Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

hari ini, katanya...
bicara soal idealisme hanyalah sampah.
bicara soal kebenaran adalah munafik.
bicara soal masa depan bersama adalah naif.
entah bagaimana.
kita hidup di suatu jaman yang menjujung tinggi kebebasan.
namun tetap saja.
budaya kekuasan dan kekuatan masih dipelihara.
setiap orang bebas berekspresi.
namun juga terlalu bebas untuk diintimindasi.
setiap orang bebas bersuara,
namun terlalu bebas juga masuk ke penjara.
Merdeka hanyalah simbol kata-kata.
Sebuah cita-cita yang baru terenyam awalnya saja.
Namun tetap saja,
Yang tanpa pedang siapa bilang tak garang.
Yang katanya saudara siapa bilang tak tega.
Belanda sudahlah pulang.
Namun penindasan dan keserakahan lupa turutnya.

Realitas hidup menggugah iba.
Menyaksikan manusia dipermainkan logika.
Hidup hanya untuk uang dan kesenangan.
Sedang yang menghalang?,
Tak tanggung palang tebas kejamnya parang.

Kemarin,
Seorang aktifis peduli lingkungan tewas.
Disebuah desa di kabupaten lumajang.
Terlindas kejam roda keserakahan.
Tercabit sabit laknat kekuasaan.
Memang,
Bicara soal lingkungan adalah ancaman.
Untuk "lawan" ataupun diri sendiri.
Hidup mati memanglah takdir.
Tapi keberanian adalah pilihan.
Mau mati sebagai apa dan siapa terserah kita.
Yang jelas,
Tak ada perjuangan yang sia-sia.

Singsingkan lengan bajumu,
Tegaklah dagu dan keyakinanmu,
Mati terhormat atau hidup sebagai pecundang adalah pilihan.
Jika hanya untuk pecundang,
Baik kiranya gugur sewaktu dikandungan.

Alam bukan sekedar warisan nenek moyang.
Alam adalah titipan anak cucu kita.

Kita bukan apa-apa,
Kita bukan siapa-siapa.

#savenature #savefuture

28 September '15

Tidak pernah ada yang memilih dalam kondisi yang "sulit". Kalaupun ada, itu sebagai wujud pengorbanan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga. Yang sebenarnya tak ada niat dan minat untuk memilihnya.

Tapi, beginilah hidup. Adakalanya manusia berada pada posisi sulit. Jika hidup terasa baik-baik dan nyaman-nyaman saja, koreksilah lagi. Bisa jadi ada yang salah dapam hidup ini yang akan membuatmu tidak menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Perasaannya pasif, emosinya koma, hidup tak sepenuhnya, mati pun percuma. Manusia yang tak mampu memberi pengaruh atau pun gagal menggambarkan karakter kuatnya adalah manusia yang payah. Hidup, makan, dan segala urusan yang menomor satukan "aku"nya.

Yakini apa yang diyakini. Perjuangkan dan bersikaplah dewasa dalam perbedaan. Sampai benar-benar tahu, apakah sudah layak untuk yakin pada yang diyakini. Dipakai ataupun dibuang, setidaknya telah menggunakan pemikiran yang telah dianugerahkan.

23 September 2015

Bisa saja. Yang hari ini biasa kelak akan dirindukan. Yang hari ini hanya hal kecil, kelak menjadi sesuatu yang tak ternilai. Terkadang, setelah kehilangan barulah dimengerti, betapa berharganya sekecil apapun hal itu.

Sayang sekali, manusia tak diberitahu kapan mereka harus kehilangan. Tahu tahu ada gerutu dan penyesalan. Tapi, semua bisa saja menjadi hal yang tak begitu disayangkan, andai saja menghargai apapun, sekecil apapun itu sudah menjadi suatu kebiasaan. Meletakan diri pada rasa normal kehormatan. Tidak merasa begitu hina, dan tidak pula merasa begitu terhormat. Mungkin bukan hal mudah. apapun ketika kita tak mengharap apapun akan menjadi mudah. Karena menjalankan peran siapa dan dimana kita berada, jauh akan membuat hidup mudah ketimbang ada disuatu kobdisi dimana kita terlalu berharap lebih ataupun terbayang-bayangi masalalu.

Disebuah warung poci diselatan kota. Gema takbir menembus gemuruh jalan raya. Esok sudah hari raya. Mungkin tak sebesar hari raya syawal, tapi sekecil apapun momennya, dirayakan bersama orang-orang dekat itu akan terasa luar biasa. Setelah semangkuk mie rebus dan segelas teh manis ini akupun akan melanjutkan perjalanan pulang.

Alluhuakbar walillahilham,..

"Selamat hari raya, semoga kita senakin mengenal dan paham akan arti pengorbanan, kestiaan, dan juga kebersamaan. Amin..n"

Benk_wd

23 September 2015

Bisa saja. Yang hari ini biasa kelak akan dirindukan. Yang hari ini hanya hal kecil, kelak menjadi sesuatu yang tak ternilai. Terkadang, setelah kehilangan barulah dimengerti, betapa berharganya sekecil apapun hal itu.

Sayang sekali, manusia tak diberitahu kapan mereka harus kehilangan. Tahu tahu ada gerutu dan penyesalan. Tapi, semua bisa saja menjadi hal yang tak begitu disayangkan, andai saja menghargai apapun, sekecil apapun itu sudah menjadi suatu kebiasaan. Meletakan diri pada rasa normal kehormatan. Tidak merasa begitu hina, dan tidak pula merasa begitu terhormat. Mungkin bukan hal mudah. apapun ketika kita tak mengharap apapun akan menjadi mudah. Karena menjalankan peran siapa dan dimana kita berada, jauh akan membuat hidup mudah ketimbang ada disuatu kobdisi dimana kita terlalu berharap lebih ataupun terbayang-bayangi masalalu.

Disebuah warung poci diselatan kota. Gema takbir menembus gemuruh jalan raya. Esok sudah hari raya. Mungkin tak sebesar hari raya syawal, tapi sekecil apapun momennya, dirayakan bersama orang-orang dekat itu akan terasa luar biasa. Setelah semangkuk mie rebus dan segelas teh manis ini akupun akan melanjutkan perjalanan pulang.

Alluhuakbar walillahilham,..

"Selamat hari raya, semoga kita senakin mengenal dan paham akan arti pengorbanan, kestiaan, dan juga kebersamaan. Amin..n"

Benk_wd

Aku pulang

Ah...
Jangan kau paksa aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..

Manis,
Selepas purnama ini aku tak tahu lagi,
Aku tak tahu pasti,
Apa aku masih menyinta mu,
Bak kumbang di musim kembang,
Selepas madu di kenyam lalu kan hilang.
Terlalu jauh kita menghalu ke kiri.beranjak sejenak melajur lupa.

Jangan kau paksa lagi aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut lagi aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..

Kita berawal dari sebuah kebetulan,
Dari setitik kecil sakitnya kekecewaan.
Yang semula manis berangsur miris.
Dan kini,
akupun bermaksud pulang.

Jangan kau paksa aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..

Bila esok aku tak lagi datang,
Tak usahlah kau mendamba.
Dari malam jalanan kita dipertemukan.
Dan kaupun kuyakin tahu.
Malam pun menghilang seiring pagi menjelang.
Apa kita akan rela kesiangan dan ditertawakan.

Manis, maafkanlah untuk semua.
Yang indah-indah,
Yang menghiasi gemerlapnya gelap jalanan.
Yang menumbuhkan harapan,
Pagi tak pernah datang.
Tapi pagi tak pernah ingkar,
Sudah seharusnya,
Sudah sewajarnya,
Kita lambaikan tangan,
Lalu saling berucap salam perpisahan.
Hapus namaku,
Hapus lah aromaku,
Dan Semua yang indah dariku,
Anggap saja hadiah perkenalan kita.

Jangan kau paksa aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..

Dear September,

Selepas Isya, sekitar sepertiga terakhir bulan september. Apa kabarmu hari ini?, sedang apa saat ini. Kuharap, senyumu yang itu masih milikmu. Semoga.

Aku tak pernah bermaksud membuat barisan huruf ini terangkai untuk mempengaruhi, memprotes, ataupun menasehati orang lain. Terlalu naif aku bicara ini itu tentang kebijaksanaan. Aku pun tahu seutuhnya, siapa aku dan darimana aku berasal. Tidak juga bermaksud menyuguhkan pertunjukan kalau diri wah. Karena aku juga sadar, tak ada yang istimewa dari tulisan saya. Singkat penjelasan, tulisan-tulisan ini hanyalah unkapan ataupun curahan hatiku. Apa yang kurasakan,yang kulihat, yang kulakukan, atau apapun yang ingin aku tuliskan. Yah, jadi begitu. Wajar saja apabila terbacanya berantakan, berlebihan ataupun aneh menurut kalian.
Seperti malam ini, aku ingin tulis sesuatu yang mungkin menurut kalian "lebay". But, is okey.. Tidak masalah buatku, aku pun tak mengharap tepuk tangan kalian.

21/09/2015.

Entah mengapa, sesuatu ingin kutulis sekali malam ini. Yah, urusan biasa, sebuah cerita ringan tentang dunia remajaku. Sudah bisa kalian tebak, yah soal yang membuatku dan ribuan pemuda melajukan hidup dalam kegalauan.

Hari itu, sekitar pesta kemerdekaan. Saat aku merasakan tatap mata kita ada perbedaan sikap tak seperti hari-hari sebelumnya. Entah aku saja, atau kaupun juga merasakannya.

Setelah beberatahun silam, aku sering bertanya pada diri sendiri. Kenapa dan mengapa?. Itu sudah menjadi hal yang sering dan mungkin biasa. Aku tak tahu lagi, setelah hari ditahun itu, apakah aku masih bisa melibatkan perasaan dalam satu proses yang banyak orang sebut dengan jatuh cinta. Wanita itu aku jumpai saat pertama kali mendaftar di sekolah menengah pertama.  Aku masih ingat betul dia datang bersama seseorang teman yang pada akhirnya kutahu berinisial "HA". Tapi, waktu itu masih biasa. Kelas dua semester dua, kami jadi satu kelas. Itupun awalnya juga masih biasa. Tapi, Lama-kelamaan, dia menjadi hal yang menarik untuk aku simak. Apalagi saat banyak teman laki-laki banyak menaruh hati padanya. Tapi, andai waktu itu kau jadi kekasihnya, kau pasti akan merasa tenang. Dia wanita yang berprinsip. Hingga dia benar-benar merubah pandanganku pada wanita. Secara berlahan dan tidak sengaja dia mampu merubah pandanganku soal wanita dan dunianya. Setiap langkahnya, senyumnya, tutur kata serta sikapnya seakan mengatakan dengan jelas, dengan tanda petik dan huruf besar; "WANITA ITU BUKAN BUDAK HAWANAFSU".  yah mungkin begitu. Sejak itulah aku mulai suka memperhatikannya. Tapi, aku tetaplah aku, cuek dan acuh mungkin sudah menjadi pertunjukan biasa bagi wanita secara umum.

Pengujung kelas tiga, perasaan ini semakin menjadi saja. Sampai akhirnya kami lulus dan sama-sama melanjutkan ke luar kota. Haahaa, keluar kota?, iyalah, lah domisili kami batas kota. Haahaa. Kami memilih sekolah yang berbeda. Tak ada kontak, dan entah bagaimana, mungkin pertemuan pada saat mengambil ijazah itu adalah terakir. Nenurutku waktu itu. Sering sekali, aku berharap, pada akhir pekan dapat menjumpainya di bus antar kota antar provinsi yang menghubungkan Kota Solo dan Pacitan itu. Tapi seingatku tak pernah.

Entah musim apa waktu itu, aku tak begitu ingat pasti. Yang jelas aku berada di angkutan yang lagi ngetem di depan SMK senja. Sebelumnya aku dapat nomer hp nya dari salah seorang teman lama. Aku ingat, pertama aku sms dia lagi antri mandi. Dia jadi anak kost waktu itu,heehee. Sms dan sms. Pesan-pesan singkat yang saling berbalasan waktu itu kurasa sangat manis walau mungkin hanya biasa. Yah, semua tentangnya adalah hal manis. Sangat manis, sebelum pada akhirnya hal terpengecut pertama kali dalam hidup ini aku lakukan. Mungkin tak layak aku tulis, tapi mungkin sudah ada dalam tulisan lainnya. Katanya, dia mau fokus pada nilai dan sekolahnya.

Seiring detik berlalu, semakin menimbun jarak diantara kami. Seiring itu juga harapan itu masih ada. Berharap ada itikat baik setelah dia puas dengan semua ijazahnya. Tapi, ini sudah tahun 2015. Tahun yang sudah mendekati dia wisuda. Menambah panjang namanya yang sudah disingkat di dokumen-dokumen resmi sekalipun. Begitu panjang. Tapi sepertinya cerita itu sudah berakhir di tahun itu. Saat ini kami begitu berjarak. Ucapan selamat ulang tahun beberapa tahun ini pun tidak lagi dia balas. Sekalipun sekedar kata "thanks" pun tak ada.

Jaman sudah berubah. Adat manusia sudah banyak berubah. Mungkin hanya aku yang jalan di tempat. Tak bisa lagi menyintai wanita lain seperti aku menyintainya. Atau malah, hanya aku saja yang tak berani mencoba dengan wanita lain. Atau malah aku yang masih mengharapnya hingga saat ini. Sekalipun kemustahilannya semakin kian.

Yah, begitulah. Sedikit cerita yang sangat biasa antara aku dan dia. Dan kini, kau adalah yang nyata di depanku. Walau tak ada jabatan tangan dan saling menyebutkan nama, kurasa diam-diam kita saling mengenal. Mungkin benar, harapan itu masih kusimpan. Tapi apalah arti harapan ataupun perasaan yang selangit sekalipun tanpa adanya sebuah komitmen.

Satu hal yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah komitmen. Orang tua dan anak, sahabat, pernikahan ataupun "pra" nya. Atau apapapun yang melibatkan lebih dari satu orang, tanpa ada komitmen hanyalah sampah. Sesuatu yang hanya akan menimbulkan masalah.

Aku tak tahu apakah aku jatuh cinta padamu, akupun tak tahu apakah aku menyintaimu. Hanya saja, timbul sebuah harapan, aku dan kau ternaungi sebuah komitmen. Lalu saling mengerti, berusaha dan berusaha, sampai akhirnya kita benar-benar saling jatuh cinta, sampai kita benar-benar tak mau kehilangan. Karena pada dasarnya kasih sayang itu ada sejak kita terlahir sebagaimana mestinya. Cinta kita untuk siapa saja itu sama saja. Begitupun aku dan kau yang belum resmi kenal. Yang besar itu bukan cinta, tapi hanya rasa takut kehilangan. Yang besar itu bukan cinta, tapi hanya ke egoisan diri belaka, yang mengharap selalu diuntungkan. Yang besar itu bukan cinta, tapi sebuah keinginan menghapuskan malam berdua. Dan semua yang besar itu tak ada yang abadi, hanya perasaan yang datang pergi silih berganti.

Karena cinta itu kasih sayang. Dan kasih sayang itu sederhana. Karena kasih sayang tak meminta pengorbanan sekecil apapun, yang minta pengorbanan itu ego.

Karena kasih sayang adalah pengisi takdir, bukannya menghalingi takdir. Ada saatnya yang kita sayangi pergi. Dan sebagai wujud kasih sayang, kita antar dan lepaskan dengan kasih sayang. Bukan membebani perpisahan dengan air mata dan kesedihan.

Karena kasih sayang itu adalah semuanya dan selamanya. Bukan urusan malam dan selangkangan belaka.

Karena kasih sayang itu segalanya. Menjaga dan tak membebani. Senyum dan tawa, kekuatan dan kebersamaaan. Tak ada yang direndahkan, tak ada yang dirugikan.

Ketika kita bisa lihat semua di dunia ini adalah karunia dan nikmat, saat itulah kita akan tahu sepenuhnya apa itu yang namanya kasih sayang, apa itu yang namanya cinta.

#aku_harap_ada_jalan_tanpa_kenaifan.

Benk_wd

20 September 2015

Masih di tengah hari Ahad. Bersama iringan karawitan pernikahan tetangga. Apa kabar kamu hari ini?, apa kamu juga rasakan panas yang menyengat?. Kurasa sama saja. Panas, dingin, sejuk atau apapun, baik-baik selalu doaku.

Terkadang, hidup ini seperti rangkaian puzzle kejenuhan. Mengejar kesenangan yang hanya mampu dijabarkan secara tabu. Tak ada yang pasti. Hari ini, yang manis mungkin terasa nikmat. Tapi, esok atau lusa tak ada yang pernah tahu, apakah manis itu masih menjadi prioritas. Mungkin juga pahit menjadi hal yang dirindukan.

11 september 2015

11 September 2015.

Menjelang pergantian hari di baturetno. Apa kabar mu hari ini?,

Malam yang semakin kian, namun tak kunjung sepi seutuhnya. Sesekali kendaraan dengan "cangkem ombo" masih melintas membelas keheningan. Suara kipas anginpun masih "antas" terdengar, berputar pada tempo nomor 1. Mungkin itu sudah menjadi  semacam lulluby disetiap ujung malamku. Dikampung sebelah, diujung jalan, gang sebelah SMA negeri ke arah timur masih gaduh oleh para panjak, sinden, dan mbah dalang. O,ya, berita soal bocah-bocah yang tertangkap basah "nyawah" kemarin malam juga masih ramai diperbincangkan.

Makin mengenaskan saja dunia moral dan keperawan generasi ini. Kasus asusila yang menurutku paling rendah kastanya di dunia kejahatan itu makin marak. Belum lama, dari obrolan jalanan, kasus ini menjadi sering duperbincangkan. Dari yang bapak make anaknya sampai muda-mudi yang lupa make otaknya. Lahir telanjang, sama orang tua diberi busana sebagai pelindung. E,.. Setelah gede malah main telanjang-telanjangan sama orang yang ga jelas. Ilfil jadinya, mau deketin cewe yang udah biasa pacaran. Lebih lagi yang daftar mantannya udah kaya kereta api gitu. Menurutku, pacaran itu hanya permainan taktik. Pacar kita adalah musuh kita. Jadi ga usah deh, so so an udah pasti nikah. Yang dapet langsung pergi juga udah banyak. Kalau sampai dapet masalah bejat gitu, kasian orang tua. Ibu ngelahirin bertaruh diri antara hidup dan mati. Gilirin udah gede malah jual diri. Gimana ga asu coba. Yah semua kembali pada diri masing-masing. Kepinginan begini begitu itu manusiawi, tapi, tahu diri dan waktu yang benar dan baik. Aku yakin, sisi baik itu ada pada setiap manusia. Begitu juga sisi buruknya. Dan semua sial pilihan. Baik buruknya kita itu kita yang menentukan. Okey?, jaga diri, maetabat dan kehormatan sebagai laki-laki ataupun wanita. Stop "Nyawah" jangan kehilangan rasa bangga sebagai manusia dengan cara-cara yang wajar bagi wedus dan asu.

Hmmm... Entahlah, apakah asyik menghabiskan malam di sawah di tepian ujung waduk gajah mungkur. Di tambah lagi tanpa busana, bisa masuk angin nak! :D. Tapi semua seperti sudah disabdakan. Jaman yang semakin tua, semakin saja aneh atraksi-atraksi jagad ini. Pantas saja, peminat sirkus sudah mulai berkurang, lha wong di kehidupan sehari-hari penuh dengan kejadian unik, lucu, dan tak jarang tak masuk akal. Ya, mungkin itu sebabnya. :D

Apa kabar konser Bon Jovi di Jakarta. Apa masih dengan lonjaj-lonjak gembira para fans, atau desak-desakan untuk melihat dan mendengar langsung sang maestro bernyanyi. Ya, apapun, semoga kalian merasa buas dengan satu setengah juta kalian.

Lapangan bola menjadi lebih etis untuk konser musik akhir-akhir ini di negeri ini. Sepak bola koma sejak bebera bulan ini. Selepas Persib mengukuhkan diri sebagai juara musim lalu, tak ada kick of liga yang seperti tahun lalu. FIFA menjatuhkan sanksi pada badan federasi sepak bola negeri ini. Di tivi, koran, dan internet bahkan dari obrolan orang-orang di sebelah wc umum bisa kita lihat masalahnya. Yang paling menonjol bagiku adalah ketidak pecusan para memegang kewenangan mengurus sepak bola dan juga kegagalan bersinergi diantara mereka. Ya, maklumlah, mereka orang-orang pandai. Tapi kalau ditannya pada orang-orang awam, mungkin akan banyak yang mengatakan mereka tolol. Baik secara langsung atau tidak kurasa begitu. Jadi ga usah deh, so bijak ngata-ngatain sporter kalo lagi tawuran atau nyalain kembang api di dalam stadion. Kurasa, jiwa lotalitas dan harapan pada kemajuan sepak bola negeri ini lebih dimiliki sporter ketimbang mereka yang menjebur kesepal bola demi gaji. Parah, semoga saja lekas mati saja sebak bola Indonesia kalo tidak bisa siuman dan sehat lagi.  Biar lahir sepak bola baru, yang orang-orang didalamnya memainkannya sebagai hobi dan kecintaan. Bukan demi uang dan kenaifan martabat jabatan.

Puisi Terakhir - Gie

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,

ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza,

tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku,

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,

atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi,

ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang,

ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra,

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku,

setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,

tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu,

mari, sini sayangku,

kalian yang pernah mesra,

yang pernah baik dan simpati padaku,

tegakklah ke langit atau awan mendung,

kita tak pernah menanamkan apa-apa,

kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan,

Yang kedua dilahirkan tapi mati muda,

Dan yang tersial adalah berumur tua,

Berbahagialah mereka yang mati muda,

Mahluk kecil kembalilah,

dari tiada ke tiada,

Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

Yang hilang

Semua terjadi begitu saja. Saat aku mulai belajar mencintaimu pelan-pelan. Mungkin benar kata orang ; " kita tak pernah tahu akan jatuh cinta pada siapa, tapi kita selalu tahu siapa yang patut dan layak untuk kita pertahankan dan perjuangkan". Ya, dan aku rasa aku baru saja paham siapa yang layak aku pertahankan. "kau". Kau senang mendengarnya kasih?. Tersenyumlah,manis.

Lihatlah, awan diatas sana menyembunyikan purnama yang tak lagi sempurna. Namun, cahaya bulan itu masih menembus kabut-kabut tipis cakrawala. Ya, malam ini langit nampak berawan. Kau tahu, apa yang ku inginkan malam ini?. Ah, kau jangan pura-pura tak tahu seperti itu. Malam ini aku ingin menempa kursi panjang bambu ini dengan dua hati. Ya, dua hati. Hatiku dan hatimu. Rasa-rasanya aku ingin membalas sikapku selama ini padamu. Aku ingin membuat hatimu hangat di sampingku. Agar kita bisa lupakan dinginnya sikap selama ini padamu. Kita mulai cerita baru. Aku tak tahu, apakah aku jatuh cinta padamu, yang pasti, keuletanmu selama ini menghadapi aku yang mungkin sudah seperti zombie ini adalah alasannya. Alasan untuk aku pertahankan. Cinta itu akan tumbuh dan bermekaran seiring waktu kita saling mengenal dan saling menguatkan. Bukankah begitu manis?.

Sementara, alunan ayat-ayat suci masih menggema. Begitu juga air mata ini. Jika ada satu pintaku yang akan dikabulkan, aku ungin satu hari saja bersamamu.

"aku tak tahu, apakah aku jatuh hati padamu. Tapi, aku akan selalu mencoba menyayangimu sampai aku benar-benar jatuh hati padamu", ya. Kata itu saja yang ingin ku ucap padamu. Setelahnya,... Kurasa aku pun tak sanggup mengganjal roda takdir.

Kau ingat manis, kata Soe Hok Gie seorang filsafat Yunani pernah berkata; "Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi muda, yang tersial adalah berumur tua,berbahagialah mereka yang mati muda..", lalu dilanjutnya "kita tak pernah menanamkan apa-apa. Dan tak pula akan kehilangan apa-apa. Makluk kecil kembalilah, dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaan. Ya kurang lebih begitu.

Selamat jalan manis, berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Api Generasi

Pada dasar tujuan kita sama. Membawa perubahan untuk kampung kita yang lebih baik. Seperti halnya yang pernah kita bicarakan. Memangsih, ada sedikit ketidak sepahaman soal cara. Tapi sudahlah, waktu itu saya anggap itu hanya sangat kecil sekali ketidak sepahamannya. Dan sekarang, saya menyadari. Titik kecil itu telah melahirkan masalah yang besar. Saya tidak bermaksud mengangkat ataupun mempermasalah perbedaan pendapat. Tapi, karena ada sikap yang menurut saya menekan pada teman-teman saya, wajar jika saya menunjukan reaksi.

Saya tidak bermaksut mengurusi urusan kalian yang merasa "paling pemuda". Karena saya sadar, saya bukan orang tua yang bisa dijadikan panutan, dan saya pun tak ingin dan tak berminat jadi panutan.

Malam itu, berdasarkan "Jarene". Tapi ini diakui lebih dari tiga orang. Saya lanjutkan, malam itu teman-teman saya dikumpulkan di Masjid oleh seseorang yang merasa memiliki kewenangan. Dengan dalih ingin mendamaikan mereka yang punya masalah. Saya apreasi tujuan baiknya. Tapi, menurut saya terlalu dini untuk mendamaikan masalah yang masih samar-samar. Urusan teman-teman terlalu pribadi untuk diangkat kedalam sebuah forum. Terlebih-lebih ada penggiringan opini yang menuju adanya masalah antara "kulonan - etanan". Terlebih lagi adanya orang "diluar pemuda" yang turut hadir pada acara yang tak semestinya ada. Malam itu juga beredar isu akan ada perkelahian. Seseorang diantara teman-teman menerima sms " pye, sido gelut ora?", kurang lebih begitu.

Saya bukan orang yang pandai soal organisasi. Tapi setidaknya saya pernah ikut organisasi dari karang taruna, organisasi pada jaman sekolah. Saya tahu betul bagaimana organisasi tersebut memegang teguh peraturan. Tapi tetap saja, seorang pimpinan tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Ngomongnya saja "mohon kritik dan saran", tapi dikritik langsung mengeluarkan ultimatum mengundurkan diri, ditengah krisis generasi. Pimpinan macam apa yang seperti itu. Pimpinan bukanlah tukang ngatur, pimpinan harus berani mengabaikan kepentingannya. "Padang pikirre, ombo atine, dowo ususe". Itulah pimpinan.

Nuwun agungsih samudro pangsami.

Benk_wd