Selepas Isya, sekitar sepertiga terakhir bulan september. Apa kabarmu hari ini?, sedang apa saat ini. Kuharap, senyumu yang itu masih milikmu. Semoga.
Aku tak pernah bermaksud membuat barisan huruf ini terangkai untuk mempengaruhi, memprotes, ataupun menasehati orang lain. Terlalu naif aku bicara ini itu tentang kebijaksanaan. Aku pun tahu seutuhnya, siapa aku dan darimana aku berasal. Tidak juga bermaksud menyuguhkan pertunjukan kalau diri wah. Karena aku juga sadar, tak ada yang istimewa dari tulisan saya. Singkat penjelasan, tulisan-tulisan ini hanyalah unkapan ataupun curahan hatiku. Apa yang kurasakan,yang kulihat, yang kulakukan, atau apapun yang ingin aku tuliskan. Yah, jadi begitu. Wajar saja apabila terbacanya berantakan, berlebihan ataupun aneh menurut kalian.
Seperti malam ini, aku ingin tulis sesuatu yang mungkin menurut kalian "lebay". But, is okey.. Tidak masalah buatku, aku pun tak mengharap tepuk tangan kalian.
21/09/2015.
Entah mengapa, sesuatu ingin kutulis sekali malam ini. Yah, urusan biasa, sebuah cerita ringan tentang dunia remajaku. Sudah bisa kalian tebak, yah soal yang membuatku dan ribuan pemuda melajukan hidup dalam kegalauan.
Hari itu, sekitar pesta kemerdekaan. Saat aku merasakan tatap mata kita ada perbedaan sikap tak seperti hari-hari sebelumnya. Entah aku saja, atau kaupun juga merasakannya.
Setelah beberatahun silam, aku sering bertanya pada diri sendiri. Kenapa dan mengapa?. Itu sudah menjadi hal yang sering dan mungkin biasa. Aku tak tahu lagi, setelah hari ditahun itu, apakah aku masih bisa melibatkan perasaan dalam satu proses yang banyak orang sebut dengan jatuh cinta. Wanita itu aku jumpai saat pertama kali mendaftar di sekolah menengah pertama. Aku masih ingat betul dia datang bersama seseorang teman yang pada akhirnya kutahu berinisial "HA". Tapi, waktu itu masih biasa. Kelas dua semester dua, kami jadi satu kelas. Itupun awalnya juga masih biasa. Tapi, Lama-kelamaan, dia menjadi hal yang menarik untuk aku simak. Apalagi saat banyak teman laki-laki banyak menaruh hati padanya. Tapi, andai waktu itu kau jadi kekasihnya, kau pasti akan merasa tenang. Dia wanita yang berprinsip. Hingga dia benar-benar merubah pandanganku pada wanita. Secara berlahan dan tidak sengaja dia mampu merubah pandanganku soal wanita dan dunianya. Setiap langkahnya, senyumnya, tutur kata serta sikapnya seakan mengatakan dengan jelas, dengan tanda petik dan huruf besar; "WANITA ITU BUKAN BUDAK HAWANAFSU". yah mungkin begitu. Sejak itulah aku mulai suka memperhatikannya. Tapi, aku tetaplah aku, cuek dan acuh mungkin sudah menjadi pertunjukan biasa bagi wanita secara umum.
Pengujung kelas tiga, perasaan ini semakin menjadi saja. Sampai akhirnya kami lulus dan sama-sama melanjutkan ke luar kota. Haahaa, keluar kota?, iyalah, lah domisili kami batas kota. Haahaa. Kami memilih sekolah yang berbeda. Tak ada kontak, dan entah bagaimana, mungkin pertemuan pada saat mengambil ijazah itu adalah terakir. Nenurutku waktu itu. Sering sekali, aku berharap, pada akhir pekan dapat menjumpainya di bus antar kota antar provinsi yang menghubungkan Kota Solo dan Pacitan itu. Tapi seingatku tak pernah.
Entah musim apa waktu itu, aku tak begitu ingat pasti. Yang jelas aku berada di angkutan yang lagi ngetem di depan SMK senja. Sebelumnya aku dapat nomer hp nya dari salah seorang teman lama. Aku ingat, pertama aku sms dia lagi antri mandi. Dia jadi anak kost waktu itu,heehee. Sms dan sms. Pesan-pesan singkat yang saling berbalasan waktu itu kurasa sangat manis walau mungkin hanya biasa. Yah, semua tentangnya adalah hal manis. Sangat manis, sebelum pada akhirnya hal terpengecut pertama kali dalam hidup ini aku lakukan. Mungkin tak layak aku tulis, tapi mungkin sudah ada dalam tulisan lainnya. Katanya, dia mau fokus pada nilai dan sekolahnya.
Seiring detik berlalu, semakin menimbun jarak diantara kami. Seiring itu juga harapan itu masih ada. Berharap ada itikat baik setelah dia puas dengan semua ijazahnya. Tapi, ini sudah tahun 2015. Tahun yang sudah mendekati dia wisuda. Menambah panjang namanya yang sudah disingkat di dokumen-dokumen resmi sekalipun. Begitu panjang. Tapi sepertinya cerita itu sudah berakhir di tahun itu. Saat ini kami begitu berjarak. Ucapan selamat ulang tahun beberapa tahun ini pun tidak lagi dia balas. Sekalipun sekedar kata "thanks" pun tak ada.
Jaman sudah berubah. Adat manusia sudah banyak berubah. Mungkin hanya aku yang jalan di tempat. Tak bisa lagi menyintai wanita lain seperti aku menyintainya. Atau malah, hanya aku saja yang tak berani mencoba dengan wanita lain. Atau malah aku yang masih mengharapnya hingga saat ini. Sekalipun kemustahilannya semakin kian.
Yah, begitulah. Sedikit cerita yang sangat biasa antara aku dan dia. Dan kini, kau adalah yang nyata di depanku. Walau tak ada jabatan tangan dan saling menyebutkan nama, kurasa diam-diam kita saling mengenal. Mungkin benar, harapan itu masih kusimpan. Tapi apalah arti harapan ataupun perasaan yang selangit sekalipun tanpa adanya sebuah komitmen.
Satu hal yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah komitmen. Orang tua dan anak, sahabat, pernikahan ataupun "pra" nya. Atau apapapun yang melibatkan lebih dari satu orang, tanpa ada komitmen hanyalah sampah. Sesuatu yang hanya akan menimbulkan masalah.
Aku tak tahu apakah aku jatuh cinta padamu, akupun tak tahu apakah aku menyintaimu. Hanya saja, timbul sebuah harapan, aku dan kau ternaungi sebuah komitmen. Lalu saling mengerti, berusaha dan berusaha, sampai akhirnya kita benar-benar saling jatuh cinta, sampai kita benar-benar tak mau kehilangan. Karena pada dasarnya kasih sayang itu ada sejak kita terlahir sebagaimana mestinya. Cinta kita untuk siapa saja itu sama saja. Begitupun aku dan kau yang belum resmi kenal. Yang besar itu bukan cinta, tapi hanya rasa takut kehilangan. Yang besar itu bukan cinta, tapi hanya ke egoisan diri belaka, yang mengharap selalu diuntungkan. Yang besar itu bukan cinta, tapi sebuah keinginan menghapuskan malam berdua. Dan semua yang besar itu tak ada yang abadi, hanya perasaan yang datang pergi silih berganti.
Karena cinta itu kasih sayang. Dan kasih sayang itu sederhana. Karena kasih sayang tak meminta pengorbanan sekecil apapun, yang minta pengorbanan itu ego.
Karena kasih sayang adalah pengisi takdir, bukannya menghalingi takdir. Ada saatnya yang kita sayangi pergi. Dan sebagai wujud kasih sayang, kita antar dan lepaskan dengan kasih sayang. Bukan membebani perpisahan dengan air mata dan kesedihan.
Karena kasih sayang itu adalah semuanya dan selamanya. Bukan urusan malam dan selangkangan belaka.
Karena kasih sayang itu segalanya. Menjaga dan tak membebani. Senyum dan tawa, kekuatan dan kebersamaaan. Tak ada yang direndahkan, tak ada yang dirugikan.
Ketika kita bisa lihat semua di dunia ini adalah karunia dan nikmat, saat itulah kita akan tahu sepenuhnya apa itu yang namanya kasih sayang, apa itu yang namanya cinta.
#aku_harap_ada_jalan_tanpa_kenaifan.
Benk_wd