Lalu apa. Kekasih..
sampai pada waktunya kau pun tak yakin untuk turut bersamaku mengasingkan diri. Kekasih, aku muak dengan semuanya. Semuanya... Aku ingin sekali pergi jauh, jauh sekali. Barangkali sampai satelit NASA tak akan pernah menemukanku. Pada suatu tempat yang jauh dari segala hingar-bingar dunia yang berpesta. Dentuman bom, desing peluru, atau suara lantang perdebatan. Aku tak suka musik itu.
Aku impikan dunia yang tanpa misiu. Dan kita sibuk Mengajari anak-anak kita kelak dengan berkebun dan berternak. Mengajari mereka makan apa yang mereka miliki. Bukan tipu-tipu atau mencuri baik-baik. Aku ingin sekali pergi kesana, ketanah pengasingan, ke dunia yang polos. Dunia tanpa diplomat ataupun delegasi. Tanpa bersekutuan, rivalitas dan perang. Yang benar-benar polos. Yang nampak naif bila perlu.
Entah siapa yang salah. Kita yang lahir pada jaman yang salah. Atau kita yang tak bisa menjaga keseimbangan. Harga kebutuhan pokok mahal, kesehatan, pendidikan bahkan tarif wc umum pun sudah berskala ribuan rupiah. Yang sedang hangat, rumor rokok yang katanya akan diatas angka lima puluh ribu rupiah bulan depan. Entah apa maksutnya, ingin menciptakan negeri sehat tanpa rokok, atau ada masalah antara elit pemerintahan dengan bos-bos rokok. Atau karena pabrik rokok mencukur besar-besaran karyawannya karena efisiensi penggunaan mesin produksi rokok. Atau tembakau yang didatangkan dari luar negeri dalam jumlah besar dengan harga yang murah. Atau... Atau.. Dan atau... Entahlah. Orang kecil hanya bisa menerka- nerka. Penuh tanda tanya, argumen dan kata-kata "mungkin" dan "atau". Yang semuanya hanya kira-kira saja.
Harga yang kita bilang mahalpun bisa saja begitu murah menurut "mereka". Entah memang kenyataannya semua mahal atau kita yang gagal menaikan taraf hidup?. Lagi-lagi... "Entahlah".
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 24 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar