Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

05 Agustus 2016

Bersama aroma segalas kopi yang kuseduh bersama bayang wajahmu, aku jawab salam matahari di jumat pagi ini. Siapa yang bangun lebih awal hari ini, manis?. Apa kau yakin?. Ya, baiklah. Tak apa, kau memang selalu lebih dariku. Padahal aku tadi, aku mendengar adzan subuh yang tak cengkok dari balik jauh rolling dor. Lurus. Lalu aku tak ingat apa lagi,heeheee. Tapi setidaknya aku sudah mandi dan pakai diodorant sejak jam enam pagi tadi.

Dari sedikit alasan kenapa asap ini menemani pagiku..?, emm.. Aku mungkin mencoba menafkahi pepohonan disekitar,haahaa. Ya, kurasa mereka butuh karbon dioksida untuk memproduksi oksigen. Begitu setahuku. Tapi, yang kutangkap dari persepsi orang karbon dioksida sudah selayaknya sampah. Dianggap penyakit,merusak kesehatan. Bukankah kau juga rasakan itu?,manisku. Sudah biasa, kau sudah melewati dua dekade di bumi ini, di negeri ini. Bukankah kau juga sudah hafal, yang memberi langsung akan didewakan, dipuja. Entah apa niatnya memberi, yang jelas mereka lebih mulia dibanding orang-orang yang memberi diam-diam karena takut sombong atau riak. Mereka memberi dengan diam-diam, mencoba mengelabuhi Tuhannya,bahkan. Mungkin Tuhan pun tersenyum. Dan Tuhan adalah sang Maha Sempurna Pemberi Nilai. Tak ada yang lebih naif dari bicara tentang kebaikan di tengah dunia yang munafik.

Jangan layu manisku, tetaplah menjadi dirimu. Selamat pagi, jadilah jumatmu berkesan. Have a nice day..

0 komentar:

Posting Komentar