Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

20 nopember 14

Ini sudah menjelang sepertiga bulan nopember tahun ini. Ladang-ladang tadah hujan di pinggiran barat kota pacitan juga sudah mulai ditaburkan bibit-biibit poliwijo. Anak-anak sekolah mulai menambahkan jas hujan diantara buku-bukunya. Selamat menjelang penghujun tahun, selamat datang langit penghujan. Kami rindukan mendung dan gilat petir yang membuat tangan dan telinga kami menjadi dekat.

Ini sudah menjelang pukul sebelas malam waktu bagian kota baturetno. Di seberang gedung sekolah yang telah mengajariku banyak hal,dulu. Sekarang biarkan generasi ke-31 yang mengisi ruang-ruang disela pr dan tugas yang menyibukkan. Biar putri dan kawan-kawannya yang kini melukis dinding-dinding sekolah itu.
Tapi, entah mengapa, malam ini aku ingin berjalan-jalan kembali ke masa itu. Walau tak pernah ada dalam inginku kembali ke tahun-tahun itu. Malam ini hanya ingin semacam membuka-buka buku kenangan. Yah, mungkin begitu.
Tahun-tahun itu adalah masa yang andil besar dalam mengukir karakterku. Di bawah bendera laskar-laskar yang berkibar.

Entah kemana semua yang dulu sempat berbaris dalam satu barisan yang pelangi. Rohis, Pencinta Alam, Osis, dan laskar-laskar kelas yang hebat. Mungkin mimpi itu datang dari segala arah, begitupun peluang dan akhirnya kami pergi. Hingga membuat kami tersebar terpisah dalam andaian yang berbeda. Masih jelas ku ingat suara ombak malam itu. Di tepian pantai Srahu yang tajam menghujam. Kala itu hujan rintik-rintik. Sesekali menderas. Sesekuat angin berhembus memaksa kami berteduh di bawah bivak-bivak alam.sebuah awal cerita kami mencari pengakuan keanggotaan dengan badge berbentuk cakra. Dan dari situlah, kami tulis cerita dan melukis kenangan di dinding-dinding alam. Tanyakan pada ombak di srahu, pasir putih pantai nampu, tebing gunung gandul, dan dinginnya girimanik. Kami pernah disana.

Masih teringat jelas, anak-anak rohis. Yang belajar manafsirkan kitab dan ajaran agama. Yang disana juga terkenang lelucon anak muda di serambi masjid sekolah. Merancang perayaan hari besar, dan kegiatan-kegiatan keagamaan sekolah waktu itu. Keluar masuk ruang pejabat sekolah mengejar tanda tangan orang- orang punya wewenang ijin kegiatan dan dana. Pulang menjelang petang, menapak jelas empat sahabat dari sisi selatan pulau ini. Aji, Alifi, Dhimas dan aku.

Osis, entah kebanggaan atau beban disana. Dituntut disiplin dengan serentetan prosedur yang tak semuanya menyenangkan. Tapi, berangkat subuh, bentak-bentak junior, perayaan HUT Sekokah tiga hari tiga malan, dan terakir tour bersana yang dilanjut buka puasa bersana terakir kalinya adalah rangkaian cerita yang akan aku kenang selama hidupku.

Aku tak pernah tahu alasan pasti, kenapa dulu memilih jurusan Ilmu Alam. Selepas dipenhujung kelas sepuluh tujuh yang rock n roll, yang Meneruskan kutukan generasi sebelumnya, sebagai kelas yang "wow" dikalangan para arsitek pendidikan sekolah itu. Jack dan kawan-kawan telah menjadi tokoh dalam hidupku.
Masuk jurusan IPA membuat siapapun didalamnya dituntut sempurna. Walau tak banyak rumus yang membekas, tapi, kawan-kawan "Mripat" telah membayarnya sempurna. Lebih dari tiga puluh dua karakter diracik disana. Dan kini kami bukan lagi adonan, melainkan telah masak sebagai sebuah keluarga besar.

Masa itu berlalu nyaris sempurna. Yang kutulis dalam sejarah hidupku. Dan kini generasi ke-31 berhak atas kisahnya. Biar putri dan kawan-kawannya melukis pelangi dalam kanvas putih abu-abunya.

Malam 18 nopember 14

Setelah petang berlalu, ucapkanlah selamat datang pada alam malam. Sesuatu yang akan membawamu hanyut dalam keheningan dan rasa dingin selepas hujan petang tadi. Di tepian jalan penghubung dua kota ini aku masih menata imaji. Melayang-layang diantara suara kendaraan yang masih lewat, satu dua. Menatap hari esok, menerka-nerka apa yang akan ku temui selepas pagi menjemput. Apa masih manusia-manusia berdandan putih abu-abu yang sibuk dengan potongan-potongan koran dan soal?, atau ada hal lain yang bisa membawaku menantikan sesuatu selain gajian di akhir bulan ini?, adakah?, entahlah. Aku belum tahu banyak tentang hari esok.

Terkadang, siklus hidupku begini-begini saja. Tak punya masa depan yang jelas dan diprioritaskan sebagai seorang laki-laki. Tapi beginilah aku, tak mempunyai cerita indah selain rentetan kelucuan dan kekonyolan yang mengundang tawa. Dan aku suka melihat orang lain masih bisa tertawa.
Terlahir di tahun sembilan tigaan, tentu membuatku harus lebih serius lagi. Walaupun sejak kecil selalu ada sikap serius dalam jeda-jedaku mengumbar tawa. Teman -teman seangkatanku yang melanjutkan kuliah juga sudah mulai mengerjakan skripsinya, bahkan sudah ada beberapa yang sudah meraih gelar sarjana mudanya. Dua atau tiga tahun lagi setidaknya aku harus sudah menemukan jalan menuju mapan. Menjadi bagian dari orang-orang yang membuktikan bahwa tak harus dengan gelar dari perguruan tinggi untuk bisa hidup. Walaupun, disanalah tempat pendidikan dan penggalian masa depan yang terbaik. Punya penghasilan tetap, dan menikah saat keluarga besarku masih utuh adalah cerita terindah yang ingin ku tulis. Setidaknya mbahku masih bisa melihat, siapa yang bakalan beruntung menjadi pilihan cucunya ini. Semoga saja.

17 nopember 14

Sudah pagi lagi, dan hujanpun telah reda.
Kemarin sore, adalah hujan teromantis yang pernah ku lihat. Aku melihat puisi berawal di seberang jalan gang menuju kecamatan. Berlanjut hujan yang rintik-rintik yang kemudian menderas. Senyum yang dulu kutulis dalam surat doaku pada Tuhan, hadir walau tidak untukku. Setelah berusaha melupakan, setelah aku berusaha memulai hidup tanpa bayang-bayangnya, Tuhan pun membuat aku melihat doa yang entah terkabul atau tidak. Dalam sampai tetesan air itu menjadi ribuan. Kau masih nampak diantara sela-sela rintik. Itu durasi terlama aku bisa melihatmu selepas sekolah waktu itu.mungkin.
Hujan belum sepenuhnya reda.  Namun sudah lama kau disitu menunggu. Menunggu seseorang yang membawamu berlalu, sore itu.

Sebuah Penantian

kala rasa meraksasa dalam sukma,
menghempas apa-apa yang seharusnya nyata,
ilusi,
ambisi,..
daun-daun gugur di ujung kemarau,
merindu gerimis namun tak nampak jua,
seperti itukah ibarat jiwa,
saat kerinduan menaungi hati yang paling dalam,
kekasih,..
kau bawa kemana separuh jiwa ini,
pergi tanpa permisi, tak berarah tujuan pasti.
diujung pantai ada ombak yang menepi.
meratakan pasir-pasir putih yang bersih.
di sana juga terduduk raga dan sukma.
tengah kehilangan setengah jiwanya entah kemana.
kekasih...
lekaskah kau pulang dan memelukku?,
agar aku tak lagi sepi,
biar aku tak lagi gundah,
dan kita ulang lagi cerita,
tentang gerimis manis di pantai ini.
berteman hembus angin,
berlatar belakang nyiur dan hiruk pikuk pantai,
serta soundtrack lagu romantis dari ponselmu.
kekasih,..
kenapa?,
kenapa kau tak nampak datang.
padahal senja berakir dalam sebentar ke depan.
apa kau sudah benar-benar pergi?,
merajai mimpi yang kau lukis sekelas pelangi.
aku ini hanya laki-laki malang,
punya hidup namun tak tahu dengan masa depan.
punya rasa namun tak berdaya mengejar engkau.
dan biarlah,
aku nikmati semuanya sendiri,
saat mentari senja pelan-pelan menutup tirai.
setidaknya,
drama kisah cinta tak berakir indah,
Semakin waktu,
Tiraipun benar-benar menutup Klayar.
Dan kisah cinta itu tak terwujud di sini.
Kekasih,...
Aku masih duduk di tepian, menantimu.

dear bintang.

selamat pagi bintang, apa kabarmu?. hari ini berada di tiga belas nopember. sedang apa kamu, bintang?, sudahkah mulai mengerjakan skripsimu?. semoga kamu sukses selalu.
pagi ini, matahari bersinar cerah di kota ini. bagaimana dengan matahari kota kita,bintang?. apa sudah mulai nampak para paman petani menggarap sawahnya selepas hujan yang turun belakangan ini. yah, mungkin sudah bisa berlanjut dalam kisahnya. mungkin hanya aku saja yang terpaku diam dalam mimpi-mimpiku tentang mu. mungkin itu terdengar lucu, tapi orang lucu itu masih ada. yang pagi ini masih sempat menulis ini sebelum sibuk menata kertas melayani adek-adek SMA.
semenjak hari itu, ku sadar kalau komunikasi kita tak selancar dulu. dulu pun hanya sebentar kita saling bicara walau lewat rangkaian huruf dalam layar. dan itu pun cuma beberapa saat.
aku pernah bilang walau hanya di  media facebook. "jadi orang itu harus konskwen dengan ucapannya". setelah itu aku pun menghapus perteman kita dari dunia facebook. semenjak itu tak lagi ada komunikasi dan harapan kalau Tuhan menciptakanmu untukku.
walaupun begitu, harus ku akui tak ada wanita yang bisa membuatku jatuh hati seperti saat aku jatuh hati padamu. dan akupun bertekat untuk tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. karena aku masih berharap kelak, setelah kamu lulus nanti aku ingin menanyakan perasaanku ini lagi padamu. kau ingat bintang, pesan singkat di pagi itu, katamu kau masih ingin konsen sama sekolah dan nilai-nilai mu. dan mungkin sebentar lagi kau lulus dengan gelar sarjana mu. tapi, tapi mengapa takdir tak juga tersenyum pada harapan panjang ku ini. akupun mulai tak tahu musti bagaimana. aku sadar, aku hanya laki-laki biasa. yang tak sanggup di prioritaskan. mana mungkin kamu bisa hadir dalam cerita hidupku layaknya rama dan sinta, tak juga naroto dan hinata. heh, aku bukan siapa-siapa. menjelang kamu selesaikan urusan mu dengan buku dan penamu, aku malah yang tak yakin. beritahu aku bintang, apakah harus mengubur mimpi ini dalam-dalam?. bukan mengubur, lebih tepatnya menyimpannya. bagaimana menurutmu bintang?, apa aku harus menyerah, bintang?. setelah ku biarkan perasaan itu mengunci hatiku bertahun-tahun. apa harus berakir sebagai kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan?, setelah diam-diam aku diam, tak banyak berkata membiarkanmu tetap dengan sekolahmu. hanya sesekali bertanya kabar, atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun padamu. yang belakan tak ada respon DM ku. apa aku harus berhenti sampai disini, bintang?. aku mungkin hanya laki-laki yang kurang beruntung mencintaimu, tapi mencintamu adalah bahagia untukku. walau aku merasa tak pernah ada dalam bayang mu.

biar bagamana pun, aku hanyalah aku, dan kamu tetaplah bintang. yang berada di langit masa depan. yang hanya dengan keajaiban, aku menggapainya. mungkin aku hanya cukup sampai disini. terimakasih untuk semua. semoga kamu selalu bersama kebahagiaan. sampai jumpa bintang, entah bagaimana akhirnya, biar Tuhan bersama kuasanya.
selamat atas belajar dan kerja kerasmu, semoga kau sukses selalu. kini aku pun ingin menjadi sepertimu, bersungguh-sungguh untuk mengejar  mimpi-mimpiku. dan entah bisa atau tidak, sanggup atau tidak, aku akan belajar mencintai wanita lain semampuku. yah, tanpa sadar kau adalah guru dan inspirator terbaik dalam hidupku. setidaknya aku berharap bisa mengenalmu walau sebagai teman.

thank's for all. u're the best teacher and inspiration of my life. never forget of you.

check

dan akupun tersenyum membelakangi senja. setelah sehari ini tak ku hisap "kutuk mbako", kurasa sore ini udara akan lebih segar. sore ini aku hendak pulang, ada sedikit urusan di rumah. tapi tak tahu nanti. apakah langsung kembali atau tidur dirumah. walau tidur di rumah nyaman, tapi malam-malam di baturetno adalah malam yang sayang untuk di lewatkan. memangsih, kadang terusik ulah adik-adik berisik di balik tembok. seperti semalam. well, baturetno is baturetno. apapun, semua asyik di sini.

11 nopember 14

jiwa-jiwa lemah dalam rintik hujan. teduh menghadap pada mega-mega mendung yang redup. ragamu sayup, menahan muak yang teramat. sesekali mengguman tak jelas. sedang kobaran terpancar dari cara pandangmu yang membakar. luapkan saja, luapkan bersama segala yang kau pendam membatu di hati.  hatimu bukan wadah yang terbuat dari baja.  seberapa mampu menahan beban yang tak terhitung oleh logika. lalu apakah manusia diciptakan saling melengkapi?, sedang selalu saja satu sama lain saling menuntut sempurna. entahlah, kadang terlalu banyak masalah yang teselesai dengan logika.

hujan berlalu. namun langit masih saja redup. sesekali nampak celah mega-mega gelap tertembus cahaya. matahari kemana, dan mungkin hujan masih akan datang lagi.
ini sudah menjelang pukul setengah tiga sore. bocah-bocah SMAN juga sudah pulang, sebagian. sebagian lagi masih sibuk di dalam kelas dengan kertas, tinta, dan orang-orang tua yang menuntut mereka sempurna. heh,.. semoga sukses nak.
nopember sudah berusia sebelas hari. hujan mulai datang dalam pelan. benih-benih padi ditebarkan. buruh-buruh cangkul mengasah cangkulnya yang sesaat digantungkan karena kemarau hebat. semua bersuka ria, mungkin karena hujan telah tiba.

chek

sepeluh nopember,
selamat manis, apa kabarmu?.  semoga kau selalu indah bersama harimu. semoga saja. malam sudah mulai sepi.  kendaran hanya sesekali saja melintas di jalan raya depan. sudah beberapa malam ini, langit baturetno menyisakan satu warna,  hitam. entah kemana bintang, entah kemana bulan. mungkin mereka mulai cemburu. dan ku rasa kau layak untuk dicemburui. kau cantik, kau manis, tapi sayang, aku suka padamu. yah, laki-laki gila mana yang tertarik padamu. karena kau adalah pesona, kala langit merona jingga menjelang petang. kau....., emmmtt, tak terungkap dengan kata, itulah kamu.

10 nop

biar bagaimanapun, reklamasi dan penenggelaman adalah sebagian dari kejahatan. mengobarkan satu untuk satunya. memberi makan orang lain dengan daging saudaranya. Reklamasi dan penenggelaman hanya diperlukan ibarat aborsi pada wanita hamil. tanpa alasan yang kuat, boleh dibilang itu biadap. setiap tempat diatas dunia selalu punyai potensinta masing-masing. tak mungkin Tuhan menciptakan suatu tempat untuk para makluknya sebagai tempat bencana dan kesengsaraan. Tuhan maha adil.

jika apa-apa yang mengatas namakan ekonomi dianggap benar, maka tak heran jika orang-orang besar menjadi pesakitan. menjadi penjahat. menjadi pagar yang makan tanaman.

penanaman pemikiran selalu menjadi momok. seseorang hanya diajari sukses dengan kekayaan, nama besar, dan segala hal yang membuatnya yang paling wah. menindas yang lemah, menipu yang bodoh, dan mengambil apa yang bisa diambil. entah bergak atau tidak. lalu kapan manusia-manusia yang penuh kesadaran akan sesamanya dan alam sekitar.

sabtu malam

sabtu malam, di baturetno.
malam datang dengan atap hitam polos. tanpa bintang ataupun bulan. mungkin mendung. atau,entahalah. dari bawah sini yang kulihat hanya hitam. ladu-ladu di tepian jalan Solo-Pacitan ku rasa masih sama seperti kemarin. masih menerbangkan debu kala angin bertiup. apalagi kala bis antar kota langgananku dulu melintas. entah kapan hujan akan turun puas di kota kecilku ini. padahal, di pacitan, wonogiri, solo dan sekitarnya sudah memulai hari-harinya dengan tanah basah. orang-orang di Pugeran juga sudah mulai "Nyebar". menaburkan benih-benih padi  di ladang minggu lalu, walau hujan baru turun kemarin.  kami biasanya melakukan itu berdasar perhitungan hari dan letak posisi raksi bintang tertentu di langit. dan kenyataannya, benih-benih padi yang di tebar di tanah kering kemarin kini sudah mulai basah. mungkin itu sekilas kondisi alam di sekitarku.

o,ya. ini adalah sabtu malam. alias malam minggu. jalanan juga ramai kendaraan lalu lalang.  mungkin mereka hendak pergi bersama kekasihnya menghabiskan malam. bercerita tentang ini itu di tempat favorit mereka. dari angkringan "Hik", lesehan, sampai tempat-tempat gelap yang rahasia. ya, mungkin begitulah indahnya anak muda. kecuali aku.heehee. sejak dulu aku belun pernah dan tertarik dengan hal yang bernama pacaran. bukan apa-apa, aku juga tak menganggap itu sebagai masalah. bagiku, tak ada istimewa hal itu. pacaran atau tidak, toh aku tetap bisa dekat dengan wanita manapun. tanpa batasan dan tuntutan apapun. aku suka ini. dulunya aku berfikir, apasih yang didapat dari pacaran. kurasa hanya tuntutan yang besar di tukar dengan perhatian yang bisa diberikan pada siapapun. terlebih sewaktu sekolah. aku lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-teman.

lain dulu lain sekarang. berlahan-lahan juga mulai medekati kearah sana. tapi, bukan semata-mata untuk status sosial, gengsi, ataupun iseng masa remaja. sekalipun aku seorang yang dingin dan terkadang konyol, dibalik itu semua aku orang yang serius loh.heehe. romantis juga mungkin,hehee. entahlah, aku tak pandai menilai. yang jelas, aku adalah seorang penipu. ya, aku suka menipu dengan penampilan dan sikap pertamaku. jika anda hanya menilaiku dengan apa yang kalian lihat, maka itu sebuah kebohongo. belaka.heehee. mari sini kawan, kita bicara dan saling kenal. lalu aku ingin tahu, seberapa hebat anda mendiskripsikan seorang yang sulit didiskripsikan dengan kata-kata ini. heehee

08 nopember 14

apa kabar 8 nopember tahun ini. apa kabar pesta ulang tahun SMAN 1 Baturetno dan Persis Solo?, aku tulis ini dalam perjalanan dari telaga sarangan. sejak kemarin sore, kami menghabiskan waktu di sana.  ini menjadi akhir pekan yang panjang.
o,ya. siapa yang punya pin bb 78e77777?, semalam aku dapatkan itu dari mimpi. pin yang cantik. melihat teman-teman manggulin cariel jadi pengen muncak. tapi sayang, dalam waktu dekat ini sepertinya belum. mungkin akhir desember aku baru bisa ngetrip ke sindoro ataupun sumbing. semoga bisa.

terkadang, terlalu biasa ku temui orang-orang kuat yang lemah. yang mampu kalahkan orang lain, namun tak pernah bisa mengalahkan diri sendiri. mengalahkan ego. tentu bukan hal mudah. udara dingin mulai menyapa dikelokan sebelah barat cemoro. gunung lawu malu-malu dibalik kabut putihnya. membuat semakin rindu, berdiri di atas awan.

Maaf

Aku pun bukan malaikat. Yang akan bernyanyi dan selalu bisa membuatmu tersenyum. Menari bersama bayangmu, dan ada disampingmu saat kau bersedih. Aku terlalu hebat untuk bisa selalu di dekatmu. Karena aku hanya manusia biasa. Yang selalu mencoba sempurna, namun selalu menyisakan air mata dan gerutumu. Maaf sayang, bukan sepenuhnya mauku begitu. Semua semata-mata karna keterbatasanku dan kelabilanku sebagai laki-laki dan manusia. Aku tak tahu pasti, seberapa jauh kau inginkan aku menjadi yang kau mau. Dan layaknya kamu, aku pun inginkan hal itu darimu. mauku dan maumu kadang tak seragam. Selalu harus ada yang terkorbankan. Mengalah dan... Hah, sudahlah sayang, aku hanya berdoa pada saatnya kita akan seragam.
Bersenandung bersahut-sahutan. Semoga.

Sayang, kini aku mungkin mengerti semua. Tentang banyak yang kau tanyakan namun urung kujawab, Waktu itu. Tentang pelangi, mendung dan air mata. Tentang sepasang burung parkit kita, dan tentang banyak hal yang akan membawaku selalu teringat padamu. Selamanya, kau akan selalu menemaniku. Walau hanya dalam bayang-bayang.

Kau ingat sayang waktu itu. Waktu senja manis menghadap pasak -pasak langit. Dan kau bercerita tentang kapan kita akan ke sana. Watukapur, hargo dalem,dan hargo dumilah. Menikmati waktu bersama nyanyian alam. Edelwayse yang bermekaran serta senyum manis yang akan membuat pendakian terindah dalam sejarah hidup ini.  "Indah sekalikan sayang?", apa kau mengangguk?. Lalu kenapa kau pergi secepat ini sayang?, membuatku sendiri tak berkawan. Kau malah lebih memilih sendiri dalam kesepian. Dan kau tahu sayang?, kesepianmu adalah kesedihanku. Tapi baiklah. Tak mengapa. Jika memang harus begini. Aku coba beranjak walau berat meninggalkanmu. Aku akan pergi sayang. Tapi, setidaknya, aku ingin ucapkan selamat tinggal padamu. Walau hanya lewat sebuah batu bertulis namamu, tanggal lahirmu, dan hari ini. Serta doa-doa ku, semoga kau tenang di alam sana. Sekali lagi; "selamat tinggal sayang, maaf, aku biarkanmu pergi seorang diri. Aku akan selalu merindumu.

06 nopember

Sementara, pesta annivesary SMA masih bergulir. Entah seberapa meriah. Aku hanya melihat mobil tamu undangan berderet di depan pagar.  Aku pun juga pernah ada dalam even satu tahunan ini. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Sekarang inilah kehidupanku. Tak banyak dapat di banggakan. Tak jua membuat orang-orang kagum. Tapi bagiku, setiap detik dalam hidupku adalah luar biasa. Betapa tidak. Banyak yang kumiliki yang tak banyak teman-teman lain miliki. Memang sih, tak ada wujud jelasnya.

Matahati membuat hari ini berteduh pada keluh. "kapan hujan akan turun, panas". Mungkin begitu. Ini sudah lewat poros siang 6 nopember. Namun tak ada tanda-tanda akan segera datang hujan. Sebentar langit redup, namun tak lama berselang awan tak kuasa menghalau panas matahari.
Akupun ingin mengaduh. Tapi, masih banyak diluarsana yang lebih berhak mengaduh,namun urung. Mereka orang-orang yang kuat. Sangat kuat.

Bukannya Cinta kasih sayang.

Aku duduk bersama rangkaian bayang tentangmu. Aku tak tahu bagaimana Tuhan akan memperkenalkan kita. Memberitahuku tentangmu, dan memberitahumu tentangku. Dengan atau tanpa berjabat tangan dan saling menyebutkan nama. Heh, itu cara yang klise untuk kita. Atau malah,.... Oww, tidak,tidak. Itu menurutku tak asyik ditulis di cerita. Sepasang manusia saling mengamati, namun segan untuk memulai perkrnalan. Hemmtt, sumbang.

Sepasang peri menari di ujung cemara. Burung-burung saling bersinggahan di antara dahan-dahan pohon belantara. Musim tak lagi menentu. Menjadi labil layaknya sepasang anak SMA yang tengah memadu kasih di usianya yang belum seberapa. Semuanya terkadang lebih gila dari yang kita bayangkan. Terkadang mengharukan namun tak jarang mengecewakan dan sakit. Parah.
Entahlah, kemana hati akan berlabuh, Tuhan yang maha tahu segalanya. Yang ku tahu, bukan cinta kasih sayang yang akan menyatukan sepasang manusia. Karena cinta kasih sayang itu adalah rahmat dari Tuhan. Yang ada dalam setiap dada manusia untuk semua manusia. Tak ada yang berlebih. Yang berlebih itu hanya perasaan labil yang datang dan pergi. Dan itu bukanlah Cinta kasih sayang.
Mungkin bila di analogikan, hati manusia-manusia itu seperti gelas-gelas yang di tata dalam nampan. Lalu di tuangkan madu yang mewakili cinta kasih sayang. Dalam setiap gelas takaran yang sama. Hanya saja selama kehidupan berlangsung gelas-gelas itu bercampur banyak hal. Hingga nampak seperti penuh. Tapi tetap saja, madu tetaplah madu, dan anggur tetaplah anggur.
Dua hal yang akan menyatukan sepasang manusia. Pertama komitmen dan kedua ego.  ketika orang berani berkomitmen dan mengusai serta meletakkan ego pada posisinya, maka kalian adalah pasangan harmonis. Yang akan tahu rasa manis sebenarnya cinta kasih sayang setelah bersama. Bukannya mengatasnamakan cinta kasih sayang untuk mengawali hubungan.

Yang itu

Apa kabar jumat pagi ini. Setelah kucoba memilah istilah, namun tak kujumpai namanya. Matahari bersinar cerah, dan angin juga berhembus pelan. Langit bersih membiru, dan debu-debu mulai berterbangan tergugah dari tidurnya semalam. Jalan-jalan kota juga mulai ramai. Dijejali manusia-manusia yang memikul tanda tanya. Berkumis tipis, bersenyum sinis. Manis. Dipinggangnya terselip pistol pembunuh, disakunya ayat-ayat setan yang akan memenjarakan lainnya dalam kebencian. Manusia-manusia yang berambisi menelan bumi, manusia-manusia yang bercita-cita menjadi Tuhan. Seberapa hebat mereka?, hingga sombong menutupi jidatnya. Jika pagi datang, selepas matahari meninggi sepenggalah. Di habiskan secangkir kopi hitamnya berbumbu selinting tembakau yang dibakar. Saling bercengkerama sesamanya. Soal apa?, mungkin selangkangan, wanita, dan manipulasi.mungkin. Mereka berencana dan terus berencana. Namun tak pernah menyadarinya.,Hidup itu tak mencari apa-apa. Dan begitulah selamanya.

Sep 6th

Suatu pagi di bulan september 2014. Selamat pagi bintang, apa kabarmu. Hari ini langit kota baturetno cerah, bagaimana dg langit kota kita?, semoga pun begitu. Sedang apa kamu bintang?, masih kah sibuk dengan mimpi-mimpi mu?, kejarlah,terus. Emmm, apa sedang kamu bersiap buat kuliah hari ini?, apapun, kamulah yang terhebat. Semoga hari mu menyenangkan.

Sapslah segelas teh hangatmu dulu,ata setidaknya secangkir kopi manismu. Tapi jangan terlalu sering dg kopimu. Akhir-akhir ini, aku merasa tak seperti biasanya. Betis juga masih terasa sakit akibat tadi pagi kram. O,ya... Tulisan yang untukmu juga baru dapat dua sub judul yang waktu itu. Aku belum sempat menulisnya lagi. Doakan sajalah, semoga bisa utuh satu buku dan terbit,heehee. Tapi entah sampai kapan. Aku tak tahu. Aku tak dapat pastikan, tapi selagi ada kesempatan akan aku coba. Sabar sajalah. Manis.

September ceria. Begitu katanya. Apa menurutmu begitu?, tapi apa ada alasan untuk keceriaan?, andai aku tetap padaku, dan kamu tetap padamu. Kadang aku merasa, ditipu
Angan ku sendiri. Dibuai mimpi kosong berlebel kasih sayang. Kasih sayang itu,... Emmm,lebih rumit dari puzzle ataupun lambirin. Susah dijelaskan. Mungkin serupa energi. Tak bisa dicipta ataupun hancur oleh manusia. Hanya saja, terkadang manusia senang bermain dg menampakkan dan menyembunyikannya.
Kasih sayang itu rahmat, diberikan Tuhan pada mahkluknya untuk menyayangi sesamanya tanpa ada perbedaan kadar.

O.ya bintang,.,kapan kita bisa menghabiskan sunset di pantai itu..  Kuharap suatu nanti. Dan terakir, pagi ini aku ingin katakan; "kau manis sekali pagi ini"

bagiku,Tuhan itu "tak pernah ada"



“ TUHAN   ITU TAK PERNAH ADA “
Hay, bintang. Bagaimana malammu saat   ini?,. apa masih dingin seperti  malam-malam yang lalu. Dingin, dan sepi.  Atau malah sibuk dl yang  dengan segala hal yang menyibukanmu?, entahlah, betapapun kamu, semoga selalu ada kebahagian di dalamnya.
Pernahkah kamu berfikir suatu ha tentang Tuhan?, apa itu Tuhan, dan dimana dia berada?, apa ka menjumpainya dimanapun?, atau hanya sewaktu kamu sholat dalam lima waktu yang berbeda. Tuhsn memsng gaib. Tsk dapat dilihat, dan juga tak mudah dimengerti dengan istilah yang diajarkan orang-orang dengan gelar S. Ag, ataupun  S.PdI. terkadang manusia itu terlalu teoritis, mengatakan tentang sesuatu sesuai dengan apa yang dia terima mentah-mentah dari seseorang yang mereka sebut guru. Tanpa dapat dilihat apa yang ia maksut dengan perkataannya itu dalam sorot matanya. Hanya kata-kata indah dengan tatapan yang kosong. Suaranya memang menjelaskan, tapi mata dan jiwa mereka mnjelaskan hal lain. Dan hal lain itu adalah tentang diri mereka yang tahu apa-apa.
Tuhan. Bagiku, Tuhan itu tak pernah ada. Mungkin kalimat itu provokatif. Tapi bagi mereka yang mengenali Tuhan mereka, mereka akan memahami makna kata itu. ya, Bagiku Tuhan itu memeang tak pernah ada. Namu andai kau juga sulit memahaminya, letakkanlah tanda petik disebelum kata “Pernah dan sesudah kata ada” dan kau coba pahami lagi apa maksut kata itu.
Kata pernah menurutku adalah bentuk kata lampau. Yang bermaksut yang semulanya begitu namun sekarang tak lagi. Maka kalimat itu diwakilkan pada kata “pernah”.
Seseorang yang mengenal Tuhannya, akan membawa Tuhan mereka dimana pun dia berada. Termasuk saat berbuat dan bermimpi. Jika mendengar kata “Tuhan tak “Pernah Ada”, kemudian memaki sang pembuat pernyataan, mengatakan dia kafir, ataupun sesat. Maka cobalah pahami. Apa ada Tuhan dalam dirinya. Tuhan telah tergantikan dengan kebencian dan amarah. Dan Tuhan pun Tenggelam dan dihilangkan.
Hidup ini soal permainan kata, yang mudah mengambil persepsi, dia yang kalah bermain di awal babak. Mereka tak sanggup bersaing dengan ide gila msuh mainnya. Dia lemah,karena dia hanya tahu dari apa yang dia baca, dengar, dan yang guru mereka ajarkan.
Kalau aku harus marah, aku lebih bisa marah dengan orang yang berani mengatakan bahwa Tuhan itu “pernah ada”. Pernah berarti terjadi sesaat sebelumnya, namun sirna untuk saat ini.
Mungkin itulah ceritaku hari ini, apa yang ingin ka ceritakan padaku malam ini bintang?, ceritakanlah nanti dalam mimpi indahku. Selamat malam bintang, mimpi yang indah.

Selamat malam

Selamat malam bintang... Apa kabarmu di tanggal 17 Agustus ini?,masihkah kau sibuk hari ini?, apa kau tak buka twitter sepekan ini?. Pantesan, tak ada ceritamu di dumay.  emmmtt, pacitan,.. Masih Seperti biasanya, dingin. Dingin sekali. Mungkin karena dingin di kota ini, hingga aku tumbuh menjadi pribadi yang dingin.heehee. Aku bercanda.
Emmttt..
Aku pernah baca sebuah buku. Sejenis novel gitulah. Dikarang oleh budayawan kawakan sekelas Sujiwotedjo. Ada kalimat yang terkadang saat membacanya suka senyum-senyum sendiri.

"Puncak kerinduan adalah saat dua orang tidak saling bicara, SMSan, chattingan, BBMan, FBan, atau Twitteran, tetapi diam2 saling mendoakan"
Kurang lebih begitulah. Apa kita seperti itu bintang?, atau malah?... Atau malah hanya kita tak begitu kenal. Dan aku hanya terbuai oleh harap-harapku dan juga doa-doa tentangmu?, dan aku tak pernah ada dalam cerita penamu. Malang sekali andai benar begitu.
Tapi biar bagaimanapun, perasaan ini datang dari Tuhan, dan padaNyalah aku kembalikan dan pasrahkan. Semenjak waktu itu, yah, waktu itu. Lama sekali. Sampai-sampai aku lupa cerita persisnya aku lala padamu. Yang jelas, aku menjaga dan tidak untuk wanita manapun. Sekalipun pada akhirnya, memang bukan untukku, aku tak akan memberikannya rasa itu pada wanita manapun. Biar aku buatkan perasaan baru untuk wanita itu, walau tak se full version untukmu. Yang untukmu biarlah ku simpan dalam-dalam. Bukankah dulu pernah ku katakan padamu, manusia itu harus konsekwen pada ucapannya. Dan aku terima segala konskwesinya nantinya. Aku sih berharapnya happy ending, tapi kenyataan siapa yang tahu. Aku dedikasikan semua ini padamu. Walau akhirnya aku harus hancur terlindas beratnya kenyataan. Mungkin aku belajar untuk tidak menyesal. Sekalipun siapa yang bisa terima.

17 Agustus ?

17 Agustus 2014...
Bagiku sama saja dengan hari kemarin ataupun lusa. Hanya saja hari ini hari ahad. Setidaknya aku tak sibuk dengan kertas,IR, ataupun jilidan-jilidan hard cover. Bagaimana denganmu hari ini, Bintang?,

Hari ini orang-orang yang mati dibangkitkan kembali. Digunakan serupa baleho untuk iklan dan pencitraan. Tidur nyenyaknya diusik, dengan namanya yang dipanggil-panggil lewat pengeras suara oleh para oportunis yang menempelkan logo nasionalis di jidatnya. Gagah... #heh,

Nasionalis bagiku bukanlah sekedar Indonesia raya, Nasionalis bukan sekedar garuda pancasila,Bulan pula bukan sekedar berbahasa Indonesia.
Tapi lebih dari itu. Ketika putra daerah menghafal dan memaknai lagu daerahnya, tak seperti dia dipaksa mengurai Indonesia raya. Ketika orang-orang didaerah tahu kontur alamnya, potensi daerahnya. Dan tak seorangpun memilih dua diantara satu; Bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
Ketika seorang petani fokus pada cangkul dan ladangnya, tanpa dipaksa menjadi kader partai dengan iming-iming kemenangan dan kesejahteraan.

Nasionalis itu rangkaian, bukan paksaan keseragaman. Apalah arti seragam, jika hanya dilandasi rasa takut dan was-was akan dipenjarakan.
Ketika para putra daerah cinta pada budaya leluhurnya, maka seperti itulah dia akan melakukannya pada bansa negaranya.

Menanamkan Nasionalisme itu tak seperti Fasisme. Bukan paksaan,melainkan kebanggaan. Ketika budaya leluhurnya dihargai, dan toleransi diajarkan dan dijunjung tinggi. Maka Nasionalisme murni akan timbul dan abadi.

"Nasionalis bukan keseragaman yang dalam intimindasi, melainkan rangkaian perbedaan yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai-nilai budaya luhur leluhurnya"

Senja 14 agustus


Senja, empat belas agustus 2014.
Apa kabar mu senja ini?,
Selalu ku berharap kau baik-baik saja.
Bintang, apa yang kau jumpai hari ini?,
Sudahkah kau lihat orang-orang yang mati dibangkitkan?
Entahlah,
Aku sendiri tak tahu apakah jasad mereka masih utuh,
 
Tiga hari menjelang tujuh belas Agustus. Sebentar lagibangsa ini akan melintas pada hari yang kelam. Hari yang membuat semua orangingat bangsa ini pernah diperbudak imperalis,Di jajah?,Kuarasa tidak,Kita selalumelawan,Sekuat tenaga berusaha mengambil kembali tiang bendera kita,Kita takpernah dijajah, waktu itu. Hanya saja ada penguasa-penguasa pengecut yang takutmati,Lalu lebih memilih membudak pada penjajah.
Aku tak pernah takut dijajah fisik,Karena melawan atau tidakkita pasti mati,Dan bukankah hidup mati itu takdir. Dan kurasa penjajah takjauh kalah kelas dari Tuhan, yang padanyalah hidup mati dan segala urusandigenggam. Tappi ketika pemikiran yang dijajah?, kurasa tradisi membudak ituakan turun temurun walau terkadang dianggap kehormatan.
Bangsa ini memang terpuji. Tapi terkadang ada yang larutkemudian hanyut dalam pujian. Diracuni, dan dibunuh pelan-pelan. Terlebih parapembuat kebijakan yang tulen. Yang masih meneguk ludah untuk keping emas dan selangkangan.Berdiri di pundak dan kepala saudaranya sendiri. Yang bicara dengan hokum danloronbg misiu. Turut atau mati diam-diam.
Selamanya, perubahan hanyalah onani. Ketika akar-akar keladidicabut, namun menjatuhkan benih-benih bijinya pada tanah berpagar hokum danberpupuk kekuasaan. Tunas keladi tiada yang tahu, sebelum mebuat kulit-kulithalus memerah gatal; keroken.
Orang-orang besar hanya berbicara soal kemerdekaan secaragaris besar. Merka tak akan bisa mengerti bagaimana rasanya merdeka dariperayaan tidur di pinggiran jalan. Pakaian dekil dan perut yang kelaparan. Merekahanya tahu merdeka dari tiang tinggi istana yang mengibarkan sang saka. Lalu diahormat dengan keangkuhan. Mungkin, sang saka pun menangis melihat tata nasibbangsa ini. Yang mencitrakan Tuhan seolah kejam. Bukan Tuhan, tapi orang-orangpenuh wibawa yang lupa nasib saudaranyalah yang berbuat. Bila bangsa inibenar-benar merdeka, ingin sekali aku melihat barisan parajendral di lapiskedua pada saat upacara kemerdekaan di istana. Dibelakang para orang –orang yangberjuang dari kelaparan dan kematian karena terabaikan. Aku tak tahu apakahpara jendral dapat melihat ujung tiang sang saka, karena aku juga tak pernqahtahu, seberapa panjang barisan orang kelaparan yang menempati barisan di depanjendral. Lalu semua mengepalkan tangan tanpa merasa tak dihormati soal posisidia berbaris. Serentak berteriak “MERDEKA” sampai para malaikat mendengarnya.  
 

malam ini,..?


Waktu menjelang pukul sepuluh malam, tanggal sebelas Agustus yang mungkin berakir beberapa jam lagi. Lagi- lagi aku menulis untukmu. Gadis manis calon sarjana.
            Sedang apa kau malam ini?,.. aku membayangkanmu dalam wajah ceria. Semoga begitulah kenyataannya. Bersama lagu-lagu romantis dari ungu, yang dulu sering kudengarkan sambil berbalas pesan singkat denganmu. Yah, mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan tentang aku dan kamu. Selain curahan hati, ritmenya cukup nyaman mengisi pendengaranku yang mulai hampa,hening.
            Bintang, aku masih berharap. Sekalipun aku terkadang merasa takut. Takut sekali,mmmttt…….
            Entah mengapa, terkadang aku menempatkan posisiku pada peran utama dalam kisah hidup tentang aku dan kamu. Aku merasa menjadi seseorang yang paling berhak kamu prioritaskan. Padahal, aku sendiri tak yakin kalau aku adalah bagian yang pernah ada dalam hidupmu.
Bara kesepian mengantar nafas jiwa menjadi melankolis. tak berkata, sayu bersama kenangan-kenangan yang tanggelam dalam kenyataan. lampau dan serupa usang. andai saja,.... ?
hah, sudahlah. biar nadi beredetak bersama apa yang semestinya telampoi tanpa melupakan, andai saja Tuhan mengijinkan aku untuk bisa kembai pada masa-masa itu sekaipun, aku tak akan pernah melakukannya.  Aku lebih suka menghadapi apa yang kini ada. Mungkin perih,tapi untuk apa menjadi manusia yang manja, manusia yang hanya menghadapkan dirinya pada hal-hal yang indah. Yang tak membiarkan orang –orang pilu mengikmati kepiluannya sampai mati. Takaran sebuah hidup adalah bagaimana dapat merasakan segala hal, termasuk kepedihan. Sekalipun dia berpeluang tak merasakannya. Namun membiarkan orang lain dalam kepedihan padahal dia berkesempatan untuk menguatkan, adalah sebuah kesalahan.

Menjelang 10 agustus

Malam ini, menjelang pertengahannya aku duduk di antara keheningan -keheningan yang tengah berjuang melawan derik-derik jangkrik. Entah siapa yang terkuat, karena kesepian masih kurasakan saat derik jangkrik meriuh diselingi longlong guguk dikejauhan. Aku boleh bisa kesepian tanpa kabarmu. Terakir kita berucap lewat huruf huruf bernada, saat kira-kira aku mengucap selamat ulang tahun padanmu. Manis, sebelum malam meninggalkan angka 00:00-nya, ku ucapkan padamu; "selamat malam, mimpi yang indah".

Barusan, selepas dari warung poci sebelah selatan Sekolahku dulu. Saat perjalanan pulang, sekilas aku melihat seseorang lusuh di selatan jalan di depan balai desa. Entah seorang laki-laki atau wanita. Aku tak sanggup melihat dosa, dari ketegaan menatap orang-orang yang entah kemana haknya. Di sebekah karung berisi botol-botol bekas dia sepertinya duduk menanti sesuatu. Entah apa itu. Mungkin selayaknya keadilan hidup. Atau, seseorang yang bisa memberinya kelayakan hidup. Tapi sayang, yang lewat hanyalah seorang aku. Udara malam mulai serak-serak, diantara musim yang entah dimana kehidupan padi diletakkan. Menurut ku kemarau, tapi gerimis dan mendung masih saja kulihat. Yang jelas, malam ini dingin saat aku belajar isomnia. Saat orang tidur di atas ranjang empuknya,atau malah wanita empuknya. Sedang orang-orang dipinggir jalan yang tadi?, terlupakan, dan mungkin akan disambut esok pagi dengan rasa was-was ataupun jijik. Andai malam ini dia berselimut hipotermia, mungkin tak ada manusia membasuhnya dengan kedukaan. Apalah arti nasib?, jika otak-otak sarjana berlapis oportunis.

Hey, selamat perpegak.

Di depan sana, di SMA Negeri. Para senior tengah merencanakan balas dendam. Entah hal gila apa yang dilakukan mereka. Mungkin lebih gila dari pernah mereka terima . Masih pukul setengah lima pagi, para anak mama diantar papanya. Datang ke sekolah sepagi ini,entah apa yang mereka cari. Heh, anak SMA.
Nanti malam mungkin aku akan nonton orang-orang yang melingkari kayu yang di bakar. Api unggun, mungkin begitu. Aku rasa acara tahunan ini akan dan selalu menampakkan wajah-wajah lama yang ku rasa sudah membosankan. Yang masih merasa penting, dan ikut mengisi pensi dengan adegan nora pura-pura kesurupan. Aku masih ingat betul, bagaimana kawan-kawan seangkatan saya dibuat pusing yang diawali aksi kampungan itu. Banyak yang sakit, ada yang kesurupan, menjerit histeris,dan acara malam itu mendadak berantakan,menurutku. Aku memang tak suka Pramuka,bisa jadi malah benci. Tapi, semasa sekolah dulu, aku dekat dengan kawan-kawan pramukaku. Aku suka mereka semua sebagai seorang kawan, bukan bocah labil yang "nyunggi" tunas kelapa berwarna kuning kemana-kemana. Yang nanpak tempramen,mungkin kurang piknik.
Yah, mungkin itu persepsiku saja, yang bisa jadi juga salah. Tapi bagiku, ekstkul yang asyik itu PA. yang bisa piknik ke pantai,gunung dan air terjun. Ga garus mikir keras. Toh sebenarnya, tujuan utama sekolah adalah belajar.

Terserah,

Hari yang cerah,..
Masih dalam gugus musim yang tak lagi tentu,
Apa ada yang lebih indah dari hari ini?,
Kau bilang "banyak"
Tapi apa ada yang lebih berarti dari hari ini?,
Kau pun sama.
Banyak, tapi hari ini salah satunya..
Betapa tidak,
Matahari masih meluangkan waktu,
Hingga saat senja kemarin dalam tanda tanya;
Pagi ini terjawab sepurna,
Yah, sempurna. Dia jumpa kembali.
Tapi,...
Hah, aku rasa hidup ku penuh dengan kata tapi. Apa ada satu kata yang bisa kau ajarkan padaku sebagai gantinya. Entahlah, kau malah diam. Tapi aku suka diammu. Karena diammu itu waktu itu, aku jatuh hati padamu. Entah sudah berapa pesta tahun baru yang terlalui, perasaan itu masih menguasai hati ini. Apa aku tolol?, mungkin itu ketololan yang takkan aku rubah. Jika ada yang harus berubah, biarlah Tuhan yang merubahnya. Karena aku bukan orang hebat yang bisa membuat keputusan berbada dalam rentang yang tak lama.

Wanita bisa saja jatuh hati pada laki-laki manapun. Wanita romantis adalah wanita yang melabuhkan hatinya karena kasih sayang. Sedang yang melebuhkan hatinya karena masadepan adalah wanita cerdas. Setiap wanita berhak menjadi cerdas atau romantis, atau malah menjadi sekelas jenius atau indigo yang menggabungkan keduanya. Tapi untuk menjadi wanita yang lain pun tak apa. Yang melabuhkan hatinya karena sesuatu yang tak dimengerti banyak orang.

Manusia hidup atas hidup mereka sendiri. Mau jadi apa, mau kemana, semua sah saja. Asal tak lepas dari dua hal. Norma dan sariat. Entahlah, kau lebih tau hidupmu sendiri selain Tuhan.

Agustus 7th '14

Hay bintang,.. Apa kabarmu?,  selamat hari kamis, selamat tanggal 7 agustus,selamat apa saja. Setiap aku teringat tentangmu, haripun menjadi saat yang tak sekedar biasa. Aku ingin ucapkan selamat atas segala hal yang berharap selalu indah. Apa hari ini ada yang istimewa untukmu?, apa ada yang kau sambut hari ini. Apapun semoga segala tentangmu selalu yang terbaik.

Sebenarnya tak selalu hariku terasa baik-baik saja. Segudang masalah harus ku urai satu satu. Tuntutan jiwa yang tak selalu kumengerti, dan mimpi besar yang sampai kini tak ku jumpai gerbangnya. Tapi semua hilang sejenak, kau tahu kenapa?, karena tanpa sengaja kau selalu menjadi motivator hidupku. Kau hebat, sekalipun tak kau mengerti dan kau sadari.

Di depan sana SMA Negeri, suatu tempat yang telah memberi banyak pelajaran pada ku dulu. Seperti yang banyak orang lihat, kemegahannya menggambarkan arti besarnya bagi kebanyakan orang. Dan bagiku, mungkin itu analogi kasar untukmu. Kau hebat.

ketujuh kalinya.

30-31 Juli 2014. yah, penghujung juli yang telah membawaku menuju ke gunung lawu untuk ke-7 kalinya. pagi itu aku berangkat menuju sekitar pancasila 9 (ps9) gio. setelah banyak yang mau ikut tapi ga jadi, aku akhirnya berangkat bersama Arian Bayu,begitu user twitternya. seorang yang beberapa tahun lebih dulu memijak bumi sebelumku.
kami awali pendakian selepas duhur. kira-kira pukul 13:00 WIL. bersama seorang dari jakarta dan seorang lagi dari madiun.
mungkin orang akan bertanya, untuk apa kami berlelah-lelah berjalan berjam-jam,kemudian turun kembali. anda tidak mengerti kenapa?. sama, sama halnya kenapa ada yang bisa senang dengan sebotol minuman dan gadis-gadis anda. mungkin kita berada pada pencarian satu hal yang sama namun cara yang berbeda.
yah, apapun,.. naik gunung telah menjadi sebagian dari hidupku. terimakasih untuk semua hal dan kenangan manisnya.

02 syawal 1435 H

sebagian orang masih sibuk dengan berjabat tangan dan petasan. aku diam, duduk diantara tanda baca bernama koma. hey,.. apa para ternak mulai kawatir akan petasan yang mebgagetkan?, tanyakan saja. ied mubarac di kampung ini menjadi semakin biasa. mungkin dua puluh lima tahun lagi tak adalagi tradisi seperti yang sudah-sudah. yang masih tetap biasa dan ada hanyalah warung bakso di satu tempat yang disebut "tugu". mungkin begitu. lebaran kali ini anis tak pulang. dia baru saja mendapat seorang adik. dan adiknya lagi-lagi cwe. yah, lahir dengan hari dan wuku yang sama dalam penanhalan jawa.
pandu, sahabatku sejak kecil juga tak pulang kampung, anwar juga. sementara afid?, aku belum tahu kabarnya. rony pulang, tapi belum sempat ketemu.
malam ini, menjemput tanggal dua syawal. entah kemana kutil,ateng,dan ucup.
malam ini lumayan gaduh. tapi tidak begitu yang kurasa. memang, manusia tak pernah menang melawan kesepian.

eh, Bintang gimana ya?. ku rasa dia tak pernah cacat sikap ataupun suasana. dia mungkin nampak cantik dan bahagia malam ini,mungkin. kemarin kita ketemu pas acara buber. dia masih tak jauh beda. hanya saja lebih kurusan. calon guru dan pengusaha. sedap.
kadang aku berfikir,... emmttt, sudahlah, aku berharap nasib baik. walau imposible. but, tak ada salah orang berharap. siapa tau besok aku jadi penulis kondang :b haahaa

yang barusan lewat pakai mobil putih itu namanya aan. dia adik sepupuku, walau sebenarnya umurnya lebih tua dariku. dia seorang pekerja keras. keturunab chenis.
ucup sudah nampak. baru datang dari wonosari. tapi pulang lagi hendak mandi. setelah ini kami ingin main ke suatu tempat, tapi entah kemana. ucup dua tahun lebih muda dariku. sejak kecil kami bermain bersama. jadi tak heran jika secara garis besar pemikiran kami banyak kesamaan. aku rasa begitu.

besok rencana mau lebaran ke tempat lek sugeng. trus ke tempat lek supri. kemudian ke dringo tempat fajar. dan lanjut Wuryantoro sekaligus ngambil perlengkapan hiking di kos. lusa aku mau ke lawu. si lis katanya mau ikut. alifi sama basyori katanya juga. bayu mau nyusul. dan satu lagi sama arian bayu, seorang dari jakarta. kalau srmua berangkat, itu bakalan jadi pendakian ke tujuhku yang rane. aku hendak mengucapkan selamat ulang tahun pada bintang yang jatuh akir pekan. juga buat anivv arema.
malam pacitan menjadi dingin. dan petasan tak lelah berletupan.

28 juli `14

Petang itu, sepanjang jalan menuju sebelah timur kediaman kerabat Presiden. Kau mulai nampak mengisi jeda-jeda gelap dan kesepian. Kau tersenyum, dan aku bisa melihatmu begitu dekat. Sangat dekat. Bintang kecil, dan kau semakin kecil. Entah mengapa, aku selalu berharap, semoga kau baik-baik saja. Bintang kecil yang mampu dilihat hingga sebelah barat pulau sumatra. Mungkin. Kecilmu adalah kesederhanaan. Sebuah tanda pemikiran yang berada di atas level. Semakin bintang langit nampak kecil, semakin tinggi dia berada. Yah, kau begitu hebat. Sangat hebat.

Dalam kerudungmu semua tersimpan. Walau tak rapat. Kau...., entahlah, umpama apa yang mewakilimu. Aku tak tahu. Sungguh. Aku tak tahu, dan aku juga tak mau tahu. Kenapa ku biarkan diri sendiri berselimut harapab besar. Dan mungkin itu tak pernah kau berikan.
Kau cantik, bolehkah aku berharap tak cantik lagi agar aku punya alasan untukmu?, hmmmtt.. Ku rasa tidak. Aku tak ingin seperti prabowo... Yang terbaik bagimu, ku harap aku bisa menerimanya.
Bintang, bolehkah aku menunggunu?,seribu tahun lagi?,

26 jul 14

Jam diding ruang tamu menuju pukul setengah satu dini hari. Tepat menjelang akhir film "new police story". Aku tak tahu pasti, kenapa kantuk tak menyapa, entah kemana dia beranjak. Lebaran tinggal menghitung hari. Bahkan telapak tangan mu masih menyisakan jemarinya untuk menghitungnya. Kerjaan brakir hari ini. Di luar dugaan, awalnya aku mengira lusa aku akan datang ke dunia pengangguran. Tapi tidak. Epsss.. Pak can nelamar ayi.. Dan deterima..
Emmtt, kembali soal kerjaan. Bagiku Rk bukan soal nganggur atau bekerja. Tapi ada orang-orang yang mengajarkanku soal kasih sayang, keberanian, dan loyalitas. Tadi rapat berakir menjelang pukul 10. Berjalan dalam keharuan. Setelah lebaran mungkin aku tidak lagi di wuryantoro. Aku pindah ke baturetno. Depan SMA ku dulu. Mungkin. Apapun, asal bisa bersama-sama lagi. Kita pernah tumbuh dan besar. Lusa itu akan terulang dan lebih lagi. Dan orang-orang akan bertepuk tangan. Itu soal pekerjaanku akhir-akhir ini.

O,ya,... Besok ada jadwal buber bersama kawan-kawan lama SMP dulu. Mungkin bintang ada di sana besok. Tapi aku tak tahu pasti. Esoknya lagi, ada jadwal sama kawan SMA. Dan setelah lebaran agendanya adalah..?, emmmttt,.. Hargo dumilah, watu kapur, dan seperangkatnya. Semoga cuaca baik menyertai pendakian ketujuhku itu.
Film di tipi sudah ganti judul, tapi entah apa judulnya, aku lebih larut bermain hp dan nendengar samar-samar lagu karaokean warga di dekat lapangan futsal baru. Mungkin itu salam perpisahan malam hari Wuryantoro ini.. Besok pagi sepertinya aku akan pulang.

Nothing

I have no idea of what you thinks. This have semi fou more. But nothing, there is no news from you. I know, and I understand. But which I do not undestand why you kept quiet. I'm realy not Understand. Nothing. I need the certainty. We need the certainty. Our problem do not come home laughed at." all of you laughing, bit do not get the somethings", and they kept laughing. And you kept quiet. No problem about they. That no matter. But you chosen kept quiet, thats the problem. If you cannot give us of something that, hance speak. At least we sympaty will at you. And now, before four ,maybe more. And you just still be kept quiet. Later, then kept quiet.what having to us?, I'm like trapped adrift inboard and captain sir is only kept quiet. Without there is which know know what the thingking of that sir. Whether is will become the bleak feast day of Ramadan?, I ignore.

Don't know why, I assume the all of us is family. I put aside the fee, because I wish the us always together. Me always long all of you. I always wish with all of you. But if circumstance have do not enable?, there is no help for it. We have look for the road, street of each.me only can pray ; "hopefully successful us", and a waiting us can with.although non again one team. Thank's for all. We will always long all of you. And always. Thank's. And don't foget, we havedreamed go to Bali togather. Sometimes. Thank's.onely,Thanks...

24 jul 2014

hey bintang,
apa kabarmu?,
apa kabar cita-cita mu?. masihkah kau sekekeh dahulu. masihkah bintang yang dulu?, bintang yang penuh semangat dan pekerja keras?, kau hebat. hebat sekali. kau seperti..., hem, sudahlah, kau taulah seperti apalah dirimu. o,ya bi, kapan lebaran datang?, benarkah?, secepat inikah langkah ramadan?, tak terasa ya bi. sama tak terasanya sudah seberapa lama kita tak bertemu. terakir habis lebaran tahun lusa. kau pilek waktu itu. sapamu begitu ayu, sekalipun nampak sibuk dg permata-permata di etalase itu. "mau kemana?"
"ke sini, ngapelin bapakmu"
"ohoho, ngapelin bapak tah, di mana sekarang?, di jakarta ya?"
yah, sepenggal kata itu waktu itu, yg sudah ku translit. kau manis,sungguh manis. tapi sayang, berharap bisa bersamamu akan terasa sepah dan....?,
aku hanya berharap, Tuhan menghadiahkan sebuah parsel untuk lebaran tahun ini.

23 jul 14

dari titik terendah maksud hanyalah diam. memendam dalam apa-apa yang seharusnta terutarakan. diam dan diam. aku suka pada kediamanku sendiri, tapi tidak untuk orang-orang ku jumpai. secara garis besar aku mungkin kesepian. di tengah hiruk pikuk kehidupanku yang gaduh. menjelang malam semua suara menjadi sirna. menyisakan derik jangkrik dan desing sayap nyamuk. sesekali suara truk muata luar kota melintas di jalan sebelah utara. dan itu sudah mulai jarang.

kesepian itu rahasia hati manusia. tak ada yang tahu selain yang Mahatahu. apalagi kau mendengar kata itu dari tarian lidah orang yang mengaku kesepian. belum tentu. kesepian adalah kata yang tak tejabar sempurna dalam penafsiranku. mungkin begitu juga pada sebagian besar orang. seorang diri tak berkawan hanyalah kesendirian. dan kesendirian bukanlah kesepian.

hati manusia memang tak terjajaki. dengannya manusia dapat berinteraksi dengan segala yang ada. yang tak harus bicara, namun persepsi-persepsi batin yang rahasia.

guliran detik membawa waktu mendekat tujuh hari menjelang kebaran. apa kau bahagia?,.. aku sih biasa-biasa saja. aku lebih suka menikmati puasa ramadhan sebisanya. lebaran biarlah datang pada waktunya. tak perlu dikejar tak jua harus diperlama. jalani sajalah. nikmati saja yang bisa dinikmati. sebelum gema takbir kemenangan merata dipenjuru dunua, sebelum anak-anak muda bertannya "kapan buka bersama?" pada kawan lamanya. sebelum masing -masing kelompok mengklaim idul fitri dengan hari yang beda-beda.
entahlah, apa yang membuat kita berbeda pada satu hal yang sama. aku lebih sering berada pada satu posisi yang rak sepenugnya ku mengerti pada hari terakir bulan suci. puasa pamungkas yang terbayang-bayangi perayaan hari raya saudara sendiri. apa kita menyembah Tuhan yang beda?, ku rasa tidak. hanya terkadang serasa ada agama baru di dalam agama kita. orang-orang yang mengaku beriman dan mengatasnamakan Tuhan saling mengeluarkan fatwa. "kamu Sesat" , "kamu calon teroris" dan bla,bla,bla.... aku heran, kenapa kita bisa sejejam itu. mengadili saudara-saudara kita begitu cepat mudah, hanya perbedaan pandangan yang tak pernah dibicarakan tuntas dalam satu meja dengan cinta. gengsi. ingin menonjol dan diakui. apalah hebat semua?,. itu hanya sahwat keduniaan belaka.

hey Nona,

apa kau membenciku nona?,.. kenapa kau mengangguk begitu?, itu anggukan yang tak meyakinkan. sekali lagi, apa kau membenciku nona?,hei, itu anggukan yang sama saja. buatlah aku yakin dengan anggukanmu yang lebih meyakinkan. bukannya rasa kasian begitu. rasa kasianmu hanya membuatku akan masih berani berharap.
entahlah, aku tak yakin, anggukanmu tadi sebagai perwakilan kata "ya". kalau begitu ambillah ini nona!, ambillah!, bidiklah tepat di jantungku. agar aku tak lagi mendetakkannya untuk terus mengejarmu.
"tidak"?, kata apa itu nona?, kenapa tak seiring dengan gerak dagumu tadi?, kenapa aku melihat rasa ragu dan perasaan tak bernama itu mengisi hatimu?, ayolah nona, lakukanlah!,.. setidaknya aku ingin mati di sisimu nona,di dekatmu, dan dengan tanganmu. hasyudahlah,.. lupakan saja.

aku memang bukan siapa-siapa.tak punya alasan untuk sebuah prioritas. jangankan bahasa asing, bahasa kasih sayang saja aku terbata. kau calon sarjana. dengan gelar "S.Pd." mu, kau adalah manusia dengan sejuta alasan untuk bilang "maaf". hah, kok aku malah terdengar memaksamu ya nona. tapi, itulah aku. laki-laki yang baru bisa bicara dengan keegoisan. seakan aku merasa, akulah yang berhak atas cintamu. aku aneh dan lucu ya nona?,. senyumlah!, jika tak enak hati untuk tertawa. tapi, menertawakan kebodohanku bukanlah dosa. apalagi itu kau yang melakukannya. aku akan bahagia membuatmu tersenyum atau tertawa.
kadang aku mengira; cinta itu adalah kasih sayang. ya, aku beranggapan begitu. sebuah perasaan seperti para petani pada ladang mereka, para gembala pada domba-dombanya, dan seorang ibu pada anaknya. dan itu sudah bagian prinsip yang mungkin tak akan aku ubahnya. cinta itu adalah kasih sayang, sebuah perasaan yang ada pada setiap dada manusia  untuk segala hal yang disekitarnya. tak terkecuali antara aku dan dirimu nona. dan kurasa kau begitu sebagai seorang manusia. tapi, aku melihat rasa takut pada bias cantik matamu. aku merasakan kekawatiran akan sebuah masa depan jika bersamaku. begitukah nona?, kou memang cerdas, yah, cerdas. karena kau calon sarjana. dan aku tak punya apa-apa untuk ku janjikan pada mu dan masa depanmu.

kau masih ingatkah nona. waktu itu, disuatu pagi. pagi sekali. kau pinta untuk aku buatkan puisi tentang alam. mungkin belum selesai mengerjakan PR mu hari itu. apa saat itu pesan-pesan singkatku padamu terbaca bak puisi nona?,heh, puisi tak akan membuatmu kenyang. hanya akan membuat hati berbunga dan mekayang dalam kehampaan. kosong. kau calon sarjana, mana kau jatuh cinta pada puisi jalananku.
kau pernah mendengar cerita tentang soe hog gie nona?, dia adalah orang yang seribu kali lebih puitis dariku. sampai-sampai, mahameru jatuh cinta padanya di bulan desember tahun itu. kau tahu nona?, dia pernah jatuh cinta pada seorang wanita. setiap dia bertemu ayah dari wanita itu, dia selalu dipuji dan dikagumi akan kata-kata puitis dan kritisnya. tapi, sampai dia menutup mata, bapak itu tak pernah memberikan puterinya pada Gie.
sseorang puitis tak pernah hidup dengan kekayaan. karena kami hidup dengan Tuhan, kebenaran, dan ketulusan hati kami yang jujur. puisi tak akan membuatmu kenyang nona manis.
dan sebagai akhirnya, aku ingin katakan ini padamu nona.

"Nona manis, aku sayang kamu. maukah kelak kau temaniku?. aku masih ingat betul, waktu itu usia kita masih belasan tahun. dan aku mulai jatuh hati padamu. saat itu aku belum tahu banyak tentang wanita. ibarat wanita itu teh, aku belum tahu bagaimana menyedunya. aku jatuh hati 70% pada sikap mu, dan yang 30% pada cantikmu. mungkin begitu. tapi aku lebih memilih diam. karena aku takut,aku takut membuatmu malu dengan ungkapan hatiku. secara klasis, aku kalah kelas darimu.
sampai detik ini, rasa itu masih ada dan untukmu. aku berharap besar, kelak kau adalah satu untuk yang pertama dan terakhir. aku ingin sekali lagi padamu pada maksutku ini. seperti pesan singkatku pagi itu. agar aku bisa pastikan, apakah aku harus masih berharap padamu, atau belajar mencintai wanita lain. dan itu mungkin akan ku lakukan setelah kau selesaikan urusan mu dengan pena serta bukumu. atau malah tidak sama sekali. dan biarkan itu ku bawa mati. agar tak lagi kudapati kata : "maaf, aku masih mau konsen sama sekolahku. nilai-nilaiku. maaf ya, sekali lagi maaf".... Nona,aku sayang kamu untuk dan sampai kapanpun.kapanpun."

"Ini bukan lagi soal Agama, tapi Kemanusiaan ?"

"Ini bukan lagi soal Agama, tapi Kemanusian"
entah dari mana asal muasal rangkaian kata itu berawal, dan entah pesan apa yang ingin disampaikan dari kalimat itu. apa mereka mengemis belas kasian untuk palestine?,apa serangan dihari kemarin-kemarin masih sebatas soal Agama?, setiap hari anak-anak disana bermain-main di bawah desingan peluru. apa itu masih soal Agama?,kenapa baru setelah serangan besar-besaran, baru bicara soal kemanusiaan?, apa harus menunggu 99 nyawa melayang, baru bicara kemanusiaan?, lalu kemana saja kemarin sebelum ini? 
apa kemanusian lebih wah dari agama?,
setidaknya itulah yang membedakan kita dengan warga palestine. kalau kita bicara soal kemanusiaan setelah yang akhir-akhir ini terjadi?,... telat, dan sia-sia. mereka tak butuh rasa kemanusianmu, mereka tak mengemis untuk dikasihani. setiap saudara mereka yang meninggal dalam serangan adalah sebuah kebanggaan buat mereka. setiap saat mungkin di Gaza seorang anak terbiasa membersihkan darah saudaranya,kerabatnya,dengan penuh ketegaran. rasa kawatir dan rasa takut yang kita miliki mungkin justru tak dimiliki oleh mereka. kalau kita yang ada disana, mungkin kita lebih memilih untuk mengungsi kenegara yang lebih aman. tapi mengapa mereka tidak?, karena setiap mereka yang disana adalah orang-orang dalam peperangan, setiap mereka yang disana adalah pejuang. karena setiap mereka yang di sana meletakkan Agama di atas apapun. termasuk kemanusiaan. hingga mereka mempertaruhkan jiwa raga untuk siapa?,untuk kita. untuk kita mereka berjuang,untuk para saudaranya yang baru tergugah pada saat bicara soal kemanusiaan. setiap hembus nafas mereka dipersembahkan untuk mempertahankan tanah suci kita. 
janganlah kita memandang mereka sebagai orang yang perlu dikasihani, tapi lebih dari itu mereka adalah saudara kita. mereka juga berhak Merdeka. karena mereka adalah kita. mereka berjuang di Atas Agama, jadi sebaiknya kita berhati-hati merangkai kata. tak usah nenyalakan seribu lilin, apalagi mengumunkan pada seluruh rakyat mampu menyumbang dalam skala milyar. Mereka berjuang atas dasar Tuhan. Alloh menyiapkan lebih besar dan berlipat dari sedikit sumbangan yang hanya pencitraan. mereka lebih mengharap doamu, dari pada keria'an mu. menyumbang sertailah doa; bukan rasa ingin dipuji mu.
Kemanusiaan itu untuk pengemis belas kasihan, dan Persaudaraan untuk seluruh umat.

One God

jika kamu merasa yakin,
hadapilah,
apa yang bisa membuatmu merasa takut?,
selain jiwa mu yang berkecil hati.
musuhmu tak pernah lebih hebat darimu,
juga tak lebih kuat dan mebakutkan.
yang menakutkan adalah rasa takutmu yang melemahkanmu.
jawab keragu-raguanmu dengan pekik keberanian,
namun, jika saja masih urung,
mungkin kau melupakan Tuhan dalam jiwa mu.
carilah Tuhanmu dan dapatilah Dia.
karena padaNyalah kau temui apa yang tak kau miliki.
termasuk, penawar rasa takutmu.
hidup manusia itu sebenarnya hanyalah Tuhan,
tapi sayang,
kau mudah sekali nenyebut sesuatu dengan nama Tuhan.
Keadilan disebut Tuhan,
Kemanusiaan dikata Tuhan,
Harta dan kebahagian dibilang Tuhan,
heh, kadang Tuhan seperti terdengar memuakkan.
terkadang Tuhan bak datang dan pergi.
Tuhan, dari kata Tuhan kemunafikan berawal.
orang-orang yang seperti penuh keyakinan mengatakan "Atas Nama Tuhan",
namun setelah berpaling mereka terbahak dengan ucapannya.
kamu terlalu berani bercanda dengan Tuhan.
Berhatilah, bisa jadi kemurahan Tuhan lebih terasa menakutkan dari marahnya Ibumu.
karena kau tak pernah mengerti apa-apa tentang Tuhan.
kau mungkin berfikir Tuhan itu hanya rangkaian huruf dalam buku.
lalu kau melakukan apa yang buku ajarkan.
sebagai ilmu pengetahuan,
tanpa makna yang kau rasakan Tuhan itu lebih dari tulisan.
karena Tuhan adalah dzat yang lebih dari apapun,
tak terkecuali buku mu.
one God..