Menjelang pukul delapan malam. Di beranda rumah menatap langit yang hitam. Selepas magrib tadi baru tiba dirumah. Akhirnya aku bisa istirahat. Seharian cukup melelahkan. Yah, apalagi kalau bukan soal KTI anak-anak SMA. Entah bagaimana dengan mereka, semoga mereka pun sudah pada istirahat dari tugasnya. Setidaknya mereka bisa merencanakan kemana besok mereka akan piknik.
Suara jangkrik, walang kecek, dan sekelasnya memeriahkan malam minggu dikampung ini. Dulunya kampung ini juga mempunyai banyak pemuda. Tapi beberapa tahun belakangan ini satu persatu lebih memilih buruh di kota. Sebelum listrik masuk kampung ini, sebelum kampung ini turut menjadi pengonsunsi pulsa dan bensin, kami bisa tinggal nyaman di kampung ini. Tapi sekarang?,...
Ekonomi telah merubah semuanya, kami menjadi bercita-cita membeli langit. Jiwa-jiwa seni mulai mati. Kerajinan-kerajinan mulai ditinggalkan. Dulunya banyak pengerajin anyam-anyaman dan juga kayu disini. Menjelang malam, tersisa waktu untuk sekedar ngumpul-ngumpul main gamelan ataupun berlatih reog. Tapi kini, gamelannya sudah laku, dan seni reog pun juga telah mati generasinya. Apa lagi jaranan, kesenian yang sesekali digelar sebagai ritual minta hujan itu pun sudah hilang kabarnya sejak lama. Sekarang orang-orang tua sibuk arisan yang semakin sering. Sinpan pinjam uang untuk makan atau sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Anak muda pun lebih sibuk memikirkan "someone"-nya. Galau. Heh, mungkin aku juga.
Ekonomi selalu melogikan secara mentah. Memaksa orang hingga berkata "o iya ya, untuk apa kita bersusah payah yang tak menghasilkan uang".
Aku rindu kampung yang dulu. Yang sederhana dan berkebudayaan serta berjiwa seni. Aku sih berharap, kampung ini maju dan berkebudayaan dan berjiwa seni. Bukannya begini, bukanya malam hanya bersuarakan binatang malam dan suara televisi yang dikeraskan.
(Benk wd)
Filed Under : by tri widhiono
Sabtu, 21 Februari 2015
0 komentar:
Posting Komentar