Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

La tahzan

La Tahzan  Innallaha ma'ana.

Selamat pagi manisku, apa kabarmu di ahad pagi ini. Pagi ini lumayan cerah dipacitan. Tak ada serpih air yang hamburan. Selayaknya kemarin-kemarin.

Dan seiring datangnya matahari dipagi ini, sejalan itulah hari-hari baru jadi milikmu. Dan jangan pernah lupakan lambat laun kita menua.

Aku memang tak banyak peduli tentangmu,dulu. Berkeluarga tentu bukan sebuah permainan selayaknya kanak-kanak dulu. Yang bila petang datang, usailah semua. Ini lebih serius. Tak terbentur durasi jam bermain.

Aku memanglah pandai soal wanita. Dan kebanyakan saat usia belianya begitu naif. Mengklasifikasi laki-laki sesukanya. Selektif, tapi selalu ada proses patah hati. Hati yang rentan tersakiti, itulah wanita. Ketika usia mereka berkepala dua, disitulah takdir laki-lakinya mulai teraksir. 22 - 25 tahun. Bukan, bukan lagi seperti artis atau tokoh idolanya. Kali ini syaratnya cukup mudah. Tinggal siapa yang dengan lega hati mau menikahinya. Perbandingan wanita dg laki-laki memang terlalu mencolok. Tapi bukan berarti wanita berhak mengobral badan untuk laki-laki. Untuk laki-laki baik-baik cara seperti itu tak akan membuatnya membuka harga.

Suatu saat, ada airmata dari wanita-wanita naif itu. Kesedihan mendalam pada setiap tetes air matanya. Suami yang malang. Yang entah tahu atau tidak, atau berpura-pura tidak tahu. Istri yang amat dia sayangi memberikan haknya tak sepenuhnya. Seseorang yang katanya paling dia cintai itu hanya diberinya sisa.
"ada apa sayang?", suara lembut suami yang benar-benar menusuk-nusuk relung hati. Nasi telah menjadi bubur. Wanita malang yang saat mudanya dengan seribu persen keyakinan. Bermimpi menerobos sejarah. Tapi, jutaan wanita yang pada akhirnya pasrah atas jodohnya adalah orang yg pernah berfikir sama pada masa mudanya.

Manis, entah kehidupan seperti apa kelak pada akhirnya, aku biarlah memiilihmu. Sedang sebelum saat itu datang, semoga kita menjadi manusia yang berbenah diri. Agar tak terlalu besar penyesalan itu. Manis, siapapun kamu.

23 Agustus 2016

Sudah lama juga tak mengisi titik-titik #orakudukeren ini. Terlalu banyak hal pelik yang belakangan ini.

Selamat siang, manisku, apa kabar?. Entahlah apa yang ingin kutulis untukmu. Mungkin tak ada. Belakangan aku hanya ingin malaikat turun. Mengatakan apa-apa yang semestinya mereka lakukan.

Satu bulan sudah tak menemui orang-orang yang sering lalu lalang dihidupku. Satu bulan sudah aku mulai bertanya bagaimana kelak akan menghidupmu.

Jatuh terpuruk dan ditertawakan. Mungkin tak seharusnya aku hidup atas pilihanku. Bukannya malah mempertaruhkan segalanya untuk orang-orang sumbu pendek. Pemikiran lama dan pengalaman yang tua namun tak berisi. Imbasnya, mana peduli mereka pada apa yang aku hadapi. Orang yang mereka doakan terjatuh siang dan malam. Satu kali lagi, aku ingin melihat mereka tersenyum. Tertawa bahagia.

Apa manusia itu harus selalu begitu. Berdiri pada gengsi yang begitu. Menjadi orang bukankah jalan menuju kehancuran. Karena pada hakikatnya, yang paling benar hanyalah pemikiran kaum oportunis. Orang-orang yang bercita-cita menjadi Tuhan.

Manis, kutuklah apapun yang bisa kau kutuk. Jaman yang terkutuk ini atau apapun. Tapi ingatlah manisku, mengutuk itu hanya mengikuti pikiran sempit. Ingatlah semua yang hari ini terkutuk itu pernah tersenyum padamu. Pernah mengulurkan tangan saat kau terjatuh.

Tersenyumlah, manisku. Baik-baik disana.

29 mei 2017

Selamat pagi bintang kecilku, apa kabar?.

Hari ketiga puasa tahun ini. Dimana saat mulut berhenti sejenak memamah tapi otak harus terus berputar. Permasalahan hidup terus berlanjut. Membual agar kita mencari solusi. Rindu ini pun sama, merasuk entah dari mana, mengacak-acak hati.

Hari ini aq nyaris membunuh orang sok yang baru saja lulus sekolah tahun lalu. Tapi tenang, itu baru perasaan ku saja. Kalau benar aku mau matilah orang itu.

Entah apa yang dibanggakan dengan orang-orang pengidap kanker jiwa itu. Selalu saja menyebrang agar di pandang. Memakai atribut agama lain, menimbul-nimbulkan logo partai terlaranglah, atau apa saja yang bisa membuat mereka diakui. Hanya itu hanya sekedar pengakuan. Mental-mental tai yang semestinya ditenggelamkan dan dimakan ikan.

08 mei 2018

Terlampau banyak diantara bangsamu,
Orang-orang bodoh yang bangga pada kebodohan.
Orang -orang sombong dan menindas.
Tak berani aparat memukul rakyat.
Tak berani pejabat minta tanah rakyat.
Jaman sudah berbeda.
Penindasan nyata adalah tentang tingginya harga.
Upah buruh murah dan Sistem kerja kontrak.
Serta aturan yang memihak pada pemodal.

Penguasa buta dan tuli adalah penguasa terburuk sepanjang masa. Demonstrasi tak lebihnya masalah persoalan sehari saja. Tak lebih rumit dari kelumrahan macet kota besar. Penguasa tuli tak terpengaruh orasi. Itu hanya soal polusi suara untuk satu waktu saja. Penguasa tuli tak butuh aspirasi. Telinga mereka ibarat mendung. Hanya ada saat menjelang uforia hujan suara. Memungut suara-suara dari langit. Suara rakyat suara Tuhan. Suara yang akan memberikan kuasa atas sesamanya. Penguasa buta tak akan melihat apa dan bagaimana rakyatnya. Mereka tak lebih takut kehilangan simpati rakyatnya ketimbang partai pengusungnya. Wadah-wadah cendikiawan telah berhianat. Mandul melahirkan pemimpin bijak. Mereka hanya peduli soal menang. Atau jatah dari para sekutu.

Negeriku tak lelag kau berjalan pada kenaifan. Kenaifan yang ditunggangi kemunafikan.
Negeriku aku cinta padamu, tapi tidak busanamu. Busana kotor yang menggunakan darah untuk melukisnya.

Ketika demokrasi hanya peduli soal kemenangan. Soal visi sebagian golongan. Ketika itulah air mata haram untuk sia
Sistem frustasi ini. Sistem yang menghianati sukmanya.

Kebanggaan. Nama besar. Kehormatan. Menjadi sebuah bomerang yang liar. Bisa saja menjadi kekuatan bisa menjadi pengundang bahaya. Bahkan kematian. Semua tak bisa terelakan. Sebuah harga yang harus dibayar mahal. Lebih-lebih melibatkan idealis dan prinsip hidup ribuan bahkan jutaan manusia. Itu tak akan menjadi mudah. Sesuatu yang serius yang tak cukup dan tak bisa diselesaikan dengan kata-kata naif.

Memang benar, tak ada satu kemenangan apapun yang sebanding dengan nyawa. Namun tak lantas itu menjadi alasan kuat untuk melabeli saudara-saudara kita dengan bandrol murah, kampungan, bodoh atau lainnya. Karena ini menyangkut kehormatan, idealisme dan prinsip jutaan jiwa.

Madiun disaster, 10 April 2005. Hari itu lebih dari sekedar tragedi. Rivalitas sudah naik kelas. Naik level yang lebih mengerikan.  Menjadi pemikiran kuat yang tak akan patah dengan kata-kata naif penguasa dan orang-orang sombong yang merasa paling berotak, Atau media-media yang haus akan popularitas dan bintang penyiaran. Segel-segel kekuatan besar dari setiap jiwa hancur. Menjadikan sulit membedakan antara naluri membunuh dan bertahan hidup.

Orang-orang bijak berebut mencari benar-salah. Sementara mereka tak terlibat langsung dilapangan. Sisana, ditengah hujan

Sejarah rivalitas garis keras di negeri tak tercipta ada begitu saja. Ada api penyulut yang membuat pelaku sejarah tak mudah melupakan dan memaafkan. Lebih lagi melibatkan jumlah yang tak sedikit. Puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan individu.

Hujan batu, bom molotov, dan aura membunuh yang kuat, keadaan menjadi sulit. Tak ada manusia yang lahir lalu bercita-cita menjadi kriminal. Keadaan memosisikan setiap individu sulit membedakan. Antara bertahaan hidup dan membunuh. Keadaan dilapangan tak bisa diteorikan. Tak selesai dengan mediasi naif yang terkesan diada-adakan. Terpaksa lebih tepatnya.

Intinya, kalian-kalian yang selalu bicara soal perdamaian, "diamlah". Pikirkanlah cara yang lebih real untuk keadaan yang dicita-citakan semua makluk di alam raya itu. Jangan cuma melempar kata-kata "berdamailah". Itu hanya akan menambah rasa sakit yang membuat dendam semakin kuat. Betapa tidak, saudara-saudara kita harus kehilangan orang terkasih atas idealiame yang diusung turun-temurun. Lalu tiba-tiba kalian datang dan tak tahu apa-apa dengan gaya yang memuakan. Menjadi orang yang menganggap diri paling benar, suci dan berotak. Sebelum rivalitas berevolusi menjadi permusuhan awalnya semua teman. Dan itu sebuah evolusi. Menyelesaikannya pun tak akan menjadi mudah. Butuh pemikiran matang dan kehati-hatian. Salah satu kalimat saja akan membuat dendam semakin dalam.

Semua mencita-citakan kedamaian. Dendam tak akan selesai dengan kata-kata orang yang tak tahu apa-apa. Semoga tak ada lagi yang dirampas hak-hak dan kemerdekaan individunya seperti yang terjadi pada sam abdul rochiem, mat togel dan sebaris nyawa lainnya. Semoga kedamaian bersama mereka dialam sana.

tak akan oleh siapapun

hari ke-enam, maret.
selamat siang manisku, apa kabar?, sudah makan siang?. lekaslah. kesehatan itu nomer satu. jadi jaga-jaga baik-baik.

masih berada disisa-sisa uforia yang semalam. tsunami kebahagian dari seantero Malang raya, seantero Jawa timur, bahkan dari setiap penjuru negeri. kususnya mereka-mereka yang bangga melekatkan nama Arema di dadanya. betapa tidak, di laga semi final piala presiden Arema berhasil memastikan melaju ke final. menjadi kandidat juara selain PBFC, Borneo. siapa sangka, sempat kalah agregat hingga 3-0, Arema mampu membalikkan keadaan. unggul agregat 5-3 atas Semen Padang. luar biasa. sebuah pertandingan yang begitu menguras emosi. Gonzales memborong lima gol untuk Arema.

seperti biasa. ada pujian ada hujatan. "Habis Predikat terbitlah Respect". salah. "terbitlah iri dan dengki". di salah satu belahan dunia media sosial belakangan melabeli Aremania dengan "Suporter Rasis". karena kata-kaya "Dancuk" masih sering terdengar. senaif itulah lebel itu diberikan.

dunia seporter itu luas. ini menyangkut prinsip puluhan ribu bahkan jutaan jiwa. munculnya golongan "NAIF" dikalangan suporter malah kulihat sebagai suatu pemerkeruh hubungan antar suporter. kata-kata damai yang mereka sebarkan seakan sudah paling benar. mentah. mereka menyederhanakan masalah suporter sekelas permasalahan perselisihan anak sekolah. mereka mungkin sudah merasa paling bijak dengan bicara perdamaiam. tapi tetap saja, yang mampu menyelesaikan permasalah suporter adalah dari kalangan dalam suporter itu sendiri. butuh waktu lama dengan proses yang tak mudah. yang telah lama dirintis namun rusak karena tiba-tiba ada orang naif yang mendikte "berdamailah".

bukan, bukannya aku setuju dengan hal buruk yang selama ini kerap terjadi di kalangan suporter. semua menginginkan perdamaian. tapi, pahamilah dulu. masalahnya tak sesederhana berseteru dan berdamai. ini lebih. memadikan pemikiran puluhan ribu bahkan jutaan nyawa. tak akam selesai dengan kata-kata "berdamailah".

terlebih kususnya masalah antara Malang dan Surabaya. yang notabennya bukan sekedar sepak bola. lihat baik-baik sejarah awal mulanya, baru bicarakan solusinya. jangan hanya koar-koar kata "damai" saja. itu malah terdengar seperti mengatakan mereka tak pecus menjaga perdamaian, tukang rusuh, atau predikat buruk lainnya. bukankah itu lebih terlihat tak pecus mendamaikan mereka. orang-orang naif merusak usaha dari kalangan aremania yang sudah mengupayakan kata-kata "misuh" dari chant yang selama ini. alasan mereka lebih bisa diterima publik Aremania, dengan mengatakan ada Aremania licek (kecil) di stadion. tapi, lagi-lagi golongan naif seperti malah mendikte. Aremania itu bukan segelintir orang, Aremania tak akan dapat dikekang oleh siapapun. karena yang dapat mengendalikan singa hanyalah jiwa singa itu sendiri.

Dek

Selamat malam manisku. Entah mengapa, malam ini aku rindu begitu. Overdosis, sesak menenuhi ruang hati. Ruangan yang penuh mural abstrak. Tapi masih kubaca namamu.

Aku tak tahu dan tak yakin akan pengertian cinta yang selama ini kudengar. Kedok-kedok munafik dari banyak muda-mudi masa kini.

Tinggalkan sejenak soal cinta. Sebab, aku tak pernah tahu, aku mencintaimu yang seperti apa. Aku memang bodoh soal itu manisku. Benar-benar bodoh.

Kau masih ingat, beberapa tahun belakangan. Saat aku mulai mengenalmu dari deretan aksara di layar sekian inci ini. Sesederhana itu aku mengenalmu. Bahkan, saat pertama bertemupun tak ada jabatan tangan atau saling menyebutkan nama. Bertatap sebentar, senyum yang masih gagu, kemudian.. Entahlah, apa itu layak disebut perkenalan.

Sederhana, malam ini entah apa yang membuat kuat hati ingin berkata ; "dek, dadio alasanku berusaha. Dadio alasan seng tak usahakno. Dadi harapanku, pentemangatku, ibu seko anak-anakku. Dek, purun?"

O,ya kamu pernah bilang kalau mungkin aku tak menyebut semua gadis dg sebutan "manis".
Tapi, jarang-jarang aku panggil dg sebutan "dek", itu hanya beberapa. Adik sepupuku, adik angkatku, dan satu lagi,... Kamu.

04 maret

selamat sore manisku, apa kabar?

Aku tulis ini disuasana dingin sisa kabut yang barusan. Di gerbang kota. Gaduh kendaraan lalulalang. Barusan melintas bus antar kota antar provinsi yang kuingat betul geberan knalpotnya. Khasss...

Hari keempat, bulan tiga tahun ini. Seperti biasa, bicara tentangmu selalu soal itu. Dengungan genderang rindu bertalu-talu. Apa ada kata lain selain rindu bila harus ada namamu. Apa ada selain rindu manisku, apa ada..

Apa dikotamu juga dingin seperti saat ini, manisku. Jaga kondisi. Sehat selalu.

Rindumu

13 Pebruari

cinta tak pernah salah. cinta adalah satuan rasa dari sesuatu bernama hati. menyayangi, mengayomi, menjaga, menguja segala pinta dari setiap apa yang dicintai. cinta adalah anugrah sang Maha. ditanam dalam  hati setiap manusia. untuk sesama, untuk semesta raya, Untuk menjadi penuntun jalan kembali pulang pada-Nya yang Esa, sang Maha Pengayom jagad semesta raya. begitupun kecintaanku padamu. agar tak kurasa sendiri menyusuri jalan kembaliku pada-Nya. kekasih, selamat pagi. tersenyumlah.

Cinta tak pernah pilih kasih. tak pernah hati tahu yang terbaik untuk dan atas ujung cerita. jika hari ini aku mencintaimu, hari ini juga aku akui aku mencintai wanita lain bahkan seluruh manusia dan semesta. karena aku yakini, cinta tak seperti wahyu, yang digariskan turun kebumi untuk seorang nabi. jadi aku mencintaimu seperti kecintaanku pada yang lain. tak istimewa tak berlimpah. karena aku tak pernah tau akan satu cara. menjadikannya istimewa dan berlimpah. hanya saja, ada harapan, kekaguman, rasa takut kehilangan, dan sebaris rasa yang menjadikanmu prioritas. menjadi nomer satu sebagai pemegang dayung disisi lain dayungku mengarungi jeram kehidupan. aku butuh kau, sebagai teman, penyeimbang, pemberi rasa damai di jagad raya hingga ke alam keabadian. aku butuh kau sebagai harta berharga untuk aku jaga. untuk ku selimuti dari dingin sikap jaman yang semakin tak jelas, arogan, egois. dunia yang semakin lucu. dihasut modernisasi dan liberalisasi. aku butuh kau sebagai ikatan yang akan selalu kuperjuangkan. jadi, maukah kau bersama-samaku, mengarungi jalan untuk kembali pulang, kekasih?. terimakah kau dengan rasa cinta yang sederhana ini, manis?.

langit berlahan cerah. pijar harapan dari hari yang melulu hujan. menyingsingkan cahaya terang, agar kau bisa melihat jelas aku disini. menantimu sampai kau mengerti. sampai kau menepi dari kefanaan duniawi.

dari penghujung segala negeri, yang dingin ataupun panas. yang hujan ataupun terik. kekasih, maukah kau menjadi seseorang yang mendengar ceritaku tentang penghianatan, kasih sayang, dan harapan, mula-mula sekali?.

dunia semakin gila saja. perang dan perang. penghasutan, penghianatan, memanfaatkan, dan segala sikap pengecut lainnya. seolah sudah lazim dalam kehidupan " mencari kawan ". persekutuan palsu, tipu-tipu. penjajahan tak pernah berakhir. akan selalu ada sampai dunia benar-benar melupakan bendera. dewasa ini, kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan individu. menjadi diri-sendiri yang mengalir namun tak hanyut. aku berharap, mencintaimu adalah atas dasar kemerdekaan individu. bukan karena standar paras estetika dari para penggila wanita, bukan pula penjajahan dari tangkapan indrawi akan dunia telanjang yang marak belakangan. bahkan, kau pernah dengar,manis?, sebuah papan iklan berteknologi dipersimpangan jalan di kota besar menayangkan atraksi memalukan itu. memang bukan resmi, ulah orang-orang tak bertanggung jawab.

o,ya manis. selamat beraktifitas di senin redup ini. tetap tersenyum.

12 Pebruari

selamat pagi hujan. selamat pagi manis.

gerimis tak hentinya puitis. membasahi seisi semesta tanpa habis. tanpa ampun, tanpa lelah dari hujan rahmat Sang Maha berlapis-lapis. apa kau masih pada senyummu yang itu?, yang manis. atau malah kau tersendu tangis?. manisku, aku rindu.

dedaunan beralun pelan. kekanan lalu kekiri. mengikuti sebandung angin. juga sajak gerimis. A-B,A-B. seperti pantun, tapi bukan. hanya lagu kerinduan, syair kesepian, nyanyian keabadian. kasih sayang yang diuji oleh jarak dan waktu. kau kuat, kau bisa untuk biasa dengan semua. apa ada yang lebih romantis melebihi kasih sayang tanpa kerinduan, manis?. seperti malam pada mentari, seperti kemarau pada hujan, seperti mahkluk pada Rob-nya. manis, tersenyumlah.

08 pebruari

Selamat manis, yang pernah meminta keindahan namun urung, selamat sore, dek.

Delapan Pebruari dua ribu tujuh belas. selepas hujan. selepas aku terima pesan rindumu yang itu. aku pun jua. sama sepertimu. persis perasaanmu. memang, kali ini kita benar-benar sama-sama. beradu kuat dalam penjara rindu. kuat selalu, manisku.

hujan turun tak begitu saja. dari partikel air yang entah berapa diameternya. sangat kecil sekali. sebelum akhirnya dipersatukan mengredupkan semesta. menutup matahari menindas lazuardi dari dunia indrawi manusia. dari yang semula bukan apa-apa mampu menjadi besar dan menakutkan. tapi sayang, kekuatan besar itu hancur oleh terpaan angin. kembali lagi menjadi titik air yang membasahkan. menetes bertubi-tubi. menghujam dari setiap apa yang ada dibumi. mengalir bersama segala yang mengkontaminasi beningnya. sebagian tetap bening, tak sedikit yang jatuh kotor.

penguasa-jelata tiadalah beda. mereka lahir dari rahim yang serupa. dari seorang ibu yang menanamkan cita-cita serta harapan akan sebuah harapan padanya.

aku yakin, penguasa kotor dan jumawa akan jatuh pada sekubang lumpur. kotor dan hina. jangan terlalu terlena dengan pencitraan dan sebaris sikap naif. munafik malahan. penguasa bukanlah pemilik suaru negeri. tak lebihnya hanya kacung dari sesama. kacung yang dihormati. yang dipertaruhkan martabatnya duhadapan Sang Maha.

04 pebruari

Ungaran tersaput kabut. Entah udara yang dingin atau larena AC kendaraan. Yang pasti, kaki yang lupa tak berkaos sudah mulai astep.

17:15. Masuk tol bawen. Apa kabarmu sore ini, manis?. Sudah mandikah?, lekaslah. Belakangan cuaca di kampung terlampoi dingin. Sangat dingin. Dingin sekali.

Sebenarnya, tentu menyenangkan andai kita luangkan waktu berdua. Bermain

02 Pebruari

Selamat pagi manisku, sudah sarapankah?, lekaslah.

Pagi gerimis bak langit tiada henti menangis. Menangisi dari setiap sudut jalan pengemis. Menangisi sikap reaktif dari pemikiran taktis. Kacau, runyam, ada apa dengan negeri ini yang konon demokratis. Kenapa dan apa yang terjadi pada para aktifis. Kemana mereka atau memang sudah habis. Mungkin benar, jangan kan manusia, malaikat saja andai masuk sistem ini bisa menjadi iblis.

Kemana perginya para parlemen jalanan?, yang mendukung penguasa terpilih dulu?. Apa kini mereka malah jadi staf dibalik singgahsana.

Manis, apa kita yang salah?, lahir dan tumbuh di bumi ini?, saling jatuh hati pada arus yang munafik. Romatis yang seperti apa yang mampu kita cipta. Apa yang indah dari kisah cinta di kubangan lumpur. Hanyut dalam kemunafikan atau dituduh ke kiri.

Well, tetap tersenyum manis. Kita nikmati suasana ini. Bertembok Kenaifan, beratap kemunafikan, berpintu doktrinasi ra mutu, bercendelakan dikte dan hoax. Kita pura-pura bahagia saja didalam rumah kita ini. Saat ini.

31 Januari

Penghujung Januari. Menjadi akhir dari yang awal dalam perhitungan bulan. Masehi. Mengorbit pada mentari yang terik. Yang meniadakan dingin, memecah kesunyian, menerangi jalan mana yang musti kau tempuh. Riuh, hingar-bingar, hiruk-pikuk, gaduh sampai mengaduh. Nampak. Semua begitu elok. Begitu memesona. O,ya. Kau tahu apa kesamaan terik dan dingin?, hah, tentu ada manisku. Jangan terlalu berpatok pada logika sepihak. Iya, ada kesamaannya. Sama-sama Memesona. Terik dunia dan dingin wajahmu. Sungguh, sebuah rangkaian sempurna estetika.

Hari ini. Masih pada hari yang sama di ujung januari. Siapa bilang takdir manusia tak bisa ditebak. Gunakan ilmu tua dari para sesepuh jawa. "ilmu eling lan titen" itu sudah cukup untuk takdir tanpa pengkhususan. Yang sulit ditebak itu nasib manusia. Ya, nasib. Sesuatu yang tak kaku akan ketentuan sang Maha. Fleksibel, dinamis dan statis. Berubah-ubah. Biasanya nasib mengiringi takdir. Mengiringi jodoh, rejeki dan ajal.

Semalam berita duka dari kota utara. Siapa sangka, tanpa mengidap penyakit bisa meninggal dengan cara lain yang tentu mengagetkan orang-orang sekitar. Memang, kematian tak akan meleset sedetikpun. Jika seseorang mengetahui ajalnya, seberapa kuat dia menghindar akhirnya sampai juga. Begitu kata orang bijak. Siapa sangka, ucapan-ucapan itu menjadi sebuah petanda, menjadi salam perpisahan tersirat. Yang baru di pahami setelah benar-benar pergi. Tak ada yang mampu membendung suratan-Nya.

Langit cukup redup hari ini. Hari yang mungkin masih panjang atau bisa saja hari-hari terakhir kita manisku. Puji syukur kehadirat Sang Maha, masih Ia perkenankan tatap mataku merasuk pada setiap jeda sinar matamu. Sebelum kita harus mengakui kita yang sama-sama. Sama angkuh untuk mengakui arti pinta dari setiap mata. Sama-sama berharap ada yang memulainya. Aku duluan atau kamu duluan. Tanpa keputusan sampai durasi habis. Mungkin benar, sebagai seorang laki-laki aku tak seberani para laki-laki yang mendekatimu. Maaf, manisku. Sementara, biarlah begini. Sabarlah dalam doa-doamu yang sama dengan doaku. Sampai waktu itu tiba, aku pastikan aku datang padamu. Sebagai seorang laki-laki yang jatuh hati padamu, yang sanggup menghidupimu, yang siap menjadi panutanmu, yang sanggup menanggung atas segala tentang dirimu. Saat ini, aku hanya tak ingin sama dengan laki-laki yang pernah menjajikan indah padamu. Janji sebatas kata-kata. Karena aku tak sekedar mengharap wajah dan badanmu. Ada rasa yang ingin ku simpul kuat pada rasamu. Dengan begitu tak ada jeda untuk alasan berpisah. Sekecil apapun itu, tiada.

Selamat siang manisku, jaga kesehatanmu, jaga hatimu, jaga perasaanmu.

Kau adalah biji

Kata-kata tak akan sirna. Ide-ide tak akan binasa. Pemikiranmu tak dapat dibatasi jeruji. Kalaupun ragamu tertimbun kubur, itu adalah awal dari sebuah penanaman. Kau akan mengakar dengan idealisme mu. Tumbuh dengan kuat, sekuat kau tanam keyakinan akan nilai kebenaran di lubuk hati. Kau tak akan mati. Bergentayangan menghinggapi setiap hati. Kau adalah biji yang mengakar. Menumbuhkan batang. Menguncupkan daun. Memekarkan bunga-bunga wangi. Kau adalah satu biji yang akan membuahkan jutaan biji. Kau... Pondasi dari segala perubahan.

21 Januari

Selamat pagi manisku, apa kabar?,dua pertiga bulan januari. Tepat saat matahari menaungi jagad raya. Menebar kehangatan pada setiap partikel udara. Lazuardi nampak hangat bercengkerama dengan para mega. Lantas, kapanlah kita berdua akan berbincang mesra di pagi hari?. Seperti lazuardi dan para mega. Seperti seperti gula dan kopi dalam bejana. Tentu, tal selamanya kan kita akan mengobral kata-kata rindu?. Ya, kapanpun itu, sementara biarlah doa-doa dan kerinduan menjadi utasan tali yang tak putus walau tak kuat mengikat.

Selamat pagi, manisku. Semoga harimu menyenangkan. Barokalloh...

Syukuri,

Entah bahagia atau malah kesedihan saat harus menatapmu. Wanita yang sering mengeluh di awal-awal pernikahan. Semua hal yang biasa kau bilang "cuma" kini menjadi "biasa". Seolah menjadi kodrat yang bosan kau protes. Hidup serba cukup, "pas-pas'an" tepatnya, sudah menjadi agenda yang tak kau lewatkan setiap sesi-nya. Katanya Tuhan akan memampukan hambanya. Entah mampu yang mana. Nyatanya, satu tahun hidup bersama, meja makan kita jauh dari kesan empat sehat lima sempurna. Kau sering mengeluh di hari-hari pertama. Dan aku sering pura-pura tuli mendengarnya. Tapi kini, saat kau terbiasa dengan semua, aku malah justru sering mengeluh. Kenapa dan kenapa. Bukan, bukan soal apa-apa yang berasal darimu. Lebih jelasnya, tentang aku yang tak sanggup memberimu kelayakan padamu, seperti halnya menantu-menantu bapakdan ibu lainnya. Tak seperti ipar-iparku.

Tahukah kau, manisku?,Saat kau tersenyum iklas dan ceria, serasa sebilah pisau menusuk relung hati hingga yang terdalam. Kau masih sanggup untuk itu, saat seharusnya menangisi, penyesali ikatan resmi yang mungkin salah ini.

" Apa kau tak enak badan?", ucapmu.

Aku hanya menggeleng. Selayaknya bos-bos yang sering kutanyakan : "maaf pak, ada lowongan..."

"Apa kau menyesali pernikahan ini?",
Lagi. Aku menggeleng. "seharusnya, aku yang bertanya begitu".
Tapi kau malah tersenyum.
"Tuhan akan memampukan hambanya", ucapmu.

"mungkin pengecualian untuk kita", ucapku, lirih, putus asa.

"kau selalu begitu. Memang, sejak kecil aku hidup Nyaris sempurna. Hidup cukup bahkan lebih. Tapi kau tahu, aku tak merasakan kebahagiaan melebihi hari-hari hidup bersamamu. Hari-hari yang sering aku keluhkan mulanya. Dan hari ini aku merasakan Tuhan menepati janjinya. Aku yang semula tak mampu bersyukur dan bahagia telah kau berikan segalanya. Aku bahagia dan penuh syukur bersamamu, karenamu. Dia telah benar-benar memampukan hatiku untuk itu", ucapmu.

Selamat Jalan Kebanggaan

Sebelas Januari,
Selamat pagi manisku, apa kabar? Sudahkah makan pagi kah?, lekaslah,

Sungguh tak terduga suratan sang Maha Esa. Tak disangka-sangka. Tak terkira. Semua semula nampak begitu lumrah, namun lebih ketika disimpulkan.
Menuju penghujung liga kopi, liga yang digulirkan pasca ketidak pecusan pengelola sepak bola negeri ini. Liga penghibur pecinta sepak bola setelah pertandingan resmi haram untuk persepakbolaan Negeri ini. Ya, kau tentu ingat. Federasi sepak bola dunia menjatuhkan sanksi pafa federasi tanah air. Kisruh di kalangan elit federasi di tambah campur tangan pemerintah pemicunya. Sepak bola kita koma sementara waktu. Walau kini sudah kembali bernafas.

Di laga-laga akhir liga kopi. Arema, harus memainkan kiper ke-3 mereka. Kurnia Meiga dipanggil untuk membela timnas, Kadek dalam kondisi yang kurang fit. Hingga tersisa AK sebagai pawang bola di bawah mistar Arema. Semula itu nampak biasa. Lumrah dengan alasan-alasan yang masuk akal. Tapi, sore kemarin, 10 Januari. Semua menjadi seolah tak seperti kelumrahan. Alloh menjadikan penampilan AK sebagai penampilan-penampilan terakhirnya. Ya, sang kebanggaan telah berpulang pada ke-Roqiman Tuhannya. Laga terakhirnya begitu menawan. Penyelamatan-penyelamatan yang diberikan seolah menyampaikan salam perpisahan, menoreh kan kenangan, sebuah pesan agar tak pernah terlupakan. Memang, diatara kiper-kiper Arema yang notabennya kiper-kiper terbaik tanah air, AK adalah kiper yang memiliki jiwa sepak bola Ngalaman paling kuat. Mental dan keberanian di atas rumput stadion tak tertandingi. Hingga usia yang tak lagi muda, AK masih siggap menjaga gawang Arema. Jiwa singanya terpatri kuat padanya.

Dan itu pun menjadi laga terakhir. Penutup liga kopi, penutup sanksi Federasi sepak bola dunia, penutup karirnya sebagai pemain bola. Penutup usianya yang nyaris kepala empat. Ya, dia kini benar-benar pensiun. Menjadi seorang legenda sepak bola negeri ini. Yang selalu akan dikenang.

Selamat Jalan kebanggaan, selamat jalan sang legenda, Rest In Pride AK 47.

05 Januari

Selamat malam manis, apakabar?

Masih pada suasana rintik gerimis. Walau sudah reda, tetap saja basah di sana sini. Dingin.

Hari ke-5 tahun ini. Innalillahiwainnaillaihirojiun. Semalam, di hampir tengah malam telah berpulang seorang alim, ulama, guru, dan orang tua kota ini, bahkan bangsa ini. Di beberapa artikel disebut bahwa almarhum sebagai ulama tertua di pulau bahkan negeri ini. Ada juga yang menyebut beliau sebagai paku pasak pulau ini. Apapun, beliau pantas mendapatjan gelar terharum dari segala macam gelar. Perjuangan dan pemikiran beliau terhadap masyarakat sekitar, agama, dan negeri ini tak pernah tanggung-tanggung. Andai saja jauh sebelum hari ini kita sowan ke rumah beliau, tentu kau dapat rasakan. Kasih sayang, kehanhatan, serta ketenangan di sana. Sebenarnya satu hal yang ingin sekali aku lakukan adalah mempertemukan kakung dengan beliau. Dulu, sewaktu muda, konon mereka berdua saling kenal. Keduanya sama-sama menjajakan dagangan berjalan kaki puluhan kilometer. Tapi, sayang, kesempatan itu tiada. Segala milikNya akan kembali padaNya. Semoga kusnul qotimah selalu. Amin..

2 Januari 2017

Selamat pagi manisku, apa kabar?.
Pacitan barat nampak hujan sendari dini hari tadi.

O,ya. Selamat tahun baru. 2017 kini telah resmi mengisi setiap kolom tanggal dimanapun dia berada. Bagaimana liburan awal tahunmu?, menyenangkan?, semoga, selalu.

Hari kedua tahun ini. Tahun berganti, tak lantas masalah di tahun lalu dihapus cuma-cuma. Tetap saja. Tetap harus terselesaikan, entah bagaimana caranya. Hidup ini akan semakin kompleks. Semakin keruh. Musti pintar-pintar mencari sela diantara segala kerumitan ini.

Setiap orang punya idealismenya masing-masing. Setiap orang tentu memiliki identitas pembeda dari orang lain. Sebagai bukti atas eksistensi dan kredibelitas masing-masing. Jadi, sejatinya hidup itu didominasi soal pencitraan.

Ya, pencitraan. Tanpa pencitraan manusia itu seragam.