Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Kemana pergimu?

Entah dengan apa aku bisa membandingkan. Semua ini menjadi hal yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Aku bodoh. Atau. Aku tulus dan sungguh. Aku menjadi semakin tak mengerti akan semua hal ini. Bahkan diriku sendiri,... Aku tak sanggup mengistilahkannya.

Mungkin ini akan berlalu. Seperti senja. Seperti gerimis. Atau seperti kematian. Waktu yang baru akan datang. Mengubur hal-hal nyata yang baru saja terjadi.Tapi. Tetap saja, semua yang berlalu dalam hidupku tak sekedar numpang lewat. Selalu menyisakan memori yang akan susah aku lupakan. Bisa kenangan, sejarah, atau sebuah black story. Yang bisa menguatkanku atau memukuk-mukul langkahku kedepan hingga hancur. Semangat atau hancur. Tak sempurna aku bayangkan untuk satu hal ini. Aku benar-benar tak sanggup mengerti.

Bintang. Begitulah dulu aku memanggilnya. Sang pemilik senyum manis itu telah membuat orang-orang yang mengenalnya merasa beruntung. Gadis manis, berprinsip dan pekerja keras. Aku suka dia, dan suka segala tentangnya.
Awal aku mengenalnya di bangku kelas dua smp. Kebetulan, pengacakan kelas telah membuat aku dan dia kenal. Dan, kemudian....,heh.

Bukan hal mudah untuk sekedar akrab dengan gadis mungil ini. Dan salah satu yang beruntung itu mungkin aku.

Mungkin aku paling suka dia diantara teman-teman wanitaku. Sederhana, karena punya hal satu hal tang tak dimiliki teman-teman lainnya. Sebuah kata-kata yang pernah aku dengar sore itu. Selepas kami ujian nasional, di taman depan sekolah.
"aku masih mau konsen sama nilai-nilaiku, sekolahku, dan juga cita-citaku. Kalau memang yang kau ucap adalah sebuah ketulusan, maukah kau menanyakan kembali semua suatu saat nanti. Saat aku menambah beberapa huruf di belakang namaku. Maaf, mungkin belum sekarang waktunya".

Entah siapa yang salah, aku?,waktu?,atau keadaan?.

Jika seorang laki-laki tak lagi bisa dipegang kata-katanya, mau dipegang apanya. "seberapa pun itu, aku akan tetap menunggu. Semoga saja umurku masih panjang", kurang lebih begitulah waktu itu.

Selepas lulus,kami tak lagi jumpa. Kami kami melanjutkan sekolah ke dua tempat berbeda diluar kota. Setidaknya kami masih bertanya kabar lewat pesan singkat. Setidaknya untuk sekedar
Menulis, "apa kabar?, lagi apa?". Itu serasa menjadi rutinitas waktu. Yah, begitu. Sebelum akirnya,...heh.

Awal semester dua kelas dua SMA. Aku dengar kabar dia pindah rumah. Aku tak tahu pasti mengapa. Sejak itu pula handphonenya juga tak bisa ku hubungi. Tak ada lagi kontak, tak lagi ada kabar. Aku tak tahu, apa aku bodoh, apa aku tulus. Aku terlalu berharap pada sesuatu yang akirnya hilang entah kemana. Memang, hari itu tak ada tanda diatas materai. Mungkin aku terlalu berharap. Merasa dia merasakan apa yang aku rasa lantaran dia bersikap baik padaku.

Dan hari ini. Sudah empat tahun aku lulus dari SMA. Aku masih saja berharap keajaiban itu masih datang layaknya sinar matahari pagi. Dan bagaimanapun, menurutku yang berada di hari itu adalah sebuah komitmen. Dan hingga hari ini aku masih menjaganya. Kurasa, dia pun begitu.

Matahari berlahan redup. Matahatiku pun ku rasa begitu. Lazuardi telah diwarnai. Rumput-rumput yang mulai tinggi juga sudah ku cabuti. Kini semua bisa melihat. Di tempat ini, di ujung desa ini yang sunyi. Diantara yang lain. Satu nama itu terukir di tempat ini. Bersama ketulusan, kesetiaan, dan harapan. Satunama yang sempat hilang entah kemana, kini kudapatkan kembali di tempat ini. Disebuah prasti, yang dapat ku lihat ada huruf yang terangkai. "B-I-N-T-A-N-G".

0 komentar:

Posting Komentar