Entah kebiasaan atau bukan, tapi duduk-duduk di pintu selatan kios begitu sering kulakukan di pagi hari. Seperti saat ini, aku duduk bersama seorang teman. Menikmati segelas teh serta nikotin yang menjelma dalam asap tembakau. Belum begitu banyak pelanggan datang, satu dua saja lalu berlalu. Sekedar berbincang tentang cerita kesibukan semalam, atau apa-apa yang tengah hangat diperbincangkan. Sesekali kami juga bincangkan adek SMA yang baru keluar dari gerbang sekolah. Begini begitu. Dan sisanya kami bicara soal hari esok. Hari dimana yang belum nampak bagaimana. Masih serupa sket namun belum dapat dieja. Gelap mungkin. Ingat, gelap dan suram itu dua hal yang berbeda. Mungkin masa depan itu juga goib, sangat goib setelah Tuhan dan wanita.
Mungkin sebentar lagi adek-adek SMA keluar. Sekedar makan, mengadakan soal ataupun sekedar membuat catatan kecil yang akan lebih membantu mereka menyelesaikan soal ketimbang guru mereka. 32 generasi yang lahir hampir memiliki kesamaan budaya. Menurutku begitu. Hanya saja generasi termuda mampu menikmati fasilitas yang lebih layak. Gedung yang megah, jaringan internet dan teknologi yang terbaru. Tentu saja, iuran bulanan mereka juga lebih mahal dibanding generasi ke-25 ataupun sebelumnya. Walaupun, kalau boleh menilai, secara mentalitas generasi-generasi pertengahan lebih baik. Setidaknya menempatkan posisi sekolah setelah SMA 1,2, dan tiga kabupaten di semua bidang. Mungkin begitu.
Bagaimanapun dan apapun sekolah itu, setiap orang dapat menilai berbeda. Dan itu sah sah saja. Persepsi tak mungkin diseragamkan. Apapun, setiap generasi mengklaim menjadi yang terbaik itu biasa. Yang jelas, biar bagaimana pun sekolah itu pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sekalipun jika waktu bisa diputar, aku tak ingin memilih untuk mengulangnya.
Mungkin sebentar lagi adek-adek SMA keluar. Sekedar makan, mengadakan soal ataupun sekedar membuat catatan kecil yang akan lebih membantu mereka menyelesaikan soal ketimbang guru mereka. 32 generasi yang lahir hampir memiliki kesamaan budaya. Menurutku begitu. Hanya saja generasi termuda mampu menikmati fasilitas yang lebih layak. Gedung yang megah, jaringan internet dan teknologi yang terbaru. Tentu saja, iuran bulanan mereka juga lebih mahal dibanding generasi ke-25 ataupun sebelumnya. Walaupun, kalau boleh menilai, secara mentalitas generasi-generasi pertengahan lebih baik. Setidaknya menempatkan posisi sekolah setelah SMA 1,2, dan tiga kabupaten di semua bidang. Mungkin begitu.
Bagaimanapun dan apapun sekolah itu, setiap orang dapat menilai berbeda. Dan itu sah sah saja. Persepsi tak mungkin diseragamkan. Apapun, setiap generasi mengklaim menjadi yang terbaik itu biasa. Yang jelas, biar bagaimana pun sekolah itu pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sekalipun jika waktu bisa diputar, aku tak ingin memilih untuk mengulangnya.
Filed Under : by tri widhiono
Kamis, 03 Desember 2015
0 komentar:
Posting Komentar