Ah...
Jangan kau paksa aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..
Manis,
Selepas purnama ini aku tak tahu lagi,
Aku tak tahu pasti,
Apa aku masih menyinta mu,
Bak kumbang di musim kembang,
Selepas madu di kenyam lalu kan hilang.
Terlalu jauh kita menghalu ke kiri.beranjak sejenak melajur lupa.
Jangan kau paksa lagi aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut lagi aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..
Kita berawal dari sebuah kebetulan,
Dari setitik kecil sakitnya kekecewaan.
Yang semula manis berangsur miris.
Dan kini,
akupun bermaksud pulang.
Jangan kau paksa aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..
Bila esok aku tak lagi datang,
Tak usahlah kau mendamba.
Dari malam jalanan kita dipertemukan.
Dan kaupun kuyakin tahu.
Malam pun menghilang seiring pagi menjelang.
Apa kita akan rela kesiangan dan ditertawakan.
Manis, maafkanlah untuk semua.
Yang indah-indah,
Yang menghiasi gemerlapnya gelap jalanan.
Yang menumbuhkan harapan,
Pagi tak pernah datang.
Tapi pagi tak pernah ingkar,
Sudah seharusnya,
Sudah sewajarnya,
Kita lambaikan tangan,
Lalu saling berucap salam perpisahan.
Hapus namaku,
Hapus lah aromaku,
Dan Semua yang indah dariku,
Anggap saja hadiah perkenalan kita.
Jangan kau paksa aku puitis,
Sebab kata-kata tak akan buatmu kenyang,
Jangan tuntut aku romantis,
Karena sikap manis tak akan buatmu tenang..
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 22 September 2015
0 komentar:
Posting Komentar