Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

26 Desember 2016

hujan di sabtu pagi, sabtu terakhir di bulan dan tahun ini. Tak terasa, sudah menuju tahun berlalu. Waktu bergulir tanpa kompromi.

Di teras rumah mbah. Sudah lebih dari sepeluh tahun aku tak main kesini. "deras hujan yang turun, mengingatkanku pada dirimu..." lagu yang pas, yang menjadi backsound pagi ini. Besok sudah harus balik lagi ke Pacitan. Melakukan kebiasan lama yang hampir gitu-gitu aja. Yah, setidaknya tiga hari ini cukup menghibur, cukup membuat jeda yang indah dari kejenuhan putaran roda hidup.

O,ya... Apa kabarmu dipagi ini?, baik-baik sajakah?, semoga begitu.

24 Desember 2014

Bersama udara panas yang mengisi bus 3/4 antar kota antar propinsi. Pengap memang, tapi ini bus satu-satunya menuju negeri sang sultan. Sepanjang jalan, kehidupan masyarakat tak jauh beda. Bentang alamnya pun tak jauh beda, hanya saja pegunungan disini terlalu syur :D berbeda dengan pegunungan di Pacitan, ini lebih nampak seperti karang-karang di tepian pantai watukarung. Kayu-kayu tahunan tak begitu mrndominasi.
Ya, sama-sama wilayah geopark gunung sewu tapi masih banyak perbedaan. Itulah keberagaman.

Geopark Gunung Sewu. Aku tak tahu pasti, batas-batas jelasnya mana yang termasuk Geopark Gunung Sewu. Sayang saja, kalau tambang-tambang batu kapur yang barusan nampak itu masih wilayah Geopark Gunung Sewu. Bukit-bukit diratakan, diambil sarinya lalu ditinggalkan. Jika iya ini masih wilayah Geopark Gunung Sewu, lalu apakah tak patutkah mempertanyakan peran pemerintah dengan adanya tambang-tambang batu kapur. Sebagai warisan budaya dunia, yang menempatkan nama negara di mata internasional mendapat perhatian. Tentu, itu sudah selayaknya.

Jogja mungkin masih lumayan jauh. Ini akan perjalan yang panjang. Setelah jogja masih menyambung lagi kearah barat yang lumayan. Semoga saja, sampai di Kebumen sebelum petang.

23 Desember 2014

Semakin ke sini, semakin terasa. Masalah hidup soal kompleks. Seakan sekilas aku mengerti, kenapa seseorang harus mencuri, merampok dan menipu untuk hidup. Tentu, ini bukanlah pembenaran atas tindak kejahatan. Bukan begitu maksudnya. Ini hanya sekedar paham atau pun mengerti. Seperti mengeja barisan huruf dalam koran, lalu tahu akan maksutnya. Yah, tak ada pembenaran untuk sebuah kejahatan.

"Siapa yang akan jadi ibu dari anak-anakku dan dimana dia saat ini?",
Pertanyaan itu juga sebuah masalah, tapi masih banyak masalah yang layak untuk mendapat prioritas perhatian ketimbang urusan asmara. Aku sadar, aku bukanlah lagi anak SMA. Dimana masalah terbesar hidupnya hanya soal pelajaran dan percintaan. Emmm, aku juga pernah SMA, tapi tak segitunya juga.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kulakukan?. Rumus Pithagoras, matrik ataupun vektor kurasa tak mampu menyelesaikannya. Hidup ini bukan sekedar kalkulasi diatas kertas. Karena diluar sana, kadang hujan, kadang panas, dan kadang-kadang susah diprediksikan, susah dideskripsikan antara hujan dan panas. Intinya, apapun bisa terjadi diluar perhitungan.

Jaman sudah bergeser. Jangankan pendirian dan kebudayaan orang, musim, iklim, dan cuaca pun terlalu cepat berubah.

Saat ini, cari masalahnya dan selesaikan. Menyelesaikan masalah tanpa punya masalah itu anggap saja orang lagi nge - rapp, "jek,mex,aha.." orang jawa bilang "Penak seng Maido". Kenyataanya, mereka hanya menambah pusing, dengan solusi-solusi luar binasanya. Hidup itu bukan pelangi, yang sedap dipandang. Hidup itu hujan badai. Dan mana yang lebih rasional, ditengah pelangi atau ditengah hujan badai?, mungkin bercerita tentang pelangi itu indah, tapi bercerita bagaimana bertahan bisa hidup ditengah hujan badai itu lebih membanggakan dan realistis.

22Desember 2015

Tatap matamu kuatkan rapuhnya hati..,
Temani yang menyindiri dalam kesunyian,
Teguhkan yang tertegun meragu,
Disetiap hadirmu,
Ajarkan akan arti sebuah kehidupan.

Ini aku,
Bocah kecil yang kau timang dahulu,
Yang selalu kau luangkan waktu,
Walau harus mengganggu tidurmu,

Ini aku yang waktu,
Yang kau gadang,
Yang kau doa menjadi bintangmu.
Yang kau harap bersinar,
Diantara yang hitam.

Tapi maaf Ma,
Semua itu masih urung,
Aku janji, suatu nanti..
Aku bisa untuk semua harapmu.

Terima kasih untuk semua mu,


22 Desember 2015.
Disaat semua teman-teman menampakan wajah-wajah ibundanya, aku hanya bisa mengungkapkan apa, lewat barisan huruf ini. Itupun kurasa Ma ku pun tak sempat membacanya. Yah, kurasa begitu. Intinya, seperti para anak lainnya dihari ini. Mengungkapkan rasa sayang mereka pada ibundanya.

"o,ya ma,.. Dapat salam dari calon menantumu, yang saat ini sedang tersenyum membaca ini. Suatu saat nanti, akan kuperkenalkan padamu. Tapi tidak untuk saat ini. Karena saat ini, dia masih bersama laki-laki lain. :D "

Daun kering

Selembar daun hanyut dalam aliran sungai. Tanpa tahu akan kemana beemuara, ia pun hanya mengikuti aliran. Kadang tersangkut pada rerumputan atau ganggang dibantaran. Ia pun tiada keluh. Tiada berontak merasa diganggu dalam perjalanannya. Hanya saja, kadang ia dianggap berontak karena arus terus laju mendorongnya. Ia pun tak jua memberi pembelaan pada dirinya sendiri. Tak pernah mengatakan pada sang ganggang walau hanya lirih; "ini bukan mauku, arus lah yang paksaku laju".

Daun kering, tetaplah daun kering. Tak mengisi diri dengan apapun. Satu bagian yang mati, dari sebuah yang semula bernafas, makan serta memberi peran pada kehidupan. Dan setelahnya, kini Hanyalah sedikit sisa kehidupan yang belum sempat alam uraikan. Andai dia masih hijau, mungkin dia akan lebih memilih tenggelam dari pada terbawa arus. Karena arus sungai tak akan bisa membuatnya berkarya. Kalaupun bisa, itupun harus mengakhiri ceritanya. Hancur terurai kemudian menghumus. Dan ak adalagi cerita tentang daun yang kering.

Mungkin, hanyut dalam kegaduhan akan membuatmu aman. Tak ada alasan atasmu untuk dipersalahkan. Karena kau bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa lagi bahkan untuk sekedar sampah.

Dear,

Yang mengabadikanmu tanpa simbol-simbol. Tanpa apa-apa yang monumental. Tanpa tulisan bermakna yang dijadikan sejarah untuk dikenang banyak orang. Cukup disini, didalam hatiku. Namamu selalu paksa aku tersenyum saat membacanya. Dan cukup aku saja yang mengerti, betapa nikmat kucintamu dengan caraku sendiri.

Selepas adzan isya, di teras depan. Entah bagaimana, nampaknya gerimis enggan jatuh. Hanya satu dua dan berulang saja. Tik,tok,tik,tok diantara dedaunan dan genting. Selebihnya, seperti tenggelam dalam desing knalpot kendaraan yang lalu lalang. Jalanan masih cukup sibuk sampai semalam ini. Lalu bagaimana denganmu?, manis.

Terkadang, aku juga hanyut dalam perasaan ini. Seperti bocah, yang mengekplorasi perasaan terhadap wanita begitu dalam. Mungkin itu lucu. Atau kau malah ingin tertawa saat membaca ini. Tertawa sajalah, jangan biarkan pipimu menggembung menahan tawa. Heehee. Kurasa, beberapa kali tak apalah begini. Namanya juga manusia. Dibanding semua alasan, mungkin perasaan terdengar lebih sopan untuk bebicara tentang wanita. Walau harus ku akui, itu terlalu naif. Realitas kehidupan tak senaif itu. Membicarakannya dengan tema seputar gengsi, masa depan, dan seks itu lebih relevan. Tapi bukankah itu terlalu banyak yang harus disensor. Jangankan wanita baik-baik, yang rongsokan saja pasti tak terima jika dibicarakan dengan itu. Right?,

Sampai saat ini, aku masih menyimpanmu dalam tanda tannya. Siapapuk pada akhirnya dirimu, yang jelas memang dirimulah yang tertulis untukku, yang sempat Tuhan bicarakan sebelum aku pijakan kaki dibumi ini. Sewajarnya laki-laki lain, ada semacam ada rasa tak sabar untuk jumpaimu. Tapi, aku coba menutup itu. Aku terlalu serius soal dirimu, begitu teman - tdmanku menilaiku. Tapi tak masalah, kurasa ada benarnya. Ini soal aku dan kamu. Jadi aku tak lerlulah spekulasi. Menebak-menebakmu diantara yang aku temui. Perasaan itu sih ada, tapi kukembalikan lagi, aku dan kamu adalah rangkaian huruf yang sudah tertulis di satu cerita yang sama. Suatu nanti, aku pasti temuimu. Untuk saat ini, aku lebih pusing menata hidup. Bagaimana aku persiapkan semua, agar pada saat kau datang kau dapat menikmati peranmu sebagai bagian terpenting dari hidupku. Tapi masih belum tertata rapi sampai hari ini.

Nikmati saja hari-harimu mannis. Kuharap kaupun berfikir hal yang sama. Kuharap kau tak menjadi bbagian dari orang-orang labil. Yang mencoba menebak-nebakku dari laki-laki yang kau temui. Kencari kesenangan remaja dan menumpahkan ekspresi seks ataupun kesenangan dunia yang tak ada kepuasannya. Selalu ada dan ada saja yang lebih.

10 Desember 2015

Hari ke sepuluh, bulan Desember.

Sepertiga awal bulan ini telah terlampoi. Ditengah kesibukan yang menurutku itu-itu saja. Bangun pagi, kerja, tidur, dan berulang. Secara garis besar mungkin begitulah hari-hariku. Entah sebenarnya kesibukan yang bagaimana yang ku harapkan. Dari semua yang telah kulalui menjadi biasa dan berpeluang besar membosankan. Mungkin sudah begitulah takdir, hanya orang-orang yang mampu hanyut dalam kesibukan yang itu-itu sajalah yang akan hebat. Aku pun tengah mencoba begitu, bukan untuk menjadi hebat, melainkan hanya sekedar bertahan hidup.

Pergantian tahun tinggal menghitung hari, walau jari tak cukup untuk menghitungnya, tapi kurasa itu bukan lagi waktu yang lama. Yang jelas, panitia-panitia perayaan malam pergantian tahun mulai sibuk pada posnya masing-masing. Entah dimana akan kututup tahun ini. Aku belum pasti dan berencana secara kusus untuk itu. Tahun kemarin, aku lewatkan malam itu disekitar budaran. Tahun sebelumnya, aku habiskan dengan mencoba bertahan hidup ditengah guyuran hujan dan dinginnya hargo lawu. Dan tahun sebelunnya lagi...., eh, aku sudah tak ingat betul.

Ini adalah foto tahun kemarin. Sebuah foto yang ku dapat dari koleksi panitia yang diposting di group. Yah, malam itu berlalu bersama dengan iringan musik java rock reggae atau apalah istilahnya. Bersama teman-teman, bersukaria hingga berujung pada letupan-letupan kembang api waktu itu.

Waktu teruslah melaju. Sementara, rasa-rasanya aku yang masih diam. Masih menikmati segala yang sudah kubukukan dalam kenangan. Mungkin, aku terlalu menganggap semua hal berkesan,heehee. Mungkin.

07 Desember 2015

Bukan apa-apa. Ketika lahir dan tak mengenal siapapun. Lalu berlahan diperkenalkanNya pada satu-persatu jagad semesta ini. Ibu, Bapak, serta sebaris orang-orang terdekat.

Bukankah yang semula tak kenal itu duperkenalkan dan dikumpulkan?, kau tahu, pada akhirnya semua perkenalan dan kebersamaan itu hanya untuk saling meninggalkan. Pada hakekatnya, tak ada keabadian di bumi ini. Seberapa lama, seberapa erat hubungan pada akhirnya akan kandas dalam satu perpisahan. Lihatlah disekitar, wajah-wajah yang kita tak inginkan berlalu itu juga akan pudar. Meninggalkan kita, mengantarkan kita pada kesunyian abadi. Manusia hanyalah makluk kesepian, dan tak akan menang menyanding kesepian. Kerabat, sahabat, bahkan yang memeluk erat kita sampai pagi datang, juga akan membawa kita pada perpisahan. Berbahagialah dalam kesepian, damailah dalam kesendirian. Karena semua yang kau harapkan abadi hanyalah ilusi. Yah, ilusi. Pun dunia ini juga ilusi.

Memang beginilah dunia kita. Dunia tempat kita kenal dan jatuh hati. Dunia yang menipu, dunia yang begitu ilusionis.

Mawar terakhir

Separuh maksudku hilang terbawa angin yang begitu. Saat mendung mengabu-abukan semesta. Meneduh jiwa hingga menjadi dingin. Menjadi semakin dalam dan terasa. Kini tiada lagi yang kan temaniku di tempat ini.

Aromamu serasa masih tinggal. Memeluk erat piluku, lalu nyanyikan lagu sedih. Aku memang lelaki, tapi segala tentangmu menjadi kunikmati perihnya airmata.

Dijalanan sana, orang-orang mulai keparkan payung-payung yang semula terlipat. Sedang aku, aku biarkan rintik gerimis menghujamku. Biar saja, biar terlalu dalam aku resapi semua yang terjadi. Biar saja, aku tak akan lagi bisa mencari. Kemana ku mampu jumpamu, lagi.

Senyum lengking diantara mawar-mawar yang mulai mekar,berayun mengikuti ritme angin yang semakin kencang. Sesekali berhenti, menatapku dan masih dengan senyum yang itu. Mengedipkan matanya yang sayup, mengisaratkan agar aku turut, berlarian kecil diantara rintik gerimis.

Pada akhirnya akupun harus sadari. Melompat pergi dari lamunan yang penuh semua tentangmu. Aromamu, senyumanmu, dan segala rangkaian estetika yang terlanjur terlahir dari pribadimu.

Bukankah kau yang selalu berjanji akan selalu menemani. Menjadi lagu kala semua menjadi sepi. Menjadi tawa disaat beban hidup menghimpit kejam. Lalu, sekarang beritahu aku, katakan padaku, apakah sebuah kesalahan saat aku percaya semua begitu saja?. Katakan, apakah aku begitu bodoh, dengan semuanya?, kasih sayang yang kutanam begitu dalam?. Harapan yang ku sketsa begitu indah?. Jangankan semua manis katamu, untuk menjawab "ya" atau "tidak" saja kau tak kuasa.

Terkadang aku bertanya, entah pada siapa. Kenapa manusia yang awalnya tak saling bicara itu diperkenalkan lalu saling jatuh cinta?. Kenapa semua menjadi indah bila pada akhirnya harus terpisah?. Tapi sejujurnya tak pernah menyesalkan perkenalan kita. Hanya saja, entah bagaimana akan ku ekspresikan perasaanku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa terima, bahwa aku dan kamu bukanlah peran utama dalam cerita cinta ini. Aku tak tahu, aku tak bisa. Hanya segala rasa berat yang ku simpan dihati ini. Ku biarkan menyakiti sampai merasa bosan.

Setangkai mawar yang kugenggam ini untukmu. Sebagai tanda, sampai saat detik ini kasih sayang ini begitu dalam untukmu. Entah dengan esok, tapi kurasa tak akan berubah meski mawar ini kering dan hancur. Aku masih padamu.

Sekarang, bila kau harus pergi, maka pergilah. Hanya ucapan terimakasih yang mampu ku bingkis untuk kau simpan. Sedalam hati ini, sejauh rasa ini, aku masih dan akan selalu menyayangimu. Pergilah,

"Sudahlah, biar kakak istirahat dan tenang di alam sana",

Aku hanya bisa memandangi wajahnya, sementara aku tahu betul, mata itu begitu berat menahan air mata. Mungkin dia lebih hancur dariku. Kini, satu-satunya saudaranya harus lebih awal berpulang.

"air mata bukanlah tanda lemah, air mata adalah sebuah tanda kalau kita masih punya hati",

Lalu pecahlah airmata bocah yang sendari tadi so gagah.

Kamis pagi

Entah kebiasaan atau bukan, tapi duduk-duduk di pintu selatan kios begitu sering kulakukan di pagi hari. Seperti saat ini, aku duduk bersama seorang teman. Menikmati segelas teh serta nikotin yang menjelma dalam asap tembakau. Belum begitu banyak pelanggan datang, satu dua saja lalu berlalu. Sekedar berbincang tentang cerita kesibukan semalam, atau apa-apa yang tengah hangat diperbincangkan. Sesekali kami juga bincangkan adek SMA yang baru keluar dari gerbang sekolah. Begini begitu. Dan sisanya kami bicara soal hari esok. Hari dimana yang belum nampak bagaimana. Masih serupa sket namun belum dapat dieja. Gelap mungkin. Ingat, gelap dan suram itu dua hal yang berbeda. Mungkin masa depan itu juga goib, sangat goib setelah Tuhan dan wanita.

Mungkin sebentar lagi adek-adek SMA keluar. Sekedar makan, mengadakan soal ataupun sekedar membuat catatan kecil yang akan lebih membantu mereka menyelesaikan soal ketimbang guru mereka. 32 generasi yang lahir hampir memiliki kesamaan budaya. Menurutku begitu. Hanya saja generasi termuda mampu menikmati fasilitas yang lebih layak. Gedung yang megah, jaringan internet dan teknologi yang terbaru. Tentu saja, iuran bulanan mereka juga lebih mahal dibanding generasi ke-25 ataupun sebelumnya. Walaupun, kalau boleh menilai, secara mentalitas generasi-generasi pertengahan lebih baik. Setidaknya menempatkan posisi sekolah setelah SMA 1,2, dan tiga kabupaten di semua bidang. Mungkin begitu.

Bagaimanapun dan apapun sekolah itu, setiap orang dapat menilai berbeda. Dan itu sah sah saja. Persepsi tak mungkin diseragamkan. Apapun, setiap generasi mengklaim menjadi yang terbaik itu biasa. Yang jelas, biar bagaimana pun sekolah itu pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sekalipun jika waktu bisa diputar, aku tak ingin memilih untuk mengulangnya.

Bukankah kita sama-sama

Pada akhirnya kita akan saling akui,
Kalau embun yang dipagi itu, bukan sekedar biasa semata,
Melainkan sebuah isyarat,
Akan hasrat dan kerinduan.
Serta halilintar dan mendung dikala hujan,
Sebuah kecemburuan langit pada bumi,
Karena pada akhirnya hujan pun lebih memulih bumi.

Kita masih terlalu sok naif soal perasaan,
Masih tetlalu labil soal pilihan,
Terlarut dalam uforia masa muda,


Pada saatnya semua akan mengakui,
Semua akan menyadari,
Yang belum lama pergi itu benar-benar berarti.
Yang terlukai,
Yang terlalu sombong untuk meakui,
Kita butuh disetiap detak jantung ini.

Biarlah,
Kita sama-sama bodoh.
Saling menyiakan,
Lalu menyesalkan dalam kenangan.
Lalu,..
Saling merindukan,

Bukan kah kita sejatinya memang sama?,
Apa ada yang lebih dirindukan dari keridhoan Pencipta,
Doa seisi jagad raya,
Serta restu alam semesta,

Bukankah kita sama-sama?,
Manis...