Aku seperti menyimpan rasa takut dalam kalimat "mengejar cita-cita" dari seorang wanita yang kuharap banyak darinya. Rasanya baru masih kemarin. Ketika seorang bintang memperhalus kata "tak mau" dengan "maaf ya, aku masih mau konsen dengan sekolahku, nilai-nilaiku,...".
Kadang kata "tak mau" menjadi terdengar "saru" dalam sebuah nilai kesopanan. Sama dengan bajing** A*U. Mungkin. Tapi, tak pernah tehitungkan. Dari perhalusan kata "tak mau" itu akan selalu timbul harapan dan usaha yang seharusnya sudah berakir lalu-lalu. Aku merasakan, bagaimana menutup hati untuk wanita manapun, menunggu seorang Bintang menyelesaikan urusannya dengan pena dan buku. Itu bukan hal yang mudah dan menyenangkan. Dibilang ga normal lah, takut wanita lah, cuek,dingin, sombong dan entah apalagi. Tapi, bersama harapan- harapan itu, aku nikmati kesendirian ini.
Mungkin sudah terlalu banyak wanita yang kubuat patah hati, heehee. Bercanda. Aku bukan lelaki seberuntung itu. Tapi aku suka hidupku, gaya hidupku, dan segala kekonyolanku.
Hari yang kujalani aku nikmati semampuku. Walau kadang terasa monoton, tapi,well, aku masih bisa hidup. Dengan kesibukan, mimpi, dan orang-orang disekitarku, pelangi ini telah kulukis dan kuwarnai.
Terkadang menjadi orang cuek dan dingin itu tak ada enaknya. Dibilang sombong, sok, dan ga peka , sudah menjadi sering dan biasa. Demi satu mimpi yang tinggi di langit sana, Bintang.
Tapi, belakangan aku berfikir yang kontras dengan mimpiku. Dua ribu lima belas, ini adalah tahun dimana bintang akan menyelesaikan urusan pena dan bukunya. Rasa takut itu datang, dan meraksasa. Menutup cahaya harapan yang terkadang menyilaukan. Mimpi ini hanya aku bangun seorang diri. Tak ada komitmen, tak ada materai. Bintang aku impikan diatas keajaiban. Yang bisa datang, namun berpeluang besar untuk tak pernah ada. Terlebih gelar sarjananya. Tentu itu membuat letaknya semakin tinggi di langit anganku. Dan segala yang kulakukan selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan. Bintang, gerlapmu dilangit kala malam datang, membuat semua orang melihatmu dan berharap meraihmu. Sedang aku, tinggi badanku hanya sewajarnya manusia. Akupun tak punya materi yang lebih untuk sekedar membuat tangga atau membeli pesawat olang-aling. Lalu adakah tangga yang Tuhan rahasiakan, yang hanya boleh dilintasi seorang saja. Dan itu aku. Mungkin tangga itulah yang disebut keajaiban. Yang berpeluang besar untuk gagal. Mungkin.
Cinta itu anugrah. Yang diberikan Tuhan pada makluknya sejak proses penciptaannya. Cinta itu,...
Sebuah perasaan "biasa" yang belakangan menjadi luar biasa karena beberapa hal. Entah itu karena komitmen, kesamaan pemikiran, atau sekedar urusan seks belaka. Cinta dianugrahkan pada setiap makluk untuk segala dzat. Bila ada seseorang membawa cinta yang besar padamu, bilang saja "preksuu!!". Omong kosong. Yang mereka perasaan bangga mencintaimu, perasaan jumawa merasa paling patut kamu terima komitmennya karena pengorbanan.
Yang cinta butuh komitmen. Bila kau mengharapkan seseorang, datanglah membawa komitmen, dan yakinkanlah. bersama komitmen itu menuju pada hari esok yang lebih baik.
Cinta bukan sekedar seks. Karena seks ibarat makan dan lapar. Berlalu Berulang dan tak ada kepuasaan. Dan pada saatnya, seks akan mati diantara sepasang manusia yang saling mecintai dan berkomitmen.
Cinta bukan sekedar materi, karena cinta bisa datang pada sepasang manusia yang berani berkomitmen walau tak bermateri.
Cinta itu,....
Satu kata yang mampu didiskripsikan dalam jumlah tak terhingga.
"yen amung mergo rupo kang nglantari katresnanmu, banjur kepiye sliramu iso tresno marang Gusti Pangeran kang tanpo rupo"
"Yen bondo kang nglantari katresnanmu, kenopo bondo ra mbok gowo nglabuhi patimu"
"siapapun dirimu, semoga endingnya patut untuk diceritakan. Semoga mimpi- mimpi selalu menemani sang doa. Sekarang, terserah padamu. Terbanglah. Tapi ingat, pada saatnya kamu harus pulang".
(benk wd)
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 24 Februari 2015
0 komentar:
Posting Komentar