Selamat pagi, manis...
Apa kabar?, sibuk apa kau pagi ini?. Maukah kau luangkan waktu, sebentar saja. Dengarkan kerapuhan ku yang merasa dipecundangi.
Aku tak pernah membaca pasar usaha. Itu yang kurasakan. Tapi, aku juga takut pada resiko. Jadi kuambil semua itu dari diriku. Dan,... Ya, itu aku.
Entah apa yang membuatku mengambil ini, yang sebenarnya aku ragukan. Statusku pun tak jelas. Aggghhhh... Ada beberapa maksut yang tak bisa aku jelaskan dengan kata.
Beliau adalah orang yang tak senang dengan apa yang aku dapatkan. Aku dipaksanya tunduk dibawahnya. Menjatuhkan orang lain untuk naik itu biasa baginya. Merasa yang "paling" dan "ter" itulah yang kupahami darinya. Sebenarnya pemahamannya nol besar. Menghafal dan mengulangi itu-itu saja, membuatnya nampak hebat. Tapi bagiku, hanya orang-orang menengah kebawah IQnya yang mengaguminya. Dan kau tahu,manis?. Setiap kali aku berkorban dianggapnya aku terima dan kalah. Tak akan dipahaminya arti sebuah pengorbanan. Jika saja hukum memberikan hak setiap orang untuk menembak satu orang saja, kurasa kaupun tahu, perluruku ini akan menghadap kepala siapa.
Aku merasa dikerdilkan. Ibarat benih, aku dipaksa tumbuh diatas keramik. Tempak yang nampak elok. Tapi tetap saja, tak ada air dan tak ada tempat untuk akar-akar ini aku berpegangan.
"Dasar Bodoh, sudah diberi tempat yang bagus tapi tak mampu tumbuh. Dasar sampah", mungkin itu yang akan ku dengar.
Sekarang aku harus bisa hidup dalam kemungkinan yang kecil sekalipun. Dosa memang Tuhan yang mengampuni, tapi sakit hati butuh waktu yang lama untuk sekedar pulih. Pun sudah dilepasnya maaf di jauh-jauh hari, tapi butuh proses dan pengorbanan untuk memulihkan hati.
Filed Under : by tri widhiono
Sabtu, 27 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar