Ini sudah menjelang sepertiga bulan nopember tahun ini. Ladang-ladang tadah hujan di pinggiran barat kota pacitan juga sudah mulai ditaburkan bibit-biibit poliwijo. Anak-anak sekolah mulai menambahkan jas hujan diantara buku-bukunya. Selamat menjelang penghujun tahun, selamat datang langit penghujan. Kami rindukan mendung dan gilat petir yang membuat tangan dan telinga kami menjadi dekat.
Ini sudah menjelang pukul sebelas malam waktu bagian kota baturetno. Di seberang gedung sekolah yang telah mengajariku banyak hal,dulu. Sekarang biarkan generasi ke-31 yang mengisi ruang-ruang disela pr dan tugas yang menyibukkan. Biar putri dan kawan-kawannya yang kini melukis dinding-dinding sekolah itu.
Tapi, entah mengapa, malam ini aku ingin berjalan-jalan kembali ke masa itu. Walau tak pernah ada dalam inginku kembali ke tahun-tahun itu. Malam ini hanya ingin semacam membuka-buka buku kenangan. Yah, mungkin begitu.
Tahun-tahun itu adalah masa yang andil besar dalam mengukir karakterku. Di bawah bendera laskar-laskar yang berkibar.
Entah kemana semua yang dulu sempat berbaris dalam satu barisan yang pelangi. Rohis, Pencinta Alam, Osis, dan laskar-laskar kelas yang hebat. Mungkin mimpi itu datang dari segala arah, begitupun peluang dan akhirnya kami pergi. Hingga membuat kami tersebar terpisah dalam andaian yang berbeda. Masih jelas ku ingat suara ombak malam itu. Di tepian pantai Srahu yang tajam menghujam. Kala itu hujan rintik-rintik. Sesekali menderas. Sesekuat angin berhembus memaksa kami berteduh di bawah bivak-bivak alam.sebuah awal cerita kami mencari pengakuan keanggotaan dengan badge berbentuk cakra. Dan dari situlah, kami tulis cerita dan melukis kenangan di dinding-dinding alam. Tanyakan pada ombak di srahu, pasir putih pantai nampu, tebing gunung gandul, dan dinginnya girimanik. Kami pernah disana.
Masih teringat jelas, anak-anak rohis. Yang belajar manafsirkan kitab dan ajaran agama. Yang disana juga terkenang lelucon anak muda di serambi masjid sekolah. Merancang perayaan hari besar, dan kegiatan-kegiatan keagamaan sekolah waktu itu. Keluar masuk ruang pejabat sekolah mengejar tanda tangan orang- orang punya wewenang ijin kegiatan dan dana. Pulang menjelang petang, menapak jelas empat sahabat dari sisi selatan pulau ini. Aji, Alifi, Dhimas dan aku.
Osis, entah kebanggaan atau beban disana. Dituntut disiplin dengan serentetan prosedur yang tak semuanya menyenangkan. Tapi, berangkat subuh, bentak-bentak junior, perayaan HUT Sekokah tiga hari tiga malan, dan terakir tour bersana yang dilanjut buka puasa bersana terakir kalinya adalah rangkaian cerita yang akan aku kenang selama hidupku.
Aku tak pernah tahu alasan pasti, kenapa dulu memilih jurusan Ilmu Alam. Selepas dipenhujung kelas sepuluh tujuh yang rock n roll, yang Meneruskan kutukan generasi sebelumnya, sebagai kelas yang "wow" dikalangan para arsitek pendidikan sekolah itu. Jack dan kawan-kawan telah menjadi tokoh dalam hidupku.
Masuk jurusan IPA membuat siapapun didalamnya dituntut sempurna. Walau tak banyak rumus yang membekas, tapi, kawan-kawan "Mripat" telah membayarnya sempurna. Lebih dari tiga puluh dua karakter diracik disana. Dan kini kami bukan lagi adonan, melainkan telah masak sebagai sebuah keluarga besar.
Masa itu berlalu nyaris sempurna. Yang kutulis dalam sejarah hidupku. Dan kini generasi ke-31 berhak atas kisahnya. Biar putri dan kawan-kawannya melukis pelangi dalam kanvas putih abu-abunya.
Filed Under : by tri widhiono
Kamis, 20 November 2014
