Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

23 Desember 2014

Semakin ke sini, semakin terasa. Masalah hidup soal kompleks. Seakan sekilas aku mengerti, kenapa seseorang harus mencuri, merampok dan menipu untuk hidup. Tentu, ini bukanlah pembenaran atas tindak kejahatan. Bukan begitu maksudnya. Ini hanya sekedar paham atau pun mengerti. Seperti mengeja barisan huruf dalam koran, lalu tahu akan maksutnya. Yah, tak ada pembenaran untuk sebuah kejahatan.

"Siapa yang akan jadi ibu dari anak-anakku dan dimana dia saat ini?",
Pertanyaan itu juga sebuah masalah, tapi masih banyak masalah yang layak untuk mendapat prioritas perhatian ketimbang urusan asmara. Aku sadar, aku bukanlah lagi anak SMA. Dimana masalah terbesar hidupnya hanya soal pelajaran dan percintaan. Emmm, aku juga pernah SMA, tapi tak segitunya juga.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kulakukan?. Rumus Pithagoras, matrik ataupun vektor kurasa tak mampu menyelesaikannya. Hidup ini bukan sekedar kalkulasi diatas kertas. Karena diluar sana, kadang hujan, kadang panas, dan kadang-kadang susah diprediksikan, susah dideskripsikan antara hujan dan panas. Intinya, apapun bisa terjadi diluar perhitungan.

Jaman sudah bergeser. Jangankan pendirian dan kebudayaan orang, musim, iklim, dan cuaca pun terlalu cepat berubah.

Saat ini, cari masalahnya dan selesaikan. Menyelesaikan masalah tanpa punya masalah itu anggap saja orang lagi nge - rapp, "jek,mex,aha.." orang jawa bilang "Penak seng Maido". Kenyataanya, mereka hanya menambah pusing, dengan solusi-solusi luar binasanya. Hidup itu bukan pelangi, yang sedap dipandang. Hidup itu hujan badai. Dan mana yang lebih rasional, ditengah pelangi atau ditengah hujan badai?, mungkin bercerita tentang pelangi itu indah, tapi bercerita bagaimana bertahan bisa hidup ditengah hujan badai itu lebih membanggakan dan realistis.

0 komentar:

Posting Komentar