang. yang berada di langit masa depan. yang hanya dengan keajaiban, aku menggapainya. mungkin aku hanya cukup sampai disini. terimakasih untuk semua. semoga kamu selalu bersama kebahagiaan. sampai jumpa bintang, entah bagaimana akhirnya, biar Tuhan bersama kuasanya.
selamat atas belajar dan kerja kerasmu, semoga kau sukses selalu. kini aku pun ingin menjadi sepertimu, bersungguh-sungguh untuk mengejar  mimpi-mimpiku. dan entah bisa atau tidak, sanggup atau tidak, aku akan belajar mencintai wanita lain semampuku. yah, tanpa sadar kau adalah guru dan inspirator terbaik dalam hidupku. setidaknya aku berharap bisa mengenalmu walau sebagai teman.

thank's for all. u're the best teacher and inspiration of my life. never forget of you.

check

dan akupun tersenyum membelakangi senja. setelah sehari ini tak ku hisap "kutuk mbako", kurasa sore ini udara akan lebih segar. sore ini aku hendak pulang, ada sedikit urusan di rumah. tapi tak tahu nanti. apakah langsung kembali atau tidur dirumah. walau tidur di rumah nyaman, tapi malam-malam di baturetno adalah malam yang sayang untuk di lewatkan. memangsih, kadang terusik ulah adik-adik berisik di balik tembok. seperti semalam. well, baturetno is baturetno. apapun, semua asyik di sini.

11 nopember 14

jiwa-jiwa lemah dalam rintik hujan. teduh menghadap pada mega-mega mendung yang redup. ragamu sayup, menahan muak yang teramat. sesekali mengguman tak jelas. sedang kobaran terpancar dari cara pandangmu yang membakar. luapkan saja, luapkan bersama segala yang kau pendam membatu di hati.  hatimu bukan wadah yang terbuat dari baja.  seberapa mampu menahan beban yang tak terhitung oleh logika. lalu apakah manusia diciptakan saling melengkapi?, sedang selalu saja satu sama lain saling menuntut sempurna. entahlah, kadang terlalu banyak masalah yang teselesai dengan logika.

hujan berlalu. namun langit masih saja redup. sesekali nampak celah mega-mega gelap tertembus cahaya. matahari kemana, dan mungkin hujan masih akan datang lagi.
ini sudah menjelang pukul setengah tiga sore. bocah-bocah SMAN juga sudah pulang, sebagian. sebagian lagi masih sibuk di dalam kelas dengan kertas, tinta, dan orang-orang tua yang menuntut mereka sempurna. heh,.. semoga sukses nak.
nopember sudah berusia sebelas hari. hujan mulai datang dalam pelan. benih-benih padi ditebarkan. buruh-buruh cangkul mengasah cangkulnya yang sesaat digantungkan karena kemarau hebat. semua bersuka ria, mungkin karena hujan telah tiba.

chek

sepeluh nopember,
selamat manis, apa kabarmu?.  semoga kau selalu indah bersama harimu. semoga saja. malam sudah mulai sepi.  kendaran hanya sesekali saja melintas di jalan raya depan. sudah beberapa malam ini, langit baturetno menyisakan satu warna,  hitam. entah kemana bintang, entah kemana bulan. mungkin mereka mulai cemburu. dan ku rasa kau layak untuk dicemburui. kau cantik, kau manis, tapi sayang, aku suka padamu. yah, laki-laki gila mana yang tertarik padamu. karena kau adalah pesona, kala langit merona jingga menjelang petang. kau....., emmmtt, tak terungkap dengan kata, itulah kamu.

10 nop

biar bagaimanapun, reklamasi dan penenggelaman adalah sebagian dari kejahatan. mengobarkan satu untuk satunya. memberi makan orang lain dengan daging saudaranya. Reklamasi dan penenggelaman hanya diperlukan ibarat aborsi pada wanita hamil. tanpa alasan yang kuat, boleh dibilang itu biadap. setiap tempat diatas dunia selalu punyai potensinta masing-masing. tak mungkin Tuhan menciptakan suatu tempat untuk para makluknya sebagai tempat bencana dan kesengsaraan. Tuhan maha adil.

jika apa-apa yang mengatas namakan ekonomi dianggap benar, maka tak heran jika orang-orang besar menjadi pesakitan. menjadi penjahat. menjadi pagar yang makan tanaman.

penanaman pemikiran selalu menjadi momok. seseorang hanya diajari sukses dengan kekayaan, nama besar, dan segala hal yang membuatnya yang paling wah. menindas yang lemah, menipu yang bodoh, dan mengambil apa yang bisa diambil. entah bergak atau tidak. lalu kapan manusia-manusia yang penuh kesadaran akan sesamanya dan alam sekitar.

sabtu malam

sabtu malam, di baturetno.
malam datang dengan atap hitam polos. tanpa bintang ataupun bulan. mungkin mendung. atau,entahalah. dari bawah sini yang kulihat hanya hitam. ladu-ladu di tepian jalan Solo-Pacitan ku rasa masih sama seperti kemarin. masih menerbangkan debu kala angin bertiup. apalagi kala bis antar kota langgananku dulu melintas. entah kapan hujan akan turun puas di kota kecilku ini. padahal, di pacitan, wonogiri, solo dan sekitarnya sudah memulai hari-harinya dengan tanah basah. orang-orang di Pugeran juga sudah mulai "Nyebar". menaburkan benih-benih padi  di ladang minggu lalu, walau hujan baru turun kemarin.  kami biasanya melakukan itu berdasar perhitungan hari dan letak posisi raksi bintang tertentu di langit. dan kenyataannya, benih-benih padi yang di tebar di tanah kering kemarin kini sudah mulai basah. mungkin itu sekilas kondisi alam di sekitarku.

o,ya. ini adalah sabtu malam. alias malam minggu. jalanan juga ramai kendaraan lalu lalang.  mungkin mereka hendak pergi bersama kekasihnya menghabiskan malam. bercerita tentang ini itu di tempat favorit mereka. dari angkringan "Hik", lesehan, sampai tempat-tempat gelap yang rahasia. ya, mungkin begitulah indahnya anak muda. kecuali aku.heehee. sejak dulu aku belun pernah dan tertarik dengan hal yang bernama pacaran. bukan apa-apa, aku juga tak menganggap itu sebagai masalah. bagiku, tak ada istimewa hal itu. pacaran atau tidak, toh aku tetap bisa dekat dengan wanita manapun. tanpa batasan dan tuntutan apapun. aku suka ini. dulunya aku berfikir, apasih yang didapat dari pacaran. kurasa hanya tuntutan yang besar di tukar dengan perhatian yang bisa diberikan pada siapapun. terlebih sewaktu sekolah. aku lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-teman.

lain dulu lain sekarang. berlahan-lahan juga mulai medekati kearah sana. tapi, bukan semata-mata untuk status sosial, gengsi, ataupun iseng masa remaja. sekalipun aku seorang yang dingin dan terkadang konyol, dibalik itu semua aku orang yang serius loh.heehe. romantis juga mungkin,hehee. entahlah, aku tak pandai menilai. yang jelas, aku adalah seorang penipu. ya, aku suka menipu dengan penampilan dan sikap pertamaku. jika anda hanya menilaiku dengan apa yang kalian lihat, maka itu sebuah kebohongo. belaka.heehee. mari sini kawan, kita bicara dan saling kenal. lalu aku ingin tahu, seberapa hebat anda mendiskripsikan seorang yang sulit didiskripsikan dengan kata-kata ini. heehee

08 nopember 14

apa kabar 8 nopember tahun ini. apa kabar pesta ulang tahun SMAN 1 Baturetno dan Persis Solo?, aku tulis ini dalam perjalanan dari telaga sarangan. sejak kemarin sore, kami menghabiskan waktu di sana.  ini menjadi akhir pekan yang panjang.
o,ya. siapa yang punya pin bb 78e77777?, semalam aku dapatkan itu dari mimpi. pin yang cantik. melihat teman-teman manggulin cariel jadi pengen muncak. tapi sayang, dalam waktu dekat ini sepertinya belum. mungkin akhir desember aku baru bisa ngetrip ke sindoro ataupun sumbing. semoga bisa.

terkadang, terlalu biasa ku temui orang-orang kuat yang lemah. yang mampu kalahkan orang lain, namun tak pernah bisa mengalahkan diri sendiri. mengalahkan ego. tentu bukan hal mudah. udara dingin mulai menyapa dikelokan sebelah barat cemoro. gunung lawu malu-malu dibalik kabut putihnya. membuat semakin rindu, berdiri di atas awan.

Maaf

Aku pun bukan malaikat. Yang akan bernyanyi dan selalu bisa membuatmu tersenyum. Menari bersama bayangmu, dan ada disampingmu saat kau bersedih. Aku terlalu hebat untuk bisa selalu di dekatmu. Karena aku hanya manusia biasa. Yang selalu mencoba sempurna, namun selalu menyisakan air mata dan gerutumu. Maaf sayang, bukan sepenuhnya mauku begitu. Semua semata-mata karna keterbatasanku dan kelabilanku sebagai laki-laki dan manusia. Aku tak tahu pasti, seberapa jauh kau inginkan aku menjadi yang kau mau. Dan layaknya kamu, aku pun inginkan hal itu darimu. mauku dan maumu kadang tak seragam. Selalu harus ada yang terkorbankan. Mengalah dan... Hah, sudahlah sayang, aku hanya berdoa pada saatnya kita akan seragam.
Bersenandung bersahut-sahutan. Semoga.

Sayang, kini aku mungkin mengerti semua. Tentang banyak yang kau tanyakan namun urung kujawab, Waktu itu. Tentang pelangi, mendung dan air mata. Tentang sepasang burung parkit kita, dan tentang banyak hal yang akan membawaku selalu teringat padamu. Selamanya, kau akan selalu menemaniku. Walau hanya dalam bayang-bayang.

Kau ingat sayang waktu itu. Waktu senja manis menghadap pasak -pasak langit. Dan kau bercerita tentang kapan kita akan ke sana. Watukapur, hargo dalem,dan hargo dumilah. Menikmati waktu bersama nyanyian alam. Edelwayse yang bermekaran serta senyum manis yang akan membuat pendakian terindah dalam sejarah hidup ini.  "Indah sekalikan sayang?", apa kau mengangguk?. Lalu kenapa kau pergi secepat ini sayang?, membuatku sendiri tak berkawan. Kau malah lebih memilih sendiri dalam kesepian. Dan kau tahu sayang?, kesepianmu adalah kesedihanku. Tapi baiklah. Tak mengapa. Jika memang harus begini. Aku coba beranjak walau berat meninggalkanmu. Aku akan pergi sayang. Tapi, setidaknya, aku ingin ucapkan selamat tinggal padamu. Walau hanya lewat sebuah batu bertulis namamu, tanggal lahirmu, dan hari ini. Serta doa-doa ku, semoga kau tenang di alam sana. Sekali lagi; "selamat tinggal sayang, maaf, aku biarkanmu pergi seorang diri. Aku akan selalu merindumu.

06 nopember

Sementara, pesta annivesary SMA masih bergulir. Entah seberapa meriah. Aku hanya melihat mobil tamu undangan berderet di depan pagar.  Aku pun juga pernah ada dalam even satu tahunan ini. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Sekarang inilah kehidupanku. Tak banyak dapat di banggakan. Tak jua membuat orang-orang kagum. Tapi bagiku, setiap detik dalam hidupku adalah luar biasa. Betapa tidak. Banyak yang kumiliki yang tak banyak teman-teman lain miliki. Memang sih, tak ada wujud jelasnya.

Matahati membuat hari ini berteduh pada keluh. "kapan hujan akan turun, panas". Mungkin begitu. Ini sudah lewat poros siang 6 nopember. Namun tak ada tanda-tanda akan segera datang hujan. Sebentar langit redup, namun tak lama berselang awan tak kuasa menghalau panas matahari.
Akupun ingin mengaduh. Tapi, masih banyak diluarsana yang lebih berhak mengaduh,namun urung. Mereka orang-orang yang kuat. Sangat kuat.

Bukannya Cinta kasih sayang.

Aku duduk bersama rangkaian bayang tentangmu. Aku tak tahu bagaimana Tuhan akan memperkenalkan kita. Memberitahuku tentangmu, dan memberitahumu tentangku. Dengan atau tanpa berjabat tangan dan saling menyebutkan nama. Heh, itu cara yang klise untuk kita. Atau malah,.... Oww, tidak,tidak. Itu menurutku tak asyik ditulis di cerita. Sepasang manusia saling mengamati, namun segan untuk memulai perkrnalan. Hemmtt, sumbang.

Sepasang peri menari di ujung cemara. Burung-burung saling bersinggahan di antara dahan-dahan pohon belantara. Musim tak lagi menentu. Menjadi labil layaknya sepasang anak SMA yang tengah memadu kasih di usianya yang belum seberapa. Semuanya terkadang lebih gila dari yang kita bayangkan. Terkadang mengharukan namun tak jarang mengecewakan dan sakit. Parah.
Entahlah, kemana hati akan berlabuh, Tuhan yang maha tahu segalanya. Yang ku tahu, bukan cinta kasih sayang yang akan menyatukan sepasang manusia. Karena cinta kasih sayang itu adalah rahmat dari Tuhan. Yang ada dalam setiap dada manusia untuk semua manusia. Tak ada yang berlebih. Yang berlebih itu hanya perasaan labil yang datang dan pergi. Dan itu bukanlah Cinta kasih sayang.
Mungkin bila di analogikan, hati manusia-manusia itu seperti gelas-gelas yang di tata dalam nampan. Lalu di tuangkan madu yang mewakili cinta kasih sayang. Dalam setiap gelas takaran yang sama. Hanya saja selama kehidupan berlangsung gelas-gelas itu bercampur banyak hal. Hingga nampak seperti penuh. Tapi tetap saja, madu tetaplah madu, dan anggur tetaplah anggur.
Dua hal yang akan menyatukan sepasang manusia. Pertama komitmen dan kedua ego.  ketika orang berani berkomitmen dan mengusai serta meletakkan ego pada posisinya, maka kalian adalah pasangan harmonis. Yang akan tahu rasa manis sebenarnya cinta kasih sayang setelah bersama. Bukannya mengatasnamakan cinta kasih sayang untuk mengawali hubungan.