Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

27 Agustus

Selamat pagi, manis...
Apa kabar?, sibuk apa kau pagi ini?. Maukah kau luangkan waktu, sebentar saja. Dengarkan kerapuhan ku yang merasa dipecundangi.

Aku tak pernah membaca pasar usaha. Itu yang kurasakan. Tapi, aku juga takut pada resiko. Jadi kuambil semua itu dari diriku. Dan,... Ya, itu aku.

Entah apa yang membuatku mengambil ini, yang sebenarnya aku ragukan. Statusku pun tak jelas. Aggghhhh... Ada beberapa maksut yang tak bisa aku jelaskan dengan kata.

Beliau adalah orang yang tak senang dengan apa yang aku dapatkan. Aku dipaksanya tunduk dibawahnya. Menjatuhkan orang lain untuk naik itu biasa baginya. Merasa yang "paling" dan "ter" itulah yang kupahami darinya. Sebenarnya pemahamannya nol besar. Menghafal dan mengulangi itu-itu saja, membuatnya nampak hebat. Tapi bagiku, hanya orang-orang menengah kebawah IQnya yang mengaguminya. Dan kau tahu,manis?. Setiap kali aku berkorban dianggapnya aku terima dan kalah. Tak akan dipahaminya arti sebuah pengorbanan. Jika saja hukum memberikan hak setiap orang untuk menembak satu orang saja, kurasa kaupun tahu, perluruku ini akan menghadap kepala siapa.

Aku merasa dikerdilkan. Ibarat benih, aku dipaksa tumbuh diatas keramik. Tempak yang nampak elok. Tapi tetap saja, tak ada air dan tak ada tempat untuk akar-akar ini aku berpegangan.
"Dasar Bodoh, sudah diberi tempat yang bagus tapi tak mampu tumbuh. Dasar sampah", mungkin itu yang akan ku dengar.

Sekarang aku harus bisa hidup dalam kemungkinan yang kecil sekalipun. Dosa memang Tuhan yang mengampuni, tapi sakit hati butuh waktu yang lama untuk sekedar pulih. Pun sudah dilepasnya maaf di jauh-jauh hari, tapi butuh proses dan pengorbanan untuk memulihkan hati.

maaf

Selamat sore Sahabat, sore teman, sore kerabat, sore manis, bunga, bintang, kekasih, serta semuanya. Tanpa kecuali.

Bolehkah sore ini aku rindu kalian. Membayangkan, memeluk kalian dengan penuh kerinduan. Kita saling duduk dan bercerita. Tentang kita yang dulu atau hari-hari yang akan datang, seperti yang aku lakukan bersama Pandu disaksikan bocah-bocah yang dulu kita mong dan kini jadi teman main, semalam.

Aku sudah abadikan senyummu di atap-atap ingatanku. Agar tak seorangpun meraihnya untuk dibuang. Aku rindukan semua tentang kita. Bermain bersama, berlari, dan menyimak gejolak dunia yang semakin dewasa, kemudian... Tua. Walau tak mengulanginya, hari-hari bersama kalian adalah masa yang tak pernah tertandingi. Kita begitu hebat, liar, dan menawan.

Sejarah tak mungkin dirubah. Hanya, terkadang rasa pengecut kita mensensor bagian-bagian penyesalan yang pelan-pelan ingin kita hapus. Tapi, itu bodoh. Kita tak akan untuk itu. Pun hari ini, dengan penuh rasa sesalku. Maukah kalian duduk dan berjabat tangan denganku. Bukan untuk menghapus bagian hitam itu, tapi sekedar pengakuan memang tak selayaknya itu kulakukan.
"Maaf, atas segala kata, sikap, dan perbuatan"

24 Agustus

Lalu apa. Kekasih..

sampai pada waktunya kau pun tak yakin untuk turut bersamaku mengasingkan diri. Kekasih, aku muak dengan semuanya. Semuanya... Aku ingin sekali pergi jauh, jauh sekali. Barangkali sampai satelit NASA tak akan pernah menemukanku. Pada suatu tempat yang jauh dari segala hingar-bingar dunia yang berpesta. Dentuman bom, desing peluru, atau suara lantang perdebatan. Aku tak suka musik itu.

Aku impikan dunia yang tanpa misiu. Dan kita sibuk Mengajari anak-anak kita kelak dengan berkebun dan berternak. Mengajari mereka makan apa yang mereka miliki. Bukan tipu-tipu atau mencuri baik-baik. Aku ingin sekali pergi kesana, ketanah pengasingan, ke dunia yang polos. Dunia tanpa diplomat ataupun delegasi. Tanpa bersekutuan, rivalitas dan perang. Yang benar-benar polos. Yang nampak naif bila perlu.

Entah siapa yang salah. Kita yang lahir pada jaman yang salah. Atau kita yang tak bisa menjaga keseimbangan. Harga kebutuhan pokok mahal, kesehatan, pendidikan bahkan tarif wc umum pun sudah berskala ribuan rupiah. Yang sedang hangat, rumor rokok yang katanya akan diatas angka lima puluh ribu rupiah bulan depan. Entah apa maksutnya, ingin menciptakan negeri sehat tanpa rokok, atau ada masalah antara elit pemerintahan dengan bos-bos rokok. Atau karena pabrik rokok mencukur besar-besaran karyawannya karena efisiensi penggunaan mesin produksi rokok. Atau tembakau yang didatangkan dari luar negeri dalam jumlah besar dengan harga yang murah. Atau... Atau.. Dan atau... Entahlah. Orang kecil hanya bisa menerka- nerka. Penuh tanda tanya, argumen dan kata-kata "mungkin" dan "atau". Yang semuanya hanya kira-kira saja.

Harga yang kita bilang mahalpun bisa saja begitu murah menurut "mereka". Entah memang kenyataannya semua mahal atau kita yang gagal menaikan taraf hidup?. Lagi-lagi... "Entahlah".

22 Agustus

Tak terasa, kita sudah berada pada sepertiga akhir bulan kemerdekaan. Uforia kemerdekaan memang tak pernah berakhir. Hari ke dua puluh dua, dan hari ini masih diadakan karnaval kemerdekaan di bumi gio van java. Dapat aku bayangkan betapa meriahnya itu. Sementara di daerah lain sudah terselenggarakan beberapa hari lalu.

Negeri ini bukanlah negeri kemarin sore. 71 tahun itupun terhitung sejak Bung Karno membacakan Proklamasi di Pegangsaan timur. Dan jauh sebelum itu negeri ini sudah ada. Mengobarkan perang pada bangsa kolonial ratusan tahun lamanya. Bara perjuangan itu terus menganga. Terwariskan pada anak cucu bahkan lebih jauh lagi.

Lalu sudahkah kita 100% merdeka?,sebuah pertanyaan klasik yang acap kali muncul menjelang peringatan hari-hari besar kepatriotan. Bermacam spekulasi jawaban bermunculan. Entah yang murni atau yang berbau kepentingan. Memupuk nasionalisme atau perbandingan untuk menyerang lawan politik. Soe hok gie mungkin benar, politik itu lumpur yang kotor.

Aku tak peduli, berapa persen kita merdeka. Apalah arti persentase kemerdekaan, toh selama ini yang kita kejar adalah harta yang melimpah. Apalah arti persentase kemerdekaan, bila kita masih termakan isue-isue sara, rasis, intoleransi, atau radikalisme. Kita masih saling curiga. Kita masih saling menebar pengaruh siapa yang "ter" dan "paling". Sementara Amerika sudah menggeser sekian persen kekuatan militernya kesekitar negeri ini.

Dunia ini penuh kemunafikan. Tidak ada perdamaian, dunia ini adalah peperangan. Perdamaian hanya hal naif untuk melemahkan lawan. Diplomasi itu hanya untuk persahabatan, tak berlaku dalam peperangan. Militer kita pernah menjadi urutan papan atas pasca perang dunia dua. Padahal itu baru beberapa tahun selepas proklamasi kemerdekaan. Negara-negara sahabat yang dulu menyokong kemerdekaan kita kini dalam kondisi tegang. Perang dan peradudombaan dialaminya. Palestina yang mengakui negara Indonesia bahkan sebelum 17 Agustus '45. Mesir, Iraq, Suriah, Libanon, dan lainnya. Kini mereka melanjutkan hidup dalam desing peluru, wangi misiu, serta anyirnya darah.

Semoga, soludaritas dengan lama tak akan memudar. Semoga kita tak melupakan budi. Bocah kecil itu sudah tumbuh dewasa. Sudah membuat kalayak internasional berpikir untuk semena-mena. Cinta tanah air dan cinta perdamaian.

21 Agustus

Ada masa-masa dimana kita harus merelakan. Menjadi seserpih yang terbang, lalu... Menghilang. Ada kalanya senyuman hanyalah kenangan. Kau yang datang sendiripun pada akhirnya harus pergi tanpa kawan. Apa ada yang lebih mengkawatirkan selepas semua. Selain tentang jalan panjang nan manusiawi untuk orang-orang yang kita sayangi.

Aku tak memaksamu untuk merasa beruntung, tak pula memaksamu mengenang. Hanya sekedar kalian tahu. Segala sifat manisku tak lah ku buat-buat. Aku benci mereka-reka. Ketika aku menyapamu, bertanya tentang ini dan itu mu. Ada harapan lebih atas kebahagianmu. Dengan ataupun tanpaku.
Embun menghilang untuk berganti hangatnya mentari. Dan berganti embun yang lain esok hari. Begitu seterusnya. Yang hari ini berharga akan menjadi bullshit kalau kita harap abadi. Hargai, nikmati, setiap kasih sayang yang tersiram padamu.

20 Agustus

Selamat sore manis, sedang apa?

Selepas dibalik semua sorak-sorai, hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan ada rasa yang membuat hati ini kecil. Ini lebih buruk dari kesehatanku belakangan ini. Semacam rasa takut kehilangan untuk sesuatu yang tak kumiliki. Hanya sebuah semacam harapan, kasih sayang kuharap terbalas.

Matahari sudah mulai meredup. Lebih terasa hangat, lebih membuatku.... Entahlah. Baik-baik selalu manis. Bolehkah aku merindumu?, semoga

19 Agustus

Sempat aku curiga. Dan ternyata... Benar. Mencintaimu adalah suatu yang menyakitkan. Tapu tak apa, bukankah sudah aku berulang katakan, cinta tanpa rasa sakit itu... Omong kosong. Kosong..

Selamat pagi manis. Jangan lupa mandi, atau setidaknya cuci mukalah. Lalu sarapan.

Entah mengapa, belakangan daya tahan tubuh ini menurun. Sebentar pilek, sebentar lagi meriang. Begitu dan berulang. Bagaimana denganmu?,manis. Jaga kondisi. Cuaca menang banyak akhir-akhir ini. Jangan sampai kalah total.

Semenjak kuputuskan ada satu nama saja di dalam hati ini, aku tak tahu lagi apakah aku masih bisa jatuh cinta lagi. Mungkin Bintang adalah satu-satunya yang mampu membuatku merasakan itu. Merubah cara pandangku pada wanita. Dia wanita yang hebat. Sangat hebat. Walau sekarang untuk bilang "hay" saja tak pernah.  Setelah Bintang, wanita-wanita kupertimbangkan secara rasional. Secara ejaan huruf dan hitungan angka mampu ku jangkau. Well, aku tak bermaksut apapun. Intinya aku akan jatuh cinta pada siapapun, pada seisi alam semesta raya ini. Dan soal wanita, aku tak bertanya tentang cintanya. Tapi lebih pada komitmennya. Sebagai seorang wanita, istri, ibu, menantu, dan juga ipar. Aku tak mau egois hanya memilihmu untukku saja. Lebih-lebih hanya untuk urusan kehangatan semu dimalam gelap yang dingin. Bukan, manis. Walau terdengar naif, tapi apa ada tang tak naif kalau kira bicara masa depan dijaman sekarang.

Biarkan saja semua mengalir seiring waktu. Yang mereka sebut-sebut dengan cinta kelak akan tumbuh dan berbunga saat aku dan kamu saling berdampingan yang sah. Dan hari-hari kita akan lalaui bersama. Bercerita tentang indahnya dunia. Tentang biaya sekolah anak kita yang semakin mahal, kebutuhan pokok dengan harga selangit. Harga bbm yang labil serta para elit politik dan pemerintahan yang mulutnya dikerumuni semut karena tak henti berkata manis. Pokoknya tentang semua, sampai kita tak punya opsi lain selain mencinrai sampai alam keabadian.

Jadi bagaimana dengan kita hari ini?, apa aku harus membuka pembicaraan sebagai laki-laki?, tapu tidak. Yang benar saja, kau terlalu cuek untuk seorang yang merasakan sesuatu yang sama denganku. Cinta tak se jaim itu. Kita harus sama-sama kalau benar merasakan hal yang sama. Tak ada memperjuangkan atau diperjuangkan, tapi berjuang bersama. Intinya itu aja.

Malam 16 Agustus.

Selamat malam kekasih, sedang apa?. Apa kau juga tenggelam diantara sorak sorai perlombaan peringatan kemerdekaan?. Apapun, bahagialah selalu.

Malam ini aku berada ditempat yang entah apa namanya. Kebetulan main ketempat teman dan diajaknya aku ketempat ini. Entah meriah atau tidak. Yang jelas gaduh ramai. Dan kau tahu, diantara hampir 10.000 orang (cuma hampir) hanya dua orang yang ku kenal. Satu temanku tadi. Dan satunya lagi tak tahu siapa namanya. Dulu dia lulusan SMAN setahun lalu. Sekarang dia seorang mahasiswa di universitas negeri di jogjakarta.  Barang kali semestet tiga atau empatlah. Katanya beberapa hari lalu. Kebetulan kami bertemu.

Malam ini tujuh puluh satu tahun lalu mungkin malam yang penuh perundingan. Pasca dihadiahkan "little boy" dan "fatman" dari amerika kepada jepang. Entah apakah peperangan yang fair atau tidak. Tapi itu mengakibatkan jepang menyerah pada sekutu. Dan di Indonesia terjadi kekosongan pemerintahan.

O,ya kekasih. Apakah anak-anak kita kelak akan jauh dari dunia misiu?, entahlah.

15 Agustus

Selamat pagi,manis?,
Apa kabar?, sudah sarapankah?.. Lekaslah.

Dua hari menjelang perayaan hari kemerdekaan. Dimana sepanjang jalan dapat kau jumpai pernak-pernik yang begitu erat hubungannya dengan kemerdekaan. Perayaan, pengenangan, serta beberapa penghargaan menjadi marak. Tujuh puluh satu tahun sudah Indonesia Menegakkan kedaulatannya, terhitung semenjak Agustus 1945.

Seperti biasa, ritual-ritual pembangkit orang-orang mati dilakukan. Mengambil keuntungan dari darah-darah suci yang mengalir puluhan tahun silam. Ada yang mengidentikan bahlan mengimitasikan diri menjadi Bung Karno, Bung Hatta, Sahrir, atau nama-nama besar lainnya. Entah apa yang mengisi otak mereka, tapi tetap saja bagiku, tokoh-tokoh terdahulu tak pernah bereingkarnasi.

Memang, perjuangan tak pernah mudah. Tapi, untuk apa kita berjuang itulah yang akan menjadi dasar dan pemeliharaan sikap. Sampai hari ini semua masih berjuang. Entah apa tujuan dari demokrasi, toh sampai negara-negara maju pun terus berjuang. Apakah demokrasi itu memang tal berujung?, kapan kita akan sampai pada suatu tempat dan waktu yang dimana kita bisa menikmati hidup dengan minum teh hangat?. Dunia yang tak peduli lagi pada perang ataupun rasis. Tak butuh lagi Ideologi. Tak butuh lagi apa-apa dari sistem yang sudah ada dan lampaunya. Tak butuh apa-apa dari sisa monarki, tirani, ataupun demokrasi.

Dunia ini begitu kotor. Penuh dengan isu-isu sampah oleh pemuja uang dan kekuasaan. Mereka seolah menciptakan Agama baru namun tak mau disebut Agama. Tidak ada Agama apapun yang mengajarkan rasis ataupun sara, kecuali penyembah uang dan kekuasaan. Agama - Agama akan hidup berdampingan tanpa adanya hasutan dua agama baru itu.

Tak usah dipungkiri. Misal agama yang saya percayai. Kedua agama baru itu telah menghasutnya besar-besaran. Baik secara langsung mereka "iyakan" atau tidak langsung, kedua agama baru itu disebut-sebut ada dibalik dari segala kegaduhan. Saya yakin, ada golongan-golongan tertentu yang sengaja dibuat untuk melamcarkan penghasutan. Misal, munculnya gerakan dengan pencintraan seperti berlatar Agama yang saya anut. Sebagai Agama besar, yang pernah jaya pada masanya tentu akan sensitif dengan kata-kata "lemah". Dan citra itu yang tengah dibangun pihak-pihak kiri. Dalam sejarah pelajaran formal memang tak pernah dijelaskan rinci tentang negara-negara yang berbasis agama yang saya anut. Baik dikala masa Kenabian ataupun kekilafahan. Sedikit yang tersangkut mungkin hanya tentang konstantinopel yang jatuh ke tangan Turki Usmani, yang mengakibatkan pemboikotan rempah untuk eropa. Saya rasa ada kekawatiran tentang munculnya spirit ideologis yang menyuarakan mengulang lagi masa itu. Tapi, sebagai orang - orang yang mengerti agama seharusnya tidak menakutkan itu. Lihatlah ulama-ulama besar bangsa ini, mereka patuh dan loyal pada demokrasi republik negara ini. Pun demikian kami para rakyat biasa. Kami Muslim, Kami patuh pada Agama dan kami setia pada negara. Diatas kertas, negara ini berkemungkinan menjadi negara dengan basis Islam. Mengingat Mayoritas beragama Islam dan mendominasi jumlah Muslim diseluruh dunia. Tapi saya tahu, Agama saya tak mengajarkan begitu. Kami mematuhinya. Dan negara saya adalah negara yang menjunjung tinggi nilai Agama, dan saya pun setia pada negara saya. Islam datang tidak untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi Bangsa Arab. Tapi untuk mempersaudarakan keduanya, dan bangsa lainnya.

Isu-isu tentang Rasis, Sata, Intoleran, dan Radikalisme serta HAM hanyalah isu - isu sampah yang secara nyata meneror kehidupan kebhinekaan di negeri ini. Isu-isu itu lebih berbahaya dari bom-bom bunuh diri. Karena, ketika isu-isu itu dibiarkan, menjadi opini dan kemudian "dianggap" sebagai fakta, tanpa bom manusia akan mati saling membunuh. Tidak perlu mengejar target menjadi negara maju atau bahkan adidaya. Menjadi negara bermoral tingkat tinggi, kritis dan peduli jauh akan lebih menakutkan. Dimana negara-negara lain segan tanpa memandang kekuatan, dimana negara lain menganggap keputusan dan sikap negeri ini sebagai sebuah kebijaksanaan.

Tapi, entahlah kasih. Semua itu hanya opiniku yang tak berdasar. Hanya semacan uneg-uneg dari dalam hati orang bodoh ini.

Omong kosong

Cinta tak pernah merestui kesetianmu. Karena kesetianmu hanya akan membawamu pada keegoisan. Mengistimewakan satu diantara banyak. Berharap lebih, mengikat orang yang kau sebut kau cintai dengan bermacam aturan yang membuatnya menahan nafas sebentar. Kau melarangnya pergi, sementara seseorang tak mungkin tinggal dengan perasaan terkekang. Diam berpura-pura terima dengan semua. Lalu cinta seperti apa yang merampas kebahagian orang di cintai?. Kau membuat cinta begitu kejam. Apa menurutmu cinta itu sebuah kebutuhan yang harus kau penuhi tanpa berimbal?, kau lebih mementingkan kepuasanmu. Begitukah?.

Cinta itu diam saja. Menerima dan mengerti peran. Jika cinta menurutmu syarat akan kebahagiaan, mungkin ada yang salah dengan persepsi cintamu. Cinta itu penderitaan, cinta itu rasa sakit. Karena cinta itu pengertian yang tak mengharap balas, tapi tahu diri.

Cinta yang kau dapat adalah rasa sakit yang orang lain rasakan, pun kelak seharusnya kau begitu. Karena cinta tanpa pengorbanan, cinta tanpa rasa sakit hanyalah omong kosong. Begitu kosong,... Teramat kosong.

Ibu melahirkan kita bertaruh nyawa. Mengandung kita begitu lama. Membiarkan kecantikannya dibagi dengan tumbuh anaknya.
Bapak bekerja dengan begitu lelah. Dengan serangkaian risiko yang tak jarang mempertaruhkan jiwa dan kehormatannya.
Setidaknya itu awal kau mulai disapa cinta, kau membuat mereka jatuh cinta. Sedang risiko tak cukup enteng. Lalu apa kau yakin memberikan cinta pada seseorang dengan tanpa rasa berkorban ataupun rasa sakit?.
Memangsih, cinta itu tak ber perhitingan, tapi cinta itu tahu diri.

11 Agustus

Selamat pagi manisku, apa kabarmu?, sarapan apa pagi ini?
Pastikan nutrisinya seimbang. Bukan, bukannya aku takut nampak lebih gendut, aku cuma tak mau saja kau sakit.

Sebelas Agustus. Dua puluh sembilan tahun silam, Acub Zaenal mendirikan Arema. Selain klub sepak bola, Arema juga sebagai "lem" ataupun "magnet" yang mempersatukan bumi Malang. Membusung kan dada bangga arek-arek Malang. Meleburkan gengster-gengster Malangan dibawah satu warna, biru. Lihat saja, dari tukang gorengan hingga profesi-profesi elit dengan bangga menggunakan nama AREMA. Walau bukan hal yang mudah bernaung dibawah nama besar Singo Edan. Risiko diseterui pihak-pihak yang bersebrangan. Tapi, menggunakan nama Arema bukanlah siasat pasar belaka, melainkan sebuah identitas. Sebuah keterangan diri yang akan kami bela dengan segenap kemampuan. Dan dewasa ini, Arema menjelma menjadi lebih besar lagi. Menjadi identitas yang tak hanya arek Malang ataupun Jawa Timur saja, melainkan Indonesia bahkan Sepak bola. Aremania tidak kemana-mana, kami ada dimana-mana. Mungkin itu, sedikit sok tahu ku tentang AREMA. Temales Ngalu Nuhat AREMA. Arema for All, Salam Satu Jiwa.

O,ya manis. Terkadang dunia suporter diidentikan dengan hal-hal yang di anggap ke "kiri" atau abu-abu oleh segelintir orang. Tapi, itu hanya orang-orang yang berpikir praktis dan matrealistis saja, bahkan mungkin taktis.

Tapi menurutku tidak, suporter bukanlah fanatisme buta. Melainkan sebuah Miniatur Nasionalisme. Tidak serta merta merta kerusuhan antar suporter dipicu oleh keegoisan kelompok. Tak bisa dipungkiri, profokasi segelintir pihak turut memupuk perseteruan-perseteruan yang kian memburuk. Ognum aparat dan ognum media, misalnya. Ataupun ognum "orang tua" yang dianggap mampu menengahi bahkan menyelesaikan malah melempar opini sesat. Berpihak ataupun menyudutkan. Aku tak yakin, orang-orang sok dewa itu berani berkoar langsung di hadapan puluhan ribu manisia-manusia berloyalitas selangit ini. Dijaman serba bebas ini, segilintir media berani mengangkat berita dari sumber yang tak bisa dipertanggung jawabkan bobot informasinya. Terlebih bila orang-orang politik merbah dunia media dan sepak bola. Politik itu kotor, tapi kita hidup di sekitarnya. Mana mungkin kita tetap putih terjaga di tengah kubangan lumpur. Pemberitaan tanpa ragu menyebut kelompok suporter ini menyerang kelompok suporter itu. Tanpa memintai keterangan resmi dari keduanya. Bisa saja, penyerangan itu dilakukan kelompok diluar kedua kelompok itu, yang menginginkan kedua kelompok semakin memburuk hubungannya. Atau malah bisa saja itu adalah kelompok bayaran agar media meliputnya supaya mengalihkan isu-isu penting yang tengah bergejolak. Entahlah, aku pun tak banyak tahu. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dan bisa saja apa yang kita lihat hari ini dan membenarkannya tak lebih dari kesempurnaan rekayasa prosedur oleh elit-elit mafia. Entahlah, pun ini hanya sekedar opini pribadi. Bukan acuan, bukan sesuatu yang seharusnya tak bisa dikutip sebagai pengisi catatan kaki ataupun didaftar pustakakan.

Yang jelas aku rasa, banyak teman-teman yang menginginkan hal sama seperti yang ku inginkan:

"Stop Kriminalisasi, Penghasutan, Pengadu dombaan, Penekanan, Perampasan hak, dan Pencitraan buruk sepihak Suporter Indonesia. Kami bukan Penjahat atau Teroris, kami hanya besar dalam lingkungan Loyalis, atraktis, sportif. Bendera kami masih Merah Putih, Lagu kami masih Indonesia Raya, dan Ideologi kami pun masih Pancasila. Jadi berhentilah memandang kami sebagai Kriminal, antisosial, ataupun subversi. Jaya dan majulah Supoerter Indonesia",

Benk_wd

Semerbak mewangi di bumi pertiwi,
biru menyatu dalam Lazuardi,
Tanpa henti,
genderang berdentang,
Lantang menyanyi,..

"Dibawah bendera Singo Edan,..
Ayo maju... Ayo maju.. Ayo maju.."

Majulah terus tanpa henti,
Tak terhenti,
Merajai,
Satukanlah kami dalam namamu,
Birukanlah kami dalam kibar benderamu,
Menang atau kalah kau tetap Aremaku.
Bersamamu, kita birukan semesta.

Berdiri kokoh membelamu,
Menebar semangat teriakan namamu,
Terik hujan tak akan menganggu,
Ayo maju, ayo maju Aremaku.

Salam sapa dari Malang dan Indonesia,
Untukmu kebanggaan bangsa,
Tunjukan prestasimu pada dunia,
Bersamamu kita birukan semesta,

Busungkan dada kami wahai sang singa,
Kobarkan semangat kami wahai sang raja,
Tanpa henti membakar jiwa,
Bersamamu kita birukan Semesta,
Singo Edan Selamanya..

10 Agustus

Hay manis, apa kabar?,

Sepertiga awal bulan Agustus. Lebih tepatnya tanggal sepuluh. Satu hari menjelang perayaan ulang tahun Arema Malang. Mungkin hari ini tak banyak kau tahu tentang klub bola satu ini. Tapi aku yakin, kelak ia akan memenuhi pendengaran dan pengelihatanmu. Aku tak akan menghalangi, jikalau darah biru itu mengalir dalam diri anak kita. Tak apa, fanatisme suporter akan menyusun sebagian jiwanya bersama kecerdasan warisan ibunya, warisanmu. Tapi itu entah kapan, apakah kelak anak-anak kita masih hidup pada masa dimana sepak bola menjadi nafas bagi masyarakat nasionalis. Entahlah, yang jelas kita akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Aku janji itu.

Yang pasti, semakin hari kehidupan tak akan semakin mudah. Ekonomi, sosial, moral, dan kestabilitasan keamanan dan perdamain dunia tak mudah diprediksi. Aku tak tahu, apakah kelak saat si kecil tumbuh pasukan elit Negeri kita masih berada pada urutan teratas dunia ini?. Yang jelas, dia berhak tahu tentang dunia. Sekalipun aku tak akan menjadikannya sebagai ahli perang ataupun sekjen PBB. Ceritakan padanya tentang Israel-Palestine, tentang Iraq, atau negara-negara perang lainnya. Biar pikirannya bebas. Biar dia sendiri kelak yang memilih mau jadi apa.

Mungkin, bila perlu ceritakan tentang rekayasa militan-militan Islam. Sebuah kelompok yang tak tahu menahu tentang Islam lalu diajari takbir dan sholat lalu digiring mengacaukan dunia. Memang kadang dunia internasional itu lucu.

Rekayasa elit militer yang berkepentingan hanya akan menjadi tertawaan para ulama yang geram. Kebodohan dalam rekayasanya adalah dengan menggunakan nama Islamic State ... ..., dan meletakkan bonekanya dengan nama arab. Tak memperhatikan detail lagi namanya. Mungkin mereka seharusnya menjadilan Muhammad bin Abdullah agar lebih meyakinkan dunia jika itu memang ulah Muslims. Tapi, mereka tak tahu tentang apa-apa dalam Islam.

Entahlah manis,

06 Agustus 2016

Selamat pagi, manisku.
Sudah mandikah?. lekaslah, setidak-tidaknya cuci muka dan gosok gigi.

Secangkir kopi telah membasuh habis dinding-dinding, dari mulut, kerongkongan, usus hingga bagian penyulingan lainnya. Entah bagaimana prosesnya, hingga berujung pada suatu kran yang kembali bening dengan kandungan amoniak yang lumayan.

Lupakan saja soal kran dan cairan amoniak itu, manis. Aku tak bermaksut membahasnya sepagi ini.

Tak terasa, sudah akhir pekan lagi. Berada pada sabtu pagi pertama bulan ini, berjemur sembari menunggu, barangkali ada orang yang membutuhkan jasaku.  ya, sementara masih teramat santai. Sebulan setengah bulan berjalan jari ini masih cukup menghitung pengunjung di setiap harinya. Alhamdulillah. Masih cukup, untukku saja. Tenang saja, manis, entah bagaimana caranya, tak mungkinlah kubiarkan kau kelaparan, kepanasan, ataupun kehujanan. Kita akan membesarkan anak-anak kita dengan cukup. Membelikannya susu, mengantarkannya bersekolah, atau menemaninya main ke rumah kakung dan utinya di akhir pekan.

05 Agustus 2016

Bersama aroma segalas kopi yang kuseduh bersama bayang wajahmu, aku jawab salam matahari di jumat pagi ini. Siapa yang bangun lebih awal hari ini, manis?. Apa kau yakin?. Ya, baiklah. Tak apa, kau memang selalu lebih dariku. Padahal aku tadi, aku mendengar adzan subuh yang tak cengkok dari balik jauh rolling dor. Lurus. Lalu aku tak ingat apa lagi,heeheee. Tapi setidaknya aku sudah mandi dan pakai diodorant sejak jam enam pagi tadi.

Dari sedikit alasan kenapa asap ini menemani pagiku..?, emm.. Aku mungkin mencoba menafkahi pepohonan disekitar,haahaa. Ya, kurasa mereka butuh karbon dioksida untuk memproduksi oksigen. Begitu setahuku. Tapi, yang kutangkap dari persepsi orang karbon dioksida sudah selayaknya sampah. Dianggap penyakit,merusak kesehatan. Bukankah kau juga rasakan itu?,manisku. Sudah biasa, kau sudah melewati dua dekade di bumi ini, di negeri ini. Bukankah kau juga sudah hafal, yang memberi langsung akan didewakan, dipuja. Entah apa niatnya memberi, yang jelas mereka lebih mulia dibanding orang-orang yang memberi diam-diam karena takut sombong atau riak. Mereka memberi dengan diam-diam, mencoba mengelabuhi Tuhannya,bahkan. Mungkin Tuhan pun tersenyum. Dan Tuhan adalah sang Maha Sempurna Pemberi Nilai. Tak ada yang lebih naif dari bicara tentang kebaikan di tengah dunia yang munafik.

Jangan layu manisku, tetaplah menjadi dirimu. Selamat pagi, jadilah jumatmu berkesan. Have a nice day..

Sore empat agustus

Selamat sore, manis, sudah mandikah dirimu?.

Terkadang, orang yang kita sayangi hanyalah beban. Rasa mual yang enggan dimuntahkan. Bukannya soal menghidupi, yang terberat adalah soal menjelaskan. Membuat mereka menjadi paham. Dan kau tahu manis, orang-orang dengan "rasa akunya" yang selangit tak akan mudah paham. Sekalipun kau korbankan nyawa agar sesudahnya kau berharap mereka akan berfikir. Tak akan. Yang ada kita hanya akan jadi orang mati yang mereka bilang "bodoh".

Beginilah, manisku. Cinta kasih sayang itu tak melulu kebahagiaan. Bagiku, itu hanyalah penderitaan. Berkorban untuk mereka yang tak pernah mengerti arti sebuah pengorbanan.

Terkadang, aku ingin sekali bertanya. Apakah mereka melihat Alloh dalam sholatnya. Hingga mereka yakin sekali bahwa telah berada di jalan yang benar. Menyalahkan, menjatuhkan, mengecilkan, mungkin itu lah buah dari iman kebiasaan, bukan iman pemikiran ataupun pemahaman. Tuhan tak cukup untul dilogika, tapi segala ajaranya cukup masuk akal. Aku benci orang sholat, yang meyakini sholatnya akan cukup membawanya ke surga. Toh, tujuan hidup manusia itu kembali ke Tuhan, bukannya surga. Soal surga dan neraka?, ahh.. Tak usahlah kita terlalu mendikte yang kuasa.

4 Agustus 2016

Beranjak pada hari ke-4 bulan Agustus. Sudahkah kau makan siang di sesiang ini, manis?. Lekaslah. Makan dirumah saja, diluar jalanan begitu terik dan berdebu.

Dulu, dulu sekali. Aku habis jam-jam seperti ini di serambi masjid. Atau diteras kelas tepat disamping saluran air. Menatap ke awan biru, atau parkiran motor yang sesak berdesakan. Sedang dalam hati penuh harap, semoga guru mapel dua jam berikutnya tak akan hadir. Apalah yang lebih indah dari sekolah kalau tidak wanita dan jam kosong?, bukankah kau pun sadari itu, manisku?.

Para guru tak lelah melemparkan angan-angan hingga ke langit-langit. Tapi sayang, aku terlanjur patah hati dengan pendidikan. Bapakku pun lulusan SMEA di jauh-jauh hari sangat jauh. Mungkin, waktu itu sarjana bisa serasa duduk dengan sultan, berbincang dengan kaki "jigang". Tapi tetap saja, lulusan SMEA yang bisa saja menjadikan beliau berada di pabrik2 terkemuka kala itu tak memberinya kehidupan.
"sudahlah pak, bu, tak usahlah kau gadang-gadang aku jadi sarjana. Itu bukan hal yang menarik", ucapku dalam hatiku kalau beliau mengucap kata sarjana, universitas dan falkutas. Untuk apa sekolah tinggi kalau hanya memproduksi orang-orang yang tak menarik. Orang yang ingin selalu dihormati. Orang yang tak mau kita panggil "suu", seperti aku panggil anak kepala desa yang temanku itu. Emmm.. Entahlah mana yang lebib tinggi, guru atau kepala desa?. Lupakan saja.

Jadi bila memang kamu akan bersekolah, bersekolalah. Tak usah setinggi-tingginya, tapi secerdas-cerdasnya. Jadi kelak kalau kau sudah lulus tak usahlah kau sibuk mengulang pertanyaan yang sama, " Permisi, ada lowongan?". Kelak setelah kau lulus jadilah bos besar. Yang bermanfaat bagi banyak orang. Menciptakan lapangan pekerjaan dan menanamkan pola pemikiran tentang pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan untuk menjadikan sumber sumber daya manusia yang unggul bukanmya kuli atau buruh yang unggul. Buat mereka berhenti bercita-cita melacur pada keadaan dan uang.

Maju terus manisku, jadilah yang lain. Bukan sekedar  sampah berwarna kuning emas. Sebab sanjungan saja tak akan membuat kita kenyang. Bugankah begitu, manis?.

Sedia payung sebelum... *hujan/mendung/pipis.

Satu Agustus 2016,

Apa kabarmu, manis?

Gerimis yang tadi pagi itu mula kukira hanya embun di dedaunan yang tertiup angin. Entah sejak kapan Lazuardi mengandung partikel-partikel yang membuat basah itu. Walaupun orang-orang sedia payung sebelum hujan sekalipun pasti tak mengira, dan mereka pipis di pekarangan tanpa membawa payungnya. Kau tahu, ternyata air hujan yang katanya haram menyentuh mereka, pagi ini membuat mereka cuci muka. Mungkin lusa harus mengganti kata hujan dengan mendung ataupun pipis. "sedia payung sebelum mendung/ (pipis). Itu lebih relevan. Ya relevan bahwa hidup mereka ribet. Kalau aku di beri kewenangan mengganti semboyan mereka, aku akanenggantinya kalimat : "air hujan tak akan membuatmu mati". Bagai mana menurutmu, manis?.

Yang namanya masalah ibarat cat yang mewarnai kanvas nyata yang disebut kehidupan. Dengan tak terhingga kemungkinan dan opsi. Bagaimana saja, kapan saja, dan dimana saja. Satu hal yang perlu kau sambut bukanlah aku, tapi masalah. Karena kurasa, hati mu lebih penuh kata "masalah" ketimbang namaku. Iyakan manis?, ya, satu titik aman yang membuat lega adalah rakdir tak menulis jika manusia bisa hamil oleh kata masalah.

Menghadapi dan menyelesaikan masalah adalah cara terbaik. Tak mudah memang. Menyelesaikan masalah ibarat duduk di meja judi bersama bandar. Ada bertaruhan, baik berupa materi ataupun gengsi.

Ow,ya manis. Satu hal lagi yang ikin katakan padamu. Mungkin jas hujan akan lebih mengisolasi air hujan dari kulitmu itu. Udah, itu saja.heehee
Selamat siang, manisku. Jangan lupa makan.