Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

11 september 2015

11 September 2015.

Menjelang pergantian hari di baturetno. Apa kabar mu hari ini?,

Malam yang semakin kian, namun tak kunjung sepi seutuhnya. Sesekali kendaraan dengan "cangkem ombo" masih melintas membelas keheningan. Suara kipas anginpun masih "antas" terdengar, berputar pada tempo nomor 1. Mungkin itu sudah menjadi  semacam lulluby disetiap ujung malamku. Dikampung sebelah, diujung jalan, gang sebelah SMA negeri ke arah timur masih gaduh oleh para panjak, sinden, dan mbah dalang. O,ya, berita soal bocah-bocah yang tertangkap basah "nyawah" kemarin malam juga masih ramai diperbincangkan.

Makin mengenaskan saja dunia moral dan keperawan generasi ini. Kasus asusila yang menurutku paling rendah kastanya di dunia kejahatan itu makin marak. Belum lama, dari obrolan jalanan, kasus ini menjadi sering duperbincangkan. Dari yang bapak make anaknya sampai muda-mudi yang lupa make otaknya. Lahir telanjang, sama orang tua diberi busana sebagai pelindung. E,.. Setelah gede malah main telanjang-telanjangan sama orang yang ga jelas. Ilfil jadinya, mau deketin cewe yang udah biasa pacaran. Lebih lagi yang daftar mantannya udah kaya kereta api gitu. Menurutku, pacaran itu hanya permainan taktik. Pacar kita adalah musuh kita. Jadi ga usah deh, so so an udah pasti nikah. Yang dapet langsung pergi juga udah banyak. Kalau sampai dapet masalah bejat gitu, kasian orang tua. Ibu ngelahirin bertaruh diri antara hidup dan mati. Gilirin udah gede malah jual diri. Gimana ga asu coba. Yah semua kembali pada diri masing-masing. Kepinginan begini begitu itu manusiawi, tapi, tahu diri dan waktu yang benar dan baik. Aku yakin, sisi baik itu ada pada setiap manusia. Begitu juga sisi buruknya. Dan semua sial pilihan. Baik buruknya kita itu kita yang menentukan. Okey?, jaga diri, maetabat dan kehormatan sebagai laki-laki ataupun wanita. Stop "Nyawah" jangan kehilangan rasa bangga sebagai manusia dengan cara-cara yang wajar bagi wedus dan asu.

Hmmm... Entahlah, apakah asyik menghabiskan malam di sawah di tepian ujung waduk gajah mungkur. Di tambah lagi tanpa busana, bisa masuk angin nak! :D. Tapi semua seperti sudah disabdakan. Jaman yang semakin tua, semakin saja aneh atraksi-atraksi jagad ini. Pantas saja, peminat sirkus sudah mulai berkurang, lha wong di kehidupan sehari-hari penuh dengan kejadian unik, lucu, dan tak jarang tak masuk akal. Ya, mungkin itu sebabnya. :D

Apa kabar konser Bon Jovi di Jakarta. Apa masih dengan lonjaj-lonjak gembira para fans, atau desak-desakan untuk melihat dan mendengar langsung sang maestro bernyanyi. Ya, apapun, semoga kalian merasa buas dengan satu setengah juta kalian.

Lapangan bola menjadi lebih etis untuk konser musik akhir-akhir ini di negeri ini. Sepak bola koma sejak bebera bulan ini. Selepas Persib mengukuhkan diri sebagai juara musim lalu, tak ada kick of liga yang seperti tahun lalu. FIFA menjatuhkan sanksi pada badan federasi sepak bola negeri ini. Di tivi, koran, dan internet bahkan dari obrolan orang-orang di sebelah wc umum bisa kita lihat masalahnya. Yang paling menonjol bagiku adalah ketidak pecusan para memegang kewenangan mengurus sepak bola dan juga kegagalan bersinergi diantara mereka. Ya, maklumlah, mereka orang-orang pandai. Tapi kalau ditannya pada orang-orang awam, mungkin akan banyak yang mengatakan mereka tolol. Baik secara langsung atau tidak kurasa begitu. Jadi ga usah deh, so bijak ngata-ngatain sporter kalo lagi tawuran atau nyalain kembang api di dalam stadion. Kurasa, jiwa lotalitas dan harapan pada kemajuan sepak bola negeri ini lebih dimiliki sporter ketimbang mereka yang menjebur kesepal bola demi gaji. Parah, semoga saja lekas mati saja sebak bola Indonesia kalo tidak bisa siuman dan sehat lagi.  Biar lahir sepak bola baru, yang orang-orang didalamnya memainkannya sebagai hobi dan kecintaan. Bukan demi uang dan kenaifan martabat jabatan.

0 komentar:

Posting Komentar