Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

25 april '15

Bukan kita yang salah. Bukan pula takdir yang salah. Persepsi tentang semua ini sebuah kesalahan, mungkin itulah yang salah. Dan begini takdir yang harus kita jalani. Apa ada yang lebih membanggakan terlahir sebagai seorang manusia?, yang Malaikat pernah bersujud padanya. Kalau pernah berandai jadi malaikat hanya untuk surga, sayang sekali. Kurasa malaikat sendiri tak seperhitungan itu.

Hari ke-duapuluh lima bulan April. Bersama mendung-mendung sendari malam lalu, dan jagad raya yang redup tanpa mentari. Apa kabar kamu, dan kamu, hari ini?. Semoga keselamatan, rahmat, dan barokah Sang Maha cinta selalu bersamamu, selalu. Amin.
Masihkah buku dan gelar yang kau kejar menyibukanmu?, Sukses, semoga terwujud angan dan cita-cita itu.

Sudah hampir pukul sembilan waktu bagian baturetno. Berteman mendung yang sayup, bayangmu sendari tadi duduk menatap pagi di sini. Di sampingku. Sedang entah kemana sang raga, aku tak tahu. Dan yang kau berikan hanyalah kesepian. Sebuah rasa yang tak mampu kujelaskan.

Mungkin sudah bukan saatnya lagi kita mempersoalkan perasaan. Kita juga bukan lagi anak smp ataupun yang baru masuk sma. Sekarang, tinggal bagaimana keberanian kita untuk berkomitmen. Bukankah begitu manis?,...

Pada dasarnya semua manusia hidup dengan cinta di hatinya. Ketika seorang pengemis meminta-minta lalu di berinya sekeping uang, itulah cinta. Cinta itu hanya satu kata. Dan nama cinta itu ada satu wujudnya. Dan itu sama untuk semua. Tinggal bagaimana kita menjaga itu yang membuatnya terlihat besar atau kecil, bahkan tiada. Tapi tetap saja. Cinta itu adalah cinta.

(benk_wd)

0 komentar:

Posting Komentar