Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Dear,

Yang mengabadikanmu tanpa simbol-simbol. Tanpa apa-apa yang monumental. Tanpa tulisan bermakna yang dijadikan sejarah untuk dikenang banyak orang. Cukup disini, didalam hatiku. Namamu selalu paksa aku tersenyum saat membacanya. Dan cukup aku saja yang mengerti, betapa nikmat kucintamu dengan caraku sendiri.

Selepas adzan isya, di teras depan. Entah bagaimana, nampaknya gerimis enggan jatuh. Hanya satu dua dan berulang saja. Tik,tok,tik,tok diantara dedaunan dan genting. Selebihnya, seperti tenggelam dalam desing knalpot kendaraan yang lalu lalang. Jalanan masih cukup sibuk sampai semalam ini. Lalu bagaimana denganmu?, manis.

Terkadang, aku juga hanyut dalam perasaan ini. Seperti bocah, yang mengekplorasi perasaan terhadap wanita begitu dalam. Mungkin itu lucu. Atau kau malah ingin tertawa saat membaca ini. Tertawa sajalah, jangan biarkan pipimu menggembung menahan tawa. Heehee. Kurasa, beberapa kali tak apalah begini. Namanya juga manusia. Dibanding semua alasan, mungkin perasaan terdengar lebih sopan untuk bebicara tentang wanita. Walau harus ku akui, itu terlalu naif. Realitas kehidupan tak senaif itu. Membicarakannya dengan tema seputar gengsi, masa depan, dan seks itu lebih relevan. Tapi bukankah itu terlalu banyak yang harus disensor. Jangankan wanita baik-baik, yang rongsokan saja pasti tak terima jika dibicarakan dengan itu. Right?,

Sampai saat ini, aku masih menyimpanmu dalam tanda tannya. Siapapuk pada akhirnya dirimu, yang jelas memang dirimulah yang tertulis untukku, yang sempat Tuhan bicarakan sebelum aku pijakan kaki dibumi ini. Sewajarnya laki-laki lain, ada semacam ada rasa tak sabar untuk jumpaimu. Tapi, aku coba menutup itu. Aku terlalu serius soal dirimu, begitu teman - tdmanku menilaiku. Tapi tak masalah, kurasa ada benarnya. Ini soal aku dan kamu. Jadi aku tak lerlulah spekulasi. Menebak-menebakmu diantara yang aku temui. Perasaan itu sih ada, tapi kukembalikan lagi, aku dan kamu adalah rangkaian huruf yang sudah tertulis di satu cerita yang sama. Suatu nanti, aku pasti temuimu. Untuk saat ini, aku lebih pusing menata hidup. Bagaimana aku persiapkan semua, agar pada saat kau datang kau dapat menikmati peranmu sebagai bagian terpenting dari hidupku. Tapi masih belum tertata rapi sampai hari ini.

Nikmati saja hari-harimu mannis. Kuharap kaupun berfikir hal yang sama. Kuharap kau tak menjadi bbagian dari orang-orang labil. Yang mencoba menebak-nebakku dari laki-laki yang kau temui. Kencari kesenangan remaja dan menumpahkan ekspresi seks ataupun kesenangan dunia yang tak ada kepuasannya. Selalu ada dan ada saja yang lebih.

0 komentar:

Posting Komentar