Beranjak pada hari ke-4 bulan Agustus. Sudahkah kau makan siang di sesiang ini, manis?. Lekaslah. Makan dirumah saja, diluar jalanan begitu terik dan berdebu.
Dulu, dulu sekali. Aku habis jam-jam seperti ini di serambi masjid. Atau diteras kelas tepat disamping saluran air. Menatap ke awan biru, atau parkiran motor yang sesak berdesakan. Sedang dalam hati penuh harap, semoga guru mapel dua jam berikutnya tak akan hadir. Apalah yang lebih indah dari sekolah kalau tidak wanita dan jam kosong?, bukankah kau pun sadari itu, manisku?.
Para guru tak lelah melemparkan angan-angan hingga ke langit-langit. Tapi sayang, aku terlanjur patah hati dengan pendidikan. Bapakku pun lulusan SMEA di jauh-jauh hari sangat jauh. Mungkin, waktu itu sarjana bisa serasa duduk dengan sultan, berbincang dengan kaki "jigang". Tapi tetap saja, lulusan SMEA yang bisa saja menjadikan beliau berada di pabrik2 terkemuka kala itu tak memberinya kehidupan.
"sudahlah pak, bu, tak usahlah kau gadang-gadang aku jadi sarjana. Itu bukan hal yang menarik", ucapku dalam hatiku kalau beliau mengucap kata sarjana, universitas dan falkutas. Untuk apa sekolah tinggi kalau hanya memproduksi orang-orang yang tak menarik. Orang yang ingin selalu dihormati. Orang yang tak mau kita panggil "suu", seperti aku panggil anak kepala desa yang temanku itu. Emmm.. Entahlah mana yang lebib tinggi, guru atau kepala desa?. Lupakan saja.
Jadi bila memang kamu akan bersekolah, bersekolalah. Tak usah setinggi-tingginya, tapi secerdas-cerdasnya. Jadi kelak kalau kau sudah lulus tak usahlah kau sibuk mengulang pertanyaan yang sama, " Permisi, ada lowongan?". Kelak setelah kau lulus jadilah bos besar. Yang bermanfaat bagi banyak orang. Menciptakan lapangan pekerjaan dan menanamkan pola pemikiran tentang pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan untuk menjadikan sumber sumber daya manusia yang unggul bukanmya kuli atau buruh yang unggul. Buat mereka berhenti bercita-cita melacur pada keadaan dan uang.
Maju terus manisku, jadilah yang lain. Bukan sekedar sampah berwarna kuning emas. Sebab sanjungan saja tak akan membuat kita kenyang. Bugankah begitu, manis?.
Filed Under : by tri widhiono
Kamis, 04 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar