Aku persembahkan segala kekuranganku padamu. Hitamku juga rahasia-rahasia yang lebih buruk lagi. Jalan hidup yang ku tempuh, dan mimpi besarku bukanlah suratan seorang bangsawan. Tapi inilah aku kekasih. aku memang hanya segini adanya. Disamping segala kesenjangan setidaknya kita pun masih hidup di bumi yang sama. Kamu minum air, aku pun juga. Kau bernafas dengan udara, aku pun sama. Kau lahir dari seorang ibu, tak ubahnya diriku. Hanya saja persepsi telah membesarkan kita,sayang.
Yang saya rasakan, yang saya lihat
Benk Widhiono
Lihatlah kekasih. Bersama mendung tipis dan rembulan yang setengah lingkaran. Mengantarkan masa pada perpisahan dengan april tahun ini. Dan kita pun masih sama saja. Diam-diam kita masih saling diam, kemdian diam. Lalu sampai kapankah?, kapan kita akan duduk berdua, bercerita tentang langit biru dan juga segala keindahan dunia sampai fajar tiba. Entahlah kekasih, semoga itu bukan sekedar khayalku belaka.
Lihatlah kekasih...
Segala yang terburuk yang nampak padaku masih sembunyikan yang lebih lagi. Hanya saja tak nampak. Dan kuharap kelak, kita bertemu dan bicara soal komitmen. Bukan lagi soal cinta-cintaan seperti layaknya anak-anak yang baru saja SMA. Bukan pula soal untung-rugi, menimbang kurang dan lebihnya. Tapi lebih dari itu, keberanian kita untuk saling bergandeng tangan. Melewati semua dan kesediaan saling melengkapi satu akan satunya, dirimu atas diriku,diriku atas dirimu. Dan segala untuk hari-hari kita setelah esok dan esoknyanya lagi serta selamanya.
Untuk sementara biarlah begini. Diamku dan diammu biarlah saling merindu malu-malu. Tapi kuyakin, sepasang manusia ini punyai mimpi yang sama untuk beresama. Suatu nanti, dan selamanya.
Kekasih,tersenyumlah
Bukan kita yang salah. Bukan pula takdir yang salah. Persepsi tentang semua ini sebuah kesalahan, mungkin itulah yang salah. Dan begini takdir yang harus kita jalani. Apa ada yang lebih membanggakan terlahir sebagai seorang manusia?, yang Malaikat pernah bersujud padanya. Kalau pernah berandai jadi malaikat hanya untuk surga, sayang sekali. Kurasa malaikat sendiri tak seperhitungan itu.
Hari ke-duapuluh lima bulan April. Bersama mendung-mendung sendari malam lalu, dan jagad raya yang redup tanpa mentari. Apa kabar kamu, dan kamu, hari ini?. Semoga keselamatan, rahmat, dan barokah Sang Maha cinta selalu bersamamu, selalu. Amin.
Masihkah buku dan gelar yang kau kejar menyibukanmu?, Sukses, semoga terwujud angan dan cita-cita itu.
Sudah hampir pukul sembilan waktu bagian baturetno. Berteman mendung yang sayup, bayangmu sendari tadi duduk menatap pagi di sini. Di sampingku. Sedang entah kemana sang raga, aku tak tahu. Dan yang kau berikan hanyalah kesepian. Sebuah rasa yang tak mampu kujelaskan.
Mungkin sudah bukan saatnya lagi kita mempersoalkan perasaan. Kita juga bukan lagi anak smp ataupun yang baru masuk sma. Sekarang, tinggal bagaimana keberanian kita untuk berkomitmen. Bukankah begitu manis?,...
Pada dasarnya semua manusia hidup dengan cinta di hatinya. Ketika seorang pengemis meminta-minta lalu di berinya sekeping uang, itulah cinta. Cinta itu hanya satu kata. Dan nama cinta itu ada satu wujudnya. Dan itu sama untuk semua. Tinggal bagaimana kita menjaga itu yang membuatnya terlihat besar atau kecil, bahkan tiada. Tapi tetap saja. Cinta itu adalah cinta.
(benk_wd)
Kita belajar untuk tidak mengerti. Akan hal-hal yang mencoba beri kita penjelasan. Menerangkan, lalu hilang seperti mendung selepas hujan datang. Yang kita tahu hanyalah hal kita mau. Pelangi memang indah. Tapi kau tahu manis, pelangi tak akan datang tanpa berawal mendung.
Kala malam datang, aku bersembunyi di balik derik-derik jangkrik. Bersama kehangatan dingin dan rasa takut akan masa depanku. Sepi. Ingin rasanya menghadirkanmu disini. Disampingku. Kita bercerita tentang rumah kita, anak-anak kita, serta kebun melati yang sudah mulai mewangi. Suatu nanti.
Sementara langit malam ini hanya menyisakan satu warna. Hitam. Tak tampak rembulan. Tak juga bintang-bintang. Begitu juga bayanganmu. Biasanya, kau atap sana. Tetsenyum melengking. Lalu melambaiku. Kau tahu, kau manis sekali. Aku suka itu.
Dan kini aku tak tahu. Setalah siang tadi, aku menatapmu begitu dekat. Setelah kita jatuh dalam satu pandangan, seperti biasa, kau membuangnya. Dan aku, jadi tak tahu. Aku hanya bisa diam. Na, apa kau rasakan apa yang aku rasakan?, apa kau malah tak pernah memperhatikan, laki-laki ini selalu salah tingkah dihadapmu. Bahkan aku mati. Aku tak mampu menggodaimu seperti aku bercanda dengan teman-teman. Aku..., heehee pokoknya, aku lala padamu.
Aku melihat kesepian ditepian jalan yang gaduh.
Aku melihat rasa takut di dalam kegagahan.
Aku melihat kesedihan terselip di antara tawa.
Aku melihat apa-apa yang tak mereka ketahui.
Karena mereka membatasi pengelihatannya dengan mata.
Dan tak bisa dipungkiri,
Kenyataan yang nyata tak terbatas mata dan logika.
Sebenarnya,
Mendeskripsikan diri sendiri adalah rasa sakit.
Tapi tak jua ubahnya mereka tahu.
Apa-apa yang sebenarnya mereka mampu tahu.
Aku melihat apa-apa yang tak mereka lihat.
Karena yang aku lihat,
Adalah hal yang ada dalam diriku, sendiri.
Dan mereka abaikan.
Memang beginilah dunia kita.
tempat kita kenal dan jatuh hati.
Sejak kecil,
Kita dididik untuk menaklukan langit.
Hidup dalam limangan harta, kehormatan dan nama besar.
Apa salah guru kita mengajarkannya?,
Tidak..
Memang begitulah kenyataan yang musti kita hadapi.
Dan untuk segalanya, kita pertaruhkan segalanya.
Tapi,..
Jika semua berfikir begitu?,
Heh...
Ucapkanlah "selamat datang" pada kehancuran.
Atas kepentingan yang sama,
Gesekan dan benturan akan menjadi biasa.
Hanya yang besi yang akan bertahan.
Dan kau tahu kawan,
Kodrat kita adalah manusia.
Yang akan sakit namun saling menyayangi.
Bukankah derajat besi itu jauh dibawah manusia?
Bukan begitukah, kawan?.
Sudalah kekasih,
Buang saja segala sedihmu,
Air matamu,
Serta apapun yang memudarkan "cantikmu".
Bersamamu kita akan menepi.
Kita akan wujudkan semuanya.
Kehormatan,
Kekayaan,
Dan juga nama besar,
Tanpa perlu alasan apapun,
Tanpa butuh pengakuan siapapun.
Dan,..
Sejarah serta koran pun tak perlu dipaksa mencatatnya.
Tersenyumlah,..
Kekasih..
Kita tak akan mendapatkan apa-apa.
Tak pula akan kehilangan apa-apa.
Sampai nanti, sampai lusa.
Sampai kita lupa.
Akan satu cara jatuh cinta,
Dan terluka.
Tersenyumlah.
Selagi mentari belum diambil yang Punya.
(benk_wd)
Kesedihan tak akan merubah apa-apa dalam hidupku. Kesepian juga. Dan hadirmu pun kurasa juga sama. Hanya saja, saat bersamamu ku harapkan suatu harapan yang tak sempat para dewa mengharapnya itu datang.
Kekasih,..
Kala langit mulai hitam, aku lukiskan semuanya dalam warna sepi berpadu dingin. Wajahmu menjadi dominasi yang terlampoi abstrak. Biar orang lain tak tahu, tapi kau tersenyum dalam lukisanku. Kau,... Lebih manis dari monalisa.
Serdadu malam mulai berkendarakan bintang. Melesat diantara jeda, antara koma sebelum sang titik. Satu, dua, hingga beberapa.. Lalu... Hah, sama saja. Sepi itu meraksasa menanggul pagi.
Sampai nanti, sampai esok. Sampai waktu sampaikan salam perpisahan yang kau titipkan. Aku tak ingin menjadi sandunganmu untuk pergi. Aku bukan dan tak ingin menkadi sandungan yang akan buatmu jatuh. Biarlah, biar aku jadi kisah kecil yang terbuang. Sekalipun aku berharap, kugandeng tanganmu dan kita satu dalam laju.
.....
"You baby,
Kau sosok yang punyai arti.
Kau puisi ketika datang sepi.
Saat nikmati indah sunset panrai kuta.
Hadir hujan jadi pelengkap di tata surya.
Aku butuh dunia..
dannnn.. kauuu..
Sebagai pendamping ketika ki rasakan galau..
Aku butuh dunia..
Dan.. Kauuu.
adalah tema saat rasakan galau.
kau ada untuk melengkapi hidupku..
kau tercipta untuk menitupi kekuranganku.
L..O..V..e..
Yang mrmbuat ku bisa bertahan...
..... " cc : kau puisi BF2B
(benk_wd)
Tinggalkan aku bersama segala. Yang pernah kau katakan, selepas gerimis akan datang pelangi. Selepas pelangi ada langit yang cerah. Seperti itukah hidup ini manis. Seperti itukah keindahan yang tak pernah cacat sedikitpun.
Bukan,
Ada yang lupa kau ceritakan, manis. Kau lupa bercerita tentang air mata, darah, dan pahitnya salam perpisan. Tentang sepasang sayapmu yang kau sembunyikan. Yang kini siap terkepar mengembang membawamu terbang.
Lagu itu masih kudengarkan. Sebuah pengisi April yang masih menyisakan sepertiga usianya. Bersama gerimis kota ini, aku tak jua mengerti akan semua. Syair yang indah itu memudar. Mungkin tak akan pernah ada pelangi selepas gerimis hari ini. Dan aku nikmati lambaian tanganmu, "see you".
(benk_wd)
Tukang Becak, sicPenjual Sayur dan merpati kecil
Filed Under :
#perpisahan2015
by tri widhiono
Kamis, 16 April 2015Sekarang, aku melihat sangkar merpati itu telah dibuka kuncinya. Mungkin sudah waktunya kau tau banyak hal diluar sana merpati kecil. Alam bebas yang indah namun mematikan, alam raya yang kejam namun menyenangkan. Yah, memang beginilah dunia kita. Tak akan sanggup untuk terus tersenyum, namun tak pula tegar untuk terus menangis. Keduanya juga tak pantas datang bersamaan. Jalani saja merpati kecil. Pada saatnya kau akan mengerti dengan sendirinya.
Sangkar yang akan kau tinggalkan akan selalu bercerita. Segala hal tentangmu yang semula biasa menjadi sangat aku rindukan. Kau belajar mematuk jagung, mendengkur, dan lompat diantara jeruji. Semua akan menjadi hal yang kurindukan.
Waktu pun berlalu. Detik ke detik hingga tenggelamkan hari. Sementara, cerita masih menyisakan kita. Yang belum sempat saling berjabat tangan dan saling sebutkan nama. Kita pun.... Heh, mungkin kita serupa Tukang Becak dan si penjual sayur. Yang baru ketemu didepan pasar tadi pagi. Kurasa, kau tak perlu.....,
"namaku "si penjual sayur" tolong antar kesana...". Kurasa, kaupun hanya akan mengatakan "tolong antar ke sana". Lalu pada tempat tempat yang berbeda dalam satu becak kita saling mengamati. Namun, tak mungkin kita banyak basa-basi di jalan. Yang kutahu hanya warna bajumu, juga berapa banyak sayur yang kau bawa. Selebihnya, aku hanya mengira-ira tanpa yang pasti. Semula aku berharap jalan ini masih panjang. Dan semakin panjang. Walau hanya diam, sebenarnya aku nyaman bersamamu. Aku tahu kamu lelah, kurasa akupun jiga. karena itu aku lebih memilih diam. Hanya seperlunya saja dan serius aku berkata.
Lama sudah kita melaju di jalan yang panjang. Dan kita pun masih saja sama. Kau si penjual sayur dan aku tukang becak. Kini sampai sudah pada waktu dan tempatnya. Tempat yang tadi kau bilang " ke sana" telah tiba. Kau bilang terimakasih. Serta apa-apa seperlunya antara tukang becak dan si penjual sayur. Selebihnya?, Tidak ada. Dan saat kini ku balik becakku, aku sadar. Sendari tadi aku berharap agar jalan masih, jauh masih panjang. Dan Tuhan berikan itu,sekali pun hanya kugunakan untuk diam dan dian-diam memperhatikanmu. Dan sekarang, aku hanya punya satu pilihan, kembali ke pangkalan. Biar bagaimanapun aku ini tetaplah tukang becak. Aku sadar, jalan tadi terlalu jauh. Seharusnya aku bertanya banyak dan lebih padamu,tadi. Tapi aku ingin kau istirahat dalam perjalanan. Aku tak ingin melihatmu terlalu jauh. Kini aku harus kembali seorang diri. Tanpamu. Pasar dan rumahmu cukup jauh. Satu harapan yang aku yakini, suatu saat nanti kau akan ke pasar lagi. Dan satu doa ku, kita saling jabat tangan dan menyebutkan nama. Selebihnya kita bicarakan setelahnya.
Terbanglah Merpati kecil, satu harapanku, kau tak melupakan bahwa kita adalah manusia bukanlah dewa atau malaikat. Dan juga, seorang duduk menunggumu disetiap fajar dan senja. Berharap kau datang dan duduk disampingnya. Setelah semuanya.
(Benk_wd)
Hari ke 16 bulan April tahun 2015.
Seperti yang kau lihat, seperti yang kau rasakan. Tak banyak yang beda akan apa-apa yang saling kita temui. Hujan, gerimis, ataupun suasana yang "gerah". Tak ubahnya doa-doaku untuk mu ; "semoga kau baik-baik selalu".
Entah berapa kali kutulis tentang kekagumanku pada beberapa wanita. Tapi kurasa sama saja. Semua emosionalku semata. Sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang manusia. Dan pandanganku tentang yang disebut "cinta" juga masih saja, tak ada yang istimewa. Indah atau tidaknya dia, tergantung kita mengkondisikannya.
Tak terhitung angka yang telah kulalui dari saat itu. Saat Bintang tenggelam dalam kesunyian. Dan sejauh itu juga, kesunyian menjadi hal yang biasa dalam hidupku. Aku tertawa, aku berteriak, aku pun hura-hura dengan segala. Namun tetap saja, semua tak mampu menjelaskan aku bahagia. Kesunyian bukan sekedar ruang yang tak memberi apapun kala langit mulai gelap. Tapi, lebih dari itu. Kesunyianku tak beralasan dan tak pula dapat dijelaskan. Yang kutahu, kesunyianku adalah kawan. Sebuah kesetian tanpa batasan lalu ditenggelamkan harapan.
Dia,...
Dia adalah seseorang.
Hhh.. Istimewa.
Dia datang pada alam kesunyianku. Menyapa, dan bercerita tentang Bintang tanpa bicara. Wajahnya yang terbingkai jilbab, tinggi badannya, telah melukiskan Bintang. Ada Bintang dalam dirinya. Dan satu lagi, pesan singkatku yang tak dia balas itu semakin menghidupkan Bintang dalam dirinya. Tapi, aku tak ingin dia hanya sekedar yang mengingatkanku pada bintang. Aku ingin dia menjadi alasan, ada saatnya Bintang kusimpan pada suatu tempat dihatiku yang tak dapat kutemukan lagi.
Ingin rasanya aku "pause" semuanya. Agar, dia tak berlalu untuk sebentar saja. Setelah itu terserah padanya. Durasi telah membatasi. Seiring berakirnya hari Rabu kemarin, berakir sudah tugas dan kewajibannya disini. Mungkin, setelah ini, aku akan melihatnya mengeparkan sayapnya. Seperti titah para guru, dia kan taklukan angkasa.
"sebentar lagi, aku akan merindukan hal-hal yang semulanya biasa. Kau berangkat sekolah, pulang sekolah, sampai sekedar jajan es di warung sebelah. Tas birumu, atau yang pink. Semua tentangmu, yang belum sepat kita berjabat tangan dan saling menyebutkan nama. Terbanglah, terbanglah merpati kecil... Lampoi awan-awan dan para dewa. Sampai saatnya kau pulang ke kota ini,semoga kau tak membatasi akan harapanku. Menatap mentari selepas fajar. Dimana hati hanya menyisakan kita berdua. Menyisakan aku dan kamu".
Benk_wd
Wanita itu bukan pelacur, yang dinikahi hanya untuk sekedar urusan ranjang. Tapi, juga bukan soal cinta saja. Kalau hanya karena cinta tak mungkin tega seorang laki-laki menyetubuhi wanitanya.
Wanita itu....?
"segalanya". Cinta, kasih sayang, harapan, dan kekuatan.
Secuek apapun kamu, kurasa tiada salah aku jatuh hati padamu. Sukses buat Ujiannya manis. To do the best.
Makasi buat hari ini kawan. Semoga yang terbaik untuk kita semua. Amin.
(benk_wd)
Palangi menatapmu pada langit-langit kota.
Senja yang datang selepas malam.
Bernyanyikan ninabobo termanis,
Untukmu.
Jika saja apa yang ada diantara yang harus mustahil.
Diantara diplomatik, misiu dan wanita.
Aku mau kau datang sebagai penawar.
Yang hambar berlalu.
Yang menangis tersenyum.
Lalu litaslah sang mengecam rasa.
Kita yang tak saling suka namun jatuh cinta.
Tentu saja manis,
Anda kita diperkenalkan sejak bayi,
Tak ada hal romantis di dunia ini.
Memang beginilah semestinya.
Kau datang hancurkan gunung dengan senyuman.
Mungkin orang lain hanya akan mengatakan "sekedar".
Dan kurasa kaupun tahu.
Apa yang tertahan dibalik mau kataku.
Kau,...
Adalah anugrah yang kunanti entah berapalagi.
Laut akan tawar,
Rasio akan mati,
Dan perasaan tercipta sekelas baja.
Hingga terasa,
Dunia menyisakan kita berdua.
Setelah romeo dan juliet,
Setelah Naruto dan hinata,
Setelah doa-doa yang tak henti sirami mimpi.
Kita memang bukanlah siapa-siapa.
Segala yang kita buat mustahil,
Lalu adakah alasan.
Untuk siapa-siapa bertanya.
Bersama gerah selimut kota Jakarta,
Serta desing kipas yang sendari tadi berputar.
Dari hatiku,
Aku nyanyikan lagu ninabobo untukmu.
Selamat malam manis...
Tidur yang nyenyak mimpi yang indah.
Mentaripun tak sabar.
Sekedar menatapmu lalu ucapkan;
"selamat pagi cantik"
(benk wd)
Hay April,
Apa kabarmu?, senang berjumpa denganmu. Lagi.
O,ya. Oleh-oleh apa yang kau bawakan untukku?,heehe. Semoga hari-hari yang bersama kedatanganmu.amin.
Hujan masih turun deras sesekali menyambutmu. Berseling suasana siang yang lumayan panas. Debu-debu sekitar jalan raya solo pacitan mulai absen. Apakah pintu kemarau turut kau bawa tahun ini?, terserah kamulah, April. Yang jelas kau yang selalu mengingatkanku, bahwa usiaku semakin bertambah.
Kau ingat, April. Hari ke-dua belas tahun '93. Saat itu, di bumi Pacitan sebelah barat, kau melambaikan tanganmu padaku. Memelukku, dan mengucapkan selamat datang padaku. Terimakasih April, terimalasih atas sambutanmu waktu itu.
Dan tahun ini kau datang kembali. Mungkin tahun ini bukanlah tahun yang romantis buatmu. Tak ada cerita istimewa untukmu. Seperti yang kau saksikan, tahun ini lumayan sulit untuk banyak orang. Mulai dari harga dan kebutuhan yang mulai naik satu persatu. Pengusaha juga jatuh satu persatu. Dan aku...?,.. Tak ada yang istimewa dariku. Masih juga belum mapan. Belum juga bisa ku kenalkan Bintang ataupun gadis lain padamu. Sebenarnya ingin sekali aku kenalkan padamu seseorang bernama ratna padamu. Tapi sayang, aku sendiri belum kenal dengannya. Doakan saja April, suatu nanti aku dapat mengenalkanmu pada seseorang yang istimewa itu. Agar ada cerita indah yang bisa menyambutmu. Entah itu Bintang, ratna, atau siapapun.
Nikmati saja April, aku ingin kau puitis ditengah masa sulit ini. Agar aku merasa berkawan.
Selamat datang April, semoga kau suka dengan tahun '15 ini.
(benk wd)
Wp Theme by Promiseringsdesigns. Blogger Template by Anshul Distribution By New Blogger Templates.
