Kita belajar untuk tidak mengerti. Akan hal-hal yang mencoba beri kita penjelasan. Menerangkan, lalu hilang seperti mendung selepas hujan datang. Yang kita tahu hanyalah hal kita mau. Pelangi memang indah. Tapi kau tahu manis, pelangi tak akan datang tanpa berawal mendung.
Kala malam datang, aku bersembunyi di balik derik-derik jangkrik. Bersama kehangatan dingin dan rasa takut akan masa depanku. Sepi. Ingin rasanya menghadirkanmu disini. Disampingku. Kita bercerita tentang rumah kita, anak-anak kita, serta kebun melati yang sudah mulai mewangi. Suatu nanti.
Sementara langit malam ini hanya menyisakan satu warna. Hitam. Tak tampak rembulan. Tak juga bintang-bintang. Begitu juga bayanganmu. Biasanya, kau atap sana. Tetsenyum melengking. Lalu melambaiku. Kau tahu, kau manis sekali. Aku suka itu.
Dan kini aku tak tahu. Setalah siang tadi, aku menatapmu begitu dekat. Setelah kita jatuh dalam satu pandangan, seperti biasa, kau membuangnya. Dan aku, jadi tak tahu. Aku hanya bisa diam. Na, apa kau rasakan apa yang aku rasakan?, apa kau malah tak pernah memperhatikan, laki-laki ini selalu salah tingkah dihadapmu. Bahkan aku mati. Aku tak mampu menggodaimu seperti aku bercanda dengan teman-teman. Aku..., heehee pokoknya, aku lala padamu.
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 21 April 2015
0 komentar:
Posting Komentar