apa kabar negeriku petang ini,
semoga yang basah menetas tadi adalah gerimis,
bukan air matamu,
bersabarlah,...
memang beginilah dunia yang kita pilih.
dunia yang tak henti menyakiti,
dunia yang tak henti kita cintai.
waktu pun membawaku sampai di sini.
sebuah dunia nyata yang seperti cerita.
duduk aku di sudut ruang
di bangku renta minim cahaya.
terdesak,
terkejutkan halilintar menyambar.
dan lengan tangan mulai basah.
"Trocoh le..."
sedang cerita menjadi klise.
terulang dan dianggap hebat.
perpecundangngan,..
pelacuran..
penghianatan..
apa ini yang mereka mau,
apa ini yang mereka inginkan.
roda bangsa dikayuh serupa becak.
berputar dijalan terjal untuk sejumlah upah.
tak seberapa,
tak cukup untuk bertahan sampai pagi.
disudut kumuh pelacuran jalanan.
bersabarlah,..
memang beginilah dunia yang kita pilih.
dunia yang tak henti menyakiti.
dunia yang tak henti kita cintai.
mungkin disinilah negeri opera itu.
sebuah pertunjukan yang dapat ditebak endingnya.
sebuah pertunjukan egoisme peran utama,
yang akan selalu menang menerjang.
menghancurkan tanpa kawan.
sedang para rakyat hanya dipersilahkan.
di bangku kayu yang renta.
tanpa terang cahaya,
dan air mata yang bercampur gerimis.
menembus batas-batas kehanhatan.
biar bagaimanapun penonton tetaplah penonton.
soraknya tak akan mengubah alur cerita.
tapi jangan tanya,
andai bangku renta ditinggalkan.
dan semuanya tiada guna.
sebuah pertunjukan tanpa penonton.
seperti cerita orang-orang dekil di tepian jalan.
di negeri ini, tapi negeri ini malu mengakuinya.
satu hal yang perlu diketahui,
satu hal yang perlu dimengerti.
yang menjadi penonton bukan berarti tak berjiwa seni.
melainkan orang-orang yang bosan,
didikte sutradara untuk cerita yang selalu sama.
bersabarlah..
memang beginilah dunia yang kita pilih.
dunia yang tak henti menyakiti,
dunia yang tak henti kita cintai.
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 06 Februari 2015
0 komentar:
Posting Komentar