Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

23 Desember

Selamat malam, manisku. Apa kabar?.

23 desember 2016. Menjelang tengah malam. Saat para jangkrik belum juga memberi isyarat akan berhenti berderik. Tapi biarlah manis, setidak merekalah yang membuat malam tak sekedar gelap dan sepi.

Tak terlalu banyak, seperti biasa. Menanyakan kabarmu. Jaga kesehatannu manisku. Tetap jadu kebanggaanku.

#Savenation

"Dunia dalam keadaan baik-baik saja". Boleh saja terdengar sebagai kalimat penuh kedamaian. Tapi, ditelinga itu terdengar tak lebih dari kata-kata teramat naif. Selama Nasionalis masih menjadi barang mewah diatas kemanusian dan jiwa setiap bangsa, selama itulah perdamaian hanya sebatas menahan diri dari kerugian besar suatu bangsa.

Nasionalisme. Tentu bukanlah sesuatu yang diproduksi secara instan ataupun permainan sulap. Nasionalisme ada lah buah dari akar, batang dan daun yang saar ini terang-terang diperangi. Agama, ras, etnis dan antar golongan. Empat elemen itulah yang menerangkan tentang kesetia kawanan pada umat manusia. Jauh-jauh hari sebelum Nama, simbol dan bendera di kukuhkan.
Tapi lihatlah sekarang, oknum-oknum nasional telah dewasa dan menjadi "anak durhaka". Memperkosa dan menginjak ibu kandung mereka. Jika ada istilah atheis dalam dunia keTuhanan, maka orang-orang tersebut mengidap penyakit "tak berpaham". Matrealisme. Menghamba pada dunia dan pihak yang menguntungkan. Mereka-merekalah yang telah menodai apa yang disebut demokrasi dan nasionalisme. Mereka membuat demokrasi seperti lelucon. Yang mereka bilang demokrasi tapi tetap saja nyawa tirani mengalir didalam nadi. Orang tak akan mengatakan mereka tirani, karena setiap perjumpaan yang terlihat adalah demokrasi. Ini sudah semacam kerasukan. Banyak dari penganut demokrasi hanya berjuang untuk diri dan kelompok atau golongan mereka saja. Sementara pelayanannya keoada rakyat tak lebihnya ampas belaka, tak lebih dari make-up agar mereka serupa bernyawa demokrasi.

Hari ini, jika kau mau di bilang demokratis mengalirlah bersama limbah-limbah sistem itu. Sampah-sampah yang menghasut. Karena, jika kau bicara secara jujur dan mempertahankan nilai-nilai luhur Agama, ras, suku dan golonganmu kau bisa disebut radikal, pembangkang dan rak menutup kemungkinan dituduh subversib. Begitulah kondisi demokrasi yang sudah terkontaminasi. Disuntik ideologi-ideologi oportunis nan cenderung psikopat.

Jika demokrasi masih menjadi sistem yang terbaik maka kembalilah pada demokrasi yang benar-benar "Dari, Untuk dan Oleh Rakyat". Berfikirlah jauh dan luas. Didik generasi mu dengan dasar-dasar Nasionalisme dasar. Nilai-nilai Agama,suku,ras dan antargolongan sebenarnya. Stop isu SARA. Stop mem-per-penjahatkan mereka. Nasionalis bukan bukan sesuatu yang instan. Bukan mie kering yang cukup dimasukkan air panas lalu matang. Karena Nasionalisme butuh kawah Candradimuka untuk mematangkannya. Butuh perjalanan yang lama untuk sampai disana. Butuh mental baja dan semangat pantang menyerah yang tak akan patah ditempa hujan batu imperalisme.

Pertahankan setiap jengkal tanahmu meski dengan aliran darahmu. Dan jangan pernah mengambil milik bangsa lain walau hanya sejengkal. Agar nasionalisme hidup di dalam kemanusiaan, kemanusian hidup di dalam nasionalisme. Saling mengisi. Melindungi.

22/12/2016

Selamat pagi manis. Titip salam pada ibumu. Sampaikan selamat hari ibu ku pada beliau.

"selamat hari ibu"

17 desember

Selamat pagi manisku, semangatku, apa kabarmu?. Sudah makan pagi?, cepatlah. Ini sudah tidak pagi lagi. Sudah hampir jam sebelas di hari sabtu pekan ke-2 bulan desember. Semakin tua saja kita, sekitar dua pekan lagi kalender masehi berganti satu angka paling belakab pada tahunnya.

Manis, apa yang kau pikirkan saat mendengar kata perang?. Ya, kau benar. Penderitaan, rasa sakit dan kebencian. Menang atau kalah tidak ada yang pernah diuntungkan oleh peperangan. Tak layaklah disebut prestasi tentang perang. Tapi manisku, tak ada yang mampu menutupi, kapanpun kondisi terburuk itu bisa saja terjadi. Terhitung sejak hari ini menuju dua dekade yang akan datang, entah apa alasannya, kurasa perang akan datang. Entah itu perang besar yang diramalkan oleh para pendahulu atau perang yang lain, hari itu kurasa akan datang. Tidak manisku, aku tak takut bila harus terjebur pada kondisi terburuk itu. Yang aku takutkan, saat itu datang kita tengah membesarkan anak-anak kita. Aku takut rasa sakit akibat perang menjerat dan menindih hatimu dan anak-anak kita. Beradu fisik bertaruh nyawa di medan perang memanglah sakit. Tapi, sesuatu yang lebih menyakitkan adalah bagi mereka yang ditinggalkan ke medan perang dan sisa-sisa perang. Berjanjilah manisku, bila saat terburuk itu benar-benar datang, berjanjilah kau harus menjadi wanita yang tangguh, ibu yang kuat, yang melindungi anak-anak kita secara lahir batin. Kuatkan jiwa dan keyakinan mereka. Agar kelak tumbuh sebagai manusia-manusia yang berguna.

Jazirah arab kurasa semakin pada kondisi yang tak kondusif. Gempuran terhadap Aleppo,Suriah, menjadi perbincangan hangat dan cenderung panas. Turki dan kerajaan Arab bereaksi. Turki menyediakan tenda-tenda untuk masyarakat sipil korban perang. Arab diberitakan mengusir dan memutuskan hubungan deplomatik dengan Rusia. Sementara, Indonesia menjalin komunikasi dengan Iran. Dan pergerakan pelan-pelan mulai nampak. Iran dikabarkan tegang dengan Israel. Terlalu banyak kobdisi dibelahan bumi lain, tapi kondisi buruk layaklah mendapat perhatian. Laut China Selatan tak juga mendapat keputusan yang diterima oleh semua pihak. China dikabarkan menggeser sebagian kekuatan militernya ke arah daerah Laut China Selatan.

Lepas dari kondisi buruk disebagian belahan dunia. Kondisi disebagian wilayah Negeri ini juga tidak pada kondisi terbaik. Polemik muncul disana-sini. Baik masalah-masalah baru ataupun masalah lama yang tak menemui penyelesaian sempurna. Sengketa antara warga dan perusahaan semen di Rembang. Masalah Reklamasi teluk benoa, dan banyak lagi. Bali punya sejarah perang yang layak untuk dibaca kembali berulang-ulang. Puputan yang pernah berkobar di jaman lampau bukanlah wujud primitif atau budaya lama. Puputan menurutku adalah cara terakhir masyarakat Bali menjaga apa-apa yang patut mereka pertahankan. Lebih-lebih teluk Benoa adalah tempat pertemuan sungai-sungai yang disucikan. Tentu ada nilai religius disana. Kalau sudah ditolak mayoritas masyarakatnya, untuk apa masalah ini masih dibicarakan. Hentikan saja. Bukankah rakyat adalah ibu kandung dari setiap negeri terlebih yang menggunakan sistem demokrasi.
Masalah baru timbul yang kebetulan terjadi menjelang pilkada ibu kota. Gubernur lama harus duduk di kursi pesakitan. Lalu mulailah muncul masalah toleransi menjadi perbincangan. Dipermasalahkan dan disempitkan ruang lingkupnya. Beberapa media dan oknim golongan elit sebenarnya lebih sering berbuat intoleran. Hanya saja, ruang lingkup toleransi disempitkan pada SARA saja. Entah bagaimana awal muncul istilah SARA itu, dewasa ini setiap kali terdengar SARA yang tercitra adalah sesuatu negatif. Bahkan, pada kompetisi tertentu di lampirkan syarat "tidak mengandung SARA". Suku,Agama,Ras dan Antar golongan, itu bukanlah sesuatu yang menggambarkan sebuah hal yang buruk. Justru sebaliknya. Toleransi sudah diputar-putar tak jelas. Orang jawa mengatakan "Mulek". Diadu domba secara halus atau terang-terangan.

Tentu sejarah tak akan pernah menghapus, ada suatu ketika dimana "Menjalankan Syareat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya" digantikan "Ketuhanan yang Maha Esa".

Sungguh, tiada yang merindukan peperangan besar yang pernah diberitakan oleh para pendahulu. Tapi, kapan datangnya tak bisa dipercepat ataupun ditolak. Yang terjadi pasti terjadi. Jadi, katakan pada mereka manisku, berhenti memprovokasi.

Hari sudah tidak pagi lagi manisku, lekas makan sianglah. Jaga kondisi. O,ya. Belakangan kau nampak semakin dewasa saja, makin mandiri. Teruslah seperti itu, manisku.
Happy nice weekend, Manis.

13 des

Tiga belas desember 2016.
Selepas gerimis yang sebentar lalu.

Hari ini adalah hari pertama sidang kasus penistaan agama yang disangkakan pada salah seorang pejabat terkemuka ibukota. Bisa dibilang orang nomer satu di ibukota.

Sebelumnya, selamat malam manisku. Apa kabarmu?, apakah chanel teve mu juga menayangkan kegaduhan yang sama?. Memuakkan memang. Lebih memuakan dari tontonan perkelahian yang semakin marak di teve. Atau gadis-gadis dengan rok selututnya yang membuat reaksi laki-laki melumerkan enzim kebahagiaannya, haahaa tidak manisku, jangan kau bicara begitu. Kalaupun iya sedikit sajalah tak apa, haahaa

Betapa penting belajar Agama secara menyeluruh. Tak sebagian atau sepotong.

Betapa keras pukulan-pukulan terhadap norma dan Agama di semakin tuanya jaman. Disaat antar golongan paradu fatwa, ini hak, itu batil. Ini sah, itu bid'ah. Ini halal, itu haram. Sedangkab umatnya di bombardir dengan segala bentuk dari pihak luar. Tak selalu berpanji agama. Liberalisme yang tak bersangkut paut dengan konstitusi bekeliaran bebas karena mengetuk pintu tanpa busana liberalisnya. Berbisik tentang satu penghuni rumah pada penghuni lainnya. Contoh kecil Asas koperasi yang gotong royong digagahi bankir. Peraturan-peraturan yang timbul akibat gejala masyarakat, betapa menunjuk tak dinamisnya peraturan lalu.

Sejarah mencatat, saar "menjalankan syariat-syariat Islam bagi para pemeluknya" digantikan. Apa tidak menyakitkan bagi penganut Islam andai saja cuma mememintangkan agama yang saat ini hanya disebut sekelas golongan saja. Tapi, agama adalah ajaran keluhuran budi. Sesuatu diganti dengan beberapa alasan. Bisa karena tak relevan, bisa karena salah. Apa tak menyakitkan bila dipandang sebagia sesuatu yang tak relevan atau salah atau sejenisnya. Tapi, rahmatan lilalamin sekali lagi menunjukan kerahmatanannya. Toleransi demi kebaikan bersama. Kareba memang begitu yang diajarkan bersama.

Hasutan dan hasutan. Apapun bentuk peperangan, Sang Maha Cinta sangatlah melaknat yang memulai peperangan. Wallohualam.

09 des

Entah bagaimana rasanya. Ketika kau berucap doa untuk seseorang bahagia. Tentu tiada masalah. Kebahagian yang kau harap ada bersamanya, harus kau amini untuk orang lain. Kadang aku harus egois. Mementing diri sendiri untuk mendoa kebahagian orang lain.

Selamat pagi manisku, apa kabar?.
Jumat yang teduh. Redup malahan. Seredup lampion harapan yang terlanjur mengudara. Sebentar lagi jatuh. Berganti harapan baru.

Sebegitu pentingkah perasaan laki-laki pada wanitanya. Hingga hampit disetiap hari berganti, perasaan itu mula-mula sekali mengawalinya. Memuja, menghantarkan lewat doa-doa.

Pada akhirnya, takdirlah yang menentukan. Takdir tak akan kepatuhannya pada Rab-nya. Dan takdirku, adalah segudang misteri yang ku nikmati.

Barokalloh manisku,

Desember 2016 (07/12/16)

Waktu tak mungkin berputar mundur. Mengembalikan penyesalan-penyasalan agar mendapat refisi. Terus maju tanpa pandang bulu. Begitulah takdirnya, dan begitulah cara dia bertasbih pada nama Tuhannya. Ketaqwaan-ketaqwaan alam semesta sering kali terabaikan. Pandangan manusia yang sempit, mengimajinasikan ketaqwaan sebatas ritual keagamaan saja.

Imajinasi manusia memanglah payah. Sangat payah. Makluk berhati memang lemah. Coba tanyakan pada seseorang seperti apa surga itu. Maka kau akan dapati penggambaran yang beragam. Mungkin ada yang mendeskripsikan seperti taman bergantung babilonia, atau semacam penggambaran ada sabana diatas niagara. Atau bagaimana saja, maka yang kau temukan hanya penggambaran berdasar apa-apa yang pernah kalian lihat. Sungguh, pengetahuan manusia di hadapan hanya seperti sebutir pasir ditengah sahara. Seperti bintang di hamparan tatasurya. Jadi, kemungkinan pengetahuan manusia tak mencapai 0,1% dari misteri alam semesta. Maha Suci Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Waktu tak akan kembali. Lepas berlalu dan berganti. Tak akan mengiyakan hati hati yang lemah. Yang tak berhenti merengek, memprotes dan mendikte ketentuan Sang Maha. Semua, apa-apa yang mengisi semesta selain jin dan manusia senantiasa menjalankan apa-apa yang semestinya menjadi takdirnya. Tanpa protes, tanpa mengeluh. Waktu melaju melewati periode-periode yang masih di isi manusia-manusia yang tak banyak berbeda. Mungkin teknologi menjadikan manusia membedakan diri dengan generasi Generasi sebelumnya. Namun tetap saja, kebanyakan manusia terlalu berani pada Tuhannya. Secara halus atau terang-terangan.

Desember 2016. Bukan waktu yang sebentar dalam perjalan semesta. Namun manusia masih terjebak pada siklus yang sama. Hura-hura duniawi yang semakin hingar bingar. Harta, tahta dan kamu, adalah alasan sebuah perjuangan yang layak dipertaruhkan hidup mati.
Desember 2016. Walau jarum jam tak berputar tak lazim, tapi ada hal-hal yang terulang dari masa yang telah hilang.
Desember 2016. Suatu ketika dimana dihampir semua pemerintahan menganut sistem demokrasi. Sebuah sistem yang konon berjagon dari, oleh dan untuk rakyat.  Tak banyak yang membedakan dengan keadaan sistem sebelumnya. Mungkin hanya cara berpartisipasi dalam pemerintahan mengatasnamakan siapa. Sedang kondisi yang terjadi pada masyarakat masih saja klise. Penguasa dan rakyat. Orang besar - orang kecil. Kaya - Miskin. Dan bla.. Bla.. Bla..

Desember 2016. Masyarakat masih menyaksikan banyak hal yang sama dari masalalu. Katanya ini era-nya bebas berpendapat, tapi, kebebasan untuk memenjarakan juga masih mudah. Saling melapor pada pihak berwajib, saling menuding, saling melempar argumen kosong, beradu pengaruh dan penggalian simpati. Semacam ini bisa disaksikan dengan mata dan otak telanjang. Seribu kali berganti sistem tak akan menjamin kedewasaan hidup bersama. Bukankah yang dipertontonkan kepada halayak hanyalah sifat kekanak-kanakan. Saling menyalahkan dan berebut benar. Tak ada penggambaran Keinginan perbaikan bersama untuk generasi berikutnya. Kehidupan bersama yang semula bertaruh segalanya berubah menjadi kepentingan-kepentingan.

Desember 2016. Apakah istilah Makar dalam suatu negara bukan lagi masalah serius?. Sampai-sampai istilah untuk kondisi terburuk dalam suatu negara tersebut berkeliaran bebas di telinga-telinga masyarakat yang bahkan tak tahu apa-apa soal negara. Apakah layak masyatakat yang keadilan, keamanan dan kesejahteraannya seharusnya menjadi tanggung jawab negara bertanya-tanya apa benar ada kondisi buruk dalam kantong-kantong rahasia kehidupan bersama. Kenapa informasi itu beredar sebegitu bebasnya dikalangan masyarakat luas?. Bila memang ada, tak perlulah pihak berwenang meminta persetujuan satu-satu warga negara untuk menindak masalah serius itu. Tangkap dan adili apa-apa yang perlu diadili. Sesuai aturan dan prosedur yang ada. Kenapa masyarakat harus menyisakan sedikit waktu dari lelahnya untuk berfikir "benar enggak orang itu begini begitu, danai ini danau itu, numpangi ini numpangi itu".

Desember 2016. Shitt... Sebagai rakyat bolehkah saya menuntut mereka-mereka yang sejujurnya menimbulkan rasa resah saya dibumi saya?. Kenapa kalau rasa nyaman investor asing menjadi prioritas ketimbang warganya sendiri. Apakah setiap warga negara harus protes saat mereka meras takut diidentikan pada golongan bermasalah?, apakah setiap anak harus mengadu pada negara akan keresahan hatinya kala melihat bapak-bapak mereka mendebatkan masalah orang-orang Besar yang sebebarnya, secara langsung tak ada hubungan. Apa setiap warga negara harus mengajukan penuntutan pada pemelihara kepentingan bersama kala dalam hati mereka mulai mengkhawatirkan kebhinekaan.
Apakah setiap pemonton televisi harus mengadu pada penguasa saat mereka bingung dan merasa dipermainkan berita politik yang berpihak? Lain media lain berita. Bukankah setiap konsumen media masa berhak atas berita yang obyektif. Kami inginkan tontonan dan informasi. Bukan dikte-dikte pandangan dan pemikiran.

Desember 2016. Diantara semua kekwatiran, aku kwatirkan keadaanmu, manisku. Apa kabarmu hari ini?. Aku rindu padamu.

06 Des

Semestinya kerinduan itu seperti embun pagi. Datang dengan kesejukan dan menghilang bersama kehangatan. Menyapa dalam keheningan melambaikan tangan saat dunia mulai bernyanyi.
Kerinduan. Semestinya akan selalu memberi kebahagian disaat datang datang dan perginya. Karena saling mencintai tak akan menyiksa sekalipun sekedar beratnya rasa, merindu.

Selamat pagi manisku, apa kabar?. Sudah mandikah?.

Sudah berapa hari ini, badan agak kurang enakan. Pilek, batuk dan sempat juga nyeri dibagian belakang dada hingga sesak untuk bernafas. Tak usahlah, tak perlu kau kwatir. Cuaca yang seperti ini, wajar bila sakit menyapa.

Pekan pertama, bulan terakhir tahun ini. Sebuah awal bulan yang dingin diguyur hujan dengan durasi yang begitu panjang. Masalah yang bermunculan, banjir, longsor, hingga pemadaman listrik yang menjadi rutin di Pacitan Barat. Ya, semoga semua lekas teratasi. Diberikan solusi dan kembali membaik. Dengan ada atau tidaknya hujan, beberapa Media dan kalangan elit politik memanglah sudah sakit. Mungkin itu sudah kronis. Pemberitaan yang tak berimbang, tak obyektif dan berpihak adalah wajah dari sebagian Media masa. Mereka hanya tahu soal uang dan bertengger jumawa dibalik perlindungan undang-undang pers. Gila memang. Ditambah adanya segelintir elit politik yang menjadi penumpang pemberitaan untuk kepentingan mereka dan golongannya.

Yah, dunia ini semakin gila terasa.

22/11/2016

satu teguk pertama. segelas kopiku memperkenalkan diri. menenang, memejamkan mata sejenak. k-o-p-i. reflek otak mengejanya. seteguk kedua, mematri keras ucapmu, "hasil yang hebat berasal dari perjuangan yang kuat". teguk ketiga, dunia ini nyata adanya. sejuk kemudian hangat. sunyi yang semalampun mulai riuh.
selamat pagi,estetika sempurna mayapada. segala tentangmu begitu indah adanya.

19/11/16

Pada akhirnya kau lebih memilih pergi. Tak apa. Aku tak akan menghalangi kau yang beranjak. Setidaknya itu jawaban lugas dari bahwa kau tak inginkan untuk tinggal. Untuk ku genggam tanganmu melalui jarak yang membentang. Kejujuran tak selalu manis. Tapi, apa ada yang lebih manis dari sebuah realistis. Aku tahu, dan aku maklumi itu.

Kau tahu, bukan aku tak mau mengejar. Memperjuangkan. Hanya saja aku tak mau memaksakan apa yang tak kau rasakan.

Mencoba melabuhkan hati ke selain Bintang bukanlah mudah bagiku. Dan aku lakukan itu padamu. Belum sempurna memang, dan kau menjawab begitu lugas. Kau tak mau.

Dibumi biru sana semoga kau dapati seseorang benar-benar mengimbangimu. Orang-orang yang bisa menjanjikan hidup padamu. Sedang aku, tak ada apapun yang bisa kuyakinkan padamu kecuali soal rasa. Yang tak cukup untukmu selalu hidup.

Kukira tak adanya hadir kabarmu karena satu hal yang memaksa. Tapi, aku tahu. Kau pergi tak bersama rasa hati yang sama.

Terima kasih untuk segala rasa yang tak sengaja kau ajarkan. Selebihnya hanya maaf.

November rain 11/11

Hari ini hari ke sebelas bulan sebelas.

Lagi-lagi tempat yang jauh dari kesan pendidikan jauh memberikan penjelasan. Warung lotek disebrang misalanya. Entah apa yang membawa seorang bapak paruh baya mampir memesan lotek dan segelas teh. Lapar. Itu jawaban yang paling mungkin terjawab. Tapi tak menutup kemungkinan ada jawaban lain. Entah racun apa yang beliau makan siang tadi. Ucapan-ucapannya membuat aku mengangguk-angguk. Ya, benar. Kata sempurna secara nalar manusia. Yang mungkin tak diajarkan oleh sekolah bahkan universitas manapun, yang lebih memaksa otak muridnya yang dinamis dan fleksibel menjadi kaku dan primitif oleh hafalan-hafalan.

"hidup harus berpolitik,
Tanpa politik kamu tak akan menikmati kopi. Tak akan tahu rasanya sayur. Minum air putih. Makan nasi putih, loh kok ga ada kuahnya?, kasih air putih. Bisa hidupkah orang seperti itu?, hidup tapi tak merasakan hidup", ucapnya kemudian tertawa.

Memang hidup dijaman ini tidaklah susah. Manusia-manusia diacak dengan pemikiran-pemikiran orang-orang yang mengaku penemu ilmu itu. Menjadi ajaran hafalan. Mana mungkin seseorang menemukan suatu ilmu diluar proses penghafalan menurunkan ilmu dengan hafalan. Itu hanya akan melahirkan manusia setengah robot. Hidup tapi mati. Mati tapi bernafas. Hanya menunggu proses penguraian oleh alam.

Sejatinya ilmu itu ada didalam jiwa manusia. Dann alam menerangkan semua. Alam lag mediasi. Makluk-makluk yang penuh taqwa. Tak mengeluh. Patuh terhadap titah sang Maha.

November rain 08/10

kembali. cakrawala melukis wajahmu. ketika siluet mentari senja pecah pada kacamata yang basah. udara berhembus sejuk, segar. Hujan baru saja berlalu. Menghempas terik yang seharian.

Kopiku serupa mantra-mantra. Kembali. Mengundang arwah-arwah kerinduan. Merasuki hati. Mengundang bayang wajahmu pada langit-langit anganku. Tanpa rima, tanpa sajak. Segala tentangmu begitu indah adanya.

Seraya, semesta alam bertasbih atas nama Tuhannya. Memuja setelah senja men-jingga-kan semesta. Seberapa jauh kita berada, setiap tiba saat seperti ini, kurasa kita melihat warna senja yang sama. Bukankah kita begitu dekat, Manisku?. Tersenyumlah. Peluk erat rinduku dan jangan kau lepaskan. Jangan biarkan aku merindu, sendiri.

Seharian listrik padam. Nadi ekonomi yang tergantung padanya, mati sejenak. Tapi biarlah. Agar nafas bisa berarti tanpa melulu soal uang. Biar terang lilin menyinari penaku menulis rindu, padamu.

Wonogiri selatan,
Benk_wd
7/10/16

November rain 4/10

Jarak yang jauh. Mimpi serta cita-citamu. Setidaknya itu cukup untuk mensabotase perasaan masing-masing. Kabar yang tak terdengar, rupa yang hanya sebatas ingatan. Apa menurutmu ini baik untuk sepasang manusia yang baru belajar saling mengenal. Mungkin kau sengaja menghilang.

November rain. Apa ada yang lebih romantis dari lagu itu sepanjang hari di bulan ini?. Sekalipun, hari ini cukup terik. Cukup panas untuk udara pegunungan dan dinamika atmosfer politik negeri ini.

Sebenarnya sih lagu itu hanya ingin kunikmati sebatas suara ceking axel dan arasemen musik yang nyaman di telinga. Tidak begitu dari harfiah liriknya. Ku harap perkenalan itu sebagai gerbang kebahagiaan. Sebuah catatan yang layak sejarah ingat. Kenangan. Manis, merindukan.

Selamat siang manis, jangan lupa makan siang. Jaga kondisi.

November rain (04/10/16)

Masih banyak orang yang mudah terkecoh. Konsentrasi yang mudah digiring pada pokok masalah yang semu. Menyederhanakan masalah. Hingga saat diurai sebagaimana mestinya menjadi terasa dibesar-besarkan. Menganggap hal yang dianggapnya sepele menjadi sesuatu yang konpleks. Dramatis,overdosis. Padahal itu hanya hal yang sewajarnya. Masalah kompleks yang mereka sederhanakan. Masalah yang telah salah mereka persepsikan. Itulah yang salah dengan cara mereka memandang suatu masalah.

Lebih-lebih soal kepercayaan. Sesuatu yang teramat sangat disakralkan. Seharusnya semua pihak tahu, gejolak seperti apa yang akan timbul bila terjadi gesekan pihak manapun dengan kesakralan lahir-batin setiap orang. Mudah sekali dikecoh, ketika kaum mayoritas bersuara, isu sara, rasis ataupun etnis kerap kali muncul. Ketika kaum mayoritas bersuara, sering terlampoi sering di-versuskan dengan kaum minoritas yang sebenarnya tak ada sangkutannya. Kalau sudah begitu, siapa korban isu sara, rasis dan etnis yang sebenarnya?.

Tidak ada agama manapun yang diajar memusuhi agama lainnya. Begitupun dengan budaya dan etnis manapun. Apalagi dalam konteks kebhinekaan. Yang lebih kerap dinistakan dengan keluarnya kata "mayoritas" dan "minoritas" oleh orang-orang yang dianggap guru, pakar, atau tokoh-tokoh penting masyarakat.

Seseorang mengatakan segolongan orang fanatik pada kepercayaannya. Sedang dia sendiri mati-matian membela tokoh kebanggaannya. Menganggap tokohnya sebagai panutan yang mutlak terhadap kebenaran.

Apa yang seperti itu tak juga disebut fanatik?. Lalu kita sama-sama fanatik. Dan kefanatikan mana yang lebih berdasar?, pada satu tokoh yang hidup pada durasi yang hanya puluhan tahun, atau pada pemahaman pada suatu nilai yang sudah ada sejak ratusan tahun?.

Sejatinya tidak ada pembenaran dalam suatu perang. Baik secara perdebatan atau perlombaan penggiringan opini. Selama jalan damai masih ada.

Empat Nopember dua ribu enam belas. Diberitakan terjadi demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Katanya. Menuntut Sang Gubernur di usut tuntas tentang kecurigaan telah terjadi penistaan agama. Dan yang perlu ditegaskan, ini bukanlah masalah antara agama ini dengan agama itu. Melainkan antara pihak yang merasa dilecehkan, pihak berwenang, dan sang Gubernur. Bukan antara agama dan etnis manapun. Dan demonstrasi seperti ini adalah hal yang biasa pada sistem demokrasi. Tak perlulah dianggap sebagai sesuatu yang najis atau dilebih-lebihkan. Biasa saja kok. Tak perlu juga banyak dibicarakan sebagai pemicu kericuhan. Bukankah kita punya pihak keamanan yang bertugas untuk antisipasi. Percayakan saja.

Menurut saya, mungkin ada baiknya sang Gubernur tak bicara soal agama dalam atmosfer politik, apalagi soal agama orang lain. Tak perlulah. Tak perlulah juga simpatisan sang Gubernur melancarkan serangan opini terhadap pihak-pihak yang tersinggung atas pernyataan Gubernur. Lebih-lebih pada guru-guru yang "digugu lan ditiru" oleh ribuan bahkan lebih pengikutnya.

Tidak masalah fanatik pada sesuatu. Yang tak perlu adalah mengukur kekuatan kefanatikan. Fanatik tak harus selalu dierat hubungkan dengan intoleran.

Kesetian, pendalaman makna, pandangan hidup yang konsisten.

November rain ( 2/10 )

Seperti kemarin-kemarin. Hujan bisa datang kapan saja. Bahkan tanpa mendung sebagai atap bumi yang kemudian basah. Langit semakin tak menentu. Tahun ini misal, tahun yang terlewati tanpa kemarau. Hujan sepanjang hari.

Hari ini, dua hari meninggalkan oktober. Nopember. Menjelang tengah hari hujan turun lumayan deras. Memdung putih, sepertinya akan menjadi durasi panjang udara basah. Sejuk, seperti biasanya. Tapi sepertinya menjadi beda kala turun di bulan nopember. Entah karena "November rain"-nya GNR, atau hujan yang kulewati bersamamu dijauh sana. Jauh sekali. Pertengahan tahun lalu, saat kau nampak ditepian hujan. Tak terlalu berarti mungkin. Seorang gadis yang terjebak hujan. Tapi entah mengapa, itu menjadi hal yang mudah kuingat. Dan seketika aku rindu.

Hujan akan turun mungkin akan turun hingga pertengahan tahun depan. Jaga kondisi. Jangan sebentar-sebentar sakit.

O, ya. Jadi dimana kau akan bersenang-senang malam tahun baru nanti?

26 oktober

Selamat malam manisku, apa kabarmu?, semoga kesehatan, rahmat dan kasih sayangNya senantiasa menyertaimu. Meneduhimu.

Satu pintu menuju padamu tertutup belakangan ini. Mimpimu membawamu jauh entah kemana. Kini, kabarmu pun terbang bersama angin selepas hujan belakangan ini.

Entahlah, ada banyak hal yang ingin bagi padamu. Tapi aku sendiri tak tahu. Harus bagaimana. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Mediamkan kehangatan yang sudah semakin dingin saja. Sedingin wajahmu, yang aku ingat, lalu aku rindu.

Selamat malam manis, jaga kesehatanmu.

21 oktober

Apa kabarmu manis, lama tak kau sampaikan kabar dan rindumu. Lama kau buat rasa takut itu bangkit akan ketiadaanmu. Kepergianmu. Yang entah kemana.

Kerinduan ini masih begitu hangat dalam sepi. Mengisi kekosongan disetiap sudut ruang hati. Kau yang biasa terdiam disudut sana, tak nampak walau sekedar bayangmu. Kau yang biasa berpijar di atap sana, sengaja menghitamkan dunia malam. Sedang aku mencari datangnya cahaya. Sedang aku sepi dalam sunyinya malam. Sedang apa kau di jauh sana?. Aku hirup sekali lagi cangkirku, aku rindu sekali lagi padamu. Kasih. Tersenyumlah.

200001

Suatu saat nanti, bukan lagi batu-batu bertulis yang akan menjadi situs. Manusia-manusia masa depan akan mengais data-data postingan dunia maya. Yang sistem dan perangkatnya keras hancur oleh perang besar. Tak menyisakan apapun kecuali benda rongsokan yang antik. Mereka akan mengais catatan-catatan sejarah dari server raksasa yang menjadi mesteri. Yang berada di satelit luar angkasa. Mulailah, manusia-manusia masa depan melakukan percobaan-percobaan untuk menggapai server itu. Membuat perangkat-perangkat dan sistem yang selayaknya kita gunakan hari ini. Saat semua nyaris sempurna, dan mulai bisa mengakses data dari satelit yang luput hancur dalam perang, mereka akan menyebutnya penemuan terbesar sepanjang masa. Perangkat dan sistem yang biasa kita gunakan hari ini, kelak akan menjadi penemuan sepanjang masa. Namun, peradapan manusia akan mengalamu kemunduran. Dimana dunia global memalingkan internet dari kepentingan umum. Konspirasi. Hanya segelintir mafia yang akan menggunakannya. Sedang dunia yang umum akan disibukan dengan barter dan bepergian. Berlayar dan menunggang kuda. Tak ada lagi pesawat. Tak ada lagi kendaraan berbahan bakar fosil dan sumber daya alam lainnya. Semua untuk habis dan hancur untuk perang besar itu. Dunia akan kembali pada peradapan jauh sebelum abad 21.

Mungkin begitu. Karena itulah aku tulis ini untukmu. Agar kelak manusia masa depan menjadikan tulisanku sebagai kajian. Menjadi sastra yang mereka baca dan ceritakan turun-tenurun. Tentang kisah aku dan kau yang entah bagaimana ujungnya.

Selamat pagi manis, tersenyumlah.

16 Nopember

Selamat malam, apa kabar.

Udara dingin begitu kental sekali malam ini. Begitu erat membuat syal warna biru bercorak hitam erat membelit leher. Apa kau jauh disana juga merasakan hal yang sama?.

Ya, terkadang cuaca lebih bisa memposisikan kita pada ruang yang sama ketimbang hati. Tanpa sengaja, kita berucap udara dingin, langit hitam, dan sepi. Tidak(belum) sekalipun kita sama berucap aku butuh kau, aku adalah kau, dan kita adalah aku dan kamu yang bersatu. Belum pernah. Kita masih saling sombong untuk mengakui, kita ini (saling) jatuh hati. Dan kau tahu?, hati tak akan jatuh pada ruang hampa. Hati jatuh karena memang ada tempat untuk dia jatuh. Jatuh hati itu tak pernah salah dan dipersalahkan. Dia akan jatuh pada tempatnya, seburuk apapun itu.

Tapi sudahlah, bagiku aku tahu kabarmu itu saja sudah lebih dari menyenangkan ketimbang memaksakan pengakuanmu tentang perasaanmu. Tahu keadaanmu itu mencukupi kesenanganku. Tapi tak ada salahnya aku meminta lebih. Mendengarmu yang selalu tersenyum, bahagia dan sehat. Ga dikit-dikit sakit dan sedih.

Selamat malam manis, have nice night.

08 Oktober (yang hujan perbuat)

Selamat malam, Manis,
Apa kabar?
Apa hujan juga turun seharian di situ?

Hari ini nyaris tak berjeda. Hujan. Ladang-ladang kering mulai tergenangi. Mulai bisa ditanami beberapa hari lagi.

Hujan. Tetesan air yang penuh misteri. Entah muatan apa yang terkandung di dalamnya, senyawa apa. Hingga setiap tetes mengalunnya membuat wajah manusia bereaksi rupa-rupa.

Ada yang merasa dingin. Sepi. Merasa menjadi makluk asing di planetnya sendiri. Duduk termenung, bercerita pada setiap tetes air yang turun. Tentang hari-hari itu. Hari indah yang penuh kebahagian. Tawa, senyum yang berselingan. Bergantian, berlarian bergandengan. Dunia yang senampak sempurna.abadi. Sebelum akhirnya luluh lantah oleh kenyataan. Dan kini, setiap tetes yang turun hanyalah kenangan. Kesedihan. Menyakitkan malah.

Ada yang merasa hangat. Menyederhanakan segala problema. Bersanding dengan belahan jiwa yang mengerti. Teduh namun hangat. Terus begitu hingga hujan reda. Hingga semua kembali nampak. Masalah-masalah antre berderet selayaknya halaman sekolah di senin pagi.

Banyak lagi. Banyak lagi yang hujan perbuat pada hati manusia. Yang pasti kulihat, bocah-bocah ceria berlarian diantara rinai. Diantara berserakannya material proyek jalan raya. Yang masih semrawut hingga kini. Padahal sudah setahun berjalan. Ditepi urug -urug magrok itu terdapat galian saluran air. Mungkin sekitar satu meteran. Nampak beberapa kabel optik yang teramuk alat berat. Hujan yang tanpa ampun telang menggenangi galian tadi. Hingga penuh meluber, mengalir di jalanan. Disepanjang jalan disekitar kecamatan, kearah utara, sekitar Widya 45. Disitu tadi segerombolan bocah berenang. Tak hanya sekali. Setelah pergi kembali lagi. Tepat diperempatan jalan menuju...,
ahh.. Jadi menurutmu,apa yang ada di dalam hujan?, apa yang hujan lakukan padamu?,manisku.

07 Oktober

hari ketujuh, bulan oktober. sepekan pertama bulan ini dalam tahun tanpa kemarau.

Selamat pagi, apa kabar?...
Matahari nampak sumringah, melesat diantara celah langit yang tersaput awan. Kesibukan-kesibukan mulai bangun. gaduh-mengaduh. Ini-itu. Apa dan apa.

Semua bergerak. Menggulingkan rotasi kehidupan yang berjeda sejak semalam. Sejak langit menjadi hitam. Gelap. Sunyi. Sepi. Sejak dingin menjadi kawan. Sejak hayalan-hayalan itu indah adanya. Menari -nari dalam angan yang lelah. Yang puas dipermainkan kenyataan.

Hidup ini...?, ya begini. Penuh masalah. Ya, sadar atau tidak memang begitu seharusnya. Semuanya. Tak satupun yang bukan masalah. Mendengarkan Give Me Novacaine dan ngopi, bisa saja itu sebuah masalah. Ya, mungkin. Tapi, setidaknya itu pasangan teromantis pagi ini. Romantis praktis, manis. Semanis senyummu yang juga jadi satu masalah.

Hidup ini adalah masalah. Butuh penyelesaian. Tidak untuk dihindari, ditolak ataupun diterima sebagai beban. Masalah adalah satu fase dalam hidup ini. Bagian dari siklus kehidupan. Tanpa masalah dunia ini akan menjadi surga. Dan cita-cita manusia tidak untuk merubah bumi ini dengan tempat indah itu. Tidak ada sungai Rajab yang mengalir dibawah tanah tempat kita bepijak. Tak ada bidadari-bidadari. Tidak ada istana-istana indah.

Selamat pagi manisku, have nice day.

29 september

Akhirnya, satu tokoh yang ku gadang-gadang sebagai pemimpin pecah dari dinding cangkangnya. Beriring dengan turun gunungnya para resi, serta seperti biasa, kalimat pro-kontra yang sudah lumrah. Memang sebenarnya sayang, dia keluar saat cangkang dan embrio yang dia naungi masih bisa memberinya lebih. Menjadikannya resi ataupun satu tokoh sekelas wisang geni. Tapi, biar bagai manapun itu pilihannya, dengan kalkulasi yang persentasinya hambir diangka seratus. Biar saja, debu dan kontaminasi membentuk perisai kuat yang membentenginya. Menjadi penggemblengan sampai dia benar-benar menjadi seorang "kage". Apapun, maju terus mas, jadilah kebanggaan kami. Jadilah satu tokoh yang tak bercelah untuk dicacat. Jadilah dambaan bocah-bocah yang baru belajar bercita-cita. Agar mereka ingin menjadi sepertimu. Garuda tak pernah menelurkan perkutut. Kuku-kuku mudamu yang bersih jadikanlah cakar kokoh yang disegani semesta.

Kau akan datang?

Tengah hari kali ini ditemani hujan deras. Langit yang hanya menyisakan satu warna, putih. Mungkin hujan akan berdurasi panjang kali ini.

Selamat siang, manisku. Apa kabar?. Walau klise, tapi menanyakan kabarmu adalah satu hal yang paling ingin kudapati kawabnya. Semoga hari ini menyenangkan bagi mu.

O,ya. Apa hujan juga turun menemanimu?. Mengheningkan suasana, menyejukan cuaca. Biar kita sama-sama hening, biar kita sama-sama sejuk. Biar kita menyambungkan tali-tali kerinduan yang tercecar akan jarak dua kota yang jauh. Biar aku dan kamu menjadi dekat dalam jauh. Apa terlalu berlebihan bila setiap waktu menyampaikan kerinduanku padamu?. Setidaknya, itu yang aku bisa berikan saat jarak, waktu dan aktifitas memaksa kita untuk masing-masing sementara ini.

Tak terasa, september sudah tiba pada gerbang pekan terakhirnya. Oktober, Nopember dan Desember. Kurasa itu akan menjadi waktu yang sebentar. Apa kau tak bermaksud datang pada pesta tahun baru di tempat yang tahun lalu?,..

Bersama alunan Kisah Seorang Pramuria dari Bomerang ini aku pun masih merindumu. Melancarkan harapanku agar malam 2017 nanti kita dapat melihat letupan kembang api yang sama. Akhir desember lalu adalah awal aku berani mengirimkan pesan singkat padamu. Aku tak tahu, apakah kita kencan malam itu?, hari itu aku menawarimu untuk datang pada suatu pesta di wonogiri selatan. Kau bilang "ya deh, coba nanti". Benar saja, malam itu kau datang. Kau ada diantara kerumunan slanker dan masyarakat sekitar. Aku pun demikian. Aku pahami malam itu sebagai ajakan seorang panitia acara pada penonton. Aku tak begitu menyadari bahwa percakapan malam itu juga bisa sebagai kencan pribadi kita. Dan aku mulai sadar baru-baru ini. Kecan pertamaku yang bersamamu yang telah aku lewatkan. Hanyut dalam derasnya uforis tahun baru. Maaf. Tapi, maukah kau beri aku hal yang sama di malam 2017 nanti?, setidaknya aku bisa bertegur-sapa denganmu dan menanyakan kabarmu secara langsung. Atau malah lebih. Kita bisa bincangkan sedikit dari luasnya bumi dan kehidupan ini. Bicara tentang kemarin atau hujan resolusi tahun depan dan depannya lagi.

Hujan sudah mulai menipis. Genangan-genangan mulai menjadi wajah lain dimuka bumi ini. Namun, wajahmu masih saja. Masih belum pudar dan semakin pekat saja. Jadi, bagaimana?, tahun baru nanti kau akan datang atau tidak?, :)

22 Agustus

Selamat pagi manisku, apa kabar?. Sudah mandikah?, atau malah sudah sibuk dengan buku dan disiplin-disiplin ilmu mu?, apapun, jalani semua dengan penuh semangat, optimisme, dan totalitas. Semoga hari-harimu menyenangkan. Semoga.

Dua puluh dua Agustus. Cerah, hangat dan... ramah. Tiga kata itu setidaknya menjelaskan awal hari ini. Sepasang roti tawar, kopi dan rokok serta suara dunia yang mulai pelan-pelan sibuk dengan rutinitas. Menu sarapan yang tehidang pagi ini. O,ya. Sudah sarapan pagi ini?, jangan lupa, sempatkanlah sarapan. Mengejar dunia butuh tenaga lebih. Karena kau tahu?, iya, betul. Dunia tak akan berhenti untuk sekedar menunggumu sarapan. Tapi terus berlari tanpa memperhatikan kondisi badan, itu juga gila. Baik-baik ya disana.

Kopi. K-o-p-i. Ko-pi. Boleh saja orang mendiskripsikan kopi bagaimana. Tapi, kopi tetaplah kopi. Karisma aroma yang begitu memesona dari buih-biih pahitnya. Menjadikan kopi tak pernah tunduk pada siapapun. Barista-barista ternama pun ku rasa tak pernah selesai menerangkan tentang kopi. Kau ingat, Ben. Seorang tokoh dalam novel filosofi kopi karya Dee lestari. Iya, yang menciptakan Ben Perfecto, katanya. Susah payah iya menimbang takaran kopi yang akhirnya merasa kalah dengan kopi tiwus. Sebuah kopi yang di sajikan bukan oleh seorang Barista dari bar ternama. Lagi-lagi bubuk-bubuk pahit itu memberikan pelajaran pada hidup ini. Kata jodi, tak sempurna tapi indah begini adanya. Behitulah hidup.

Kopi minuman yang menurut tak bisa disajikan dengan apapun. Kopi itu bisa di katakan egois bisa juga dibilang murni. Mungkin yang bisa beriringan hanyalah rokok. Itupun dalam cita rasa tertentu. Sedikit yang ku tahu, nikmati setiap teguk pahitnya dalam suasana santai, disuatu tempat yang beraromakan alam. Barangkali hal itu juga yang membuat kopi tiwus mengalahkan Ben perfecto. Karena pertama Ben meminum di suatu tempat di pedasaan di dekat kebun kopi itu. Tentu suasana yang sangat jauh berbeda dengan suasana bar ataupun kedai kopi.

Bunga mangga nampak cerah kekuning-kuningan. Mengisyaratkan matahari mulai merangkak naik. Okey, baik-baik disana manisku,
Have nice day :)

20 September

Menjelang sepertiga akhir bulan September. Tepatnya, hari kedua puluh. Selamat pagi manisku, apa kabarmu?.

Selepas perayaan ke-2, pernikahan mas iud&mbak dian. Pagi ini aku mulai memacu adrenalin sepanjang jalan menuju Giribelah. Kau tahu doa apa yang tak mungkin dikabulkan di pagi ini?,jawabnya adalah ketika kau berdoa meminta jalan terbaik padahal kau melintas di jalanan Giriwoyo - Giribelah. Proyek yang masih belum rampung, dan kalau orang awam bilang masih mentah. Tapi, entah bagaimana dari pandangan orang teknik. O,ya. Sebelumnya ucapkan selamat untuk kedua mempelai. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawadahwarohmah. Terima kasih untuk pestanya semalam. Untuk lagu-lagu Slank dari Solo Slank-nya.
Pertanyaan itu seperti disirami darah segar setelah hampir busuk. Bukan, ini tak ada kaitannya dengan acara atau teman-teman semalam. Ini adalah soal bentuk bumi. Bulat atau lempengan. Seseorang melempar pembicaraan itu dengan dalih yang keras. Katanya bumi itu lempengan berbentuk lingkaran yang di kelilingi tembok es. Kalau aku sih sebenarnya tak ambil pusing soal bentuk bumi. Lempengan atau bulatan tak masalah. Selama oksigen dan air masih legal. Yang menjadi soal aku didepat. Dan kau tahu, dalam kondisi tertentu aku akan memosisikan diri menjadi lawan srkalipun apa yang ku ucapkan menggambarkan pikiranku. Sebenar diskusi atau debat hanya mencari kepuasan pengakuan dan olah bahasa. Soal pemikkiran, adalah kemerdekaan mutlak setiap individu.

Aku katakan apakah kita akan mundur sekian ratus tahun, kembali pada keyakinan bumi datar dan langit disangga gunung-gunung?. Dia tertawa sebentar, "iya ya, kita akan mundur limaratus tahun, atau malah kita dibodohi selama lima ratus tahun?",ditertawa lagi.  Sebenarnya terserah, sekalipun bumi ini kubus, tak ada masalah. Karena dengan mengatakan "ya" atau "tidak" tak membuatku gratis dari biaya listrik, air dsb. Hanya saja tak puas dalam adu argumen itu, bukan hal yang menyenangkan.

Menurumutmu, bagaimana.manis?, bumi itu seperti apa?.

17 september

selamat malam kekasih, apa kabar?.

hari ke-tujuh belas bilan september. Bertepatan dengan yang dianggap baik di bulan Besar yang di anggap baik dalam perhitungan penanggalan jawa. Entah hari yang keberapa. Tanggalan masehi lebih akrab di kehidupan kita ketimbang penanggalan arab yang kemudian digubah sultan Agung ke penanggalan jawa.

Hari yang baik. Benar saja, berapa puluh pasang pengantin yang menandatangani kontrak seumur hidup mereka. Lalu kita kapan?. Sebuah pertanyaan klise baik dari sudut pandang satu ataupun dua. Sebuah pertanyaan yang tak cukup di jawab dengan tanggal bulan tahun saja. Ya, tak semudah itu.

Gemercik mendung yang gugur menimpa dedaunan di Pacitan barat. Menjadi teman selain asap tembakau dan bubuk-bubuk kopi dan juga wajahmu. Udara sejuk yang kemudian dingin. Hening, hanya menyisakan sedikit saja suara kodok dam jangkrik dalam  audio semesta. Menjadi jeda yang sebentar dalam ke gaduhan materi, sosial serta politik yang penuh intrik.  sebelum ahad yang akan datang seperti apa. Aku tak tahu.

Dunia sudah begitu kotor. Terkontaminasi dengan kemunafikan. Menerobos jalan-jalan larangan, serta memutar-mutar petunjuk sesuka hati. Serta kenaifan bocah-bocah yang baru belajar sedikit tentang hidup. Merasai pintar lalu menggurui. Memaparkan istilah tentang cinta mengumbar birahi,anarki dan liberalisasi. Menuntut bebas tanpa ada tekanan. Menuntut merdeka tanpa penjajahan, menuntut hak tanpa menperhatikan kewajiban. Konyol memang. Dan kita hidup dalam dunia yang konyol. Sekonyol-konyolnya. 

Harusnya malam ini terang bulan. Tapi, seperti yang kau lihat. Awan-awan pekat menyelimuti semesta. Ringankan pikiranmu, dan lemaskan katup matamu. Selamat malam manis, istirahatlah. Mungkin esok kita bisa ligat bulan sempurna dan bertukar penilaian tentangnya. Have a nice night.

Dunia Bilang : "Naif"

Bagaimana mudah menjadi saya. Kita teelahir sebagai manusia. Datang di dunia dan besar dengan proses yang disebut belajar, bukannya tertanam harddisc yang berisi progam-progam prosedur kehidupan. Hidup itu fleksibel, dinamis. Bukan rek tunggal atau koridor-koridor yang penuh sensor. Sejak kecil kita belajar meniru. Manipulasi, identifikasi, imitasi. Dalam jiwa tertanam kakasi-kakasi yang kuat. Kita selalu mencoba menjadi orang lain,selalu. Sampai pada suatu hari yang begitu membosankan. Menjadi oposisi dari serangkaian disiplin prosedural yang telah para pendahuku ciptakan. Membrontak, sampai kita temui sosok yang lain. Dan kita mengulangi lagi siklus yang sama. Hingga tahap-tahap dengan angka yang semakin besar. Begitu dan berulang. Kita ini palsu, kamuflase pada setiap musim yang berubah-ubah demi menyandang predikat "lumrah".

Terlalu naif jika kita tak berhati cermin. Putih, namun seketika meniru apa yang ada di depan kita. Kanan kita bang kiri. Begitukah manis?.

Sejak kematian Bintang, sory, maksutku kepergian. Sejak kepergian Bintang yang memilih untuk tidak singgah, ada semacam keputus asaan yang nyaris sama praBintang. Orang seperti Bintang itu hanya diciptakan beberapa dan dalam kurun waktu yang lama didunia ini. Saat kau berada di dekat Bibtang, kau akan dapati super ketenangan, kesejukan dan alasan-alasan untuk lisanmu menggugurkan tasbihmu. Tapi kau pun tak akan dapat apa-apa jika kau lebih suka dan terkontaminasi wanita jalanan. Ibarat terrendahnya, jika "Bercinta" sekali saja kau sudah tak mengingankannya lagi. Selebihnya, waktumu hanya akan kau habiskan untuk menemaninya, berdiskusi tentang hidup atau menciptakan puisi-puisi sekelas chairil, khalil gilbran, ataupun wiji thukul. Mungkin lebih.

Tapi bagiku sudah selesai,selesai semuanya. Tak akan ku kejar Bintang yang sudah berpasang. Atau sekedar mencari Bintang yang lain. Dihadapku, kau memenuhi seisi pandangku. Sudut-sudut yang tak menjadi kosong. Mungkin, Sang Maha Cinta masih merahasiakanmu. Memang kau adalah kau dan Bintang adalah Bintang. Kau tak perlu menjadi Bintang, karena, satu hal yang menarik Bintang dia tetep menjadu Bintang kala langit menjadi festival meteor.

Sang Maha Cinta masih membutakan mata ini akanmu. Tapi, hati tak butuh apa-apa. Dengan atau tanpa udara sekalipun dia tetap akan merasa.

Jadi, aku rasa, kau  tersenyum dibalik kabut kehidupan ini. Menantiku, untuk sekedar bergandeng menuju alam keabadian. Hati tak pernah salah, hanya saja dia menginginkan sahwat dunia yang palsu.

Selamat Hari Raya

Hari-hari kita jelang. Itu yang kurasakan di Hari Raya ini. Takbir yang sejak semalam sudah diujung durasi. Hanya menyisakan sesekali saja namun dimana-mana. Setelah gerimis yang sebentar, kumudian sinar-sinar matahari menerobos membawa kehangatan, kedamaian dan harapan untuk beberapa detik lalu dan setelahnya. Bersamamu, aku genggam harapan untuk hari esok dan setelahnya. Itu yang kuharap.

Manis, selamat pagi. Selamat Hari Raya Idhul adha... Semoga kita menjadikan perasaan kita sebagai qurban. Taqobalallohuminawamingkum, Taqobalyakarim. Barakalloh.

Belukar tetaplah belukar

Ketika kita sudah mendeklarasikan sebagai suatu hal yang struktural, kitapun harus siap dengan serangkaian disiplin prosedur. Mengusung pandangan hidup yang sama. Berslogan, prinsip dan kritis pada suatu hal yang sama. Mulailah kita mengikuti kewajiban dan konskwensinya. Ibarat kendaraan, kita menjadi kereta api. Berjalan pada rel dengan posisi yang teratur. Tak bisa lagi zig-zag  tak bisa lagi selip sana sini. Kaku, tegas, tak pandang bulu. Begitulah kereta api. Harus ekstra sabar dan patuh terhadap aturan.

Sudahkah kita siap melangkah dengan kaki yang sama sahabatku?, "kanan-kiri, kanan-kiri". Tak sekedar nampak indah, juga agar tak terjadi cross.

Bagiku, ada baiknya aku mengenalmu sebagai individu. Dan sebaliknya. Sebab berkelompok akan membuat kita kembali pada jalan-jalan primitif. Berpotensi rasis, fasis. Itu hal biasa dalam suatu kelompok. Rentan dan sensitif. Belukar tak akan mudah ditata dan dirata. Sekalipun kita bukan tokoh utama, tapi ingatlah, belukarlah yang membuat jati yang dijaga enggan ditumbangkan. Dan sebelum jati tumbang belukar lah yang harus ditumbangkan dahulu. Belukar kuat karena pribadi yang liar kemudian saling mengenal. Tak seperti jati, tumbuh besar karena sendiri. Karena daunnya yang lebar menutupi sinar matahari pada daun belukar.

Belukar tetaplah belukar. Musim tak mampu membatasi dimana kau tumbuh menjalar dan mengakar.

09/09

Mendekati hari raya. Dimana para pejantan dikawinkan untuk terakhir kali sebelum di qurbankan di hari raya nanti. Tahun ini, kebetulan bebarengan dengan hari-hari yang baik sekitar hari raya. O, ya selamat Bunga.

08 September

Seperti biasa, semut akan selalu datang pada setiap apapun yang berbau manis. Sebelumnya, tak nampak hinggap, pesimis bahwa dari dekapan mancung ada rasa manis. Sampai nira-nira itu menetes mereka masih remeh. Tapi, setelah benar adanya gula, kerumunan riuh tak berjarak. Mengambil bagian yang sudah terlanjur manis.

Yang mereka anggap kecil dulu, sekarang sudah menjadi besar. Bisa saja menjadi ancaman untuk bersebrangan. Memang tak ada cara selain merasuk, menjadi kawan sebelum menguasai. Mengambil alih kendali garis besar dari rel sederhana yang sudah ada. Memang, mulanya tak bertujuan pasti. Hanya berjalan pelan kearah manapun. Bisa saja, setelah ini, rel-rel permanen menuju satu titik, dengan kecepatan dan keangkuhan ambisi.

05 september

Malam, manis.
Apa kabar?, bagaimana hari-hari mu disana?, menyenangkan?. Ya, pokoknya harus semangat dan ceria selalu ya.
O,ya. Sudah makan malamkah?, lekaslah.

Hari ke-5 bulan September. Siang tadi, cuaca disini lumayan panas. Sebelum akhirnya hujan deras membersikan debu di langit-langit Giritontro. Memang, belakangan jalan jalan di sini berantakan. Proyek pengerjaan jalan Giriwoyo - Duet masih belum memberi sinyal akan segera usai. Material dan berat berserakan. Menata pondasi lintasan aspal yang baru. Kadang, males juga melintas di antara proyek pengerjaan jalan. Selain material dan alat berat, ada juga beberapa pengguna jalan yang arogan. Tahu ga, tuh rasanya ingin ku tabrakan saja setiap kali ketumu orang-orang seperti itu.
Iya, deh iya. Kan itu cuma mau. Iya, aku akan baik-baik deh sini. Kamu tak usah khawatir. Aku kan udah gede, bentar lagi juga bakalan ngelamar kamu lagi, heehee.

Benar gak sih kalau golongan darah membentuj karakter seseorang?. Ya semacam garis besar kepribadian gitu. Golongan darah mu apa? A,B,atau A minor, heehee

Hallo September

Hari pertama bulan september.

Sudah sejak pagi buta sosial media memuat postingan menyambut September. Sebuah ritual biasa pada setiap awal bulan agar mereka tetap hits. September ceria. Begitu katanya. Entah kapan pertama kalinya "September Ceria" itu dianakan. Dan menjadi trend berkepanjangan hingga hari ini. Entah pula apa yang membuat ceria di bulan September. Katanya "pembrontakan PKI " juga terjadi di bulan september, Runtuhnya WTC, dan drama-drama lainnya. Dan tahun ini apa lagi yang akan dicatat sejarah?, Gerhana matahari cincin yang katanya akan terjadi sore nanti?, atau ada hal lain yang lebih spektakuler lagi. Atau polemik soal DKI1 yang malah akan mencatatkan diri. Belakangan media membuat DKI jadi sorotan. Mulai dari kontroversi, kualisi, hingga manufer aksi tak berhenti di perbincangkan. Media Nasional yang memang berumah di DKI bisa saja kebanjiran bintang penyiaran dengan adanya gejolak di DKI. Sementara, petani-petani ladang kering di Pacitan barat yang turut menyaksikan berita ini, hanya bisa mengatakan sianu begok si itu begok. Ahok, Sandiagauno, atau bila perlu Risma jadi atau siapapun yang jadi Gubernur pun tak akan memberi dampak apa-apa pada ladang-ladang kering di Pacitan barat.  Oww ya, ngomong-omong ada yang tahu kapan dan bagaimana presiden SBY akan merayakan hari lahirnya?,

Buatku, September tahun ini pun masih tanda tanya besar bagiku. Kondisi keuangan sampai awal bulan ini belum menunjukan ihtikat baiknya. Itusih maklum, usaha yang baru berumur tidak lebih dari tiga bulan ini memang penuh kata "proses" sebagai adiktif. Aku masih enjoy sajalah. Tak tahu seperti apa akhirnya, berusaha disaat jaman yang tak lagi mudah memang butuh ketlatenan.

Satu hal lagi yang menyinggung september tahun ini. Setelah sekian lama entah kemana, semalam "gadis kuning" itu muncul dalam mimpi. Entah bagaimana mulanya, semalam mimpi mendramakan kami menjadi sepasang suami istri. Haahaa lucu sih,

Entah apa yang akan sejarah catat di September tahun ini. Semoga sebuah cerita yang tak butuh sensor untuk diceritakan pada generasi.

Semoga

27 Agustus

Selamat pagi, manis...
Apa kabar?, sibuk apa kau pagi ini?. Maukah kau luangkan waktu, sebentar saja. Dengarkan kerapuhan ku yang merasa dipecundangi.

Aku tak pernah membaca pasar usaha. Itu yang kurasakan. Tapi, aku juga takut pada resiko. Jadi kuambil semua itu dari diriku. Dan,... Ya, itu aku.

Entah apa yang membuatku mengambil ini, yang sebenarnya aku ragukan. Statusku pun tak jelas. Aggghhhh... Ada beberapa maksut yang tak bisa aku jelaskan dengan kata.

Beliau adalah orang yang tak senang dengan apa yang aku dapatkan. Aku dipaksanya tunduk dibawahnya. Menjatuhkan orang lain untuk naik itu biasa baginya. Merasa yang "paling" dan "ter" itulah yang kupahami darinya. Sebenarnya pemahamannya nol besar. Menghafal dan mengulangi itu-itu saja, membuatnya nampak hebat. Tapi bagiku, hanya orang-orang menengah kebawah IQnya yang mengaguminya. Dan kau tahu,manis?. Setiap kali aku berkorban dianggapnya aku terima dan kalah. Tak akan dipahaminya arti sebuah pengorbanan. Jika saja hukum memberikan hak setiap orang untuk menembak satu orang saja, kurasa kaupun tahu, perluruku ini akan menghadap kepala siapa.

Aku merasa dikerdilkan. Ibarat benih, aku dipaksa tumbuh diatas keramik. Tempak yang nampak elok. Tapi tetap saja, tak ada air dan tak ada tempat untuk akar-akar ini aku berpegangan.
"Dasar Bodoh, sudah diberi tempat yang bagus tapi tak mampu tumbuh. Dasar sampah", mungkin itu yang akan ku dengar.

Sekarang aku harus bisa hidup dalam kemungkinan yang kecil sekalipun. Dosa memang Tuhan yang mengampuni, tapi sakit hati butuh waktu yang lama untuk sekedar pulih. Pun sudah dilepasnya maaf di jauh-jauh hari, tapi butuh proses dan pengorbanan untuk memulihkan hati.

maaf

Selamat sore Sahabat, sore teman, sore kerabat, sore manis, bunga, bintang, kekasih, serta semuanya. Tanpa kecuali.

Bolehkah sore ini aku rindu kalian. Membayangkan, memeluk kalian dengan penuh kerinduan. Kita saling duduk dan bercerita. Tentang kita yang dulu atau hari-hari yang akan datang, seperti yang aku lakukan bersama Pandu disaksikan bocah-bocah yang dulu kita mong dan kini jadi teman main, semalam.

Aku sudah abadikan senyummu di atap-atap ingatanku. Agar tak seorangpun meraihnya untuk dibuang. Aku rindukan semua tentang kita. Bermain bersama, berlari, dan menyimak gejolak dunia yang semakin dewasa, kemudian... Tua. Walau tak mengulanginya, hari-hari bersama kalian adalah masa yang tak pernah tertandingi. Kita begitu hebat, liar, dan menawan.

Sejarah tak mungkin dirubah. Hanya, terkadang rasa pengecut kita mensensor bagian-bagian penyesalan yang pelan-pelan ingin kita hapus. Tapi, itu bodoh. Kita tak akan untuk itu. Pun hari ini, dengan penuh rasa sesalku. Maukah kalian duduk dan berjabat tangan denganku. Bukan untuk menghapus bagian hitam itu, tapi sekedar pengakuan memang tak selayaknya itu kulakukan.
"Maaf, atas segala kata, sikap, dan perbuatan"

24 Agustus

Lalu apa. Kekasih..

sampai pada waktunya kau pun tak yakin untuk turut bersamaku mengasingkan diri. Kekasih, aku muak dengan semuanya. Semuanya... Aku ingin sekali pergi jauh, jauh sekali. Barangkali sampai satelit NASA tak akan pernah menemukanku. Pada suatu tempat yang jauh dari segala hingar-bingar dunia yang berpesta. Dentuman bom, desing peluru, atau suara lantang perdebatan. Aku tak suka musik itu.

Aku impikan dunia yang tanpa misiu. Dan kita sibuk Mengajari anak-anak kita kelak dengan berkebun dan berternak. Mengajari mereka makan apa yang mereka miliki. Bukan tipu-tipu atau mencuri baik-baik. Aku ingin sekali pergi kesana, ketanah pengasingan, ke dunia yang polos. Dunia tanpa diplomat ataupun delegasi. Tanpa bersekutuan, rivalitas dan perang. Yang benar-benar polos. Yang nampak naif bila perlu.

Entah siapa yang salah. Kita yang lahir pada jaman yang salah. Atau kita yang tak bisa menjaga keseimbangan. Harga kebutuhan pokok mahal, kesehatan, pendidikan bahkan tarif wc umum pun sudah berskala ribuan rupiah. Yang sedang hangat, rumor rokok yang katanya akan diatas angka lima puluh ribu rupiah bulan depan. Entah apa maksutnya, ingin menciptakan negeri sehat tanpa rokok, atau ada masalah antara elit pemerintahan dengan bos-bos rokok. Atau karena pabrik rokok mencukur besar-besaran karyawannya karena efisiensi penggunaan mesin produksi rokok. Atau tembakau yang didatangkan dari luar negeri dalam jumlah besar dengan harga yang murah. Atau... Atau.. Dan atau... Entahlah. Orang kecil hanya bisa menerka- nerka. Penuh tanda tanya, argumen dan kata-kata "mungkin" dan "atau". Yang semuanya hanya kira-kira saja.

Harga yang kita bilang mahalpun bisa saja begitu murah menurut "mereka". Entah memang kenyataannya semua mahal atau kita yang gagal menaikan taraf hidup?. Lagi-lagi... "Entahlah".

22 Agustus

Tak terasa, kita sudah berada pada sepertiga akhir bulan kemerdekaan. Uforia kemerdekaan memang tak pernah berakhir. Hari ke dua puluh dua, dan hari ini masih diadakan karnaval kemerdekaan di bumi gio van java. Dapat aku bayangkan betapa meriahnya itu. Sementara di daerah lain sudah terselenggarakan beberapa hari lalu.

Negeri ini bukanlah negeri kemarin sore. 71 tahun itupun terhitung sejak Bung Karno membacakan Proklamasi di Pegangsaan timur. Dan jauh sebelum itu negeri ini sudah ada. Mengobarkan perang pada bangsa kolonial ratusan tahun lamanya. Bara perjuangan itu terus menganga. Terwariskan pada anak cucu bahkan lebih jauh lagi.

Lalu sudahkah kita 100% merdeka?,sebuah pertanyaan klasik yang acap kali muncul menjelang peringatan hari-hari besar kepatriotan. Bermacam spekulasi jawaban bermunculan. Entah yang murni atau yang berbau kepentingan. Memupuk nasionalisme atau perbandingan untuk menyerang lawan politik. Soe hok gie mungkin benar, politik itu lumpur yang kotor.

Aku tak peduli, berapa persen kita merdeka. Apalah arti persentase kemerdekaan, toh selama ini yang kita kejar adalah harta yang melimpah. Apalah arti persentase kemerdekaan, bila kita masih termakan isue-isue sara, rasis, intoleransi, atau radikalisme. Kita masih saling curiga. Kita masih saling menebar pengaruh siapa yang "ter" dan "paling". Sementara Amerika sudah menggeser sekian persen kekuatan militernya kesekitar negeri ini.

Dunia ini penuh kemunafikan. Tidak ada perdamaian, dunia ini adalah peperangan. Perdamaian hanya hal naif untuk melemahkan lawan. Diplomasi itu hanya untuk persahabatan, tak berlaku dalam peperangan. Militer kita pernah menjadi urutan papan atas pasca perang dunia dua. Padahal itu baru beberapa tahun selepas proklamasi kemerdekaan. Negara-negara sahabat yang dulu menyokong kemerdekaan kita kini dalam kondisi tegang. Perang dan peradudombaan dialaminya. Palestina yang mengakui negara Indonesia bahkan sebelum 17 Agustus '45. Mesir, Iraq, Suriah, Libanon, dan lainnya. Kini mereka melanjutkan hidup dalam desing peluru, wangi misiu, serta anyirnya darah.

Semoga, soludaritas dengan lama tak akan memudar. Semoga kita tak melupakan budi. Bocah kecil itu sudah tumbuh dewasa. Sudah membuat kalayak internasional berpikir untuk semena-mena. Cinta tanah air dan cinta perdamaian.

21 Agustus

Ada masa-masa dimana kita harus merelakan. Menjadi seserpih yang terbang, lalu... Menghilang. Ada kalanya senyuman hanyalah kenangan. Kau yang datang sendiripun pada akhirnya harus pergi tanpa kawan. Apa ada yang lebih mengkawatirkan selepas semua. Selain tentang jalan panjang nan manusiawi untuk orang-orang yang kita sayangi.

Aku tak memaksamu untuk merasa beruntung, tak pula memaksamu mengenang. Hanya sekedar kalian tahu. Segala sifat manisku tak lah ku buat-buat. Aku benci mereka-reka. Ketika aku menyapamu, bertanya tentang ini dan itu mu. Ada harapan lebih atas kebahagianmu. Dengan ataupun tanpaku.
Embun menghilang untuk berganti hangatnya mentari. Dan berganti embun yang lain esok hari. Begitu seterusnya. Yang hari ini berharga akan menjadi bullshit kalau kita harap abadi. Hargai, nikmati, setiap kasih sayang yang tersiram padamu.

20 Agustus

Selamat sore manis, sedang apa?

Selepas dibalik semua sorak-sorai, hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan ada rasa yang membuat hati ini kecil. Ini lebih buruk dari kesehatanku belakangan ini. Semacam rasa takut kehilangan untuk sesuatu yang tak kumiliki. Hanya sebuah semacam harapan, kasih sayang kuharap terbalas.

Matahari sudah mulai meredup. Lebih terasa hangat, lebih membuatku.... Entahlah. Baik-baik selalu manis. Bolehkah aku merindumu?, semoga

19 Agustus

Sempat aku curiga. Dan ternyata... Benar. Mencintaimu adalah suatu yang menyakitkan. Tapu tak apa, bukankah sudah aku berulang katakan, cinta tanpa rasa sakit itu... Omong kosong. Kosong..

Selamat pagi manis. Jangan lupa mandi, atau setidaknya cuci mukalah. Lalu sarapan.

Entah mengapa, belakangan daya tahan tubuh ini menurun. Sebentar pilek, sebentar lagi meriang. Begitu dan berulang. Bagaimana denganmu?,manis. Jaga kondisi. Cuaca menang banyak akhir-akhir ini. Jangan sampai kalah total.

Semenjak kuputuskan ada satu nama saja di dalam hati ini, aku tak tahu lagi apakah aku masih bisa jatuh cinta lagi. Mungkin Bintang adalah satu-satunya yang mampu membuatku merasakan itu. Merubah cara pandangku pada wanita. Dia wanita yang hebat. Sangat hebat. Walau sekarang untuk bilang "hay" saja tak pernah.  Setelah Bintang, wanita-wanita kupertimbangkan secara rasional. Secara ejaan huruf dan hitungan angka mampu ku jangkau. Well, aku tak bermaksut apapun. Intinya aku akan jatuh cinta pada siapapun, pada seisi alam semesta raya ini. Dan soal wanita, aku tak bertanya tentang cintanya. Tapi lebih pada komitmennya. Sebagai seorang wanita, istri, ibu, menantu, dan juga ipar. Aku tak mau egois hanya memilihmu untukku saja. Lebih-lebih hanya untuk urusan kehangatan semu dimalam gelap yang dingin. Bukan, manis. Walau terdengar naif, tapi apa ada tang tak naif kalau kira bicara masa depan dijaman sekarang.

Biarkan saja semua mengalir seiring waktu. Yang mereka sebut-sebut dengan cinta kelak akan tumbuh dan berbunga saat aku dan kamu saling berdampingan yang sah. Dan hari-hari kita akan lalaui bersama. Bercerita tentang indahnya dunia. Tentang biaya sekolah anak kita yang semakin mahal, kebutuhan pokok dengan harga selangit. Harga bbm yang labil serta para elit politik dan pemerintahan yang mulutnya dikerumuni semut karena tak henti berkata manis. Pokoknya tentang semua, sampai kita tak punya opsi lain selain mencinrai sampai alam keabadian.

Jadi bagaimana dengan kita hari ini?, apa aku harus membuka pembicaraan sebagai laki-laki?, tapu tidak. Yang benar saja, kau terlalu cuek untuk seorang yang merasakan sesuatu yang sama denganku. Cinta tak se jaim itu. Kita harus sama-sama kalau benar merasakan hal yang sama. Tak ada memperjuangkan atau diperjuangkan, tapi berjuang bersama. Intinya itu aja.

Malam 16 Agustus.

Selamat malam kekasih, sedang apa?. Apa kau juga tenggelam diantara sorak sorai perlombaan peringatan kemerdekaan?. Apapun, bahagialah selalu.

Malam ini aku berada ditempat yang entah apa namanya. Kebetulan main ketempat teman dan diajaknya aku ketempat ini. Entah meriah atau tidak. Yang jelas gaduh ramai. Dan kau tahu, diantara hampir 10.000 orang (cuma hampir) hanya dua orang yang ku kenal. Satu temanku tadi. Dan satunya lagi tak tahu siapa namanya. Dulu dia lulusan SMAN setahun lalu. Sekarang dia seorang mahasiswa di universitas negeri di jogjakarta.  Barang kali semestet tiga atau empatlah. Katanya beberapa hari lalu. Kebetulan kami bertemu.

Malam ini tujuh puluh satu tahun lalu mungkin malam yang penuh perundingan. Pasca dihadiahkan "little boy" dan "fatman" dari amerika kepada jepang. Entah apakah peperangan yang fair atau tidak. Tapi itu mengakibatkan jepang menyerah pada sekutu. Dan di Indonesia terjadi kekosongan pemerintahan.

O,ya kekasih. Apakah anak-anak kita kelak akan jauh dari dunia misiu?, entahlah.

15 Agustus

Selamat pagi,manis?,
Apa kabar?, sudah sarapankah?.. Lekaslah.

Dua hari menjelang perayaan hari kemerdekaan. Dimana sepanjang jalan dapat kau jumpai pernak-pernik yang begitu erat hubungannya dengan kemerdekaan. Perayaan, pengenangan, serta beberapa penghargaan menjadi marak. Tujuh puluh satu tahun sudah Indonesia Menegakkan kedaulatannya, terhitung semenjak Agustus 1945.

Seperti biasa, ritual-ritual pembangkit orang-orang mati dilakukan. Mengambil keuntungan dari darah-darah suci yang mengalir puluhan tahun silam. Ada yang mengidentikan bahlan mengimitasikan diri menjadi Bung Karno, Bung Hatta, Sahrir, atau nama-nama besar lainnya. Entah apa yang mengisi otak mereka, tapi tetap saja bagiku, tokoh-tokoh terdahulu tak pernah bereingkarnasi.

Memang, perjuangan tak pernah mudah. Tapi, untuk apa kita berjuang itulah yang akan menjadi dasar dan pemeliharaan sikap. Sampai hari ini semua masih berjuang. Entah apa tujuan dari demokrasi, toh sampai negara-negara maju pun terus berjuang. Apakah demokrasi itu memang tal berujung?, kapan kita akan sampai pada suatu tempat dan waktu yang dimana kita bisa menikmati hidup dengan minum teh hangat?. Dunia yang tak peduli lagi pada perang ataupun rasis. Tak butuh lagi Ideologi. Tak butuh lagi apa-apa dari sistem yang sudah ada dan lampaunya. Tak butuh apa-apa dari sisa monarki, tirani, ataupun demokrasi.

Dunia ini begitu kotor. Penuh dengan isu-isu sampah oleh pemuja uang dan kekuasaan. Mereka seolah menciptakan Agama baru namun tak mau disebut Agama. Tidak ada Agama apapun yang mengajarkan rasis ataupun sara, kecuali penyembah uang dan kekuasaan. Agama - Agama akan hidup berdampingan tanpa adanya hasutan dua agama baru itu.

Tak usah dipungkiri. Misal agama yang saya percayai. Kedua agama baru itu telah menghasutnya besar-besaran. Baik secara langsung mereka "iyakan" atau tidak langsung, kedua agama baru itu disebut-sebut ada dibalik dari segala kegaduhan. Saya yakin, ada golongan-golongan tertentu yang sengaja dibuat untuk melamcarkan penghasutan. Misal, munculnya gerakan dengan pencintraan seperti berlatar Agama yang saya anut. Sebagai Agama besar, yang pernah jaya pada masanya tentu akan sensitif dengan kata-kata "lemah". Dan citra itu yang tengah dibangun pihak-pihak kiri. Dalam sejarah pelajaran formal memang tak pernah dijelaskan rinci tentang negara-negara yang berbasis agama yang saya anut. Baik dikala masa Kenabian ataupun kekilafahan. Sedikit yang tersangkut mungkin hanya tentang konstantinopel yang jatuh ke tangan Turki Usmani, yang mengakibatkan pemboikotan rempah untuk eropa. Saya rasa ada kekawatiran tentang munculnya spirit ideologis yang menyuarakan mengulang lagi masa itu. Tapi, sebagai orang - orang yang mengerti agama seharusnya tidak menakutkan itu. Lihatlah ulama-ulama besar bangsa ini, mereka patuh dan loyal pada demokrasi republik negara ini. Pun demikian kami para rakyat biasa. Kami Muslim, Kami patuh pada Agama dan kami setia pada negara. Diatas kertas, negara ini berkemungkinan menjadi negara dengan basis Islam. Mengingat Mayoritas beragama Islam dan mendominasi jumlah Muslim diseluruh dunia. Tapi saya tahu, Agama saya tak mengajarkan begitu. Kami mematuhinya. Dan negara saya adalah negara yang menjunjung tinggi nilai Agama, dan saya pun setia pada negara saya. Islam datang tidak untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi Bangsa Arab. Tapi untuk mempersaudarakan keduanya, dan bangsa lainnya.

Isu-isu tentang Rasis, Sata, Intoleran, dan Radikalisme serta HAM hanyalah isu - isu sampah yang secara nyata meneror kehidupan kebhinekaan di negeri ini. Isu-isu itu lebih berbahaya dari bom-bom bunuh diri. Karena, ketika isu-isu itu dibiarkan, menjadi opini dan kemudian "dianggap" sebagai fakta, tanpa bom manusia akan mati saling membunuh. Tidak perlu mengejar target menjadi negara maju atau bahkan adidaya. Menjadi negara bermoral tingkat tinggi, kritis dan peduli jauh akan lebih menakutkan. Dimana negara-negara lain segan tanpa memandang kekuatan, dimana negara lain menganggap keputusan dan sikap negeri ini sebagai sebuah kebijaksanaan.

Tapi, entahlah kasih. Semua itu hanya opiniku yang tak berdasar. Hanya semacan uneg-uneg dari dalam hati orang bodoh ini.

Omong kosong

Cinta tak pernah merestui kesetianmu. Karena kesetianmu hanya akan membawamu pada keegoisan. Mengistimewakan satu diantara banyak. Berharap lebih, mengikat orang yang kau sebut kau cintai dengan bermacam aturan yang membuatnya menahan nafas sebentar. Kau melarangnya pergi, sementara seseorang tak mungkin tinggal dengan perasaan terkekang. Diam berpura-pura terima dengan semua. Lalu cinta seperti apa yang merampas kebahagian orang di cintai?. Kau membuat cinta begitu kejam. Apa menurutmu cinta itu sebuah kebutuhan yang harus kau penuhi tanpa berimbal?, kau lebih mementingkan kepuasanmu. Begitukah?.

Cinta itu diam saja. Menerima dan mengerti peran. Jika cinta menurutmu syarat akan kebahagiaan, mungkin ada yang salah dengan persepsi cintamu. Cinta itu penderitaan, cinta itu rasa sakit. Karena cinta itu pengertian yang tak mengharap balas, tapi tahu diri.

Cinta yang kau dapat adalah rasa sakit yang orang lain rasakan, pun kelak seharusnya kau begitu. Karena cinta tanpa pengorbanan, cinta tanpa rasa sakit hanyalah omong kosong. Begitu kosong,... Teramat kosong.

Ibu melahirkan kita bertaruh nyawa. Mengandung kita begitu lama. Membiarkan kecantikannya dibagi dengan tumbuh anaknya.
Bapak bekerja dengan begitu lelah. Dengan serangkaian risiko yang tak jarang mempertaruhkan jiwa dan kehormatannya.
Setidaknya itu awal kau mulai disapa cinta, kau membuat mereka jatuh cinta. Sedang risiko tak cukup enteng. Lalu apa kau yakin memberikan cinta pada seseorang dengan tanpa rasa berkorban ataupun rasa sakit?.
Memangsih, cinta itu tak ber perhitingan, tapi cinta itu tahu diri.

11 Agustus

Selamat pagi manisku, apa kabarmu?, sarapan apa pagi ini?
Pastikan nutrisinya seimbang. Bukan, bukannya aku takut nampak lebih gendut, aku cuma tak mau saja kau sakit.

Sebelas Agustus. Dua puluh sembilan tahun silam, Acub Zaenal mendirikan Arema. Selain klub sepak bola, Arema juga sebagai "lem" ataupun "magnet" yang mempersatukan bumi Malang. Membusung kan dada bangga arek-arek Malang. Meleburkan gengster-gengster Malangan dibawah satu warna, biru. Lihat saja, dari tukang gorengan hingga profesi-profesi elit dengan bangga menggunakan nama AREMA. Walau bukan hal yang mudah bernaung dibawah nama besar Singo Edan. Risiko diseterui pihak-pihak yang bersebrangan. Tapi, menggunakan nama Arema bukanlah siasat pasar belaka, melainkan sebuah identitas. Sebuah keterangan diri yang akan kami bela dengan segenap kemampuan. Dan dewasa ini, Arema menjelma menjadi lebih besar lagi. Menjadi identitas yang tak hanya arek Malang ataupun Jawa Timur saja, melainkan Indonesia bahkan Sepak bola. Aremania tidak kemana-mana, kami ada dimana-mana. Mungkin itu, sedikit sok tahu ku tentang AREMA. Temales Ngalu Nuhat AREMA. Arema for All, Salam Satu Jiwa.

O,ya manis. Terkadang dunia suporter diidentikan dengan hal-hal yang di anggap ke "kiri" atau abu-abu oleh segelintir orang. Tapi, itu hanya orang-orang yang berpikir praktis dan matrealistis saja, bahkan mungkin taktis.

Tapi menurutku tidak, suporter bukanlah fanatisme buta. Melainkan sebuah Miniatur Nasionalisme. Tidak serta merta merta kerusuhan antar suporter dipicu oleh keegoisan kelompok. Tak bisa dipungkiri, profokasi segelintir pihak turut memupuk perseteruan-perseteruan yang kian memburuk. Ognum aparat dan ognum media, misalnya. Ataupun ognum "orang tua" yang dianggap mampu menengahi bahkan menyelesaikan malah melempar opini sesat. Berpihak ataupun menyudutkan. Aku tak yakin, orang-orang sok dewa itu berani berkoar langsung di hadapan puluhan ribu manisia-manusia berloyalitas selangit ini. Dijaman serba bebas ini, segilintir media berani mengangkat berita dari sumber yang tak bisa dipertanggung jawabkan bobot informasinya. Terlebih bila orang-orang politik merbah dunia media dan sepak bola. Politik itu kotor, tapi kita hidup di sekitarnya. Mana mungkin kita tetap putih terjaga di tengah kubangan lumpur. Pemberitaan tanpa ragu menyebut kelompok suporter ini menyerang kelompok suporter itu. Tanpa memintai keterangan resmi dari keduanya. Bisa saja, penyerangan itu dilakukan kelompok diluar kedua kelompok itu, yang menginginkan kedua kelompok semakin memburuk hubungannya. Atau malah bisa saja itu adalah kelompok bayaran agar media meliputnya supaya mengalihkan isu-isu penting yang tengah bergejolak. Entahlah, aku pun tak banyak tahu. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dan bisa saja apa yang kita lihat hari ini dan membenarkannya tak lebih dari kesempurnaan rekayasa prosedur oleh elit-elit mafia. Entahlah, pun ini hanya sekedar opini pribadi. Bukan acuan, bukan sesuatu yang seharusnya tak bisa dikutip sebagai pengisi catatan kaki ataupun didaftar pustakakan.

Yang jelas aku rasa, banyak teman-teman yang menginginkan hal sama seperti yang ku inginkan:

"Stop Kriminalisasi, Penghasutan, Pengadu dombaan, Penekanan, Perampasan hak, dan Pencitraan buruk sepihak Suporter Indonesia. Kami bukan Penjahat atau Teroris, kami hanya besar dalam lingkungan Loyalis, atraktis, sportif. Bendera kami masih Merah Putih, Lagu kami masih Indonesia Raya, dan Ideologi kami pun masih Pancasila. Jadi berhentilah memandang kami sebagai Kriminal, antisosial, ataupun subversi. Jaya dan majulah Supoerter Indonesia",

Benk_wd

Semerbak mewangi di bumi pertiwi,
biru menyatu dalam Lazuardi,
Tanpa henti,
genderang berdentang,
Lantang menyanyi,..

"Dibawah bendera Singo Edan,..
Ayo maju... Ayo maju.. Ayo maju.."

Majulah terus tanpa henti,
Tak terhenti,
Merajai,
Satukanlah kami dalam namamu,
Birukanlah kami dalam kibar benderamu,
Menang atau kalah kau tetap Aremaku.
Bersamamu, kita birukan semesta.

Berdiri kokoh membelamu,
Menebar semangat teriakan namamu,
Terik hujan tak akan menganggu,
Ayo maju, ayo maju Aremaku.

Salam sapa dari Malang dan Indonesia,
Untukmu kebanggaan bangsa,
Tunjukan prestasimu pada dunia,
Bersamamu kita birukan semesta,

Busungkan dada kami wahai sang singa,
Kobarkan semangat kami wahai sang raja,
Tanpa henti membakar jiwa,
Bersamamu kita birukan Semesta,
Singo Edan Selamanya..

10 Agustus

Hay manis, apa kabar?,

Sepertiga awal bulan Agustus. Lebih tepatnya tanggal sepuluh. Satu hari menjelang perayaan ulang tahun Arema Malang. Mungkin hari ini tak banyak kau tahu tentang klub bola satu ini. Tapi aku yakin, kelak ia akan memenuhi pendengaran dan pengelihatanmu. Aku tak akan menghalangi, jikalau darah biru itu mengalir dalam diri anak kita. Tak apa, fanatisme suporter akan menyusun sebagian jiwanya bersama kecerdasan warisan ibunya, warisanmu. Tapi itu entah kapan, apakah kelak anak-anak kita masih hidup pada masa dimana sepak bola menjadi nafas bagi masyarakat nasionalis. Entahlah, yang jelas kita akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Aku janji itu.

Yang pasti, semakin hari kehidupan tak akan semakin mudah. Ekonomi, sosial, moral, dan kestabilitasan keamanan dan perdamain dunia tak mudah diprediksi. Aku tak tahu, apakah kelak saat si kecil tumbuh pasukan elit Negeri kita masih berada pada urutan teratas dunia ini?. Yang jelas, dia berhak tahu tentang dunia. Sekalipun aku tak akan menjadikannya sebagai ahli perang ataupun sekjen PBB. Ceritakan padanya tentang Israel-Palestine, tentang Iraq, atau negara-negara perang lainnya. Biar pikirannya bebas. Biar dia sendiri kelak yang memilih mau jadi apa.

Mungkin, bila perlu ceritakan tentang rekayasa militan-militan Islam. Sebuah kelompok yang tak tahu menahu tentang Islam lalu diajari takbir dan sholat lalu digiring mengacaukan dunia. Memang kadang dunia internasional itu lucu.

Rekayasa elit militer yang berkepentingan hanya akan menjadi tertawaan para ulama yang geram. Kebodohan dalam rekayasanya adalah dengan menggunakan nama Islamic State ... ..., dan meletakkan bonekanya dengan nama arab. Tak memperhatikan detail lagi namanya. Mungkin mereka seharusnya menjadilan Muhammad bin Abdullah agar lebih meyakinkan dunia jika itu memang ulah Muslims. Tapi, mereka tak tahu tentang apa-apa dalam Islam.

Entahlah manis,

06 Agustus 2016

Selamat pagi, manisku.
Sudah mandikah?. lekaslah, setidak-tidaknya cuci muka dan gosok gigi.

Secangkir kopi telah membasuh habis dinding-dinding, dari mulut, kerongkongan, usus hingga bagian penyulingan lainnya. Entah bagaimana prosesnya, hingga berujung pada suatu kran yang kembali bening dengan kandungan amoniak yang lumayan.

Lupakan saja soal kran dan cairan amoniak itu, manis. Aku tak bermaksut membahasnya sepagi ini.

Tak terasa, sudah akhir pekan lagi. Berada pada sabtu pagi pertama bulan ini, berjemur sembari menunggu, barangkali ada orang yang membutuhkan jasaku.  ya, sementara masih teramat santai. Sebulan setengah bulan berjalan jari ini masih cukup menghitung pengunjung di setiap harinya. Alhamdulillah. Masih cukup, untukku saja. Tenang saja, manis, entah bagaimana caranya, tak mungkinlah kubiarkan kau kelaparan, kepanasan, ataupun kehujanan. Kita akan membesarkan anak-anak kita dengan cukup. Membelikannya susu, mengantarkannya bersekolah, atau menemaninya main ke rumah kakung dan utinya di akhir pekan.

05 Agustus 2016

Bersama aroma segalas kopi yang kuseduh bersama bayang wajahmu, aku jawab salam matahari di jumat pagi ini. Siapa yang bangun lebih awal hari ini, manis?. Apa kau yakin?. Ya, baiklah. Tak apa, kau memang selalu lebih dariku. Padahal aku tadi, aku mendengar adzan subuh yang tak cengkok dari balik jauh rolling dor. Lurus. Lalu aku tak ingat apa lagi,heeheee. Tapi setidaknya aku sudah mandi dan pakai diodorant sejak jam enam pagi tadi.

Dari sedikit alasan kenapa asap ini menemani pagiku..?, emm.. Aku mungkin mencoba menafkahi pepohonan disekitar,haahaa. Ya, kurasa mereka butuh karbon dioksida untuk memproduksi oksigen. Begitu setahuku. Tapi, yang kutangkap dari persepsi orang karbon dioksida sudah selayaknya sampah. Dianggap penyakit,merusak kesehatan. Bukankah kau juga rasakan itu?,manisku. Sudah biasa, kau sudah melewati dua dekade di bumi ini, di negeri ini. Bukankah kau juga sudah hafal, yang memberi langsung akan didewakan, dipuja. Entah apa niatnya memberi, yang jelas mereka lebih mulia dibanding orang-orang yang memberi diam-diam karena takut sombong atau riak. Mereka memberi dengan diam-diam, mencoba mengelabuhi Tuhannya,bahkan. Mungkin Tuhan pun tersenyum. Dan Tuhan adalah sang Maha Sempurna Pemberi Nilai. Tak ada yang lebih naif dari bicara tentang kebaikan di tengah dunia yang munafik.

Jangan layu manisku, tetaplah menjadi dirimu. Selamat pagi, jadilah jumatmu berkesan. Have a nice day..

Sore empat agustus

Selamat sore, manis, sudah mandikah dirimu?.

Terkadang, orang yang kita sayangi hanyalah beban. Rasa mual yang enggan dimuntahkan. Bukannya soal menghidupi, yang terberat adalah soal menjelaskan. Membuat mereka menjadi paham. Dan kau tahu manis, orang-orang dengan "rasa akunya" yang selangit tak akan mudah paham. Sekalipun kau korbankan nyawa agar sesudahnya kau berharap mereka akan berfikir. Tak akan. Yang ada kita hanya akan jadi orang mati yang mereka bilang "bodoh".

Beginilah, manisku. Cinta kasih sayang itu tak melulu kebahagiaan. Bagiku, itu hanyalah penderitaan. Berkorban untuk mereka yang tak pernah mengerti arti sebuah pengorbanan.

Terkadang, aku ingin sekali bertanya. Apakah mereka melihat Alloh dalam sholatnya. Hingga mereka yakin sekali bahwa telah berada di jalan yang benar. Menyalahkan, menjatuhkan, mengecilkan, mungkin itu lah buah dari iman kebiasaan, bukan iman pemikiran ataupun pemahaman. Tuhan tak cukup untul dilogika, tapi segala ajaranya cukup masuk akal. Aku benci orang sholat, yang meyakini sholatnya akan cukup membawanya ke surga. Toh, tujuan hidup manusia itu kembali ke Tuhan, bukannya surga. Soal surga dan neraka?, ahh.. Tak usahlah kita terlalu mendikte yang kuasa.

4 Agustus 2016

Beranjak pada hari ke-4 bulan Agustus. Sudahkah kau makan siang di sesiang ini, manis?. Lekaslah. Makan dirumah saja, diluar jalanan begitu terik dan berdebu.

Dulu, dulu sekali. Aku habis jam-jam seperti ini di serambi masjid. Atau diteras kelas tepat disamping saluran air. Menatap ke awan biru, atau parkiran motor yang sesak berdesakan. Sedang dalam hati penuh harap, semoga guru mapel dua jam berikutnya tak akan hadir. Apalah yang lebih indah dari sekolah kalau tidak wanita dan jam kosong?, bukankah kau pun sadari itu, manisku?.

Para guru tak lelah melemparkan angan-angan hingga ke langit-langit. Tapi sayang, aku terlanjur patah hati dengan pendidikan. Bapakku pun lulusan SMEA di jauh-jauh hari sangat jauh. Mungkin, waktu itu sarjana bisa serasa duduk dengan sultan, berbincang dengan kaki "jigang". Tapi tetap saja, lulusan SMEA yang bisa saja menjadikan beliau berada di pabrik2 terkemuka kala itu tak memberinya kehidupan.
"sudahlah pak, bu, tak usahlah kau gadang-gadang aku jadi sarjana. Itu bukan hal yang menarik", ucapku dalam hatiku kalau beliau mengucap kata sarjana, universitas dan falkutas. Untuk apa sekolah tinggi kalau hanya memproduksi orang-orang yang tak menarik. Orang yang ingin selalu dihormati. Orang yang tak mau kita panggil "suu", seperti aku panggil anak kepala desa yang temanku itu. Emmm.. Entahlah mana yang lebib tinggi, guru atau kepala desa?. Lupakan saja.

Jadi bila memang kamu akan bersekolah, bersekolalah. Tak usah setinggi-tingginya, tapi secerdas-cerdasnya. Jadi kelak kalau kau sudah lulus tak usahlah kau sibuk mengulang pertanyaan yang sama, " Permisi, ada lowongan?". Kelak setelah kau lulus jadilah bos besar. Yang bermanfaat bagi banyak orang. Menciptakan lapangan pekerjaan dan menanamkan pola pemikiran tentang pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan untuk menjadikan sumber sumber daya manusia yang unggul bukanmya kuli atau buruh yang unggul. Buat mereka berhenti bercita-cita melacur pada keadaan dan uang.

Maju terus manisku, jadilah yang lain. Bukan sekedar  sampah berwarna kuning emas. Sebab sanjungan saja tak akan membuat kita kenyang. Bugankah begitu, manis?.

Sedia payung sebelum... *hujan/mendung/pipis.

Satu Agustus 2016,

Apa kabarmu, manis?

Gerimis yang tadi pagi itu mula kukira hanya embun di dedaunan yang tertiup angin. Entah sejak kapan Lazuardi mengandung partikel-partikel yang membuat basah itu. Walaupun orang-orang sedia payung sebelum hujan sekalipun pasti tak mengira, dan mereka pipis di pekarangan tanpa membawa payungnya. Kau tahu, ternyata air hujan yang katanya haram menyentuh mereka, pagi ini membuat mereka cuci muka. Mungkin lusa harus mengganti kata hujan dengan mendung ataupun pipis. "sedia payung sebelum mendung/ (pipis). Itu lebih relevan. Ya relevan bahwa hidup mereka ribet. Kalau aku di beri kewenangan mengganti semboyan mereka, aku akanenggantinya kalimat : "air hujan tak akan membuatmu mati". Bagai mana menurutmu, manis?.

Yang namanya masalah ibarat cat yang mewarnai kanvas nyata yang disebut kehidupan. Dengan tak terhingga kemungkinan dan opsi. Bagaimana saja, kapan saja, dan dimana saja. Satu hal yang perlu kau sambut bukanlah aku, tapi masalah. Karena kurasa, hati mu lebih penuh kata "masalah" ketimbang namaku. Iyakan manis?, ya, satu titik aman yang membuat lega adalah rakdir tak menulis jika manusia bisa hamil oleh kata masalah.

Menghadapi dan menyelesaikan masalah adalah cara terbaik. Tak mudah memang. Menyelesaikan masalah ibarat duduk di meja judi bersama bandar. Ada bertaruhan, baik berupa materi ataupun gengsi.

Ow,ya manis. Satu hal lagi yang ikin katakan padamu. Mungkin jas hujan akan lebih mengisolasi air hujan dari kulitmu itu. Udah, itu saja.heehee
Selamat siang, manisku. Jangan lupa makan.

Selamat, manis.

Selamat sore manis, apa kabar sore ini?,

Suasana sore diselan smk lumayan nyaman. Terlepas dari bising kendaraan yang dari barat ke timur, pun sebaliknya.

O,ya selamat atas diterimanya di salah satu universitas di bumi biru. Bakalan jauh,.. Emm.. Semakin jauh tepatnya. Toh selama ini kita tak pernah dekat, walau sering ku lihat kau menghilang diantara pagar-pagar rumah itu.

Terkadang aku bingung, dulu tak pernah terfikir pada akhirnya ku tahu tentang lebih dari yang kubayangkan, walau tak begitu banyak. Penghujung tahun 2015,
Mungkin itu pertama kali aku kirim pesan padamu yang katamu malam tahun baru yang sepi. Entahlah, malam itu kita berkencan atau tidak, tapi yang jelas malam itu kita pergi di pesta tahun baru yang sama. Diasebuah bundaran di wonogiri selatan diantara bendera-bendera Slank. Memang King Bim-bim dan kawan tak akan hadir di malam itu. Tapi malam itu  acara di isi oleh Solo Slank yang membuat nuansa Slanker begitu hidup saat itu. Kita hanyut dalam alunan lagu-lagu slank namun tak berdamping. Sampai akhirnya diesel meleduk dan pak kapolsek meminta acara disudahi. Lagi pula, puncak acara (pesta kembang api ( 00:00 ) ) telah lewati sebelum itu.

Pukul 09 : 28, baru sempat ku sambung yang kutulis sore tadi. Selamat malam manis, jadi mahasiswa yang baik yag!, baik-baik di tanah biru. Sekali lagi, Selamat!!..

29 juli 2016

Akhirnya, bisa instal bloger lagi di hp. Setelah sekian minggu.

Apa kabar kamu, manis.
Hari ini langit begitu cerah. Sudah itu saja yang ingin ku kabarkan padamu. Selebihnya...?, sudahlah aku baik-baik saja.

03 Juni 2016

selamat petang, manis. apa kabarmu?.

tak terasa sudah samapi di petang hari ke tiga bulan juni tahun ini. ya, waktu memang teruslah berputar, melanjutkan apa yang harus ia lanjutkan. meninggalkan kemarin, menjalani hari ini dan sudah harus menuju haru esok yang tak pernah ia lalui sebelumnya. dia tetap melaju tanpa rasa bimbang. dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. terus maju tak peduli seberapa rumit esok.

sementara, kita masih saja terpaku dal;am keadaan yang nyaris begini-begini saja. diam seribu bahasa, walau sedang dalam hati seperti apa yang kita mau, tiada yang tahu.

o,ya manis...
kapan kita akan saling bertanya "sedang apa" dan "apa kabar" ?. apakah kita akan teguh dalam keadaan yang terlalu meragu untuk disebut "kita saling kenal". aku satu, dua kali sudah pernah mencoba untuk melangkah pada pintu itu. tapi, lagi-lagi aku tak yakin apakah kamu akn membukanya dan mengucapkan " selamat datang".

entahlah manis, mengalir sajalah. biar persimpangan jalan hidup yang membuat kita berpapasan dan saling bertanya kabar. sebelum akhirnya kita sepakat melangkah kearah dan jalan yang sama.

baik-baik selalu doaku manis,

29 Mei 2016

ahad terakir di bulan mei semakin menua saja. tinggal beberapa jam lagi biru langitnya akan tenggelam pada warna jingga ataupun orange. sebelum akhirnya menjadi hitam dan gelap dalam malam.

Apa kabar kamu hari ini?, baik-baik selalu doaku.

Pada akhirnya Mei pun akan segera berakhir tahun ini. berganti Juni, lalu kemudian dan kemudian. Hari berlalu semakin cepat saja,bagiku. tanpa ada perubahan yang mencolok dalam lingkungan sosial selain semakin buruknya moral manusia. hukum yang berlaku dalam era ini lebih bertitik berat pada Etisme. sebuah hukum dari kebiasaan dan kepantasan pada pola hidup manusia yang tak lagi berarah. Apalagi sejak era kebebasan diperkenalkan dan diterima karena lebih memuaskan nafsu manusiawi. sebuah keinginan yang semua makluk pada dasarnya memilikinya. kau tahu manisku, tanpa adanya pikiran dan hati kita tak ubahnya sapi ataupun anjing atau lainnya.

sebagai seorang makluk, aku masih meyakini bahwa hukum-hukum dalam kitab suci adalah yang benar. yang tak kuragukan satu katapun. dan sebagai warga negara aku juga meiyakan patuh pada Undang-undang dasar dan dasar negara. dan menurutku tak ada jalur bertabrakan dua dasar-dasar hukum tersebut. hanya saja, sebuah paham-paham baru mempercabangkan hingga membuat hukum Agama dan Negera seperti bertentangan pada titik tertentu. kau tahu, para leluhur yang merumuskan segala aturan bukanlah orang-orang yang takut kewibawaan dan kekayaannya terganggu. dasar-dasar itu dibuat berdasarkan kepentingan dan keseimbangan bersama. begitu menurutku.

jika Komunis adalah najis dan sampah di bumi Pancasila, maka seharusnya Liberalism dan kapitalism adalah berada pada tempat yang sama. karena manamungking dalam satu konstitusi menganut paham-paham yang berjumlah.

sistem-sistem Liberalism dan Kapitalism belakangan menjadi akrab sekali dengan masyarakat. dengan propaganda yang sarat akan hipokrasi masyarakat dibuat mengangguk menganggap logika mereka begitu benar. pada bagian-bagian hidup, sejatinya ada yang tak mampu diuraikan logika manusia.

Masyarakat lebih mengenal Bankir ketimbang Koperasi. Lebih menyambut kebebasan ketimbang keteraturan. Membuat opini bahwa hukum adalah suatu upaya mempersulit kelangsungan hidup yang diinginkan. karena itu, hukum-hukum baru di keluarkan sebagai tandingan dan dianggap mewakili suara mayotoritas. 

13 Mei 2016

Jumat siang, diseberang singgah sana sang putri.

berteman suara permainan musik

Collaboration #1 Efek Rumah Kaca x Barasuara yang diupload Sounds From The Corner, tertanggal 14 September 2015.


bersama lagu "Sebelah Mata" apa kabarmu siang ini?, masihkah kau sibuk dengan cita-citamu?. jangan lelah, setidaknya andai tak kau temui mimpimu, setidaknya kelak dapat kau ceritakan tentang sebuah perjuangan.

hari ini hari ketiga belas selepas bulan april tahun 2016. tentu bukan lagi sebentar walau aku baru melaluinya 23 kali. sebuah rentang waktu yang membentuk durasi yang tak muat di burning pada keping dvd. itu baru aku, tentu akan panjang lagi tanggal ini dilalui bapak dan emakku, kotaku, dan negaraku. waktu yang berjalan mengantarkan pada jaman yang tak lagi semakin mudah. betapa tidak, nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika mencapai belasan ribu, harga mulai naik terang ataupun dam-diam. Listrik, Air Minum, Iuran sekolah, dan ongkos apapun mulai merangkak. 

Disaat kebutuhan hidup melangit, moral manusia malah berbanding terbalik. berita kriminalitas menjadi mudah ditemui diman-mana. generasi mulai terkontamnasi dengan pemikiran-pemikiran yang dalam jangka panjang tak lagi menguntungkan. merobohkan pohon besar tak melulu mematahkan batang terkuatnya. racuni saja akarnya. berlahan pohon itu akan mati mengering.

Idealisme hanyalah sampah yang tak akan memberimu makan. mungkin itu yang nampak. memang, orang-orang yang kekeh dengan Idealisme harus siap untuk tidak jadi apa-apa dimata halayak. dicap sebagai orang-orang yang ke arah kiri, atau orang -orang gila. memang tak mudah membuat orang-orang mengerti. sekarang, membuat orang berfikir tentang cara mendapatkan uang lebih menarik dan dianggap logis. ekonomi telah membuat orang sibuk memperhatikan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. semua bisa dianggap normal selama tak merugikan secara materi.

2016, bukan lagi waktu yang baru saja. dan sekarang hanya meninggalkan sisa-sisa tahun menuju akir semua cerita. masih ada waktu untuk merenung. menyadari hal-hal yang kita anggap kecil dan remeh silam kini berdampak besar. menyadari bahwa uang bisa didapatkan sekalipun kita berpegang teguh pada nilai leluhur. menyadari bahwa negeri ini sejati berada pada kepungan pangkalan militer asing dengan jumlah diatas sepuluh pangkalan militer.

06 Mei 2016

Dada ini pun mudah terbakar. Seketika tertawa seketika pula menjadi serupa pisau yang siap merobek apapun.
Orang-orang yang tak mengerti mudah saja menertawakan. Menganggap salah begitu cepat apa-apa yang tak se"iya" dengan mereka. Mulut-mulut manis yang tajam, tak ada yang tahu bika pada akhirnya mentakiti, mematahkan anggapan hati bahwa mereka adalah orang-orang yang tak mungkin melakukan itu.
Selamat malam kekasih, apa kabarmu?.
Aku bukan pribadi yang mudah menjadi orang lain. Aku tak bisa se-"wah" dia ataupun mereka. Namun juga tak mudah sebajingan mereka. Seperti ini aku, kalaupun harus berubah tak jauhlah dari yang hari ini kau kenal. Dan satuhal yang harus kau tahu, mengenal dan mempersepsikan itu bukan hal yang sama.
Bukanlah hal yang menyenangkan mendiskripsikan diri. Menjelaskan tentang diri sendiri. Tapi, kita aku diam dalam kata, tak berarti aku setuju. Aku hanya tak suka pada perbedaan yang dilebihkan.

15 April 2016

Matahari sudah meredup dan suhu udara pun sudah mulai terasa lebih hangat. Saat tembaku mulai memerahkan baranya dan merubah diri menjadi asap.

Apa kabar kamu, yang masih gigih merajut asa.

Hari ini, adalah hari dimana simpati harus kupaksa mati. Aku merindukan kehidupanku yang baru. Sebuah kehidupan yang masih tertrawang hitam dan harus kembali dari angka nol. Tapi biarlah. setidaknya aku masih punya kata-kata yang dapat kau pegang dan tak mudah berubah cuma karena suhu ataupun gejolak didunia sosial. Satu hal, tangan ini akan selalu menggenggammu, melindungi dan tak akan membiarkanmu kelaparan, kepanasan ataupun kehujanan. Memang, tak ada yang bisa kujanjikan. Rumah dan properti kelas A, liburan ke eropa, atau sekedar dipandang terhormat orang-orang sekitar. Semua itu tak bisa aku janjikan. Jadi, mantapkanlah hatimu, dan ketika kau sudah mulai paham dan siap untul tidak menjadi apa-apa, jawaban "iya" itu selalu aku tunggu. Kapanpun itu.

Lagu cinta itu masih terlantun untukmu kekasih. Saat idealisme dan prinsip hidup dianggap sampah. Saat mereka mengawinkan Tuhan dengan harta. Dan dunia tertawa karena kemenangan perang. Kelak, aku akan mengajakmu hidup pada dunia asing tanpa ada kejayaan. Tanpa ada kalah atau menang. Tanpa ada rasa iri untuk saling berebut predikat. Kau dan aku sibuk bicara tentang negeri abadi, membesarkan anak-anak kita dengan kelembutan dan kerendahan hati. Tak peduli orang bangga dengan pencapaiannya, tak peduli lagi soal piala atau piagam mereka. Senyummu, tawa sikecil, serta sambutan orang-orang yang biasa itu lebih dari apapun. Kau tahu, predikat hanyalah mahkota bagi mereka yang berharap lebih terkenal dari pada Tuhan. Sebuah kelancangan yang terbalut istilah-istilah.

Berlahan dan sangat pelan, lazuardi tertutup mendung. Sepoi angin membawa kabar sebentar lagi hujan kan tiba. Sementara itu, aku masih menyapamu lewat lamunan, lewat barisan kata yang sangat biasa.

Aku semakin bingung mengeja pola pikir mereka. Aku mulai bertanya dalam ruang terdalam hati ini. "siapa yang sebenarnya gila?". Emas-emas yang tertimbun di tanah-tanah kotor itu telah diubahnya. Menjadi pil-pil kecil yang katanya membuat hidup kian abadi. Menampik takdir setiap yang bernyawa pasti mati. Mereka beradu perkasa, menginjak kepala saudara mereka. Lalu meretas peluang yang telah nasib tuliskan.

Untukmu yang siap untuk menjadi manusia yang tak manusiawi.
Jika harta dan nama besar dianggap sebagai hal manusiawi, maka aku lebih memilih menjadi manisia yang tak manusiawi. Jika melawan arus disebut apatis, maka...
Heh, tak ada yang bercita-cita menjadi seorang apatis. Tapi jika semua kegilaan semacam ini disebut lumrah, apakah ada yang lebih damai dari pelawan arus.

Jujur, tak ada kebencian, dendam ataupun kecewa pada hari ini. Hati ini sekejap menjadi kosong dan datar. Mungkin, lakmus pun akan berwarna dengan nilai tujuh. Tak memerah ataupun membiru.

Benk_wd

15 April 2016

Matari sudah meredup dan suhu udara pun sudah mulai terasa lebih hangat. Saat tembaku mulai memerahkan baranya dan merubah diri menjadi asap.

Apa kabar kamu, yang masih gigih merajut asa.

Hari ini, adalah hari dimana simpati harus kupaksa mati. Aku merindukan kehidupanku yang baru. Sebuah kehidupan yang masih tertrawang hitam dan harus kembali dari angka nol. Tapi biarlah. setidaknya aku masih punya kata-kata yang dapat kau pegang dan tak mudah berubah cuma karena suhu ataupun gejolak didunia sosial. Satu hal, tangan ini akan selalu menggenggammu, melindungi dan tak akan membiarkanmu kelaparan, kepanasan ataupun kehujanan. Memang, tak ada yang bisa kujanjikan. Rumah dan properti kelas A, liburan ke eropa, atau sekedar dipandang terhormat orang-orang sekitar. Semua itu tak bisa aku janjikan. Jadi, mantapkanlah hatimu, dan ketika kau sudah mulai paham dan siap untul tidak menjadi apa-apa, jawaban "iya" itu selalu aku tunggu. Kapanpun itu.

Lagu cinta itu masih terlantun untukmu kekasih. Saat idealisme dan prinsip hidup dianggap sampah. Saat mereka mengawinkan Tuhan dengan harta. Dan dunia tertawa karena kemenangan perang. Kelak, aku akan mengajakmu hidup pada dunia asing tanpa ada kejayaan. Tanpa ada kalah atau menang. Tanpa ada rasa iri untuk saling berebut predikat. Kau dan aku sibuk bicara tentang negeri abadi, membesarkan anak-anak kita dengan kelembutan dan kerendahan hati. Tak peduli orang bangga dengan pencapaiannya, tak peduli lagi soal piala atau piagam mereka. Senyummu, tawa sikecil, serta sambutan orang-orang yang biasa itu lebih dari apapun. Kau tahu, predikat hanyalah mahkota bagi mereka yang berharap lebih terkenal dari pada Tuhan. Sebuah kelancangan yang terbalut istilah-istilah.

Berlahan dan sangat pelan, lazuardi tertutup mendung. Sepoi angin membawa kabar sebentar lagi hujan kan tiba. Sementara itu, aku masih menyapamu lewat lamunan, lewat barisan kata yang sangat biasa.

Aku semakin bingung mengeja pola pikir mereka. Aku mulai bertanya dalam ruang terdalam hati ini. "siapa yang sebenarnya gila?". Emas-emas yang tertimbun di tanah-tanah kotor itu telah diubahnya. Menjadi pil-pil kecil yang katanya membuat hidup kian abadi. Menampik takdir setiap yang bernyawa pasti mati. Mereka beradu perkasa, menginjak kepala saudara mereka. Lalu meretas peluang yang telah nasib tuliskan.

Untukmu yang siap untuk menjadi manusia yang tak manusiawi.
Jika harta dan nama besar dianggap sebagai hal manusiawi, maka aku lebih memilih menjadi manisia yang tak manusiawi. Jika melawan arus disebut apatis, maka...
Heh, tak ada yang bercita-cita menjadi seorang apatis. Tapi jika semua kegilaan semacam ini disebut lumrah, apakah ada yang lebih damai dari pelawan arus.

Jujur, tak ada kebencian, dendam ataupun kecewa pada hari ini. Hati ini sekejap menjadi kosong dan datar. Mungkin, lakmus pun akan berwarna dengan nilai tujuh. Tak memerah ataupun membiru.

Benk_wd