Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Malam 18 nopember 14

Setelah petang berlalu, ucapkanlah selamat datang pada alam malam. Sesuatu yang akan membawamu hanyut dalam keheningan dan rasa dingin selepas hujan petang tadi. Di tepian jalan penghubung dua kota ini aku masih menata imaji. Melayang-layang diantara suara kendaraan yang masih lewat, satu dua. Menatap hari esok, menerka-nerka apa yang akan ku temui selepas pagi menjemput. Apa masih manusia-manusia berdandan putih abu-abu yang sibuk dengan potongan-potongan koran dan soal?, atau ada hal lain yang bisa membawaku menantikan sesuatu selain gajian di akhir bulan ini?, adakah?, entahlah. Aku belum tahu banyak tentang hari esok.

Terkadang, siklus hidupku begini-begini saja. Tak punya masa depan yang jelas dan diprioritaskan sebagai seorang laki-laki. Tapi beginilah aku, tak mempunyai cerita indah selain rentetan kelucuan dan kekonyolan yang mengundang tawa. Dan aku suka melihat orang lain masih bisa tertawa.
Terlahir di tahun sembilan tigaan, tentu membuatku harus lebih serius lagi. Walaupun sejak kecil selalu ada sikap serius dalam jeda-jedaku mengumbar tawa. Teman -teman seangkatanku yang melanjutkan kuliah juga sudah mulai mengerjakan skripsinya, bahkan sudah ada beberapa yang sudah meraih gelar sarjana mudanya. Dua atau tiga tahun lagi setidaknya aku harus sudah menemukan jalan menuju mapan. Menjadi bagian dari orang-orang yang membuktikan bahwa tak harus dengan gelar dari perguruan tinggi untuk bisa hidup. Walaupun, disanalah tempat pendidikan dan penggalian masa depan yang terbaik. Punya penghasilan tetap, dan menikah saat keluarga besarku masih utuh adalah cerita terindah yang ingin ku tulis. Setidaknya mbahku masih bisa melihat, siapa yang bakalan beruntung menjadi pilihan cucunya ini. Semoga saja.

0 komentar:

Posting Komentar