Selamat pagi,manis?,
Apa kabar?, sudah sarapankah?.. Lekaslah.
Dua hari menjelang perayaan hari kemerdekaan. Dimana sepanjang jalan dapat kau jumpai pernak-pernik yang begitu erat hubungannya dengan kemerdekaan. Perayaan, pengenangan, serta beberapa penghargaan menjadi marak. Tujuh puluh satu tahun sudah Indonesia Menegakkan kedaulatannya, terhitung semenjak Agustus 1945.
Seperti biasa, ritual-ritual pembangkit orang-orang mati dilakukan. Mengambil keuntungan dari darah-darah suci yang mengalir puluhan tahun silam. Ada yang mengidentikan bahlan mengimitasikan diri menjadi Bung Karno, Bung Hatta, Sahrir, atau nama-nama besar lainnya. Entah apa yang mengisi otak mereka, tapi tetap saja bagiku, tokoh-tokoh terdahulu tak pernah bereingkarnasi.
Memang, perjuangan tak pernah mudah. Tapi, untuk apa kita berjuang itulah yang akan menjadi dasar dan pemeliharaan sikap. Sampai hari ini semua masih berjuang. Entah apa tujuan dari demokrasi, toh sampai negara-negara maju pun terus berjuang. Apakah demokrasi itu memang tal berujung?, kapan kita akan sampai pada suatu tempat dan waktu yang dimana kita bisa menikmati hidup dengan minum teh hangat?. Dunia yang tak peduli lagi pada perang ataupun rasis. Tak butuh lagi Ideologi. Tak butuh lagi apa-apa dari sistem yang sudah ada dan lampaunya. Tak butuh apa-apa dari sisa monarki, tirani, ataupun demokrasi.
Dunia ini begitu kotor. Penuh dengan isu-isu sampah oleh pemuja uang dan kekuasaan. Mereka seolah menciptakan Agama baru namun tak mau disebut Agama. Tidak ada Agama apapun yang mengajarkan rasis ataupun sara, kecuali penyembah uang dan kekuasaan. Agama - Agama akan hidup berdampingan tanpa adanya hasutan dua agama baru itu.
Tak usah dipungkiri. Misal agama yang saya percayai. Kedua agama baru itu telah menghasutnya besar-besaran. Baik secara langsung mereka "iyakan" atau tidak langsung, kedua agama baru itu disebut-sebut ada dibalik dari segala kegaduhan. Saya yakin, ada golongan-golongan tertentu yang sengaja dibuat untuk melamcarkan penghasutan. Misal, munculnya gerakan dengan pencintraan seperti berlatar Agama yang saya anut. Sebagai Agama besar, yang pernah jaya pada masanya tentu akan sensitif dengan kata-kata "lemah". Dan citra itu yang tengah dibangun pihak-pihak kiri. Dalam sejarah pelajaran formal memang tak pernah dijelaskan rinci tentang negara-negara yang berbasis agama yang saya anut. Baik dikala masa Kenabian ataupun kekilafahan. Sedikit yang tersangkut mungkin hanya tentang konstantinopel yang jatuh ke tangan Turki Usmani, yang mengakibatkan pemboikotan rempah untuk eropa. Saya rasa ada kekawatiran tentang munculnya spirit ideologis yang menyuarakan mengulang lagi masa itu. Tapi, sebagai orang - orang yang mengerti agama seharusnya tidak menakutkan itu. Lihatlah ulama-ulama besar bangsa ini, mereka patuh dan loyal pada demokrasi republik negara ini. Pun demikian kami para rakyat biasa. Kami Muslim, Kami patuh pada Agama dan kami setia pada negara. Diatas kertas, negara ini berkemungkinan menjadi negara dengan basis Islam. Mengingat Mayoritas beragama Islam dan mendominasi jumlah Muslim diseluruh dunia. Tapi saya tahu, Agama saya tak mengajarkan begitu. Kami mematuhinya. Dan negara saya adalah negara yang menjunjung tinggi nilai Agama, dan saya pun setia pada negara saya. Islam datang tidak untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi Bangsa Arab. Tapi untuk mempersaudarakan keduanya, dan bangsa lainnya.
Isu-isu tentang Rasis, Sata, Intoleran, dan Radikalisme serta HAM hanyalah isu - isu sampah yang secara nyata meneror kehidupan kebhinekaan di negeri ini. Isu-isu itu lebih berbahaya dari bom-bom bunuh diri. Karena, ketika isu-isu itu dibiarkan, menjadi opini dan kemudian "dianggap" sebagai fakta, tanpa bom manusia akan mati saling membunuh. Tidak perlu mengejar target menjadi negara maju atau bahkan adidaya. Menjadi negara bermoral tingkat tinggi, kritis dan peduli jauh akan lebih menakutkan. Dimana negara-negara lain segan tanpa memandang kekuatan, dimana negara lain menganggap keputusan dan sikap negeri ini sebagai sebuah kebijaksanaan.
Tapi, entahlah kasih. Semua itu hanya opiniku yang tak berdasar. Hanya semacan uneg-uneg dari dalam hati orang bodoh ini.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 15 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar