Sempat aku curiga. Dan ternyata... Benar. Mencintaimu adalah suatu yang menyakitkan. Tapu tak apa, bukankah sudah aku berulang katakan, cinta tanpa rasa sakit itu... Omong kosong. Kosong..
Selamat pagi manis. Jangan lupa mandi, atau setidaknya cuci mukalah. Lalu sarapan.
Entah mengapa, belakangan daya tahan tubuh ini menurun. Sebentar pilek, sebentar lagi meriang. Begitu dan berulang. Bagaimana denganmu?,manis. Jaga kondisi. Cuaca menang banyak akhir-akhir ini. Jangan sampai kalah total.
Semenjak kuputuskan ada satu nama saja di dalam hati ini, aku tak tahu lagi apakah aku masih bisa jatuh cinta lagi. Mungkin Bintang adalah satu-satunya yang mampu membuatku merasakan itu. Merubah cara pandangku pada wanita. Dia wanita yang hebat. Sangat hebat. Walau sekarang untuk bilang "hay" saja tak pernah. Setelah Bintang, wanita-wanita kupertimbangkan secara rasional. Secara ejaan huruf dan hitungan angka mampu ku jangkau. Well, aku tak bermaksut apapun. Intinya aku akan jatuh cinta pada siapapun, pada seisi alam semesta raya ini. Dan soal wanita, aku tak bertanya tentang cintanya. Tapi lebih pada komitmennya. Sebagai seorang wanita, istri, ibu, menantu, dan juga ipar. Aku tak mau egois hanya memilihmu untukku saja. Lebih-lebih hanya untuk urusan kehangatan semu dimalam gelap yang dingin. Bukan, manis. Walau terdengar naif, tapi apa ada tang tak naif kalau kira bicara masa depan dijaman sekarang.
Biarkan saja semua mengalir seiring waktu. Yang mereka sebut-sebut dengan cinta kelak akan tumbuh dan berbunga saat aku dan kamu saling berdampingan yang sah. Dan hari-hari kita akan lalaui bersama. Bercerita tentang indahnya dunia. Tentang biaya sekolah anak kita yang semakin mahal, kebutuhan pokok dengan harga selangit. Harga bbm yang labil serta para elit politik dan pemerintahan yang mulutnya dikerumuni semut karena tak henti berkata manis. Pokoknya tentang semua, sampai kita tak punya opsi lain selain mencinrai sampai alam keabadian.
Jadi bagaimana dengan kita hari ini?, apa aku harus membuka pembicaraan sebagai laki-laki?, tapu tidak. Yang benar saja, kau terlalu cuek untuk seorang yang merasakan sesuatu yang sama denganku. Cinta tak se jaim itu. Kita harus sama-sama kalau benar merasakan hal yang sama. Tak ada memperjuangkan atau diperjuangkan, tapi berjuang bersama. Intinya itu aja.
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 19 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar