Tukang Becak, sicPenjual Sayur dan merpati kecil
Filed Under :
#perpisahan2015
by tri widhiono
Kamis, 16 April 2015Sekarang, aku melihat sangkar merpati itu telah dibuka kuncinya. Mungkin sudah waktunya kau tau banyak hal diluar sana merpati kecil. Alam bebas yang indah namun mematikan, alam raya yang kejam namun menyenangkan. Yah, memang beginilah dunia kita. Tak akan sanggup untuk terus tersenyum, namun tak pula tegar untuk terus menangis. Keduanya juga tak pantas datang bersamaan. Jalani saja merpati kecil. Pada saatnya kau akan mengerti dengan sendirinya.
Sangkar yang akan kau tinggalkan akan selalu bercerita. Segala hal tentangmu yang semula biasa menjadi sangat aku rindukan. Kau belajar mematuk jagung, mendengkur, dan lompat diantara jeruji. Semua akan menjadi hal yang kurindukan.
Waktu pun berlalu. Detik ke detik hingga tenggelamkan hari. Sementara, cerita masih menyisakan kita. Yang belum sempat saling berjabat tangan dan saling sebutkan nama. Kita pun.... Heh, mungkin kita serupa Tukang Becak dan si penjual sayur. Yang baru ketemu didepan pasar tadi pagi. Kurasa, kau tak perlu.....,
"namaku "si penjual sayur" tolong antar kesana...". Kurasa, kaupun hanya akan mengatakan "tolong antar ke sana". Lalu pada tempat tempat yang berbeda dalam satu becak kita saling mengamati. Namun, tak mungkin kita banyak basa-basi di jalan. Yang kutahu hanya warna bajumu, juga berapa banyak sayur yang kau bawa. Selebihnya, aku hanya mengira-ira tanpa yang pasti. Semula aku berharap jalan ini masih panjang. Dan semakin panjang. Walau hanya diam, sebenarnya aku nyaman bersamamu. Aku tahu kamu lelah, kurasa akupun jiga. karena itu aku lebih memilih diam. Hanya seperlunya saja dan serius aku berkata.
Lama sudah kita melaju di jalan yang panjang. Dan kita pun masih saja sama. Kau si penjual sayur dan aku tukang becak. Kini sampai sudah pada waktu dan tempatnya. Tempat yang tadi kau bilang " ke sana" telah tiba. Kau bilang terimakasih. Serta apa-apa seperlunya antara tukang becak dan si penjual sayur. Selebihnya?, Tidak ada. Dan saat kini ku balik becakku, aku sadar. Sendari tadi aku berharap agar jalan masih, jauh masih panjang. Dan Tuhan berikan itu,sekali pun hanya kugunakan untuk diam dan dian-diam memperhatikanmu. Dan sekarang, aku hanya punya satu pilihan, kembali ke pangkalan. Biar bagaimanapun aku ini tetaplah tukang becak. Aku sadar, jalan tadi terlalu jauh. Seharusnya aku bertanya banyak dan lebih padamu,tadi. Tapi aku ingin kau istirahat dalam perjalanan. Aku tak ingin melihatmu terlalu jauh. Kini aku harus kembali seorang diri. Tanpamu. Pasar dan rumahmu cukup jauh. Satu harapan yang aku yakini, suatu saat nanti kau akan ke pasar lagi. Dan satu doa ku, kita saling jabat tangan dan menyebutkan nama. Selebihnya kita bicarakan setelahnya.
Terbanglah Merpati kecil, satu harapanku, kau tak melupakan bahwa kita adalah manusia bukanlah dewa atau malaikat. Dan juga, seorang duduk menunggumu disetiap fajar dan senja. Berharap kau datang dan duduk disampingnya. Setelah semuanya.
(Benk_wd)

0 komentar:
Posting Komentar