Separuh maksudku hilang terbawa angin yang begitu. Saat mendung mengabu-abukan semesta. Meneduh jiwa hingga menjadi dingin. Menjadi semakin dalam dan terasa. Kini tiada lagi yang kan temaniku di tempat ini.
Aromamu serasa masih tinggal. Memeluk erat piluku, lalu nyanyikan lagu sedih. Aku memang lelaki, tapi segala tentangmu menjadi kunikmati perihnya airmata.
Dijalanan sana, orang-orang mulai keparkan payung-payung yang semula terlipat. Sedang aku, aku biarkan rintik gerimis menghujamku. Biar saja, biar terlalu dalam aku resapi semua yang terjadi. Biar saja, aku tak akan lagi bisa mencari. Kemana ku mampu jumpamu, lagi.
Senyum lengking diantara mawar-mawar yang mulai mekar,berayun mengikuti ritme angin yang semakin kencang. Sesekali berhenti, menatapku dan masih dengan senyum yang itu. Mengedipkan matanya yang sayup, mengisaratkan agar aku turut, berlarian kecil diantara rintik gerimis.
Pada akhirnya akupun harus sadari. Melompat pergi dari lamunan yang penuh semua tentangmu. Aromamu, senyumanmu, dan segala rangkaian estetika yang terlanjur terlahir dari pribadimu.
Bukankah kau yang selalu berjanji akan selalu menemani. Menjadi lagu kala semua menjadi sepi. Menjadi tawa disaat beban hidup menghimpit kejam. Lalu, sekarang beritahu aku, katakan padaku, apakah sebuah kesalahan saat aku percaya semua begitu saja?. Katakan, apakah aku begitu bodoh, dengan semuanya?, kasih sayang yang kutanam begitu dalam?. Harapan yang ku sketsa begitu indah?. Jangankan semua manis katamu, untuk menjawab "ya" atau "tidak" saja kau tak kuasa.
Terkadang aku bertanya, entah pada siapa. Kenapa manusia yang awalnya tak saling bicara itu diperkenalkan lalu saling jatuh cinta?. Kenapa semua menjadi indah bila pada akhirnya harus terpisah?. Tapi sejujurnya tak pernah menyesalkan perkenalan kita. Hanya saja, entah bagaimana akan ku ekspresikan perasaanku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa terima, bahwa aku dan kamu bukanlah peran utama dalam cerita cinta ini. Aku tak tahu, aku tak bisa. Hanya segala rasa berat yang ku simpan dihati ini. Ku biarkan menyakiti sampai merasa bosan.
Setangkai mawar yang kugenggam ini untukmu. Sebagai tanda, sampai saat detik ini kasih sayang ini begitu dalam untukmu. Entah dengan esok, tapi kurasa tak akan berubah meski mawar ini kering dan hancur. Aku masih padamu.
Sekarang, bila kau harus pergi, maka pergilah. Hanya ucapan terimakasih yang mampu ku bingkis untuk kau simpan. Sedalam hati ini, sejauh rasa ini, aku masih dan akan selalu menyayangimu. Pergilah,
"Sudahlah, biar kakak istirahat dan tenang di alam sana",
Aku hanya bisa memandangi wajahnya, sementara aku tahu betul, mata itu begitu berat menahan air mata. Mungkin dia lebih hancur dariku. Kini, satu-satunya saudaranya harus lebih awal berpulang.
"air mata bukanlah tanda lemah, air mata adalah sebuah tanda kalau kita masih punya hati",
Lalu pecahlah airmata bocah yang sendari tadi so gagah.
Aromamu serasa masih tinggal. Memeluk erat piluku, lalu nyanyikan lagu sedih. Aku memang lelaki, tapi segala tentangmu menjadi kunikmati perihnya airmata.
Dijalanan sana, orang-orang mulai keparkan payung-payung yang semula terlipat. Sedang aku, aku biarkan rintik gerimis menghujamku. Biar saja, biar terlalu dalam aku resapi semua yang terjadi. Biar saja, aku tak akan lagi bisa mencari. Kemana ku mampu jumpamu, lagi.
Senyum lengking diantara mawar-mawar yang mulai mekar,berayun mengikuti ritme angin yang semakin kencang. Sesekali berhenti, menatapku dan masih dengan senyum yang itu. Mengedipkan matanya yang sayup, mengisaratkan agar aku turut, berlarian kecil diantara rintik gerimis.
Pada akhirnya akupun harus sadari. Melompat pergi dari lamunan yang penuh semua tentangmu. Aromamu, senyumanmu, dan segala rangkaian estetika yang terlanjur terlahir dari pribadimu.
Bukankah kau yang selalu berjanji akan selalu menemani. Menjadi lagu kala semua menjadi sepi. Menjadi tawa disaat beban hidup menghimpit kejam. Lalu, sekarang beritahu aku, katakan padaku, apakah sebuah kesalahan saat aku percaya semua begitu saja?. Katakan, apakah aku begitu bodoh, dengan semuanya?, kasih sayang yang kutanam begitu dalam?. Harapan yang ku sketsa begitu indah?. Jangankan semua manis katamu, untuk menjawab "ya" atau "tidak" saja kau tak kuasa.
Terkadang aku bertanya, entah pada siapa. Kenapa manusia yang awalnya tak saling bicara itu diperkenalkan lalu saling jatuh cinta?. Kenapa semua menjadi indah bila pada akhirnya harus terpisah?. Tapi sejujurnya tak pernah menyesalkan perkenalan kita. Hanya saja, entah bagaimana akan ku ekspresikan perasaanku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa terima, bahwa aku dan kamu bukanlah peran utama dalam cerita cinta ini. Aku tak tahu, aku tak bisa. Hanya segala rasa berat yang ku simpan dihati ini. Ku biarkan menyakiti sampai merasa bosan.
Setangkai mawar yang kugenggam ini untukmu. Sebagai tanda, sampai saat detik ini kasih sayang ini begitu dalam untukmu. Entah dengan esok, tapi kurasa tak akan berubah meski mawar ini kering dan hancur. Aku masih padamu.
Sekarang, bila kau harus pergi, maka pergilah. Hanya ucapan terimakasih yang mampu ku bingkis untuk kau simpan. Sedalam hati ini, sejauh rasa ini, aku masih dan akan selalu menyayangimu. Pergilah,
"Sudahlah, biar kakak istirahat dan tenang di alam sana",
Aku hanya bisa memandangi wajahnya, sementara aku tahu betul, mata itu begitu berat menahan air mata. Mungkin dia lebih hancur dariku. Kini, satu-satunya saudaranya harus lebih awal berpulang.
"air mata bukanlah tanda lemah, air mata adalah sebuah tanda kalau kita masih punya hati",
Lalu pecahlah airmata bocah yang sendari tadi so gagah.
Filed Under :
Kamis, 03 Desember 2015
0 komentar:
Posting Komentar