Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

11 Agustus

Selamat pagi manisku, apa kabarmu?, sarapan apa pagi ini?
Pastikan nutrisinya seimbang. Bukan, bukannya aku takut nampak lebih gendut, aku cuma tak mau saja kau sakit.

Sebelas Agustus. Dua puluh sembilan tahun silam, Acub Zaenal mendirikan Arema. Selain klub sepak bola, Arema juga sebagai "lem" ataupun "magnet" yang mempersatukan bumi Malang. Membusung kan dada bangga arek-arek Malang. Meleburkan gengster-gengster Malangan dibawah satu warna, biru. Lihat saja, dari tukang gorengan hingga profesi-profesi elit dengan bangga menggunakan nama AREMA. Walau bukan hal yang mudah bernaung dibawah nama besar Singo Edan. Risiko diseterui pihak-pihak yang bersebrangan. Tapi, menggunakan nama Arema bukanlah siasat pasar belaka, melainkan sebuah identitas. Sebuah keterangan diri yang akan kami bela dengan segenap kemampuan. Dan dewasa ini, Arema menjelma menjadi lebih besar lagi. Menjadi identitas yang tak hanya arek Malang ataupun Jawa Timur saja, melainkan Indonesia bahkan Sepak bola. Aremania tidak kemana-mana, kami ada dimana-mana. Mungkin itu, sedikit sok tahu ku tentang AREMA. Temales Ngalu Nuhat AREMA. Arema for All, Salam Satu Jiwa.

O,ya manis. Terkadang dunia suporter diidentikan dengan hal-hal yang di anggap ke "kiri" atau abu-abu oleh segelintir orang. Tapi, itu hanya orang-orang yang berpikir praktis dan matrealistis saja, bahkan mungkin taktis.

Tapi menurutku tidak, suporter bukanlah fanatisme buta. Melainkan sebuah Miniatur Nasionalisme. Tidak serta merta merta kerusuhan antar suporter dipicu oleh keegoisan kelompok. Tak bisa dipungkiri, profokasi segelintir pihak turut memupuk perseteruan-perseteruan yang kian memburuk. Ognum aparat dan ognum media, misalnya. Ataupun ognum "orang tua" yang dianggap mampu menengahi bahkan menyelesaikan malah melempar opini sesat. Berpihak ataupun menyudutkan. Aku tak yakin, orang-orang sok dewa itu berani berkoar langsung di hadapan puluhan ribu manisia-manusia berloyalitas selangit ini. Dijaman serba bebas ini, segilintir media berani mengangkat berita dari sumber yang tak bisa dipertanggung jawabkan bobot informasinya. Terlebih bila orang-orang politik merbah dunia media dan sepak bola. Politik itu kotor, tapi kita hidup di sekitarnya. Mana mungkin kita tetap putih terjaga di tengah kubangan lumpur. Pemberitaan tanpa ragu menyebut kelompok suporter ini menyerang kelompok suporter itu. Tanpa memintai keterangan resmi dari keduanya. Bisa saja, penyerangan itu dilakukan kelompok diluar kedua kelompok itu, yang menginginkan kedua kelompok semakin memburuk hubungannya. Atau malah bisa saja itu adalah kelompok bayaran agar media meliputnya supaya mengalihkan isu-isu penting yang tengah bergejolak. Entahlah, aku pun tak banyak tahu. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dan bisa saja apa yang kita lihat hari ini dan membenarkannya tak lebih dari kesempurnaan rekayasa prosedur oleh elit-elit mafia. Entahlah, pun ini hanya sekedar opini pribadi. Bukan acuan, bukan sesuatu yang seharusnya tak bisa dikutip sebagai pengisi catatan kaki ataupun didaftar pustakakan.

Yang jelas aku rasa, banyak teman-teman yang menginginkan hal sama seperti yang ku inginkan:

"Stop Kriminalisasi, Penghasutan, Pengadu dombaan, Penekanan, Perampasan hak, dan Pencitraan buruk sepihak Suporter Indonesia. Kami bukan Penjahat atau Teroris, kami hanya besar dalam lingkungan Loyalis, atraktis, sportif. Bendera kami masih Merah Putih, Lagu kami masih Indonesia Raya, dan Ideologi kami pun masih Pancasila. Jadi berhentilah memandang kami sebagai Kriminal, antisosial, ataupun subversi. Jaya dan majulah Supoerter Indonesia",

Benk_wd

0 komentar:

Posting Komentar